RSS

Monthly Archives: February 2011

Muktamar Organ Tubuh

Advertisements
 
Comments Off on Muktamar Organ Tubuh

Posted by on February 24, 2011 in Selasar

 

Telecommuting

Sebuah perusahaan di Jakarta menawarkan pekerjaan dengan kondisi pekerjaan  sebagai berikut : anda boleh berkantor di mana saja dan bekerja dengan jadual kerja yang fleksibel,  dengan ketentuan anda memiliki komputer pribadi, koneksi internet dan siap datang ke kantor untuk keperluan koordinasi kerja.

Teknologi informasi memberdayakan manusia sehingga mampu mengatasi ruang dan waktu. Aplikasi teknologi informasi di dunia kerja memungkinkan manusia untuk bekerja di mana saja dan kapan saja. Meskipun demikian, manfaat yang disediakan oleh teknologi informasi dan teknologi komunikasi belum digunakan secara optimal, terutama dalam konteks tempat kerja dan tempat tinggal.

Telecommuting memanfaatkan keunggulan-keunggulan teknologi informasi dan komunikasi di bidang pekerjaan yang memungkinkan seseorang dapat bekerja di mana saja dan kapan saja, termasuk tempat tinggal yang digunakan sebagai tempat kerja. Meskipun memiliki nilai tambah, telecommuting tidak mudah untuk diterapkan. Telecommuting tidak sekedar fleksibilitas tempat kerja dan jam kerja, melainkan juga menuntut gaya manajemen, pola hubungan kerja, dan bahkan knowledge, skills dan attitude yang sangat berbeda dari karyawan. Tidak semua pekerjaan cocok dengan telecommuting.

Problem Klasik Tempat Kerja terpisah dari Tempat Tinggal.

Salah satu kendala bagi karyawan yang bekerja di kota-kota besar seperti  di Jakarta  adalah faktor jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja. Sudah lazim karyawan yang tinggal di Bekasi misalnya, harus bekerja jauh dari Bekasi, entah di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.  Faktor jarak dan waktu tempuh sudah cukup membuat karyawan kelelahan sebelum karyawan memulai pekerjaan yang sesungguhnya di tempat kerja. Kadang-kadang faktor jarak antara tempat kerja dengan tempat tinggal relatif tidak jauh, namun faktor kemacetan menambah derita karyawan untuk menuju tempat kerja. Karyawan yang bekerja di Jakarta, paling kurang membutuhkan waktu 2 jam untuk pergi dan pulang kerja, bahkan ada yang membutuhkan waktu rata-rata 4 jam. Waktu yang sangat berharga dan terbuang begitu saja, sangat berdampak pada tingkat kebugaran dan kesegaran karyawan, pemborosan biaya dan kerusakan lingkungan hidup karena polusi dari asap kendaraan bermotor.

Kejadian seperti itu sepertinya sudah umum dan dianggap wajar dan karena sulit diatasi, maka karyawan terpaksa  “taken for granted”. Kelelahan yang diderita karyawan setiap hari sebelum bekerja merupakan kendala terbesar untuk mewujudkan kinerja yang efisien, efektif, produktif dan inovatif. Bagaimana mungkin karyawan akan bekerja efisien, efektif, produktif dan inovatif, kalau sebelumnya karyawan sudah menghabiskan waktu, biaya dan energi yang relatif besar untuk hadir di tempat kerja.

Solusi jitu untuk mengatasi pemborosan waktu, biaya, dan energi karyawan menuju tempat kerja adalah dengan menerapkan telecommuting atau juga disebut telework, yaitu “a work arrangement in which employees enjoy flexibility in working location and hours. In other words, the daily commute to a central place of work is replaced by telecommunication links” (www.en.wikipedia.org).

Di luar negeri praktek telecommuting merupakan salah satu benefit yang ditawarkan perusahaan kepada karyawan. Di Indonesia, telecommuting masih belum lazim dan cenderung “ditolak” dengan berbagai alasan, dari alasan “karena penerapan telecommuting dapat membuat karyawan saling iri dan keresahan di antara karyawan”, sampai dengan alasan “sulit untuk mengawasi proses kerja dan hasil kerja karyawan”. Dari segi teknologi informasi dan komunikasi, tidak ada kendala teknis yang berarti untuk menerapkan telecommuting di dunia kerja.

Tempat Tinggal adalah Tempat Kerja.

Dalam bukunya The Third Wave and Future Shock, futurolog Alvin Toffler menunjukkan “sisi manusiawi” dari teknologi, terutama aplikasi teknologi informasi di dunia kerja. Salah satu manfaat terbesar dari teknologi informasi adalah kemampuannya untuk memberdayakan manusia sehingga mampu mengatasi ruang dan waktu. Berkat kehadiran teknologi, manusia mampu berkomunikasi dengan orang lain, – bahkan dengan “tatap muka’ – yang berada di tempat yang jaraknya sangat jauh. Berkat kehadiran teknologi informasi, manusia mampu mengakuisisi dan berbagi informasi dan pengetahuan dengan orang lain yang berada jauh dari dirinya, pada waktu yang bersamaan. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala bagi manusia untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan sekedar silaturahmi.

Toffler mencoba menjelaskan bahwa teknologi informasi sangat bermanfaat untuk mengatasi problem dunia kerja, terutama jarak antara tempat kerja dan tempat tinggal yang terpisah. Konon, salah satu malapetaka besar yang dialami manusia adalah pada saat tempat kerja dan tempat tinggal terpisah, setelah sebelumnya keduanya sempat berada di tempat yang sama. Revolusi peradaban manusia telah mengakibatkan tempat tinggal dan tempat kerja menjadi terpisahkan oleh jarak. Toffler membagi dunia dalam tiga revolusi, yaitu revolusi pertanian, revolusi industri, dan revolusi informasi. Tempat tinggal dan tempat kerja pada masing-masing revolusi tersebut berbeda.

Pada saat revolusi pertanian, tempat kerja dan tempat tinggal berada di satu tempat. Hal ini dimungkinkan karena pada saat zaman pertanian, produsen dan konsumen adalah sama. Orang dapat memproduksi sendiri kebutuhan-kebutuhannya dengan bekerja tanpa harus berangkat menuju tempat kerja. Pada saat revolusi industri, tempat tinggal dan tempat kerja (pabrik dan kantor) berada di tempat yang terpisah. Pada umumnya pabrik dan kantor di kawasan perkotaan dan kemudian dengan perkembangan kota yang pesat, cenderung di bangun di kawasan pinggiran kota. Akibatnya, jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja menjadi semakin jauh dan waktu tempuh yang diperlukan semakin meningkat. Manusia kian mengalami dehumanisasi, waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakatnya menjadi sangat terbatas. Ritme kehidupan manusia tidak lagi ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh jadual kerja dan jadual operasional mesin-mesin pabrik.

Revolusi informasi yang ditandai oleh kehadiran teknologi informasi memungkinkan manusia besar mendapatkan lagi kesempatan dan waktu yang lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakatnya. Kehadiran teknologi informasi mampu mempersatukan kembali tempat tinggal dan tempat kerja yang sempat terpisah sejak revolusi industri. Kehadiran teknologi informasi memungkinkan manusia bekerja dan bekerja sama dengan orang lain di mana saja dan kapan saja tanpa keharusan selalu bertatap muka.

Pro dan Kotra Terhadap Telecommuting

Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara maju yang telah memiliki teknologi informasi dan komunikasi relatif canggih, telecomutting masih belum dapat diterima oleh semua pihak dan sebagian tertentu perusahaan tidak menerapkannya.

Mereka yang pro pada telecomutting mengedepankan beberapa manfaat potensial yang disediakan telecomutting, antara lain karyawan dapat bekerja anywhere dan anytime, mengurangi mobilitas fisik di jalan raya sehingga memberikan dampak positif bagi transportasi (kemacetan pada jam-jam sibuk  perjalanan dari tempat tinggal ke tempat kerja atau sebaliknya dari tempat kerja pulang ke tempat tinggal) dan lingkungan hidup yang menjadi bersih karena tidak banyak kendaraan yang berada di jalan raya, dan keleluasaan menentukan jadual kerja sendiri.

Pihak-Pihak yang kontra terhadap telecomutting berusaha menunjukkan beberapa kelemahan, antara karyawan akan merasakan alienasi karena tidak atau jarang berhubungan dengan rekan kerja maupun atasannya, berkurangnya kesempatan komunikasi sosial dengan rekan kerja dan atasan, kendala teknologi berupa kemungkinan ketidakamanan data yang dikategorikan rahasia, dan berbagai alasan lainnya.

Apapun perbedaan sudut pandang dan kepentingan terhadap telecomutting pada dasarnya menunjukkan bahwa perlu persiapan yang matang untuk penerapan telecomutting, terutama contigency plan untuk mengatasi dampak negatif dari telecommuting. Kedepan, terutama di kota-kota besar di mana masalah transportasi umum sulit untuk ditata dan kemacetan sulit diatasi dengan percepatan pembangunan prasarana dan sarana transportasi publik, telecommuting dapat menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan.

Bumi Serpong Damai, 22 Februari 2011.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Human Capital

 

Father and Son

Jum’at 24 Pebruari 06 yang lalu, saya leyeh-leyeh sambil nonton acara yang mirip-mirip penyerahan Piala Oscar di negeri Paman Sam. Pada acara British Academy Film Award (BAFTA) 2006, Stephen Frey yang diminta untuk menjadi presenter membuka acara dengan gaya dan suasana santai. Setelah berbasa-basi mengucapkan “Selamat Malam dan Selamat Datang”, Frey mengatakan bahwa “keramahtamahan dan kesopanan anda pada malam ini merupakan bukti keberhasilan Ibu anda”.

Tidak ada yang tertawa dan tidak ada yang “ngeh” dengan ucapan Frey.  Saya yang bukan artis dan tidak ada hubungan dengan BAFTA malah ”semriwing” mendengar ucapan Frey. Dalam bahasa dan kalimat yang berbeda – tetapi mempunyai makna yang sama –  31 tahun yang lalu bapak saya pernah mengucapkan kalimat itu kepada saya.

Masa kecil saya tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Seperti anak-anak sekolah dasar, saya ikut permainan apa saja : main kelereng, layangan, sepak bola. Saat Ramadhan biasanya saya juga nggak mau kalah untuk bersama teman membuat dan main meriam bambu. Tetapi permainan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah ketapel, atau kalau dalam bahasa Jawa disebut plintengan.

Saya mencoba meringkas kehidupan saya dari balita sampai dengan remaja adalah sebagai berikut : clingus (pemalu dan malu-maluin), ngglidik (nakalnya anak tingkat sekolah dasar), ndugal (nakalnya anak-anak tingkat SLTP) dan kurang ajar (nakalnya anak tingkat SLTA).

Gara-gara main ketapel, saya tidak pernah lupa dengan hukuman yang saya terima dari bapak saya. Pernah suatu saat ketapel saya mengenai dan memecahkan kaca rumah. Karena yang melakukan saya,  sangat tidak mungkin saya lempar batu sembunyi tangan. Saya segera masuk rumah dan melapor kepada bapak saya bahwa saya lah yang telah memecahkan kaca, mengaku salah, dan minta maaf. Tidak lupa saya memberi ”bonus” kepada bapak saya ”saya siap dihukum”.

Barangkali melihat ”kejantanan” saya, bapak saya ”hanya” menghukum saya untuk menulis indah kalimat ”Saya tidak akan main ketapel lagi” sebanyak seratus kali. Jujur saja, hukuman itu sangat ringan. Sambil bersantai-santai saya menyelesaikan tugas menulis indah dalam waktu 2 jam.

Saya kembali melapor dan menyerahkan tugas kepada bapak saya. Setelah diperiksa, bapak saya memasukkan ”kerajinan tangan” saya tersebut dalam amplop bersama-sama dengan surat yang ditulis oleh bapak saya. Kemudian bapak saya menjelaskan bahwa saya harus menyerahkan ”tulisan indah” saya dan surat dari bapak saya kepada wali kelas saya. Sebagai bukti bahwa saya telah menyerahkan surat tersebut adalah tanda terima dari wali kelas.

Kontan saja saya menyatakan ”banding” dan ”kasasi” atas hukuman tambahan tersebut. Saya mengatakan sangat malu kalau harus menyerahkannya kepada wali kelas. Menanggapi ”banding” dan ”kasasi” dari saya, apalagi mendegar alasan saya yang malu, mendadak bapak saya tertawa terbahak-bahak.

Sambil mbujuki saya untuk mempunyai keberanian menyerahkan surat tersebut, bapak saya bilang bahwa ”dengan menyerahkan surat tersebut kepada wali kelasmu, seharusnya bapak yang malu. Bapak tidak hanya menunjukkan kenakalanmu kepada wali kelasmu, tetapi bapak juga menunjukkan kegagalan sebagai orang tua mendidikmu.”

Saya memang kemudian menyerahkan surat tersebut kepada wali kelas dan menunjukkan tanda terima dari wali kelas kepada bapak saya. Saya harus menyatakan rasa terima kasih kepada bapak saya karena telah mengajarkan saya untuk hidup menjadi manusia yang terhormat, berani dan mampu bertanggung jawab dan pantang membuat malu orang lain.

Pamulang, 26 Pebruari 2006

Salam,

Wisanggeni

 
2 Comments

Posted by on February 22, 2011 in Selasar

 

Manajemen Pengetahuan

Pendahuluan

Hiroyuji Itami, seorang profesor dari Universitas Hitotsubashi di Jepang, disebut-sebut sebagai penggagas awal sumber daya internal berbasis keunggulan bersaing.  Itami mendasarkan gagasannya dari hasil studinya tentang pengaruh aset tanwujud pada manajemen perusahaan-perusahaan Jepang. Itami menyimpulkan bahwa invisible assets atau aset tanwujud merupakan sumber keunggulan bersaing bagi perusahaan (Itami dan Roehl, 1987)

Mengapa Pengetahuan?

Alvin Toffler membagi tahap-tahap perkembangan masyarakat dalam dikelompokkan menjadi tiga perkembangan, yaitu masyarakat agraris, masyarakat industri dan masyarakat informasi. Ketiga bentuk masyarakat tersebut tetap eksis dalam suatu bangsa, meskipun dengan pola yang berbeda-beda. Masyarakat agraris cenderung dominan sampai dengan abad ke 18, masyarakat industri mulai tumbuh pada abad 19 sampai dengan pertengahan abad ke 20, dan masyarakat informasi dan terutama masyarakat mulai tumbuh pesat pada tahun 1970 an sampai dengan saat ini.

Dalam masyarakat industri dibutuhkan tiga faktor produksi, yaitu tanah, modal dan tenaga kerja. Perusahaan bertahan, bersaing dan berkelanjutan dengan menggunakan ketiga faktor produksi untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Dalam perkembangannya, perusahaan tidak lagi mampu mengandalkan ketiga faktor produksi untuk bertahan, bersaing, dan berkelanjutan.  Perusahaan membutuhkan faktor produksi baru, yaitu pengetahuan.

Adalah Peter F. Drucker yang memprediksi bahwa kontribusi “pekerja otot” akan semakin berkurang dan kontribusi “pekerja otak” semakin meningkat dan penting. Dalam bukunya The Age of Discontinuity (1969), Peter F. Druckter mengatakan bahwa “the most important contribution of management in the 20th century was the fifty fold increase in the productivity of the manual worker in manufactoring.” Pada bagian lain Druckter berpendapat bahwa “the most important contribution needed for the 21st century is a similar increase in productivity for knowledge worker.”

Mengapa pengetahuan dibutuhkan oleh perusahaan untuk bertahan, tumbuh dan bersaing? Pada dasarnya, setiap perusahaan perlu memiliki dan mempertahankan keunggulan kompetitifnya dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Keunggulan kompetitif merupakan modal bagi organisasi untuk bertahan, bersaing dan berkelanjutan. Inovasi merupakan kekuatan di belakang keunggulan kompetitif jangka panjang. Pengetahuan merupakan fondasi dan dibutuhkan untuk inovasi.

 

Mengapa Manajemen Pengetahuan?

Seperti bidang ilmu pengetahuan lainnya, para pakar di bidang manajemen pengetahuan juga memiliki definisi masing-masing. Apapun definisi manajemen pengetahuan yang digunakan, penerapan manajemen pengetahuan dalam suatu organisai harus mampu memberikan nilai tambah dan menjadi fondasi yang kuat bagi organisasi untuk bertahan, bersaing dan berkelanjutan. Tujuan dari manajemen pengetahuan adalah meningkatkan kapabilitas organisasi melalui penggunaan yang lebih baik terhadap sumber-sumber pengetahuan individu dan kolektiv.

Salah satu definisi manajemen pengetahuan yang diterima luas di Jerman adalah definisi dari Kai Mertins, Peter Heisig, Jens Vorbeck (Knowledge Management, Best Practice in Europe, 2001) sebagai berikut :

Knowledge Management describes all methods, instruments and tools that in a holistic approach contribute to the promotion of the core knowledge process – to generate knowledge, to store knowledge, to distribute knowledge and to apply knowledge supported by the definition of knowledge goals and the identification of knowledge – in all areas and levels of the organization.”

 

Bagaimana memulai manajemen pengetahuan?

Meskipun bukan merupakan bidang ilmu manajemen yang baru di Indonesia, dapat dipahami keragu-raguan untuk memulai menerapkan manajemen pengetahuan dalam suatu organisasi. Apa manfaat yang diperoleh organisasi jika menerapkan manajemen pengetahuan? Manfaat potensial dari penerapan manajemen pengetahuan memang mudah dijelaskan, tetapi menerapkan manajemen pengetahuan yang berdampak pada kinerja dan keunggulan kompetitif organisasi adalah tantangan yang tugas berat yang menuntut komitmen dan konsistensi manajemen puncak, keterlibatan dan dukungan dari semua anggota organisasi.

Karena itu, sebelum melaksanakan manajemen pengetahuan dalam organisasi, perlu ada pertimbangan yang mendalam dari manajemen puncak. Beberapa pertanyaan untuk melaksanakan manajemen pengetahuan, antara lain :

•       Apa tujuan yang akan dicapai?

•       Dari mana mulai?

•       Di bagian mana dalam organisasi dan tahap mana fokus investasi manajemen pengetahuan harus diarahkan?

•       Pengetahuan penting dan mendesak apa yang harus dikelola saat ini dan yang akan datang?

Persaingan bisnis yang semakin kompleks, kompetitif dan ditandai oleh perubahan-perubahan yang relatif cepat memang menuntut organisasi untuk mampu bertahan, bersaing dan berkelanjutan dengan mengandalkan sumber daya pengetahuan. Tuntutan untuk mengelola pengetahuan organisasi tidak dapat lagi untuk dihindarkan. Namun bagi organisasi apapun, lebih penting untuk memulai manajemen pengetahuan berdasarkan kebutuhan organisasi daripada sekedar keinginan.

Komitmen Manajemen Puncak

Implementasi manajemen pengetahuan tidak hanya membutuhkan sumber daya, melainkan juga komitmen dan konsistensi semua pihak dalam organisasi, terutama manajemen puncak. Keberhasilan suatu perubahan dan program mutlak didukung oleh manajemen puncak. Agar tidak layu sebelum berkembang, penerapan manajemen pengetahuan juga membutuhkan komitmen dan konsistensi manajemen puncak. Tidak hanya dukungan di tingkat strategi, melainkan juga dukungan pada tahap implementasi.

Probst bahkan mengibaratkan manajemen pengetahuan seperti wabah penyakit yang perlu mendapat perhatian dan penanganan khusus. Terutama pada tahap implementasi manajemen, diperlukan kesinambungan komitmen dan dukungan manajemen puncak. Dalam artikelnya “Practical Knowledge Management : A Model That Works”, Gilbert J. Probst mengingatkan sebagai berikut :

Knowledge management is highly political and needs top-management commitment. Knowledge management reevaluates the existing competency portfolio of the company and sets new priorities. In this process, current experts may lose their special standing. Knowledge transparency reduces information lead-time, which is often important in political games. This reduces the power base of the currently better-informed person.”

Bumi Serpong Damai, 20 Februari 2011

 

 

Technological Lag

Saat itu saya sedang “trance” dan menikmati “ber-sms-ria” menggunakan HP Nokia 3350 yang menjadi kebanggaan saya. Bangga, karena HP itu bukan hasil dari korupsi, bukan hadiah orang lain, melainkan hasil keringat saya sendiri.

Keasyikan saya terganggu oleh kehadiran bos saya yang tiba-tiba menyapa saya sembari melontarkan pernyataan destruktif. Saya masih ingat bagaimana wajah kaget bos mengetahui saya masih menggunakan HP N3350. Bos tidak hanya kaget, tetapi juga merasa nyaman mengatakan “hari gini masih pakai HP jadul yang dipakai oleh sopir”. Sebagai bawahan saya memang legowo membiarkan siapa saja yang menjadi bos untuk bicara seenak wudhelnya dan ber”harmoko” (hari-hari omong kosong) sampai bos sadar sendiri bahwa “everyone is wise until he speaks.”

Saya sama sekali tidak terprovokasi oleh pernyataan destruktif tersebut, justru saya menangkap makna bahwa di Indonesia HP mengemban fungsi tambahan. Sejatinya, fungsi teknologi komunikasi seperti HP adalah connecting people dan untuk menyampaikan pesan, data, dan informasi, baik dalam bentuk suara, gambar dan teks. Namun, biarkan saja jika kemudian ada sebagian orang yang menjadikan HP sebagai simbol status dan bagian dari pencitraan.

Menjadikan HP sebagai simbol status bukan kekhasan sikap dan perilaku manusia dari strata sosial bawah, tetapi  manusia dari strata sosial atas justru yang biasanya memiliki social status awareness paling peka dan rakus terhadap berbagai simbol status sosial. Bagi orang-orang tertentu, menggunakan teknologi komunikasi terkini dan tercanggih bukan saja menunjukkan “technology maturity level”, tetapi juga memberikan pesan kepada pihak lain tentang eksistensi dan betapa pentingnya “diferensiasi” terhadap orang lain.

Saya punya cerita nyata tentang seorang yang baru saja diangkat menjadi pejabat negara dan menunjukkan rasa syukur yang begitu tinggi dengan cara memamerkan teknologi komunikasi terkini dan tercanggih yang dimilikinya. Tidak lama setelah diangkat menjadi orang nomor 1 di lembaga yang dipimpinnya, Mr. X mengadakan acara syukuran atas amanah yang dari masyarakat, bangsa dan negara. Dalam acara itu diundang berbagai komponen dalam masyarakat, pejabat negara, keluarga, dan termasuk para senior yang pernah menjadi orang nomor 1 di lembaga tersebut maupun para kakak kelas dari Mr. X. Dalam satu meja bundar yang diisi oleh 10 orang, Mr. X duduk bersama dan berdialog dengan para senior dan kakak kelas yang hadir pada acara syukuran tersebut. Singkat cerita, Mr. X mengeluarkan HP keluaran terbaru dan paling canggih di kelasnya dan di zamannya. Tidak pernah Mr. X duga sebelumnya, justru HP itulah yang membuat mukanya merah padam dan malu bukan kepalang. Ketika Mr. X meminta masukan dan nasehat kepada salah seorang seniornya, orang yang ditanya tersebut malah menasehatinya untuk tidak membawa-bawa HP. Kalau sudah menjadi orang nomor 1 di sebuah lembaga yang setingkat kementerian, biarlah HP diserahkan kepada ajudan dan ajudan yang akan mengatur dan melayani “telephone management”.

Dalam hal memiliki dan menggunakan teknologi komunikasi, saya memang tergolong gagap teknologi (“gaptek”).  Meminjam istilah dalam teori  innovasi tentang technology adoption life cycle, saya dengan senang hati menggabungkan diri dalam kelompok late majority.  Sikap dan perilaku dari kelompok late majority terhadap teknologi adalah cenderung konservatif, wait and see, dan hold on. Saya memang merasa tidak perlu mengganti HP saya setiap saat dengan HP baru dan lebih “gaul” selama HP “jadul” masih memenuhi kebutuhan dasar saya untuk berkomunikasi. Sebagai orang biasa dan karyawan marginal saya memang tidak terlalu membutuhkan informasi real time,  baik untuk aktivitas pribadi maupun kantor.

Dalam konteks technology adoption life cycle saya belum merasa perlu dan menyegerakan diri untuk meningkatkan “technology maturity level” saya pribadi ke tingkat early adopter. Selama aktivitas pribadi, sosial dan kantor tidak terganggu, tidak ada salahnya saya tetap berada di “comfort zone” menggunakan HP jadul. Bahwa kemudian orang lain memandang saya sebelah mata dan mulut mereka ketus mengomentari HP jadul milik saya, ya biarkan saja. Bukankan “everyone is wise until he speaks?”

Saya membedakan antara gagap teknologi  dengan gegar teknologi (technological lag). Teknologi komunikasi sebagai bagian dari teknologi informasi adalah artefak budaya atau benda produk budaya suatu masyarakat. Fungsi utamanya adalah connecting people sekaligus mengatasi jarak fisik, jarak sosial dan kendala waktu. Dengan teknologi komunikasi maka orang yang pada saat bersamaan berada di tempat yang berbeda dan berjarak ribuan kilometer tetap dapat menyampaikan dan menerima pesan (data dan informasi, baik dalam bentuk suara, gambar dan teks) pada waktu yang bersamaan. Kendala utama pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bukan terletak pada jarak fisik dan waktu, tetapi justru pada jarak sosial.

Secanggih apapun teknologi informasi dan komunikasi tetap akan memiliki keterbatasan untuk mengatasi jarak sosial. Bahkan orang-orang yang pada waktu bersamaan sedang bekerja di dalam organisasi dan di kantor yang sama, justru bisa jadi mengalami jarak sosial relatif lebih jauh daripada komunikasi dengan mitra bisnis yang berada di benua lain. Tetapi dengan fungsi utama connecting people, teknologi komunikasi sangat membantu manusia untuk beraktivitas dan berkomunikasi tanpa lagi dipusingkan oleh faktor jarak fisik dan waktu yang dibutuhkan untuk berkomunikasi.

Bagi saya, ketidakmampuan untuk menggunakan teknologi komunikasi dan informasi sesuai dengan fungsi utamanya adalah gegar teknologi. Tingkat keparahan gegar teknologi jauh lebih kronis dibandingkan dengan sekedar gagap teknologi yang sekedar ketidakterampilan menggunakan fitur-fitur yang ada pada teknologi komunikasi dan informasi. Gegar teknologi berhubungan dengan salah menggunakan teknologi sesuai dengan fungsi dan peruntukannya, sedangkan gagap teknologi sekedar tidak terampil menggunakan teknologi dan dapat diatasi melalui pelatihan.

Gegar teknologi berhubungan dengan mindset. Setiap budaya memiliki tiga komponen, yaitu nilai-nilai budaya, struktur sosial dan artefak budaya. Semua barang yang diproduksi manusia adalah produk budaya yang dinamakan artefak budaya. Setiap artefak budaya diciptakan berdasarkan nilai-nilai budaya tertentu untuk mendukung aktivitas manusia dan membutuhkan struktur sosial sebagai tempat untuk implementasinya. Telepon, radio, kendaraan (darat, laut, udara) dan benda-benda teknologi lainnya diciptakan karena ada kebutuhan manusia untuk dapat berkomunikasi, melakukan mobilitas fisik dan sosial. Produk development cycle secara umum adalah need assessment, product development, product assessment dan diffusion. Tidak mungkin suatu produk budaya diciptakan tanpa didasarkan pada nilai-nilai budaya, tujuan dibuat dan fungsi tertentu.

Karena itu, tidak mungkin mengadopsi teknologi apapun tanpa memahami nilai-nilai budaya yang mendasari tujuan penciptaan dan fungsi teknologi tersebut. Ironisnya, masyarakat di negara-negara terbelakang secara teknologi, mengimpor teknologi tanpa memahami nilai-nilai budaya dan tujuan teknologi itu diciptakan. Pada dasarnya orang-orang yang menggunakan teknologi terkini dan tercanggih belum tentu dapat dikatakan sebagai early adopter, karena mengadopsi teknologi tidak mungkin mengabaikan pemahaman terhadap nilai-nilai dan tujuan yang mendasari penciptaan teknologi, serta tanpa memahami fungsi utama dari suatu teknologi.

Ada sebuah karikatur dalam majalah ilmu-ilmu sosial Prisma edisi tahun 80an. Dalam hal pemanfaatan teknologi, manusia Indonesia digambarkan sebagai seseorang yang sedang mengendarai mobil, badannya sudah berada di mobil tetapi kepalanya masih tertinggal di pedati. Analogi manusia yang mengalami gegar teknologi adalah seperti sedang mengendarai mobil, badannya sudah berada di mobil  tetapi kepalanya masih tertinggal di pedati.

Bumi Serpong Damai, 19 Februari 2011

 
Leave a comment

Posted by on February 19, 2011 in Selasar

 

Mbak dan Mas

Kelompok Kompas Gramedia (KKG) merasa perlu untuk membakukan panggilan kepada setiap orang yang bekerja di kelompok perusahaan tersebut. Hanya ada dua panggilan, yaitu mbak bagi perempuan dan mas untuk laki-laki.

Tanpa memandang asal usul seseorang dan perbedaan apapun di antara manusia yang tergabung dalam KKG, semua akan dipanggil sama. Jacob Utama, pendiri KKG dan orang nomor 1 yang paling dihormati dan disegani, akan dipanggil mas oleh semua orang. Dia juga akan memanggil mbak kepada seorang sekretaris dan mas kepada seorang office boy.

Meskipun tampaknya sangat sederhana, dibalik pembakuan panggilan kepada seseorang merefleksikan nilai-nilai organisasi. Panggilan mbak atau mas kepada setiap orang menunjukkan nilai-nilai menghargai orang lain dan kesetaraan. Tentu saja antara Direktur Utama dengan para manajer, staff dan karyawan dari golongan pangkat terendah ada perbedaan. Tetapi apapun perbedaan di antara manusia-manusia dalam organisasi, perbedaan yang lebih utama adalah perbedaan dalam hal amanah yang diemban. Dengan demikian, sama sekali tidak perlu dan tidak penting bagi seseorang untuk merasa lebih (“pintar”, “terhormat”, “senior” dan lain sebagainya) dibandingkan dengan orang lain.

Mungkin banyak organisasi lain yang juga membakukan panggilan kepada seseorang. Saya pernah bekerja di suatu perusahaan yang membakukan panggilan Bapak dan Ibu kepada siapapun orang di organisasi tersebut, tidak peduli orang tersebut masih muda (gadis maupun bujangan) atau sudah berumur dan menduduki jabatan relatif tinggi. Seorang Direktur akan memanggil Ibu kepada sekretarisnya dan Pak kepada seorang satpam. Alasan yang mendasari panggilan Bapak dan Ibu kepada siapapun adalah prinsip untuk menghargai orang lain tanpa memandang pangkat dan jabatan. Seorang satpam misalnya, meskipun dari segi pangkat dan jabatan bukan merupakan tandingan bagi seorang Direktur, tetapi ia adalah seorang manusia yang pantas dihormati dan menjadi kebanggaan keluarganya.

Memang tidak mudah untuk membakukan panggilan kepada seseorang. Kecenderungan umum adalah menyerahkan kepada setiap orang untuk memilih panggilan yang terbaik kepada orang lain. Seperti kata peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan salah, apa yang indah dan tidak indah, apa yang penting dan tidak penting, apa yang seharusnya dilakukan dan tidak seharusnya dilakukan, sepenuhnya hak prerogatif dari suatu kelompok sosial, apapun bentuk dan nama kelompok sosial itu. Karena itu, bisa saja seseorang yang berusia relatif muda tetapi telah menduduki jabatan manajer, merasa nyaman memanggil seorang satpam yang berusia relatif lebih tua hanya dengan menyebut nama satpam tersebut, dengan alasan jabatan manajer lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan jabatan satpam. Bahkan karyawan biasa yang memanggil seorang Direktur tanpa embel-embel Bapak atau Ibu, tetapi hanya menyebut namanya saja, bahkan nama gaulnya saja.

Sejatinya tidak ada yang benar dan salah, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah jika seorang Direktur dipanggil oleh bawahannya hanya dengan menyebutkan nama. Jika kebetulan Direktur tersebut adalah sahabat yang sudah menjalin persahabatan bertahun-tahun dan sudah terbiasa saling bertegur sapa dengan menyebutkan nama saja, tentu saja jika harus memanggil secara formal akan terasa “lucu” atau mungkin ada “hambatan sosial psikologis”.

Masalahnya adalah anggota suatu organisasi memiliki asal usul yang berbeda dan tidak semua merupakan sahabat, entah itu teman sekolah, kuliah, teman main musik, teman di klub olah raga dan sebagainya. Bagi orang yang bukan teman dari Direktur tentu akan merasakan perbedaan perlakuan dan jarak sosial dibandingkan dengan karyawan yang merupakan teman akrab dari Direktur. Jika seandainya Direktur yang bersangkutan mempersilakan siapapun karyawan boleh memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja, tetap saja ada hambatan sosial psikologis yang tidak dapat dihilangkan begitu saja.

Hambatan sosial psikologis disebabkan bukan karena kita orang Indonesia memiliki budaya ewuh pakewuh (rasa sungkan) dan cenderung memiliki “awareness” yang tinggi terhadap status sosial ekonomi dan senioritas. Memang tidak lazim bagi kita orang Indonesia memanggil orang yang lebih dari diri kita (baik dari segi umur, pendidikan maupun pangkat dan jabatan) hanya memanggil nama saja. Jangankan terhadap orang tua, bahkan memanggil kakak hanya dengan sebutan nama seringkali “kurang pas”.

Bahkan, di budaya Barat sekalipun, meskipun lazim memanggil orang lain dengan sebutan nama saja, faktanya itu tidak berlaku umum dan tidak selalu mudah dilakukan. Anak memang boleh-boleh saja memanggil orang tuanya dengan sebutan nama saja, tetapi dalam pergaulan masyarakat, prinsip saling menghargai orang lain tetap berlaku. Dalam bahasa Jerman dan Perancis yang memiliki kata orang kedua “kamu” dan “anda”, berlaku ketentuan bahwa “kamu” hanya boleh digunakan untuk situasi khusus, misalnya antara orang tua dengan anak, kedua belah pihak sudah saling mengenal baik, dlsb. Terhadap orang yang baru dikenal, wajib hukumnya menggunakan “anda” dan haram hukumnya menggunakan “kamu”.

Jika anggota organisasi semakin heterogen, ketiadaan pemanggilan seseorang secara baku dapat menimbulkan potensi masalah. Secara sosiologis, suatu kelompok sosial dibangun oleh tiga kemungkinan. Pertama, kesamaan darah (gemeinschaft of blood). Kedua, kesamaan daerah (gemeinschaft of locality). Ketiga, kesamaan pemikiran dan ideologi (gemeinschaft of mind). Seperti kata pepatah birds of a feather flock together, demikian juga dengan manusia.

Pada umumnya, manusia akan cenderung merasa aman dan berada di comfort zone jika bersama-sama dalam kelompok sosial yang dibangun atas kesamaan darah, atau kesamaan daerah, atau kesamaan pemikiran. Betapapun suatu organisasi dan bahkan perusahaan sekalipun mengklaim terbuka untuk orang-orang dari semua golongan dan tidak membedakan asal-usul seseorang, primordialisme memang tidak dapat dihilangkan begitu saja.

Semakin kompleks organisasi akan ditandai oleh keberagaman asal-usul anggotanya. Semakin heterogen suatu organisasi menuntut norma sosial dan etika sosial yang berbeda dengan organisasi yang relatif homogen, termasuk dalam hal etika memanggil seseorang. Dalam organisasi yang relatif heterogen tidak mudah untuk membangun “kita”. Justru organisasi yang heterogen secara alamiah memang telah mengandung perasaan “kami” dan “mereka”. Seringkali yang terjadi adalah jika disebutkan kata “kita”, masih ada kelompok yang merasa belum diterima sepenuhnya sebagai “kita”. Orang-orang yang sudah berada di comfort zone “kita” juga cenderung akan merasa kehilangan hak-hak istimewa mereka dengan bertambahnya orang-orang yang dimasukkan dalam kelompok “kita”.

Dengan membakukan panggilan kepada seseorang lain, pada dasarnya suatu organisasi telah berhasil menghilangkan hambatan-hambatan sosial psikologis dalam berkomunikasi, keistimewaan-keistimewaan tertentu yang dimiliki oleh orang-orang tertentu, atau bahkan kecurigaan terhadap komunikasi yang asimetris. Tidak ada lagi orang yang seolah-olah memiliki jarak sosial lebih dekat dengan pimpinan organisasi, sementara ada orang lain yang memiliki jarak sosial yang sangat jauh. Justru, dengan panggilan mbak dan mas, jarak sosial dan hambatan sosial psikologis dapat dihilangkan. Perbedaan status sosial ekonomi dan amanah tetap ada, tapi perasaan “kita” akan lebih mudah dibangun dalam organisasi yang memiliki respek terhadap semua orang dan mengedepankan prinsip kesetaraan.

Bumi Serpong Damai, 14 Februari 2011

Salam,

Wisanggeni

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Selasar

 

Hot Stove Rules

Seorang psikolog yang belum lama mengenal saya mencoba memetakan kepribadian saya. Dari ngomong ngalor-ngidul sebentar saja, ia sudah mampu secara tepat mengklasifikasikan kepribadian saya dalam kelompok “compliance”. Sisi “baik” dari kepribadian compliance adalah mengedepankan equal before law dan  haqqul yaqin bahwa the King can do wrong. Sisi “jahat”nya orang berkepribadian compliance adalah segala sesuatu dilihat dengan aturan. Pokok-e semua harus tunduk dan patuh pada aturan.

Saya menganalogikan peraturan dengan traffic light. Akal sehat saya mengalami kesulitan luar biasa kalau harus memahami lampu merah sebagai jalan terus, lampu kuning siap-siap menerabas, dan lampu hijau diartikan sebagai berhenti. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kacaunya kehidupan di dunia ini kalau manusia tidak mempunyai kesamaan persepsi terhadap ketiga lampu pengatur lalu lintas tersebut.

Tetapi Australia memang berbeda dengan Indonesia. Kalau di Indonesia semua bisa diatur dan warna merah, kuning dan hijau dapat berubah-ubah makna sesuai kepentingan seseorang, tidak demikian halnya dengan masyarakat Australia. Tidak satupun petugas keamanan di Australia Open 2006 yang tidak mengenal Maria Sharapova. Tetapi ketika Sharapova lupa membawa / mengenakan identitas resmi yang harus selalu dikenakan di manapun di lingkungan Australia Open 2006, petugas keamanan tidak segan-segan untuk “mengusir” ke luar Sharapova dari acara dinner.

Hot Stove Rules atawa hukum panci membara idealnya diterapkan tanpa malu-malu. Jika seseorang menyentuh – atau kalau berani memegang- panci membara, ia akan mengalami panas yang sama dan dirasakan seketika. Panci membara pun tidak diskriminatif, siapapun akan merasakan sakit karena kepanasan.

Persoalannya, manusia kan bukan panci yang tidak diskriminatif. Manusia di mana saja sama saja. Tidak usah berharap banyak. Only in God we trust.

Pamulang, 10 Maret 2006.

Wisanggeni

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2011 in Selasar