RSS

Locus of Control

14 Feb

Saya menyatakan salut kepada isteri saya, caranya “menjinakkan” sikap dan perilaku saya  mungkin boleh dicontoh. Entah membaca koran, majalah atau buku apa, dia mengatakan bahwa “Orang-orang Jepang menyebut orang yang tidak tertib, apalagi melanggar lalu lintas, adalah (punten dalem sewu) anjing”. Saya tidak tahu mengapa isteri saya mengemukakan itu. Mungkin saja melihat saya suka nonton start dan pit stop lomba F1, boleh jadi dia takut saya nyetir ugal-ugalan seperti Juan Pablo Montoya.

Disindir begitu oleh isteri, saya jadi teringat cara orang Jawa untuk melakukan kontrol sosial. Untuk urusan kontrol sosial ini, orang Jawa memperkenalkan istilah yang rada-rada susah dihafal : DUPAK BUJANG, ASEM MANTRI, dan SEMU BUPATI.

Istilah dupak bujang diberikan untuk orang-orang yang tidak mau dan tidak mampu melakukan swa kontrol. Untuk tunduk dan taat terhadap suatu aturan, orang yang berkarakter dupak bujang selalu minta dikontrol oleh lingkungan sosialnya. Orang seperti ini biasanya kalau tidak dijewer, ditempeleng, digebuk, atau diancam mati, tidak akan sadar dan patuh kepada norma sosial.

Istilah asem mantri diberikan untuk orang-orang yang mau dan mampu melakukan kontrol diri, tetapi kadang-kadang masih membutuhkan kontrol sosial dari lingkungannya. Meskipun orang berkarakter asem mantri kadang-kadang masih perlu dijewer, tetapi ia juga mampu mengkoreksi dirinya sendiri agar tidak mengganggu dan merugikan orang lain.

Sedangkan istilah semu bupati diberikan untuk orang-orang terpilih yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk melakukan kontrol dari dalam dirinya sendiri. Bahkan orang ini seperti tidak butuh kontrol dari luar, karena dirinya sendiri sudah mendapatkan “pencerahan” sehingga semua perbuatannya selalu menghindari pelanggaran terhadap norma-norma sosial.

Dulu sempat pernah ada joke yang mungkin saja tidak benar. Orang nomor 1 di zaman orde baru konon adalah orang yang paling mahir melakukan kontrol sosial. Pada saat beliau masih berjaya, hanya dengan “berdehem” para abdi dalemnya sudah tahu berapa orang yang akan diinterogasi . Kalau “batuk-batuk”, para abdi dalemnya  akan menafsirkan sekian orang mesti diinapkan di “Hotel Pro Deo” alias rumah tahanan atau LP. Pernah beliau saat pulang dari kunjungan dari luar negeri memberikan jumpa pers di pesawat udara dan beliau berkata bahwa kalau ada yang mbalelo, maka beliau tidak akan segan-segan main gebuk. Mendengar kata “gebuk”, para abdi dalemnya justru merinding bulu kuduknya. Kata “gebuk” kan bisa ditafsirkan sekian orang mesti “disukabumikan”.

Belakangan, seorang sahabat yang juga seorang psikolog, memberi tahu saya bahwa Dupak Bujang, Asem Mantri dan Semu Bupati itu ada hubungannya dengan LOCUS OF CONTROL yang dapat dibedakan menjadi internal locus of control dan external locus of control. Orang-orang yang mau dan mampu melakukan kontrol dari dalam diri disebut mempunyai internal locus of control yang baik. Sedangkan orang-orang yang selalu harus diingatkan untuk berbuat baik, disebut mempunyai external locus of control.   Dupak Bujang dan Asem Mantri dapat dikelompokan dalam external locus of control, dan Semu Bupati identik dengan internal locus of control.

Pamulang, 6 Oktober 2005

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: