RSS

Result Oriented vs Process Oriented

02 Mar

Mungkin “dosa besar” yang pernah dilakukan oleh Rudy Hartono dan Michael Schumacher adalah masing-masing pernah menjadi juara All England 8 kali (7 kali di antaranya berturut-burut) dan juara dunia Formula 1 sebanyak 7 kali (5 kali di antaranya berturut-turut). Karena prestasi yang luar biasa dari Rudy dan Schumacher, maka jika kemudian pebulutangkis lain tidak mampu menyamai prestasi Rudy atau pebalap F1 yang tidak mampu menyamai Schumacher, dianggap tidak hebat. Proses (baca : usaha dan kerja keras) seperti apapun dianggap angin lalu kalau tidak membukukan gelar.

Situasi dan konteks persaingan pada saat prestasi dicapai penting untuk menjadi pertimbangan. Meskipun Sebastian Vettel baru 1 kali menjadi juara dunia F1 pada tahun 2010, situasi dan konteks persaingan yang dihadapi Vettel jauh lebih berat dibandingkan dengan situasi dan konteks persaingan GP F1 periode 2000 sampai dengan 2004, yaitu periode di mana Schumacher membukukan prestasi juara dunia F1 berturut-burut 5 kali.

Secara diplomatis orang akan mengatakan bahwa hasil dan proses sama-sama penting. Sejatinya orang lebih senang jika berhasil menjadi juara, meskipun kinerja, kondisi dan konteks persaingan tidak terlalu kompetitif. Sebaliknya, orang akan merasa bahwa sehebat apapun proses yang dilakukan untuk meraih gelar, tetapi kalau gagal, maka “sia-sia” saja proses tersebut. Orang-orang yang gagal mencapai prestasi juara, dan juga para pendukungnya, seolah-olah tidak mau menerima pesan moral dalam pepatah “kegagalan adalah sukses yang tertunda.”

Mana yang lebih penting, hasil atau proses, tergantung dari siapa, sudut pandang dan juga kepentingan orang. Apakah suatu organisasi akan mengedepankan result oriented, process oriented, akan “mengawinkan” keduanya, juga tergantung pada misi, visi, nilai-nilai dan tradisi organisasi yang bersangkutan. Bagi klub sepakbola seperti FC Chelsea di mana Roman Abramovic sudah “jor-jor”an  menguras pundi-pundinya untuk membawa beberapa pemain top dunia misalnya, gagal menjadi juara English Premier League adalah dosa besar yang tidak termaafkan. Bahkan klub sekelas Real Madrid menetapkan standar yang tidak mudah dicapai.  Siapapun pelatih Real Madrid, ia  harus mampu mempersembahkan juara liga Spanyol dan juara Piala Champion. Meskipun berhasil mempersembahkan juara liga Spanyol, pelatih Bernd Schuster dipecat juga. Nasib yang sama dialami oleh Roberto Mancini, meskipun ia berhasil membawa Inter Milan juara liga Italia 3 kali berturut-turut, toh tetap dipecat karena dianggap gagal mempersembahkan Piala Champion bagi Inter Milan.

Barangkali hanya Arsene Wenger (pelatih klub Arsenal, Inggris) yang dapat tidur nyenyak, meskipun sudah sejak tahun 2006 tidak mempersembahkan juara bagi klub kebanggaan keluarga kerajaan Inggris tersebut. Jose Mourinho (sekarang pelatih klub Real Madrid) pernah merasa iri dengan kondisi yang dialami Wenger, tidak berhasil mempersembahkan juara, tetapi posisinya tidak diujung tanduk, bahkan kontrak Wenger diperpanjang sampai dengan tahun 2014.

Pendapat tentang mana yang lebih penting – result oriented atau process oriented – memang sangat dipengaruhi oleh sudut pandang dan kepentingan. Meskipun tidak memberikan gelar apapun kepada Arsenal sejak terakhir kali merebut piala FA pada tahun 2005, tidak ada satupun pelatih yang meragukan kehebatan dan kontribusi Wenger terhadap sepakbola dunia pada umumnya, dan sepakbola  Inggris pada khususnya. Wenger – yang mendapat julukan profesor – adalah pelatih asing yang paling berhasil mengubah kultur dan gaya sepakbola Inggris, semula “kick and rush” (yang lebih menyerupai olah raga rugby daripada sepakbola) menjadi sepakbola indah dan menyerang (mengandalkan operan pendek dan cepat). Wenger adalah salah satu pelatih yang bersedia melakukan pembibitan dan pembinaan sepakbola pemain-pemain muda. Wenger adalah pemain yang sabar membina para pemain muda dan memberikan kepercayaan yang luar biasa kepada para pemain muda untuk bertanding di level yang sangat kompetitif seperti Liga Champion.

Hampir tidak pernah Wenger melakukan pembelian pemain dengan harga mahal. Mayoritas pemain yang dibeli Arsenal adalah pemain yang tidak terkenal sehingga Arsenal tidak pernah kelimpungan menanggung beban hutang seperti klub-klub besar lain seperti Real Madrid, Manchester United dan Liverpool. Alasan Wenger tidak mau membeli pemain bintang dan berharga mahal sungguh cukup masuk akal. Suatu saat ia berpendapat tidak ada urgensinya untuk membeli pemain bintang dan berharga mahal. Chelsea yang sudah menghambur-hamburkan uang untuk membeli pemain bintang dan berharga mahal tetap saja tidak mampu menjadi juara Piala Champion.

Kesetiaan stakeholders Arsenal pada process oriented mengantarkan Arsenal menjadi salah satu akademi sepakbola terbaik di dunia dan layak disejajarkan dengan FC Barcelona dan Ajax Amsterdam. Beberapa pemain binaan Wenger yang kemudian menjadi bintang antara lain adalah Thiery Henry, Patrick Viera, Dennis Bergkamp, Emmanuel Adebayor, Nicolas Anelka. Bahkan beberapa pemain muda binaan Wenger sudah matang pada saat usianya masih muda seperti Jack Wilshere, Theo Walcott, Samir Nasri dan Cesc Fabregas sudah menunjukkan prestasi di level tinggi dan menjadi incaran beberapa klub sepakbola papan atas.

Bukti bahwa Wenger melalui pendekatan process oriented diakui berhasil adalah penunjukkan Wenger sebagai pelatih kepala The Chance. Proyek The Chance adalah program pembinaan pesepakbola dari negara-negara terbelakang dalam prestasi sepakbola, terutama negara-negara Asia. Wenger telah berhasil membina pemain-pemain muda dari negara-negara Afrika dan karena itu penunjukkannya sebagai pelatih kepala proyek The Chance diharapkan mampu mengangkat perkembangan dan prestasi sepakbola negara-negara di Asia.

Salah satu key success factor Arsenal adalah dukungan talent scoutting yang dikomandani oleh Steve Rowley. Kinerja Rowley sebagai pemandu bakat yang jeli dibuktikan antara lain dari sejumlah pemain muda yang menjadi andalan Arsene Wenger saat ini seperti Cesc Fabregas, Robin van Persie dan Thomas Vermaelen.  Rowley jugalah yang menemukan pemain-pemain muda potensial seperti Alex Song, Wojciech Szczesny, Bacary Sagna dan Gael Clichy dengan harga yang terbilang murah (Daily Mail,13.2.2011)

Mulai musim depan (tahun 2011), secara bertahap UEFA akan menerapkan “Financial Fair Play”. Kebijakan ini mengatur ketentuan bahwa klub tidak boleh mengeluarkan uang lebih dari pendapatan mereka. Jika ada klub yang melanggar, maka salah satu sanksi bagi pelanggar adalah larangan mengikuti kompetisi Liga Champions atau Liga Europa. Dampak kebijakan ini adalah klub tidak lagi leluasa untuk belanja pemain, melainkan harus bertumpu mengandalkan sumber pemain dari pembinaan internal klub.

Pada umumnya klub-klub sepakbola di Eropa telah memiliki akademi sepakbola sebagai sumber pemasok untuk pemain-pemain inti klub. Namun pembinaan pembinaan pemain muda tidak hanya membutuhkan dana, melainkan juga enthusiasm, passion dan patient. Kebanyakan pemilik klub besar seperti Real Madrid dan Chelsea – karena ambisi selalu menjadi terbaik di negaranya dan tingkat Eropa – tidak sabar menunggu hasil pembinaan yang kadang-kadang pada waktu yang dibutuhkan belum ada pemain muda yang siap dipromosikan menjadi pemain inti. Itulah sebabnya, Chelse berambisi untuk merekrut Steve Rowley yang telah sukses melaksanakan tugas sebagai talent scoutter.

Result oriented atau process oriented bukan sekedar pilihan. Hanya organisasi yang memiliki misi, visi, nilai-nilai dan tradisi yang kuat akan mengedepankan process oriented. Hanya organisasi dengan pemimpin dan orang-orang yang memiliki enthusiasm, passion dan patient yang akan menikmati process oriented.

Bumi Serpong Damai, 25 Februari 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 2, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: