RSS

Bertahan Hidup di Zaman Edan

01 Mar

Belum lagi pemilihan kepala daerah langsung (pilkadal) kabupaten Tangerang Selatan ulangan dimulai, sampai dengan tanggal 26 Februari  pukul 24.00 BBWI, telah masuk 14 laporan kecurangan yang dilakukan oleh para peserta pilkadal. Boleh kita menduga ada kecurangan-kecurangan lain yang mungkin tidak dilaporkan.

Minggu 27 Februari 2011 yang lalu diadakan pilkadal ULANG  kabupaten Tangsel. Pilkadal Tangsel terpaksa diulang, karena  calon bupati dan wakil bupati yang Pilkadal yang lalu terbukti melakukan kecurangan. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan “pemenang” Pilkadal tidak sah dan karena itu harus diulang.

Tidak ada yang aneh dari keputusan Mahkamah Konstitusi. Lelucon yang sangat tidak lucu dan aneh sekali karena peserta Pilkadal yang telah dinyatakan curang masih boleh maju mencalonkan kembali. Bagaimana mungkin orang yang sudah terbukti melakukan kecurangan masih boleh mencalonkan lagi? Barangkali memang tidak ada Undang-Undang yang melarang (karena Undang-Undang dan semua aturan memang dibuat sesuai dengan “mood” (baca : kepentingan)).  Di bumi pertiwi ini juga tidak ada hukum yang bisa menjebloskan ke penjara calon-calon kepala daerah yang melakukan kecurangan dalam proses pilkadal. Tapi kok ya bisa orang yang curang maju lagi dengan kepala tegak?

Ini bukan sekedar masalah uang rakyat yang dihambur-hamburkan untuk memilih Pilkadal. Mengapa solusinya harus diadakan pilkadal ulangan? Dunia olah raga menerapkan aturan “KISS” (baca : keep it simple and short) untuk menyelesaikan kasus-kasus tidak jujur, misalnya penggunaan dopping. Jika atlit yang merebut medali emas terbukti menggunakan dopping, maka gelarnya akan dicabut. Adalah “keberuntungan” bagi peraih medali perak dan perunggu, karena masing-masing secara otomatis akan mendapatkan medali emas dan perak, dan atlit urutan keempat akan memperoleh medali perunggu. Tidak perlu diadakan pertandingan ulang lagi untuk menentukan juara? Mengapa untuk proses pilkadal yang terbukti curang tidak mengadopsi kebiasaan-kebiasaan dunia olah raga? Saya tidak mengerti!!!

***

Bagaimana mungkin pengemudi kendaraan bermotor roda 4 dan roda 2 yang telah mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) tidak mampu membedakan warna merah, kuning dan hijau? Bagaimana mungkin pengemudi ranmor tidak memahami arti warna-warna tersebut dan apa yang harus dilakukan? Bagaimana mungkin kendaraan tanpa plat nomor begitu bebas dan aman melintas di jalan raya? Bagaimana mungkin anak-anak usia SLTP dan bahkan usia SD boleh, bebas dan aman-aman saja mengendarai kendaraan bermotor? Bagaimana mungkin semua bentuk pelanggaran lalu lintas yang terjadi di depan mata polisi “dibiarkan” begitu saja? Saya tidak mengerti!!!

Banyak peristiwa dalam masyarakat yang saya tidak mengerti atau saya tidak mampu memahaminya. Saya tidak tahu harus menggunakan otak sebelah mana (kiri atau kanan) untuk memahami semua peristiwa dalam masyarakat. Satu hal yang saya pahami adalah tidak ada yang kebetulan terjadi. Sebagian besar kejadian-kejadian dalam masyarakat pasti terjadi secara sadar dan merupakan buah dari karakter dan sikap mental. Pendidikan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial semua berperan dan memiliki andil yang besar terhadap karakter dan sikap mental manusia Indonesia.

Di jalan Pangeran Antarasi Jakarta Selatan saya melihat beberapa bangunan yang disegel. Berbagai kemungkinan dapat saja terjadi, mulai dari tidak memiliki IMB atau memiliki IMB tetapi bangunan tidak dipergunakan sesuai peruntukan lahan di wilayah tersebut. Lucunya, meskipun disegel, bangunan-bangunan tersebut masih dapat digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan, seolah-olah tidak terjadi penyegelan.

Saya tidak melihat tanda-tanda upaya yang serius dan sistematis untuk memperbaiki kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Sejujurnya saya pesimis menatap Indonesia di masa yang akan datang.  Membersihkan benda kotor memang tidak bisa dengan menggunakan kain kotor.  Saya tidak tahu apakah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pembibitan, penanaman dan pemeliharaan karakter dan sikap mental anak-anak bangsa benar-benar bukan “kain kotor”.  Mungkin satu-satunya dapat saya lakukan adalah mencoba bertahan hidup di zaman edan.

Bumi Serpong Damai, 22 Februari 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 1, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: