RSS

Manajemen Pengetahuan

22 Feb

Pendahuluan

Hiroyuji Itami, seorang profesor dari Universitas Hitotsubashi di Jepang, disebut-sebut sebagai penggagas awal sumber daya internal berbasis keunggulan bersaing.  Itami mendasarkan gagasannya dari hasil studinya tentang pengaruh aset tanwujud pada manajemen perusahaan-perusahaan Jepang. Itami menyimpulkan bahwa invisible assets atau aset tanwujud merupakan sumber keunggulan bersaing bagi perusahaan (Itami dan Roehl, 1987)

Mengapa Pengetahuan?

Alvin Toffler membagi tahap-tahap perkembangan masyarakat dalam dikelompokkan menjadi tiga perkembangan, yaitu masyarakat agraris, masyarakat industri dan masyarakat informasi. Ketiga bentuk masyarakat tersebut tetap eksis dalam suatu bangsa, meskipun dengan pola yang berbeda-beda. Masyarakat agraris cenderung dominan sampai dengan abad ke 18, masyarakat industri mulai tumbuh pada abad 19 sampai dengan pertengahan abad ke 20, dan masyarakat informasi dan terutama masyarakat mulai tumbuh pesat pada tahun 1970 an sampai dengan saat ini.

Dalam masyarakat industri dibutuhkan tiga faktor produksi, yaitu tanah, modal dan tenaga kerja. Perusahaan bertahan, bersaing dan berkelanjutan dengan menggunakan ketiga faktor produksi untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Dalam perkembangannya, perusahaan tidak lagi mampu mengandalkan ketiga faktor produksi untuk bertahan, bersaing, dan berkelanjutan.  Perusahaan membutuhkan faktor produksi baru, yaitu pengetahuan.

Adalah Peter F. Drucker yang memprediksi bahwa kontribusi “pekerja otot” akan semakin berkurang dan kontribusi “pekerja otak” semakin meningkat dan penting. Dalam bukunya The Age of Discontinuity (1969), Peter F. Druckter mengatakan bahwa “the most important contribution of management in the 20th century was the fifty fold increase in the productivity of the manual worker in manufactoring.” Pada bagian lain Druckter berpendapat bahwa “the most important contribution needed for the 21st century is a similar increase in productivity for knowledge worker.”

Mengapa pengetahuan dibutuhkan oleh perusahaan untuk bertahan, tumbuh dan bersaing? Pada dasarnya, setiap perusahaan perlu memiliki dan mempertahankan keunggulan kompetitifnya dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Keunggulan kompetitif merupakan modal bagi organisasi untuk bertahan, bersaing dan berkelanjutan. Inovasi merupakan kekuatan di belakang keunggulan kompetitif jangka panjang. Pengetahuan merupakan fondasi dan dibutuhkan untuk inovasi.

 

Mengapa Manajemen Pengetahuan?

Seperti bidang ilmu pengetahuan lainnya, para pakar di bidang manajemen pengetahuan juga memiliki definisi masing-masing. Apapun definisi manajemen pengetahuan yang digunakan, penerapan manajemen pengetahuan dalam suatu organisai harus mampu memberikan nilai tambah dan menjadi fondasi yang kuat bagi organisasi untuk bertahan, bersaing dan berkelanjutan. Tujuan dari manajemen pengetahuan adalah meningkatkan kapabilitas organisasi melalui penggunaan yang lebih baik terhadap sumber-sumber pengetahuan individu dan kolektiv.

Salah satu definisi manajemen pengetahuan yang diterima luas di Jerman adalah definisi dari Kai Mertins, Peter Heisig, Jens Vorbeck (Knowledge Management, Best Practice in Europe, 2001) sebagai berikut :

Knowledge Management describes all methods, instruments and tools that in a holistic approach contribute to the promotion of the core knowledge process – to generate knowledge, to store knowledge, to distribute knowledge and to apply knowledge supported by the definition of knowledge goals and the identification of knowledge – in all areas and levels of the organization.”

 

Bagaimana memulai manajemen pengetahuan?

Meskipun bukan merupakan bidang ilmu manajemen yang baru di Indonesia, dapat dipahami keragu-raguan untuk memulai menerapkan manajemen pengetahuan dalam suatu organisasi. Apa manfaat yang diperoleh organisasi jika menerapkan manajemen pengetahuan? Manfaat potensial dari penerapan manajemen pengetahuan memang mudah dijelaskan, tetapi menerapkan manajemen pengetahuan yang berdampak pada kinerja dan keunggulan kompetitif organisasi adalah tantangan yang tugas berat yang menuntut komitmen dan konsistensi manajemen puncak, keterlibatan dan dukungan dari semua anggota organisasi.

Karena itu, sebelum melaksanakan manajemen pengetahuan dalam organisasi, perlu ada pertimbangan yang mendalam dari manajemen puncak. Beberapa pertanyaan untuk melaksanakan manajemen pengetahuan, antara lain :

•       Apa tujuan yang akan dicapai?

•       Dari mana mulai?

•       Di bagian mana dalam organisasi dan tahap mana fokus investasi manajemen pengetahuan harus diarahkan?

•       Pengetahuan penting dan mendesak apa yang harus dikelola saat ini dan yang akan datang?

Persaingan bisnis yang semakin kompleks, kompetitif dan ditandai oleh perubahan-perubahan yang relatif cepat memang menuntut organisasi untuk mampu bertahan, bersaing dan berkelanjutan dengan mengandalkan sumber daya pengetahuan. Tuntutan untuk mengelola pengetahuan organisasi tidak dapat lagi untuk dihindarkan. Namun bagi organisasi apapun, lebih penting untuk memulai manajemen pengetahuan berdasarkan kebutuhan organisasi daripada sekedar keinginan.

Komitmen Manajemen Puncak

Implementasi manajemen pengetahuan tidak hanya membutuhkan sumber daya, melainkan juga komitmen dan konsistensi semua pihak dalam organisasi, terutama manajemen puncak. Keberhasilan suatu perubahan dan program mutlak didukung oleh manajemen puncak. Agar tidak layu sebelum berkembang, penerapan manajemen pengetahuan juga membutuhkan komitmen dan konsistensi manajemen puncak. Tidak hanya dukungan di tingkat strategi, melainkan juga dukungan pada tahap implementasi.

Probst bahkan mengibaratkan manajemen pengetahuan seperti wabah penyakit yang perlu mendapat perhatian dan penanganan khusus. Terutama pada tahap implementasi manajemen, diperlukan kesinambungan komitmen dan dukungan manajemen puncak. Dalam artikelnya “Practical Knowledge Management : A Model That Works”, Gilbert J. Probst mengingatkan sebagai berikut :

Knowledge management is highly political and needs top-management commitment. Knowledge management reevaluates the existing competency portfolio of the company and sets new priorities. In this process, current experts may lose their special standing. Knowledge transparency reduces information lead-time, which is often important in political games. This reduces the power base of the currently better-informed person.”

Bumi Serpong Damai, 20 Februari 2011

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: