RSS

Tingkatan Pengetahuan

01 Mar

Pada era industrialisasi, perusahaan bertahan, bersaing dan berkelanjutan mengandalkan tiga faktor produksi, yaitu tanah, modal dan bangunan.  Di era masyarakat informasi, ketiga faktor produksi tersebut tidak lagi dianggap sebagai sumber daya stratejik karena tidak mampu lagi menjamin keunggulan kompetitif perusahaan.

Dalam bukunya Gaining and Sustaining Competitive Advantage (1999), Barney berpendapat bahwa sumber daya dapat dikategorikan bernilai stratejik jika memenuhi empat kriteria, yaitu berharga (valuability); langka (rarity); sulit ditiru (inimitability); dan sulit digantikan oleh sumber daya yang lain (substitutability). Untuk memenuhi kriteria langka, pengetahuan harus memiliki kapabilitas dan enabler bagi organisasi untuk mewujudkan proses yang lebih efisien, efektif, produktif dan innovatif. Pengetahuan dikategorikan langka jika tidak tersedia banyak dan sulit untuk memperolehnya. Semakin langka pengetahuan dan semakin sulit untuk memperolehnya, maka pengetahuan semakin menjamin  keunggulan kompetitif organisasi. Demikian juga jika semakin sulit ditiru, membutuhkan biaya yang relatif besar dan waktu yang relatif lama untuk mengadakan pengetahuan, maka pengetahuan merupakan keunggulan kompetitif bagi organisasi. Sedangkan semakin sulit digantikan oleh sumber daya lain, maka semakin kuat kontribusi pengetahuan bagi keunggulan kompetitif perusahaan.

Dibandingkan dengan tanah, modal dan tenaga kerja, maka pengetahuan relatif lebih stratejik. Dimensi tanwujud (tacit) dari pengetahuan menjadikan pengetahuan lebih berharga, lebih langka, lebih sulit ditiru, dan lebih sulit digantikan oleh sumber daya lain. Dengan memiliki pengetahuan yang unggul, suatu organisasi dapat memahami bagaimana mengeksploitasi dan mengembangkan sumber daya tradisional (tanah, modal, dan tenaga kerja) lebih baik dari kompetitornya, sekalipun sumber daya tradisional yang dimiliki tidak memiliki keunikan.

Pengetahuan, terutama pengetahuan yang  context-specific dan pengetahuan tanwujud yang melekat kuat dalam proses rutin organisasi dan dikembangkan melalui pengalaman selama bertahun-tahun, merupakan pengetahuan yang unik dan cenderung sulit untuk ditiru.

Pengetahuan juga memiliki karakteristik berbeda dengan tanah, modal dan tenaga kerja yang relatif mudah dibeli di pasar dan siap digunakan. Pengetahuan cenderung tidak mudah untuk dibeli dan tidak dalam format siap untuk digunakan. Untuk mengakuisisi pengetahuan yang sama, kompetitor membutuhkan pengalaman yang sama.  Meskipun demikian, mengakuisi pengetahuan melalui pengalaman akan membutuhkan waktu dan kompetitor memiliki keterbatasan dalam hal seberapa cepat mereka dapat mempercepat proses pembelajaran organisasi, sekalipun didukung oleh kekuatan modal yang tangguh.

Namun demikian, tidak semua pengetahuan secara otomatis dapat dikategorikan sebagai sumber daya stratejik. Menurut Michael H. Zack, pengetahuan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu pengetahuan inti (core knowledge), pengetahuan lanjut (advance knowledge) dan  pengetahuan inovatif (innovative knowledge). Untuk memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan kompetitornya, suatu organisasi harus memiliki dan mengembankan pengetahuan lanjut dan inovatif.

Pengetahuan inti adalah pengetahuan dasar dan minimum yang harus dimiliki suatu organisasi sekedar untuk “play the game” di industrinya. Pengetahuan inti cenderung dimiliki oleh semua organisasi yang berada di industri yang sama dan tidak memenuhi keempat kriteria sumber daya stratejik.  Organisasi yang hanya memiliki pengetahuan inti saja tidak memiliki keunggulan kompetitif berjangka panjang, karena pengetahuan inti hanya dibutuhkan sebagai penghalang masuk (entry barrier) bagi pendatang baru di industri.

Pengetahuan lanjut mampu memberikan keunggulan kompetitif bagi organisasi. Meskipun secara umum berbagai organisasi dapat memiliki pengetahuan dengan tingkatan, cakupan dan kualitas yang sama, organisasi dapat mengembangkan pengetahuan yang spesifik yang  tidak dimiliki oleh organisasi lain dan tidak mudah ditiru. Pengetahuan lanjut dapat menjadi enabler bagi organisasi yang mengembangkan strategi diferensiasi berbasis pengetahuan sehingga organisasi dapat memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan kompetitor di industri yang sama.

Organisasi yang memiliki pengetahuan inovatif dapat menjadi pemimpin di industrinya. Bahkan dengan memanfaatkan pengetahuan inovatif yang dimilikinya, organisasi dapat lebih jauh mengubah aturan permainan di industrinya.

Secara teoritis perusahaan yang mampu mengembangkan pengetahuan inovatif dalam posisi yang relatif “aman” dibandingkan kompetitornya. Tetapi, sejatinya, dalam persaingan yang kompleks dan kuat, tidak ada posisi yang aman bagi suatu organisasi, di manapun dan kapanpun. Pengalaman Intel menunjukkan bahwa untuk bertahan, bersaing dan berkelanjutan tidak sekedar dibutuhkan pengetahuan yang inovatif, melainkan juga sikap paranoid. Seperti kata Andrew S. Grove “only the paranoid  survive”.

Bumi Serpong Damai, 24 Februari 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: