RSS

Pembagian Kerja Secara Seksual (Bagian 1)

17 Apr

“Jujur saja, orang paling berjasa dalam keluarga kami adalah istri saya”, demikian pengakuan Sofjan Wanandi dalam wawancara dengan wartawan Stefanus Osa Triyatna dan Hamzirwan yang dimuat dalam rubrik Persona, Kompas, 6 Maret 2011. Masih di rubrik yang sama, Sofjan menambahkan “dalam keluarga, sejak dahulu ada semacam pembagian tugas. Istri menjaga dan mendidik anak-anak, sedangkan saya lebih banyak bertugas di luar. Saya memberikan pendidikan dan memotivasi anak-anak untuk menjadi yang terbaik di sekolah.”

Menjadi ibu rumah tangga adalah pasti pilihan bukan main-main dan hasilnya bisa bukan main. Saya yakin dua keponakan saya yang menjadi doktor adalah berkat kasih sayang, restu, dan do’a dari seorang ibu. Saya percaya bahwa pengorbanan seorang perempuan meninggalkan bangku kuliah dan kemudian “hanya” menjadi ibu rumah tangga mendampingi suaminya bertugas di pedalaman Irian Jaya (sekarang Papua) adalah pilihan mulia. Semua anak-anak mereka sekarang sudah “menjadi orang” dan menjalani kehidupan yang layak.

Meskipun menurut sistem kapitalis menjadi ibu rumah tangga bukan suatu “profesi” dan karena itu tidak dibayar, kontribusi seorang ibu bagi kemanusiaan, masyarakat, bangsa dan negara tidak bisa dianggap remeh temeh. Saya salut kepada ibu-ibu muda yang sempat menjadi duta ASI (antara lain Ine Febriyanti dan Sophie Novita) dan bersama para ibu lainnya (bahkan para selebriti seperti mantan putri Indonesia 2004 Atika Sari Devi) mereka aktif dalam kampanye ASI. Bahkan di berbagai media seringkali diberitakan para wanita karir yang memilih berhenti bekerja dan memilih full time sebagai ibu rumah tangga. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para wanita karir, sebagai “alumnus” PASI (penggemar air susu ibu), saya benar-benar salut kepada para perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga.

Setiap menjelang perayaan hari kemerdekaan Indonesia, ada tradisi “bagi-bagi” bintang tanda jasa kehormatan kepada orang-orang yang berjasa kepada bangsa dan negara. Tidak aneh kalau mereka yang mendapatkan bintang tanda jasa adalah seorang menteri dan mayoritas adalah kaum laki-laki. Kalau tidak salah, sekitar tahun 1992 Menkopolkam saat itu Laksamana (Purn) Soedomo mengumumkan beberapa anak bangsa mendapatkan bintang jasa kehormatan, di antaranya beberapa isteri menteri. Dasar pertimbangan pemberian bintang jasa kehormatan kepada para isteri menteri adalah karena mereka, sebagai ibu rumah tangga, telah berjasa mendukung para suami sehingga para suami merasa tenang dapat konsentrasi penuh untuk melaksanakan tugas-tugas yang diamanahkan oleh bangsa dan negara. Apapun yang terjadi di zaman orde baru orang bisa bilang itu sudah direkayasa. Tetapi menganggap remeh kontribusi seorang ibu rumah tangga mendukung karir suami dan mendidik anak-anak juga tidak tepat.

Pembagian kerja secara seksual ada dalam masyarakat manapun yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Tentu saja sudah ada perubahan sosial yang mengubah pola pembagian kerja secara seksual tidak lagi “murni” seperti yang dijelaskan oleh Sofjan Wanandi. Meskipun demikian, terutama di Indonesia, pembagian kerja secara seksual yang menempatkan perempuan di sektor domestik dan tidak mendapatkan gaji, sementara kaum laki-laki berada di sektor publik dan mendapatkan gaji, masih dianggap sahih dan tidak perlu diperdebatkan.

Tidak keliru kalau kemudian sosiolog Arief Budiman (1981) berkomentar bahwa pembagian kerja secara seksual adalah “sebuah persoalan yang sudah terlalu lama ter (di)kubur dalam sejarah perkembangan umat manusia.” Tidak hanya budaya Timur, melainkan juga budaya Barat masih melakukan “pembiaran” terhadap pembagian kerja secara seksual “konvensional” tersebut. Bahkan teori-teori sosiologi dengan pendekatan fungsional berusaha “melanggengkan” pembagian kerja secara seksual “konvensional” adalah “baik” karena memang dibutuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Secara garis besar terdapat dua teori tentang pembagian kerja secara seksual, yaitu teori nature dan teori nurture (Arief Budiman, 1981).  “Teori nature”, demikian Arief Budiman,  “beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara laki-laki dan wanita disebabkan oleh faktor-faktor biologis kedua insan ini. Sedangkan teori nurture beranggapan bahwa perbedaan ini tercipta melalui proses belajar lingkungan.” Artinya, pembagian kerja secara seksual disebabkan oleh perbedaan faktor biologis antara kaum laki-laki dan perempuan, serta faktor sosio-kultural.

Sikap saya terhadap pembagian kerja secara seksual adalah netral. Artinya, setiap orang adalah pihak yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi keluarganya. Apapun keputusan setiap pasangan suami istri yang diambil berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, istri bekerja dan menjadi wanita karir atau “hanya” menjadi ibu rumah tangga, kedua-duanya adalah pilihan terbaik. Bagi saya pribadi, menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, kedua-duanya adalah bekerja.

Perlu dicatat bahwa sistem masyarakat kapitalis berperan terhadap perlakuan tidak adil terhadap kaum wanita. Mereka  yang bekerja di luar rumah mendapatkan gaji dan bekerja di sektor rumah tangga tidak mendapatkan gaji. Pendapat dari Eli Zaretsky,  sebagaimana dikutip oleh Arief Budiman, menunjukkan bahwa “dalam sistem masyarakat kapitalis, sektor masyarakat dikaitkan dengan sistem pasar, sedangkan sektor rumah tangga merupakan sektor pribadi yang tidak dicampuri oleh sistem pasar. Dalam sistem masyarakat kapitalis, segala sesuatu dinilai menurut nilai tukarnya di pasar, berdasarkan permintaan dan penawaran.” (Arief Budiman, 1981). Dalam sistem masyarakat kapitalis, manusia juga diperlakukan sebagai komoditas, begitu juga perlakuan terhadap kaum perempuan yang berada di sektor domestik, tidak mendapatkan penghargaan apapun.

Sejarah pembagian kerja secara seksual menunjukkan bahwa pada suatu masa kaum perempuan pernah lebih “berkuasa” dibandingkan dengan kaum laki-laki. Arief Budiman (1981) mengutip pendapat Ernestine Friedl, seorang ahli anthropologi sebagai berikut : “di dalam masyarakat primitif, wanita lebih penting daripada laki-laki. Pada masyarakat primitif, ketika manusia hidup masih mengembara dalam kelompok-kelompok kecil, bahaya yang paling besar adalah musnahnya kelompok itu karena matinya anggota kelompok ini satu-satu. Karena itu, jumlah anggota kelompok harus sedapat-dapatnya diperbesar, dengan melahirkan bayi-bayi baru.”

Karena kebutuhan untuk mempertahankan kesinambungan kehidupan kelompok, maka kaum perempuan dianggap relatif lebih penting daripada kaum laki-laki. Karena tugasnya untuk melahirkan, kaum perempuan mendapatkan perlindungan dan dibebaskan dari kewajiban-kewajiban untuk melakukan pekerjaan berbahaya, dan karena itu harus tinggal di rumah. Inilah pembagian kerja berdasarkan seksual yang pertama-tama, di mana kaum laki-laki harus bekerja di luar rumah, dan kaum perempuan bekerja di dalam rumah tanggal yang relatif aman.

Sejatinya, sejarah juga mencatat bahwa pembagian kerja seksual lebih disebabkan oleh kebutuhan keluarga dan masyarakat, bukan disebabkan oleh faktor kekuasaan kaum yang satu terhadap kaum yang lain. Seperti dikatakan oleh Guettel, “pada waktu itu pembagian kerja secara seksual merupakan sesuatu yang tidak bersifat eksploatatif, dalam pengertian bahwa tidak ada pihak yang diuntungkan karena adanya pembagian kerja seperti itu.” (Arief Budiman, 1981).

Pembagian kerja secara seksual menjadi bersifat eksploatatif terjadi sejak sistem masyarakat kapitalis. Dalam sistem masyarakat kapitalis, mereka yang menguasai faktor-faktor produksi memiliki kekuasaan dan karena itu kedudukan sosial dalam masyarakat menjadi kuat.  Sistem masyarakat kapitalis menemukan “peak performance” dengan kehadiran revolusi industri. Dalam konteks pekerjaan, revolusi industri memisahkan secara tegas antara rumah sebagai tempat tinggal, sementara kantor dan pabrik adalah tempat kerja yang sesungguhnya.

Futurulog seperti John Naisbitt dan Patricia Aburdene (penulis buku Megatrends) maupun Alvin Toffler (penulis buku Future Shock dan The Third Wave) pernah meramalkan bahwa dalam masyarakat informasi dan pengetahuan, kaum perempuan akan sangat diuntungkan dengan kehadiran teknologi. “Ramalan” Toffler terbukti benar bahwa kehadiran teknologi telah memungkinkan sistem kerja baru telecommuting yang “mengembalikan” bersatunya tempat tinggal dan tempat kerja.

Saat ini kita memang sudah hidup di era yang disebut oleh Bill Gates sebagai web lifestyle (gaya hidup internet) dan web workstyle (gaya kerja internet). Teknologi informasi dan komunikasi mendukung siapa saja (termasuk kaum perempuan) untuk bekerja di rumah. Meskipun demikian, karena sistem masyarakat kapitalis masih dominan, perubahan persepsi tentang pembagian kerja secara seksual seolah-olah berjalan di tempat (bersambung).

Bumi Serpong Damai, 14 April 2011.

About these ads
 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 923 other followers

%d bloggers like this: