RSS

Mbak dan Mas

17 Feb

Kelompok Kompas Gramedia (KKG) merasa perlu untuk membakukan panggilan kepada setiap orang yang bekerja di kelompok perusahaan tersebut. Hanya ada dua panggilan, yaitu mbak bagi perempuan dan mas untuk laki-laki.

Tanpa memandang asal usul seseorang dan perbedaan apapun di antara manusia yang tergabung dalam KKG, semua akan dipanggil sama. Jacob Utama, pendiri KKG dan orang nomor 1 yang paling dihormati dan disegani, akan dipanggil mas oleh semua orang. Dia juga akan memanggil mbak kepada seorang sekretaris dan mas kepada seorang office boy.

Meskipun tampaknya sangat sederhana, dibalik pembakuan panggilan kepada seseorang merefleksikan nilai-nilai organisasi. Panggilan mbak atau mas kepada setiap orang menunjukkan nilai-nilai menghargai orang lain dan kesetaraan. Tentu saja antara Direktur Utama dengan para manajer, staff dan karyawan dari golongan pangkat terendah ada perbedaan. Tetapi apapun perbedaan di antara manusia-manusia dalam organisasi, perbedaan yang lebih utama adalah perbedaan dalam hal amanah yang diemban. Dengan demikian, sama sekali tidak perlu dan tidak penting bagi seseorang untuk merasa lebih (“pintar”, “terhormat”, “senior” dan lain sebagainya) dibandingkan dengan orang lain.

Mungkin banyak organisasi lain yang juga membakukan panggilan kepada seseorang. Saya pernah bekerja di suatu perusahaan yang membakukan panggilan Bapak dan Ibu kepada siapapun orang di organisasi tersebut, tidak peduli orang tersebut masih muda (gadis maupun bujangan) atau sudah berumur dan menduduki jabatan relatif tinggi. Seorang Direktur akan memanggil Ibu kepada sekretarisnya dan Pak kepada seorang satpam. Alasan yang mendasari panggilan Bapak dan Ibu kepada siapapun adalah prinsip untuk menghargai orang lain tanpa memandang pangkat dan jabatan. Seorang satpam misalnya, meskipun dari segi pangkat dan jabatan bukan merupakan tandingan bagi seorang Direktur, tetapi ia adalah seorang manusia yang pantas dihormati dan menjadi kebanggaan keluarganya.

Memang tidak mudah untuk membakukan panggilan kepada seseorang. Kecenderungan umum adalah menyerahkan kepada setiap orang untuk memilih panggilan yang terbaik kepada orang lain. Seperti kata peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan salah, apa yang indah dan tidak indah, apa yang penting dan tidak penting, apa yang seharusnya dilakukan dan tidak seharusnya dilakukan, sepenuhnya hak prerogatif dari suatu kelompok sosial, apapun bentuk dan nama kelompok sosial itu. Karena itu, bisa saja seseorang yang berusia relatif muda tetapi telah menduduki jabatan manajer, merasa nyaman memanggil seorang satpam yang berusia relatif lebih tua hanya dengan menyebut nama satpam tersebut, dengan alasan jabatan manajer lebih tinggi dan terhormat dibandingkan dengan jabatan satpam. Bahkan karyawan biasa yang memanggil seorang Direktur tanpa embel-embel Bapak atau Ibu, tetapi hanya menyebut namanya saja, bahkan nama gaulnya saja.

Sejatinya tidak ada yang benar dan salah, baik atau tidak baik, indah atau tidak indah jika seorang Direktur dipanggil oleh bawahannya hanya dengan menyebutkan nama. Jika kebetulan Direktur tersebut adalah sahabat yang sudah menjalin persahabatan bertahun-tahun dan sudah terbiasa saling bertegur sapa dengan menyebutkan nama saja, tentu saja jika harus memanggil secara formal akan terasa “lucu” atau mungkin ada “hambatan sosial psikologis”.

Masalahnya adalah anggota suatu organisasi memiliki asal usul yang berbeda dan tidak semua merupakan sahabat, entah itu teman sekolah, kuliah, teman main musik, teman di klub olah raga dan sebagainya. Bagi orang yang bukan teman dari Direktur tentu akan merasakan perbedaan perlakuan dan jarak sosial dibandingkan dengan karyawan yang merupakan teman akrab dari Direktur. Jika seandainya Direktur yang bersangkutan mempersilakan siapapun karyawan boleh memanggilnya hanya dengan sebutan nama saja, tetap saja ada hambatan sosial psikologis yang tidak dapat dihilangkan begitu saja.

Hambatan sosial psikologis disebabkan bukan karena kita orang Indonesia memiliki budaya ewuh pakewuh (rasa sungkan) dan cenderung memiliki “awareness” yang tinggi terhadap status sosial ekonomi dan senioritas. Memang tidak lazim bagi kita orang Indonesia memanggil orang yang lebih dari diri kita (baik dari segi umur, pendidikan maupun pangkat dan jabatan) hanya memanggil nama saja. Jangankan terhadap orang tua, bahkan memanggil kakak hanya dengan sebutan nama seringkali “kurang pas”.

Bahkan, di budaya Barat sekalipun, meskipun lazim memanggil orang lain dengan sebutan nama saja, faktanya itu tidak berlaku umum dan tidak selalu mudah dilakukan. Anak memang boleh-boleh saja memanggil orang tuanya dengan sebutan nama saja, tetapi dalam pergaulan masyarakat, prinsip saling menghargai orang lain tetap berlaku. Dalam bahasa Jerman dan Perancis yang memiliki kata orang kedua “kamu” dan “anda”, berlaku ketentuan bahwa “kamu” hanya boleh digunakan untuk situasi khusus, misalnya antara orang tua dengan anak, kedua belah pihak sudah saling mengenal baik, dlsb. Terhadap orang yang baru dikenal, wajib hukumnya menggunakan “anda” dan haram hukumnya menggunakan “kamu”.

Jika anggota organisasi semakin heterogen, ketiadaan pemanggilan seseorang secara baku dapat menimbulkan potensi masalah. Secara sosiologis, suatu kelompok sosial dibangun oleh tiga kemungkinan. Pertama, kesamaan darah (gemeinschaft of blood). Kedua, kesamaan daerah (gemeinschaft of locality). Ketiga, kesamaan pemikiran dan ideologi (gemeinschaft of mind). Seperti kata pepatah birds of a feather flock together, demikian juga dengan manusia.

Pada umumnya, manusia akan cenderung merasa aman dan berada di comfort zone jika bersama-sama dalam kelompok sosial yang dibangun atas kesamaan darah, atau kesamaan daerah, atau kesamaan pemikiran. Betapapun suatu organisasi dan bahkan perusahaan sekalipun mengklaim terbuka untuk orang-orang dari semua golongan dan tidak membedakan asal-usul seseorang, primordialisme memang tidak dapat dihilangkan begitu saja.

Semakin kompleks organisasi akan ditandai oleh keberagaman asal-usul anggotanya. Semakin heterogen suatu organisasi menuntut norma sosial dan etika sosial yang berbeda dengan organisasi yang relatif homogen, termasuk dalam hal etika memanggil seseorang. Dalam organisasi yang relatif heterogen tidak mudah untuk membangun “kita”. Justru organisasi yang heterogen secara alamiah memang telah mengandung perasaan “kami” dan “mereka”. Seringkali yang terjadi adalah jika disebutkan kata “kita”, masih ada kelompok yang merasa belum diterima sepenuhnya sebagai “kita”. Orang-orang yang sudah berada di comfort zone “kita” juga cenderung akan merasa kehilangan hak-hak istimewa mereka dengan bertambahnya orang-orang yang dimasukkan dalam kelompok “kita”.

Dengan membakukan panggilan kepada seseorang lain, pada dasarnya suatu organisasi telah berhasil menghilangkan hambatan-hambatan sosial psikologis dalam berkomunikasi, keistimewaan-keistimewaan tertentu yang dimiliki oleh orang-orang tertentu, atau bahkan kecurigaan terhadap komunikasi yang asimetris. Tidak ada lagi orang yang seolah-olah memiliki jarak sosial lebih dekat dengan pimpinan organisasi, sementara ada orang lain yang memiliki jarak sosial yang sangat jauh. Justru, dengan panggilan mbak dan mas, jarak sosial dan hambatan sosial psikologis dapat dihilangkan. Perbedaan status sosial ekonomi dan amanah tetap ada, tapi perasaan “kita” akan lebih mudah dibangun dalam organisasi yang memiliki respek terhadap semua orang dan mengedepankan prinsip kesetaraan.

Bumi Serpong Damai, 14 Februari 2011

Salam,

Wisanggeni

 
Leave a comment

Posted by on February 17, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: