RSS

Telecommuting

23 Feb

Sebuah perusahaan di Jakarta menawarkan pekerjaan dengan kondisi pekerjaan  sebagai berikut : anda boleh berkantor di mana saja dan bekerja dengan jadual kerja yang fleksibel,  dengan ketentuan anda memiliki komputer pribadi, koneksi internet dan siap datang ke kantor untuk keperluan koordinasi kerja.

Teknologi informasi memberdayakan manusia sehingga mampu mengatasi ruang dan waktu. Aplikasi teknologi informasi di dunia kerja memungkinkan manusia untuk bekerja di mana saja dan kapan saja. Meskipun demikian, manfaat yang disediakan oleh teknologi informasi dan teknologi komunikasi belum digunakan secara optimal, terutama dalam konteks tempat kerja dan tempat tinggal.

Telecommuting memanfaatkan keunggulan-keunggulan teknologi informasi dan komunikasi di bidang pekerjaan yang memungkinkan seseorang dapat bekerja di mana saja dan kapan saja, termasuk tempat tinggal yang digunakan sebagai tempat kerja. Meskipun memiliki nilai tambah, telecommuting tidak mudah untuk diterapkan. Telecommuting tidak sekedar fleksibilitas tempat kerja dan jam kerja, melainkan juga menuntut gaya manajemen, pola hubungan kerja, dan bahkan knowledge, skills dan attitude yang sangat berbeda dari karyawan. Tidak semua pekerjaan cocok dengan telecommuting.

Problem Klasik Tempat Kerja terpisah dari Tempat Tinggal.

Salah satu kendala bagi karyawan yang bekerja di kota-kota besar seperti  di Jakarta  adalah faktor jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja. Sudah lazim karyawan yang tinggal di Bekasi misalnya, harus bekerja jauh dari Bekasi, entah di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.  Faktor jarak dan waktu tempuh sudah cukup membuat karyawan kelelahan sebelum karyawan memulai pekerjaan yang sesungguhnya di tempat kerja. Kadang-kadang faktor jarak antara tempat kerja dengan tempat tinggal relatif tidak jauh, namun faktor kemacetan menambah derita karyawan untuk menuju tempat kerja. Karyawan yang bekerja di Jakarta, paling kurang membutuhkan waktu 2 jam untuk pergi dan pulang kerja, bahkan ada yang membutuhkan waktu rata-rata 4 jam. Waktu yang sangat berharga dan terbuang begitu saja, sangat berdampak pada tingkat kebugaran dan kesegaran karyawan, pemborosan biaya dan kerusakan lingkungan hidup karena polusi dari asap kendaraan bermotor.

Kejadian seperti itu sepertinya sudah umum dan dianggap wajar dan karena sulit diatasi, maka karyawan terpaksa  “taken for granted”. Kelelahan yang diderita karyawan setiap hari sebelum bekerja merupakan kendala terbesar untuk mewujudkan kinerja yang efisien, efektif, produktif dan inovatif. Bagaimana mungkin karyawan akan bekerja efisien, efektif, produktif dan inovatif, kalau sebelumnya karyawan sudah menghabiskan waktu, biaya dan energi yang relatif besar untuk hadir di tempat kerja.

Solusi jitu untuk mengatasi pemborosan waktu, biaya, dan energi karyawan menuju tempat kerja adalah dengan menerapkan telecommuting atau juga disebut telework, yaitu “a work arrangement in which employees enjoy flexibility in working location and hours. In other words, the daily commute to a central place of work is replaced by telecommunication links” (www.en.wikipedia.org).

Di luar negeri praktek telecommuting merupakan salah satu benefit yang ditawarkan perusahaan kepada karyawan. Di Indonesia, telecommuting masih belum lazim dan cenderung “ditolak” dengan berbagai alasan, dari alasan “karena penerapan telecommuting dapat membuat karyawan saling iri dan keresahan di antara karyawan”, sampai dengan alasan “sulit untuk mengawasi proses kerja dan hasil kerja karyawan”. Dari segi teknologi informasi dan komunikasi, tidak ada kendala teknis yang berarti untuk menerapkan telecommuting di dunia kerja.

Tempat Tinggal adalah Tempat Kerja.

Dalam bukunya The Third Wave and Future Shock, futurolog Alvin Toffler menunjukkan “sisi manusiawi” dari teknologi, terutama aplikasi teknologi informasi di dunia kerja. Salah satu manfaat terbesar dari teknologi informasi adalah kemampuannya untuk memberdayakan manusia sehingga mampu mengatasi ruang dan waktu. Berkat kehadiran teknologi, manusia mampu berkomunikasi dengan orang lain, – bahkan dengan “tatap muka’ – yang berada di tempat yang jaraknya sangat jauh. Berkat kehadiran teknologi informasi, manusia mampu mengakuisisi dan berbagi informasi dan pengetahuan dengan orang lain yang berada jauh dari dirinya, pada waktu yang bersamaan. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala bagi manusia untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan sekedar silaturahmi.

Toffler mencoba menjelaskan bahwa teknologi informasi sangat bermanfaat untuk mengatasi problem dunia kerja, terutama jarak antara tempat kerja dan tempat tinggal yang terpisah. Konon, salah satu malapetaka besar yang dialami manusia adalah pada saat tempat kerja dan tempat tinggal terpisah, setelah sebelumnya keduanya sempat berada di tempat yang sama. Revolusi peradaban manusia telah mengakibatkan tempat tinggal dan tempat kerja menjadi terpisahkan oleh jarak. Toffler membagi dunia dalam tiga revolusi, yaitu revolusi pertanian, revolusi industri, dan revolusi informasi. Tempat tinggal dan tempat kerja pada masing-masing revolusi tersebut berbeda.

Pada saat revolusi pertanian, tempat kerja dan tempat tinggal berada di satu tempat. Hal ini dimungkinkan karena pada saat zaman pertanian, produsen dan konsumen adalah sama. Orang dapat memproduksi sendiri kebutuhan-kebutuhannya dengan bekerja tanpa harus berangkat menuju tempat kerja. Pada saat revolusi industri, tempat tinggal dan tempat kerja (pabrik dan kantor) berada di tempat yang terpisah. Pada umumnya pabrik dan kantor di kawasan perkotaan dan kemudian dengan perkembangan kota yang pesat, cenderung di bangun di kawasan pinggiran kota. Akibatnya, jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja menjadi semakin jauh dan waktu tempuh yang diperlukan semakin meningkat. Manusia kian mengalami dehumanisasi, waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakatnya menjadi sangat terbatas. Ritme kehidupan manusia tidak lagi ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh jadual kerja dan jadual operasional mesin-mesin pabrik.

Revolusi informasi yang ditandai oleh kehadiran teknologi informasi memungkinkan manusia besar mendapatkan lagi kesempatan dan waktu yang lebih banyak untuk berkumpul dengan keluarga dan bersosialisasi dengan masyarakatnya. Kehadiran teknologi informasi mampu mempersatukan kembali tempat tinggal dan tempat kerja yang sempat terpisah sejak revolusi industri. Kehadiran teknologi informasi memungkinkan manusia bekerja dan bekerja sama dengan orang lain di mana saja dan kapan saja tanpa keharusan selalu bertatap muka.

Pro dan Kotra Terhadap Telecommuting

Tidak hanya di Indonesia, di negara-negara maju yang telah memiliki teknologi informasi dan komunikasi relatif canggih, telecomutting masih belum dapat diterima oleh semua pihak dan sebagian tertentu perusahaan tidak menerapkannya.

Mereka yang pro pada telecomutting mengedepankan beberapa manfaat potensial yang disediakan telecomutting, antara lain karyawan dapat bekerja anywhere dan anytime, mengurangi mobilitas fisik di jalan raya sehingga memberikan dampak positif bagi transportasi (kemacetan pada jam-jam sibuk  perjalanan dari tempat tinggal ke tempat kerja atau sebaliknya dari tempat kerja pulang ke tempat tinggal) dan lingkungan hidup yang menjadi bersih karena tidak banyak kendaraan yang berada di jalan raya, dan keleluasaan menentukan jadual kerja sendiri.

Pihak-Pihak yang kontra terhadap telecomutting berusaha menunjukkan beberapa kelemahan, antara karyawan akan merasakan alienasi karena tidak atau jarang berhubungan dengan rekan kerja maupun atasannya, berkurangnya kesempatan komunikasi sosial dengan rekan kerja dan atasan, kendala teknologi berupa kemungkinan ketidakamanan data yang dikategorikan rahasia, dan berbagai alasan lainnya.

Apapun perbedaan sudut pandang dan kepentingan terhadap telecomutting pada dasarnya menunjukkan bahwa perlu persiapan yang matang untuk penerapan telecomutting, terutama contigency plan untuk mengatasi dampak negatif dari telecommuting. Kedepan, terutama di kota-kota besar di mana masalah transportasi umum sulit untuk ditata dan kemacetan sulit diatasi dengan percepatan pembangunan prasarana dan sarana transportasi publik, telecommuting dapat menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan.

Bumi Serpong Damai, 22 Februari 2011.

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: