RSS

Sungai-Sungai di Jerman

16 Jun

Saya mendapat banyak pertanyaan dari para sahabat tentang perihal yang sama, yaitu banjir di Jerman. Dari sekian banyak pertanyaan, ada dua pertanyaan utama yang mereka ajukan. Pertama, mengapa di Jerman banjir?. Kedua, kok bisa di Jerman banjir.

Jawaban untuk pertanyaan kedua sangat mudah dan saya sudah menjawab melalui e-mail, bbm, sms, dan telepon (saya tidak menggunakan twitter). Bahkan, mereka yang bertanya pun sudah mengetahui jawabannya sebelum saya jawab. Melalui berbagai media komunikasi tersebut saya menjawab bahwa, hanya di surga tidak ada banjir. Tidak percaya? Tanyakan saja kepada para pengembang (developer).

Saya menganggap pertanyaan pertama lebih serius, paling tidak diwakili oleh kata tanya “mengapa”. Tetapi artikel ini tidak secara langsung menjawab pertanyaan mengapa di Jerman banjir. Penyebab banjir di Jerman, terutama banjir yang melanda kota-kota eks Jerman Timur seperti Magdeburg (saya pernah tinggal di kota ini sekitar 3,5 bulan) dan Berlin adalah air sungai yang meluap. Mengapa bisa begitu? Saya persilakan anda menyimak berita di media cetak dan elektronik.

***

Kawasan Jerman “dikepung” oleh sungai. Hampir tidak ada kota-kota di Jerman yang tidak “dibelah” oleh sungai. Mulai dari kota besar seperti Berlin dan Frankfurt am Main sampai dengan kota kecil seperti Saarbruecken dan Heidelberg, semua “dibelah” oleh sungai.

Di Berlin mengalir sungai Spree. Di Frankfurt am Main mengalir sungai Main, sedangkan sungai Rhein  membelah kota Duesseldorf. Demikian juga dengan Saarbruecken yang dialiri oleh sungai Saar (secara harfiah, Saarbruecken berarti “jembatan-jembatan di atas sungai Saar”.  Dalam bahasa Jerman,  brueck berarti jembatan, bruecken adalah bentuk jamak). Sedangkan di kota Heidelberg mengalir sungai Neckar.

Di Jerman ada dua kota yang memiliki nama sama, yaitu Frankfurt. Kota Frankfurt yang satu disebut Frankfurt am Main dan yang lain disebut Frankfurt an der Oder yang terletak di sisi timur laut Jerman dan berbatasan dengan Polandia. Sungai menjadi pembeda kota. Frankfurt yang satu “dibelah” oleh sungai Main, sedangkan di kota Frankfurt yang lain mengalir sungai Oder. Jika ada terbang ke Jerman, pesawat anda akan mendarat di Frankfurt am Main.

Bild

Sungai Rhein di Duesseldorf-Jerman, Agustus 2009

Sejatinya, bukan hanya di Jerman sungai “mengepung” suatu negara dan “membelah” suatu kota. Hampir semua kota di Eropa Barat, Eropa Selatan, dan Eropa Timur yang pernah saya kunjungi, semua “dikepung” dan “dibelah” oleh sungai. Budapest, ibukota negara Hongaria, dibelah sungai Danube, yang memisahkan Buda di sebelah atas dan Pest di sebelah bawah dari kota. Austria juga dibelah oleh sungai Danube (atau sungai Donau, dalam bahasa Jerman) yang merupakan sungai yang sama mengalir di Budapest.

Sungai adalah sumber kehidupan. Di mana ada air, di situ ada kehidupan manusia. Di “zaman kuda gigit besi”, manusia sangat tergantung kepada sungai. Kehidupan manusia, terutama mobilitas manusia, tidak dapat dipisahkan dari sungai. Bahkan, sungai juga merupakan sumber inspirasi. Untuk melukiskan kekagumannya yang membuncah pada sungai Danube, komponis Johann Strauss II bahkan menggubah sebuah karya “Blue Danube” (“An der schönen blauen Donau“ dalam bahasa Jerman). Jika anda suka musik klasik atau nonton balet, anda akan tahu bahwan Blue Danube adalah musik wajib yang harus dimainkan ketika “dansa dansi”.

***

Mengapa di “zaman kuda gigit besi” sungai memiliki peranan vital dalam kehidupan manusia dan menjadi andalan untuk mobilitas manusia dan barang? Bahkan kini, terutama yang saya pernah lihat di Koblenz, sebuah kota di sebelah barat Jerman, sungai masih diandalkan untuk mobilitas barang. Peranan vital dari sebuah sungai dapat dijelaskan melalui teori perkembangan kota atau daerah.

Para sosiolog membedakan 3 teori perkembangan kota sebagai berikut : pertama, concentric  zone hypothesis yang digagas oleh Ernest W. Burgess; kedua, axiate hypothesis of urban growth yang digagas oleh Charles J. Galpin; dan ketiga, sector hypothesis dari Homer Hoyt? Membingungkan bukan?

Untuk memudahkan anda, saya menggunakan istilah yang dapat diterima dan dimengerti oleh semua orang. Teori pertama dari Burgess saya sebut “Teori Konsentris”, gagasan dari Galpin saya sebut “Teori Jalur Transportasi”, dan teori dari Hoyt saya sebut saja sebagai “Teori Inti”. Bagaimana, lebih mudah?

Menurut “Teori Konsentris”, suatu kota berkembang dari pusat kota dan kemudian membesar atau “melebar” ke arah luar. Pusat kota menjadi pusat dari semua aktivitas manusia, terutama bekerja. Pusat bisnis (kantor dan pabrik) berada di tengah kota. Tepian kota menjadi kawasan hunian atau tempat tinggal. Demikian seterusnya kota berkembang ke arah luar. Setelah kota menjadi padat manusia, pabrik tidak lagi berada di tengah kota, tetapi dipindahkan ke luar kota. Burgess merujuk kota Chicago sebagai kota yang berkembang menurut “Teori Konsentris”.

Menurut “Teori Jalur Transportasi”, sebuah daerah atau kota akan berkembang mengikuti perkembangan jalur transportasi. Hampir semua daerah atau kota di dunia – terutama di “zaman kuda gigit besi” – berkembang di sepanjang jalur transportasi. Di saat teknologi kendaraan darat (kendaraan bermotor roda 4 atau lebih dan kereta api) dan transportasi udara belum berkembang pesat, teknologi transportasi air adalah primadona. Itulah sebabnya, semua kota dibangun selalu dekat dengan sungai. Secara tradisional, mobilitas manusia dan barang sangat mengandalkan transportasi sungai. Karena itu, di masa yang lalu, sungai sangat mempengaruhi perkembangan suatu daerah dan kota. Di masa yang lalu, hampir semua kota di Jerman berkembang menurut “Teori Jalur Transportasi”. Bahkan, beberapa kota di Eropa Barat (Austria, Paris) dan Eropa Timur (Budapest dan Ljubljana) juga berkembang di sepanjang jalur sungai.

Sedangkan menurut “Teori Inti”, suatu daerah atau kota berkembang menurut pusat-pusat kegiatan yang menjadi pusat aktivitas manusia untuk mengadakan kerja sama dan transaksi. Pusat perdagangan, kawasan industri, kawasan wisata, adalah contoh inti yang menjadi magnet bagi manusia untuk melakukan aktivitas di kawasan tersebut dan menjadikan kawasan tersebut menjadi berkembang.

Secara umum, kota-kota di Jerman mengikuti pola perkembangan kota di sepanjang jalur sungai (transportasi). Tetapi beberapa kota di Jerman berkembang sesuai dengan teori inti. Sebut saja kota Wolfsburg, kota industri tempat mobil VW dan Audi diproduksi. Kota Stuttgart juga menjadi lebih “hidup” karena produsen mobil Mercedes-Benz memilih “markas besar” mereka di sana.

Tetapi kota kecil seperti Heidelberg pun tetap dapat eksis dan berkembang di Jerman dengan mengandalkan diri sebagai “kota pendidikan”. Mereka yang belajar kedokteran pasti mengenal Universitas Heidelberg yang terkenal dengan fakultas kedokteran. Demikian juga dengan kota Chemnitz yang terkenal sebagai pusat perkembangan teknologi serat optik. Sementara kota Schwerin dikenal sebagai pusat penelitian energi terbarukan.

Di Jerman, setiap kota memiliki kekhasan dan “competitive advantage” yang menjadi andalan untuk perkembangan kota. Setiap kota mengemban tugas sebagai pusat perkembangan sehingga beban Berlin sebagai ibukota negara tidak terlalu berat. Pemerintah Republik Federal Jerman, terutama setiap pemerintah di negara bagian, cerdik mengelola daerah mereka masing-masing sehingga memiliki “competitive advantage” yang menjadi andalan untuk perkembangan daerah masing-masing.

Di Jerman, anda tidak akan pernah menemukan urbanisasi. Berlin bukan segala-galanya. Bahkan, ketika ibukota Jerman Barat masih di Bonn, daerah ini tidak lebih seperti sebuah kecamatan di Indonesia. Tidak semua ada di Bonn, bahkan bandar udara internasional yang menjadi pintu keluar dan masuk mobilitas manusia dan barang. Saat itu, Bonn adalah kota pemerintahan.

Itulah kreativitas bangsa Jerman yang mengandalkan otak mereka untuk membangun daerah masing-masing, tidak hanya tergantung dari penerimaan pajak. Bandingkan dengan kota-kota di Indonesia yang dibangun dengan mengandalkan pajak dan restribusi. Karena membutuhkan dana untuk membangun kota dan gaji pegawai, maka tidak heran di suatu masa pernah ada tindakan “menghalalkan” (baca: melegalkan) prostitusi. Sebuah ironi di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hiks…… hiks…… hiks…

***

Kini, peran sentral sungai sebagai pendorong kemajuan sebuah daerah dan kota, serta pendukung utama mobilitas manusia dan barang di Jerman, telah digantikan oleh sarana transportasi lain, terutama kereta api. Bukan berarti peran sungai telah berakhir. Romantisme dengan sungai tetap berlanjut, antara lain untuk tujuan wisata.

Era “kuda gigit besi” telah berakhir. Tak ada lagi besi yang tersisa yang bisa digigit oleh kuda. Semua besi telah habis untuk membangun rel yang menghubungkan seluruh wilayah Jerman, tidak hanya antarkota, melainkan juga antardesa.

Saya merekomendasikan,  kalau anda mau merasakan pengalaman dan pengamalan sila keempat Pancasila “Kemanusian Yang Adil dan Beradab” di sektor transportasi, nikmatilah sensasi naik kereta api di Jerman. Nantikan artikel saya tentang “Naik Kereta Api Tut…. Tut….Tut….”

 

Tampak Siring, 16 Juni 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 924 other followers

%d bloggers like this: