RSS

Technological Lag

19 Feb

Saat itu saya sedang “trance” dan menikmati “ber-sms-ria” menggunakan HP Nokia 3350 yang menjadi kebanggaan saya. Bangga, karena HP itu bukan hasil dari korupsi, bukan hadiah orang lain, melainkan hasil keringat saya sendiri.

Keasyikan saya terganggu oleh kehadiran bos saya yang tiba-tiba menyapa saya sembari melontarkan pernyataan destruktif. Saya masih ingat bagaimana wajah kaget bos mengetahui saya masih menggunakan HP N3350. Bos tidak hanya kaget, tetapi juga merasa nyaman mengatakan “hari gini masih pakai HP jadul yang dipakai oleh sopir”. Sebagai bawahan saya memang legowo membiarkan siapa saja yang menjadi bos untuk bicara seenak wudhelnya dan ber”harmoko” (hari-hari omong kosong) sampai bos sadar sendiri bahwa “everyone is wise until he speaks.”

Saya sama sekali tidak terprovokasi oleh pernyataan destruktif tersebut, justru saya menangkap makna bahwa di Indonesia HP mengemban fungsi tambahan. Sejatinya, fungsi teknologi komunikasi seperti HP adalah connecting people dan untuk menyampaikan pesan, data, dan informasi, baik dalam bentuk suara, gambar dan teks. Namun, biarkan saja jika kemudian ada sebagian orang yang menjadikan HP sebagai simbol status dan bagian dari pencitraan.

Menjadikan HP sebagai simbol status bukan kekhasan sikap dan perilaku manusia dari strata sosial bawah, tetapi  manusia dari strata sosial atas justru yang biasanya memiliki social status awareness paling peka dan rakus terhadap berbagai simbol status sosial. Bagi orang-orang tertentu, menggunakan teknologi komunikasi terkini dan tercanggih bukan saja menunjukkan “technology maturity level”, tetapi juga memberikan pesan kepada pihak lain tentang eksistensi dan betapa pentingnya “diferensiasi” terhadap orang lain.

Saya punya cerita nyata tentang seorang yang baru saja diangkat menjadi pejabat negara dan menunjukkan rasa syukur yang begitu tinggi dengan cara memamerkan teknologi komunikasi terkini dan tercanggih yang dimilikinya. Tidak lama setelah diangkat menjadi orang nomor 1 di lembaga yang dipimpinnya, Mr. X mengadakan acara syukuran atas amanah yang dari masyarakat, bangsa dan negara. Dalam acara itu diundang berbagai komponen dalam masyarakat, pejabat negara, keluarga, dan termasuk para senior yang pernah menjadi orang nomor 1 di lembaga tersebut maupun para kakak kelas dari Mr. X. Dalam satu meja bundar yang diisi oleh 10 orang, Mr. X duduk bersama dan berdialog dengan para senior dan kakak kelas yang hadir pada acara syukuran tersebut. Singkat cerita, Mr. X mengeluarkan HP keluaran terbaru dan paling canggih di kelasnya dan di zamannya. Tidak pernah Mr. X duga sebelumnya, justru HP itulah yang membuat mukanya merah padam dan malu bukan kepalang. Ketika Mr. X meminta masukan dan nasehat kepada salah seorang seniornya, orang yang ditanya tersebut malah menasehatinya untuk tidak membawa-bawa HP. Kalau sudah menjadi orang nomor 1 di sebuah lembaga yang setingkat kementerian, biarlah HP diserahkan kepada ajudan dan ajudan yang akan mengatur dan melayani “telephone management”.

Dalam hal memiliki dan menggunakan teknologi komunikasi, saya memang tergolong gagap teknologi (“gaptek”).  Meminjam istilah dalam teori  innovasi tentang technology adoption life cycle, saya dengan senang hati menggabungkan diri dalam kelompok late majority.  Sikap dan perilaku dari kelompok late majority terhadap teknologi adalah cenderung konservatif, wait and see, dan hold on. Saya memang merasa tidak perlu mengganti HP saya setiap saat dengan HP baru dan lebih “gaul” selama HP “jadul” masih memenuhi kebutuhan dasar saya untuk berkomunikasi. Sebagai orang biasa dan karyawan marginal saya memang tidak terlalu membutuhkan informasi real time,  baik untuk aktivitas pribadi maupun kantor.

Dalam konteks technology adoption life cycle saya belum merasa perlu dan menyegerakan diri untuk meningkatkan “technology maturity level” saya pribadi ke tingkat early adopter. Selama aktivitas pribadi, sosial dan kantor tidak terganggu, tidak ada salahnya saya tetap berada di “comfort zone” menggunakan HP jadul. Bahwa kemudian orang lain memandang saya sebelah mata dan mulut mereka ketus mengomentari HP jadul milik saya, ya biarkan saja. Bukankan “everyone is wise until he speaks?”

Saya membedakan antara gagap teknologi  dengan gegar teknologi (technological lag). Teknologi komunikasi sebagai bagian dari teknologi informasi adalah artefak budaya atau benda produk budaya suatu masyarakat. Fungsi utamanya adalah connecting people sekaligus mengatasi jarak fisik, jarak sosial dan kendala waktu. Dengan teknologi komunikasi maka orang yang pada saat bersamaan berada di tempat yang berbeda dan berjarak ribuan kilometer tetap dapat menyampaikan dan menerima pesan (data dan informasi, baik dalam bentuk suara, gambar dan teks) pada waktu yang bersamaan. Kendala utama pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bukan terletak pada jarak fisik dan waktu, tetapi justru pada jarak sosial.

Secanggih apapun teknologi informasi dan komunikasi tetap akan memiliki keterbatasan untuk mengatasi jarak sosial. Bahkan orang-orang yang pada waktu bersamaan sedang bekerja di dalam organisasi dan di kantor yang sama, justru bisa jadi mengalami jarak sosial relatif lebih jauh daripada komunikasi dengan mitra bisnis yang berada di benua lain. Tetapi dengan fungsi utama connecting people, teknologi komunikasi sangat membantu manusia untuk beraktivitas dan berkomunikasi tanpa lagi dipusingkan oleh faktor jarak fisik dan waktu yang dibutuhkan untuk berkomunikasi.

Bagi saya, ketidakmampuan untuk menggunakan teknologi komunikasi dan informasi sesuai dengan fungsi utamanya adalah gegar teknologi. Tingkat keparahan gegar teknologi jauh lebih kronis dibandingkan dengan sekedar gagap teknologi yang sekedar ketidakterampilan menggunakan fitur-fitur yang ada pada teknologi komunikasi dan informasi. Gegar teknologi berhubungan dengan salah menggunakan teknologi sesuai dengan fungsi dan peruntukannya, sedangkan gagap teknologi sekedar tidak terampil menggunakan teknologi dan dapat diatasi melalui pelatihan.

Gegar teknologi berhubungan dengan mindset. Setiap budaya memiliki tiga komponen, yaitu nilai-nilai budaya, struktur sosial dan artefak budaya. Semua barang yang diproduksi manusia adalah produk budaya yang dinamakan artefak budaya. Setiap artefak budaya diciptakan berdasarkan nilai-nilai budaya tertentu untuk mendukung aktivitas manusia dan membutuhkan struktur sosial sebagai tempat untuk implementasinya. Telepon, radio, kendaraan (darat, laut, udara) dan benda-benda teknologi lainnya diciptakan karena ada kebutuhan manusia untuk dapat berkomunikasi, melakukan mobilitas fisik dan sosial. Produk development cycle secara umum adalah need assessment, product development, product assessment dan diffusion. Tidak mungkin suatu produk budaya diciptakan tanpa didasarkan pada nilai-nilai budaya, tujuan dibuat dan fungsi tertentu.

Karena itu, tidak mungkin mengadopsi teknologi apapun tanpa memahami nilai-nilai budaya yang mendasari tujuan penciptaan dan fungsi teknologi tersebut. Ironisnya, masyarakat di negara-negara terbelakang secara teknologi, mengimpor teknologi tanpa memahami nilai-nilai budaya dan tujuan teknologi itu diciptakan. Pada dasarnya orang-orang yang menggunakan teknologi terkini dan tercanggih belum tentu dapat dikatakan sebagai early adopter, karena mengadopsi teknologi tidak mungkin mengabaikan pemahaman terhadap nilai-nilai dan tujuan yang mendasari penciptaan teknologi, serta tanpa memahami fungsi utama dari suatu teknologi.

Ada sebuah karikatur dalam majalah ilmu-ilmu sosial Prisma edisi tahun 80an. Dalam hal pemanfaatan teknologi, manusia Indonesia digambarkan sebagai seseorang yang sedang mengendarai mobil, badannya sudah berada di mobil tetapi kepalanya masih tertinggal di pedati. Analogi manusia yang mengalami gegar teknologi adalah seperti sedang mengendarai mobil, badannya sudah berada di mobil  tetapi kepalanya masih tertinggal di pedati.

Bumi Serpong Damai, 19 Februari 2011

 
Leave a comment

Posted by on February 19, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: