RSS

Welcome Siti Nurhaliza

14 Feb

Musim kompetisi English Premier Leage (EPL) 2004-2005, meskipun Arsenal “hanya” meraih runner-up, Arsene Wenger sang pelatih membuat “rekor” tersendiri. Dalam suatu pertandingan, pernah Wenger menurunkan 11 pemain yang seluruhnya legiun asing. Ditanya oleh para kuli tinta mengapa begitu, dengan enteng Wenger menjawab bahwa “ ketika saya menyusun squad untuk satu pertandingan, saya akan menurunkan pemain yang sesuai dengan strategi yang telah saya terapkan. Saya tidak pernah memeriksa paspor mereka.” Para pesepakbola lokal asal Inggris legowo saja, ndak ada yang protes.

Ketika Maribeth datang ke Indonesia dan bernyanyi, semua orang senang. Ketika Maribeth kemudian menangguk rezeki melalui lagu Denpasar Moon yang sukses, semua orang juga turut bernyanyi. Maribeth masih bermukim, “berkeliaran”, mengais rezeki dan secara rutin manggung di beberapa klub malam di Jakarta. Ndak ada yang protes.

Dari negeri jiran Malaysia, Sheila Madjid malang melintang di blantika musik Indonesia dan sukses membawakan lagu Antara Anyer dan Jakarta. Menurut saya, Sheila lebih bagus ketika membawakan lagu Sinaran. Musisi Jazz David Koz pun tidak tahan untuk memainkan secara khusus Sinaran dalam kemasan Jazz. Para pemusik yang mengusung irama salsa pun tidak mau ketinggalan membawakan Sinaran dalam format salsa. Ada yang protes? Tidak, semua orang senang dan ikut bernyanyi.

Siti Nurhaliza, “saudara muda” Sheila Madjid pun datang ke Indonesia dan ikut bernyanyi. Trans TV berulang kali menayangkan show tunggal Siti Nurhaliza. Erwin Gutawa pun berkolaborasi dengan Siti, dan tidak ada penyanyi Indonesia yang iri atau protes. Lagu andalan Siti “Cindai” pun lalu dinyanyikan di kamar mandi, di bis kota, kereta api listri (KRL) Jabotabek, di kantor-kantor, di kafe-kafe.  Kaum Adam pun tidak malu-malu memasang nada dering Cindai. Depnaker yang biasanya galak bertanya izin kerja pun adem ayem saja.

Alex Ferguson tidak perlu susah payah mendatangkan Ruud van Nistelroy. Berapa pun uang yang dihambur-hamburkan untuk mendatangkan Nistelroy, pemilik klub tidak akan khawatir. Yang penting Manchester United sukses di Piala Champion, juara di EPL, dan last but not least penonton selalu datang ke setiap pertandingan MU. Nistelroy pun mampu mendongkrak harga saham, Vodafone juga tidak segan-segan memperpanjang kontrak untuk mensponsori MU.

Mengapa Krisdayanti, Reza, Uthe, Titi D.J., Yuni Shara, Mayangsari, Rossa, Inul Daratista, Anisa Bahar, Syaharani dan lain-lain tidak protes? Jawabannya mudah sekali. Pertama, positioning mereka memang beda. Kedua, semua penyanyi yang saya sebutkan tadi mengusung strategi blue ocean, mereka saling menghargai dan tidak memandang yang lain sebagai kompetitor. Siti mengundang Krisdayanti dalam acara show Siti. Mereka menyanyi bareng, saling tukar lagu, rukun-rukun saja, dan tentu saja kemudian saling berpelukan dan berciuman.

Saya sendiri punya alasan yang menurut saya paling benar. Masing-masing dari penyanyi tersebut kompeten di bidangnya. Sebut saja Inul Daratista, ia mengembangkan “model kompetensi” ngebor. Yuni Shara pun punya soft competency membawakan tembang kenangan.  Lain lagi Titi D.J., dengan modal bibirnya yang dower, suara yang keluar dari mulutnya pun jadi khas.

Siti Nurhaliza dan Ruud van Nistelroy, meminjam istilah dalam Undang-undang Ketenagakerjaan, adalah Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pendatang (TKWNAP), atau gampangnya sebut saja ekspatriat. Selama ini sikap kita terhadap ekspatriat cenderung seperti orang yang mengidap xenophobia. Angka pengangguran yang tinggi menjadi alasan yang kuat untuk melarang ekspatriat bekerja di Indonesia. Karena alasan pengangguran yang tinggi dan demi devisa, kita pun tidak segan-segan membalas dengan mengirimkan TKI ilegal.

EPL yang sangat liberal dalam mendatangkan pemain asing ternyata tidak mematikan kesempatan kerja pemain lokal Inggris. Bahkan EPL lebih “gila” dengan membolehkan satu klub menurunkan 11 pemain yang berasal dari legiun asing?!  Kenyataannya tetap saja banyak bintang dari lokal, antara lain : Frank Lampard, Steven Gerard, John Terry, Shaun Wright-Phillip.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat kita menjadi xenophobia, terutama melarang orang asing bekerja di Indonesia? Jawaban yang pasti adalah ketidaksiapan, ketidakmampuan, dan ketakutan bersaing dengan orang asing. Sama sekali tidak ada urusannya dengan kesempatan kerja yang berkurang!.

Sikap mental tidak siap, tidak mampu dan takut bersaing sungguh sama persis dengan preman dan tukang palak di kampung saya di bilangan Pamulang. Karena tidak siap, tidak mampu, dan takut bersaing, maka otot yang ditonjolkan. Untuk merenovasi rumah harus pakai “kontraktor” lokal, untuk menurunkan bahan-bahan bangunan juga harus bayar kuli lokal. Pokoknya, semua serba local content!

Pamulang, 23 Agustus 2005

Wisanggeni

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: