RSS

Strategi dan Struktur

05 Mar

Menurut Alfred Dupont Chandler, struktur organisasi mengikuti strategi organisasi. Jika strategi organisasi berubah, maka struktur organisasi juga harus berubah.  Dalam bahasa pelatih sepakbola, strategi permainan yang akan diterapkan menentukan squad (baca : formasi / struktur) pemain yang akan diturunkan  dalam suatu pertandingan.

Chandler telah meniliti hampir 100 perusahaan yang beroperasi selama periode 1909  sampai dengan 1959, antara lain DuPont, General Motors, Standard Oil (New Jersey) dan Sears (Roebuck). Chandler telah mengadakan penelitian di beberapa perusahaan besar di Amerika Serikat antara lain Chandler menyimpulkan bahwa “changes in corporate strategy preceded and led to changes in an organisation’s structure.” Chandler juga menegaskan bahwa struktur organisasi yang tidak mengikuti strategi organisasi dapat berakibat  buruk terhadap organisasi. “Unless structure follows strategy,” demikian Chandler,”inefficiency results.

Chandler mendefinisikan strategi sebagai “the determination of the basic long-term goals and objectives of an enterprise, and the adoption of courses of action and the allocation of resources necessary for carrying out these goals.” Asumsi yang mendasari bahwa strategi organisasi mempengaruhi struktur organisasi adalah :

1.    Tujuan organisasi adalah mencapai tujuan tertentu.

2.    Organisasi akan mencapai tujuan dengan cara-cara yang rasional.

3.    Organisasi mengubah input menjadi output, dan

4.    Lingkungan eksternal di mana organisasi beroperasi adalah given.

Menurut pendapat penulis, model hubungan antara strategi dan struktur dapat dikembangkan menjadi model STRATEGI  -  STRUKTUR  – PROSES – KOMPETENSI SDM.

Dengan model STRATEGI à STRUKTUR à KOMPETENSI SDM dapat dijelaskan bahwa strategi mempengaruhi struktur organisasi dan kompetensi SDM. Artinya, jika strategi organisasi berubah, maka struktur organisasi juga harus diubah, dan persyaratan kompetensi SDM yang dibutuhkan untuk mengisi jabatan-jabatan dalam struktur organisasi juga akan berubah. Untuk memudahkan memahami hubungan strategi, struktur,  dan kompetensi SDM, penulis akan  menjelaskan melalui analogi kesebelasan sepakbola.

Seperti telah disebutkan di atas, squad yang akan diturunkan dalam satu pertandingan sangat tergantung pada strategi permainan yang akan diterapkan pelatih. Pelatih akan menetapkan strategi permainan berdasarkan beberapa pertimbangan, antara lain analisis terhadap kekuatan dan kelemahan calon lawan, perkiraan strategi permainan yang akan diterapkan oleh lawan, dan juga perkiraan pemain kesebelasan lawan yang akan diturunkan.

Secara umum, ada dua strategi utama dalam sepakbola : strategi menyerang dan bertahan. Ada beberapa pertimbangan pemilihan strategi permainan. Beberapa hipotesa dapat dikembangkan sebagai berikut :

1.    Jika kesebelasan A lebih kuat dari kesebelasan B, maka kesebelasan A akan memilih menyerang dan kesebelasan B akan memilih strategi bertahan, dengan sekali-kali mengandalkan serangan balik.

2.    Jika kesebelasan A lebih lemah daripada kesebelasan B, maka kesebelasan A akan memilih strategi bertahan dan  kesebelasan B akan memilih strategi menyerang.

3.    Jika kekuatan kesebelasan A dan kesebelasan B relatif sama kuat, maka biasanya masing-masing pelatih akan mencoba mengkombinasikan strategi menyerang dan bertahan sekaligus.

Pilihan strategi bermain tidak selalu berdasarkan kekuatan kesebelasan lawan. Filosofi, kultur dan tradisi sepakbola suatu tim nasional dan suatu klub juga akan mempengaruhi pilihan strategi bermain. Secara umum timnas Belanda yang memiliki fisolofi, kultur dan tradisi total football cenderung akan bermain menyerang, siapapun lawannya. Demikian juga dengan klub Barcelona dan Arsenal, keduanya memiliki filosofi, kultur dan tradisi sepakbola indah dan menyerang, memiliki kecenderungan untuk menerapkan strategi menyerang. Timnas Italy yang memiliki fisolofi, kultur dan tradisi “sistem gerendel” (catenaccio), meskipun pada satu saat bertabur pemain penyerang yang kuat, secara umum akan cenderung bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik yang mematikan.

Kadang-kadang, strategi permainan suatu timnas dan klub sama sekali tidak ada hubungannya dengan filosofi, kultur, tradisi sepakbola dan pertimbangan kekuatan dan kelemahan kesebelasan lawan. Strategi permainan sepakbola kadang-kadang lebih mencerminkan visi permainan sepakbola sang pelatih. Timnas Belanda yang sangat kompeten memperagakan total football berubah total menjadi kesebelasan yang menerapkan strategi ultra defensif di Piala Dunia 2010. Bert van Marwijk adalah mantan pemain bertahan dan cenderung memiliki strategi permainan dan para pemain yang memiliki karakter bertahan.  Sejatinya Joseph “Pep” Guardiola adalah mantan gelandang bertahan klub Barcelona dan timnas Spanyol, tetapi ketika menjadi pelatih Guardila me-metamorfosa-kan visinya dan memilih strategi permainan menyerang. Jadi, banyak variabel yang mempengaruhi strategi dan gaya permainan suatu klub dan timnas sepakbola.

Pilihan strategi permainan akan mempengaruhi formasi tim yang akan dimainkan dalam suatu pertandingan. Formasi atau struktur suatu kesebelasan secara umum adalah sebagai berikut :

1.    Penjaga Gawang : 1

2.    Back Kiri : 1

3.    Back Tengah : 2

4.    Back Kanan : 1

5.    Gelandang Kiri : 1

6.    Gelandang Tengah : 2

7.    Gelandang Kanan : 1

8.    Penyerang : 2

Dalam satu pertandingan juga akan disiapkan pemain cadangan 5 s.d. 6 yang menggantikan pemain starter, baik karena alasan cedera, kelelahan, maupun alasan strategi.  Dengan 11 pemain tersebut maka akan disusun formasi tim sesuai dengan strategi permainan yang akan diterapkan. Formasi atau struktur suatu kesebelasan antara lain : 1-4-4-2 (1 kiper, 4 back, 4 gelandang, 2 penyerang); 1-4-3-3; 1-4-5-1; 1-3-5-2; 1-3-4-2; 1-5-4-1. Masing-masing formasi merepresentasikan strategi permainan.

Sebagai contoh, timnas Belanda  dan klub Barcelona cenderung menggunakan strategi menyerang dengan formasi 1-4-3-3 (jumlah penyerang 3 menunjukkan kecenderungan menyerang). Klub Arsenal juga menggunakan strategi menyerang tetapi dengan formasi 1-4-5-1. Artinya, meskipun hanya menggunakan 1 penyerang dan “menumpuk” 5 gelandang di tengah, permainan menyerang Arsenal tetap agresif dengan mengandalkan 1 “penyerang lubang’ (second striker yang menopang  di belakang penyerang utama) 2 gelandang menyerang dari sisi kiri dan kanan yang mempunyai kompetensi dan naluri menyerang agresif, dibantu oleh back sayap dari sisi kanan dan kiri  (back sayap atau wing back adalah back yang memiliki kompetensi menyerang dan bertahan, sedangkan back murni adalah back yang hanya memiliki kemampuan bertahan, tetapi lemah dalam menyerang).

Sebaliknya, strategi bertahan direpresentasikan oleh formasi 1-4-5-1 (perbedaannya dengan formasi 1-4-5-1 strategi menyerang adalah kompetensi gelandang sayap. Dalam strategi bertahan, gelandang sayap lebih diharapkan membantu pertahanan, karena itu akan diturunkan gelandang yang memiliki kemampuan dan naluri bertahan lebih baik daripada menyerang). Ketika Liverpool menghadapi Chelsea Februari 2011 yang lalu, Liverpool menerapkan strategi bertahan 1-5-4-1. Menempatkan 3 center back untuk bertahan memang tidak lazim, namun strategi tersebut ternyata di luar dugaan Anceloti (pelatih Chelsea) dan mampu “mematikan” penyerang Chelsea Torres, Drogba,  dan Anelka sehingga tidak mampu membobol gawang Liverpool. Kadang-kadang formasi permainan di lapangan tidak ditemukan dalam “textbook”. Jika kekuatan kedua kesebelasan tidak seimbang, tidak jarang kesebelasan yang lemah “menumpuk”  10 pemain di dalam kotak 16 m. Mungkin itu lebih cocok disebut sebagai “strategi gotong royong” daripada strategi bertahan. Tetapi apapun istilahnya, penumpukan 10 pemain di depan kiper seringkali sangat efektif untuk menutup ruang tembak penyerang lawan.

Jadi, meskipun ada pengaruh strategi permainan sepakbola terhadap formasi tim, formasi yang sama tetap dapat digunakan untuk dua strategi yang berbeda. Dalam kasus demikian, strategi permainan menyerang atau bertahan akan kelihatan dari kompetensi pemain yang diturunkan. Jika suatu kesebelasan hanya menggunakan back murni dan gelandang bertahan, maka dapat disimpulkan kesebelasan itu cenderung menerapkan strategi bertahan. Sedangkan jika suatu kesebelasan menurunkan back sayap dan gelandang menyerang yang agresif, maka dapat disimpulkan bahwa  kesebelasan itu cenderung menerapkan strategi menyerang.

Saya masih ingat “inovasi formasi” yang diperkenalkan pelatih timnas Perancis untuk Piala Eropa 1984. Saat itu timnas Perancis menempatkan 5 gelandang di tengah lapangan, 4 orang di antaranya disebut-sebut sebagai the fantastic four yang pernah dimiliki oleh timnas Perancis  (mereka adalah Michel Platini, Alain Girese, Luiz Hernandez dan Jean Tigana). Latar belakang yang melandasi gagasan sang pelatih adalah strategi bertahan kesebelasan lawan yang sengaja menumpuk pemain di kotak 16 m cenderung menyulitkan penyerang untuk mencetak gol. Jika memang tujuannya adalah mencetak gol, maka tugas mencetak gol tidak mutlak harus dibebankan kepada penyerang. Timbul ide untuk menerapkan multi tasking, job enrichment dan job enlargement kepada para gelandang untuk membantu mencetak gol. Kepada gelandang kemudian dibekali pelatihan khusus untuk tendangan jarak jauh. Karena kiper biasanya menghadapi penyerang dalam kotak penalti, maka perubahan mencetak gol dari jarak jauh sangat tidak diduga oleh kiper. Inovasi formasi tersebut terbukti efektif dan timnas Perancis untuk pertama kalinya memboyong piala Eropa 1984 setelah di final  mengalahkan timnas Spanyol.

Kembali ke struktur organisasi perusahaan, meskipun mungkin tidak sama persis dengan pola hubungan dan pengaruh strategi dan formasi kesebelasan, pada dasarnya struktur organisasi juga berkembang sejalan dengan perkembangan strategi bisnis yang mempengaruhinya. Bentuk-bentuk struktur oganisasi seperti fungsional, divisional, matriks dan lain sebagainya, didesain karena kebutuhan untuk mengimplementasikan strategi organisasi.

Bumi Serpong Damai, 5 Maret 2011

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on March 5, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 925 other followers

%d bloggers like this: