RSS

In Memoriam Ahmad Sodani

14 Feb

Tidak banyak orang yang  mampu “mencuri” perhatian saya dan kemudian bahkan “merebut” hati saya. Kalau kemudian saya bersedia menempatkan secara khusus di hati saya, atau malah saya nobatkan sebagai salah satu “guru kehidupan” saya, pasti orang tersebut “istimewa”. Siapakah orang itu? Dia adalah almarhum Ahmad Sodani.

 

Dani (demikian dia biasa dipanggil) adalah manusia biasa. Dani bukan nabi, malaikat, dan bahkan bukan manusia setengah dewa. Tidak penting bagi saya apakah Dani seorang insan kamil atau bukan, bagi saya Dani merupakan salah satu manusia biasa yang “istimewa”. Dani memang tidak dapat dibandingkan dengan Ismail yang  ikhlas menerima perintah untuk disembelih. Tetapi karena memang justru bukan nabi, keikhlasan Dani menjalani kehidupan menjadi sangat indah.

Saya memang punya formula tersendiri untuk menilai orang lain. Bagi saya, pendidikan, jabatan, harta, umur, keturunan (“darah biru” misalnya), tidak serta merta membuat seseorang mengalami pencerahan, menjadi dewasa dan arif. Seringkali saya tidak dapat belajar tentang kearifan kehidupan dari mereka yang berasal dari “upper class” yang selalu up-date teknologi komunikasi dan informasi. Justru saya dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari perjalanan hidup mereka yang karena harta dan jabatan mereka “disemayamkan” di “lower class” organisasi dan masyarakat.

Saya mengenal Dani (demikian dia biasa dipanggil) antara tahun 1996 sampai Dani meninggal tahun 2010.  Antara Dani dan saya sebenarnya tidak begitu dekat, jarang sekali bertemu, dan bahkan setelah tahun 2000 saya hampir tidak pernah bertemu Dani. Kedekatan saya dengan Dani adalah pada bulan-bulan Januari sampai dengan April 2000, saat saya sangat membutuhkan bantuan tenaganya.

Saya menilai Dani memiliki perbedaan dengan kebanyakan orang dari kelas sosialnya. Dani “hanya” tamat SMP dan karena itu karirnya juga “hanya” sebagai pengemudi. Biasanya, pada saat saya silaturahmi dengan orang-orang dari lower class, saya lebih sering mendengar keluhan dan cerita tentang penderitaan yang mereka alami. Biasanya, kalau bertemu dengan karyawan dari jabatan “rendah”, mereka cenderung mengeluh dan menuntut gaji yang kurang, sembari sesekali mengumbar gosip tentang atasan mereka yang tidak manusiawi. Biasanya, kalau bertemu dengan orang-orang dari kelas sosial rendah, saya terpaksa aktif menjadi “konselor” dan berlagak memberikan nasehat yang manis-manis.

Dani sungguh berbeda dengan orang-orang dari kelas sosialnya. Sikapnya cenderung sumringah dan tertawa lebar sambil mempertontonkan giginya yang tersusun tidak terlalu rapi. Dani hampir tidak pernah mengeluh, paling tidak pada saat bertemu dengan saya. Dani justru tidak merasa canggung untuk “buka-bukaan” menceritakan perjalanan hidupnya kepada saya. Setiap bertemu dengan Dani, dia begitu bersemangat memberikan “tausyiah” kepada saya yang notabene berasal dan berada dari kelas sosial yang lebih beruntung.

Mengapa Dani “cuma” tamat SLTP? Berasal dari keluarga kurang mampu, Dani harus menerima kenyataan bahwa status sosial ekonomi orang tuanya “menghalang-halangi”nya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kecuali “dilarang” sekolah tinggi-tinggi, Dani juga “ketiban pulung” untuk membantu kedua orang tuanya mencari nafkah tambahan. Kedua orang tuanya berpesan kepadanya untuk ikut bertanggung jawab menyekolahkan adik-adiknya, dan jika memungkinkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari Dani.

Singkat cerita, Dani berhasil membantu orang tuanya untuk mencari nafkah dan menyekolahkan adik-adiknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tidak mudah bagi Dani untuk melaksanakan amanah orang tuanya. Mulai bekerja sebagai pedagang asongan, bekerja di bengkel tanpa dibayar agar boleh belajar mesin kendaraan, dan kemudian menjadi sopir. Dapat dibayangkan berapa penghasilan Dani dari profesi yang dijalaninya. Karena itu, setelah berhasil menyekolahkan satu orang adiknya hingga lulus SLTA, Dani minta adiknya tersebut ikhlas tidak melanjutkan ke jejang pendidikan yang lebih tinggi, dan turut membantunya menyekolahkan adik-adiknya yang lain.

Keikhlasan Dani untuk menerima keputusan berhenti sekolah di tingkat SLTP sungguh bukan keputusan yang mudah. Keputusan berhenti sekolah adalah keputusan strategis dan memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan, mulai dari pekerjaan sampai dengan status sosial ekonomi di masyarakat Indonesia yang sangat “gila” mempertontonkan status sosialnya. Keputusan itu tidak hanya berdampak kepada Dani secara individual, tetapi juga kepada generasi berikutnya. Bagaimanapun tingkat pendidikan dan kesejahteraan Dani mempengaruhi kehidupan istri dan anak keturunannya.

Membiarkan adik-adiknya untuk lebih baik dari dirinya juga bukan tantangan hidup yang mudah dijalani, karena Dani memang bukan guru atau tenaga pendidik yang sudah “dari sono”nya punya keikhlasan mendo’akan keberhasilan anak-anak didiknya. Kalau saya dalam posisi Dani, terus terang saya tidak sanggup menjalani tanggung jawab yang dipikul oleh Dani. Itulah sebabnya saya menganggap Dani seorang yang istimewa, terutama di usianya yang sangat muda sudah harus menerima amanah yang luar biasa berat untuk seorang anak yang berdasarkan hukum dikatakan masih di bawah umur dan menurut undang-undang ketenagakerjaan belum boleh bekerja.  Karena itu, setiap mengenang Dani, saya akan teringat pengorbanan dan keikhlasan Ismail menerima perintah untuk disembelih. Demikian juga, setiap hari raya Idul Qurban, saya cenderung teringat keikhlasan Dani melakoni perjalanan hidupnya.

Selamat jalan Ahmad Sodani, semoga Allah SWT menerima amah ibadahmu dan menempatkanmu di tempat yang mulia di sisiNya. Amien.

Bumi Serpong Damai, 26 Januari 2011.

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: