RSS

Tuntunan dan Tontonan

02 Mar

Visioner seringkali disebut-sebut sebagai salah satu syarat utama seorang pemimpin. Maksudnya, seorang pemimpin harus mempunyai visi dan mampu membawa para pengikutnya untuk mencapai visi organisasi. Bahkan dalam buku Enlightened Leadership, Ed Oakley dan Doug Krug mengangkat derajat pemimpin yang visioner dan mampu membuat para pengikutnya memiliki visinya adalah seorang pemimpin yang tercerahkan.

Bukan hanya visioner, seorang pemimpin juga harus ahli strategi. Pemimpin harus memiliki strategi dan memimpin para pengikutnya untuk mencapai visi organisasi. Tetapi menjadi menjadi ahli strategi saja tampaknya tidak cukup. Hitler juga seorang ahli strategi, paling tidak terbukti dari kemampuannya mengalahkan Chamberlain (Perdana Menteri Inggris yang berkuasa sebelum Winston Churchill). Inggris pada saat itu menguasai Cekoslovakia dan Hitler bermaksud untuk menjadikan Cekoslovakia di bawah kekuasaan Jerman. Untuk mewujudkan ambisinya, Hitler mengeluarkan “gertak sambal” kepada Inggris dan akan mengerahkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu Cekoslovakia. Merasa terancam, Chamberlain menempuh jalan diplomasi dan Hitler setuju asalkan Musollini yang masih menjadi sekutu Hitler yang menjadi moderator. Singkat cerita, berkat strateginya yang jitu, Hitler berhasil menguasai Cekoslovakia tanpa keringat dan tanpa darah setetespun. Padahal, sejatinya Hitler tidak memiliki pasukan yang siap tempur sampai sebanyak puluhan ribu dan persenjataan yang memadai seperti digembar-gemborkan kepada pihak Inggris. Tapi karena Chamberlain dan intelijen Inggris tidak memiliki informasi yang lengkap dan akurat tentang kekuatan pasukan dan persenjataan Jerman, maka Chamberlain gagal mempertahankan Cekoslovakia di bawah kekuasaan Inggris.

Barangkali, nilai-nilai moral lebih penting dimiliki oleh seorang pemimpin daripada sekedar visioner dan ahli strategi. Paling tidak jika merujuk pada beberapa pemimpin negara yang bermasalah seperti Silvio Berlusconi (Perdana Menteri Italia saat ini). Oleh berbagai media cetak dan elektronik Italia,  Berlusconi tidak lain tidak bukan adalah “seorang kakek di pagi hari, seekor binatang di malam hari”.  Karena pada dasarnya seorang pemimpin menjadi tuntunan bagi orang-orang yang dipimpinnya, akhlak terpuji adalah syarat yang tidak dapat ditawar. Tetapi kondisi yang ideal memang lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan.

Masih ingat Bung Ebet Kadarusman? Pembawa acara Salam Canda di salah satu televisi swasta nasional itu selalu menutup acara yang dipandunya dengan pesan “it’s nice to be important, but it is more important to be nice”. Pesan itu berlaku untuk semua orang, tetapi mungkin lebih “kena” untuk orang-orang yang menjadi “pemimpin”. Biasanya, orang-orang yang berada di atas orang lain cenderung merasa penting dan tidak selalu to be nice. Ketimbang orang biasa, barangkali pemimpin yang harus lebih sering eling untuk mempraktekkan important to be nice.

Direncanakan atau tidak, diinginkan atau tidak, dikehendaki atau tidak, disengaja atau tidak, seorang pemimpin pada hakekatnya adalah juga seorang public figure. Sebagaimana layaknya seorang public figure, seorang pemimpin akan memainkan dua peran penting, yaitu menjadi tuntunan dan sekaligus tontonan. Sejatinya, menjadi tuntunan jauh lebih sulit daripada menjadi totonan.

Karena terlanjur dan “terpaksa” menjadi seorang public figure, jika seorang pemimpin tidak hati-hati dan bijak, maka hukum alam “guru kencing berdiri dan murid kencing berlari” akan menyertai seorang pemimpin selama ia menjadi pemimpin sebuah kelompok sosial, organisasi, masyarakat dan bangsa. Soft competencies dan hard competencies seorang pemimpin akan selalu menjadi barometer dan benchmark bagi para anggotanya.

Hal-hal yang remeh temeh seperti gaya rambut dan warna rambut seorang pemimpin juga menjadi mode yang akan diikuti oleh para abdi dalemnya. Jika seorang pemimpin menyukai pakaian batik misalnya, tanpa harus ada instruksi maupun surat keputusan, para pengikutnya akan berlomba-lomba mengikuti kebiasaan berpakaian pemimpinnya. Ekstremnya, bahkan jika seorang pemimpin mempunyai hobby olah raga yang kurang gaul seperti olah raga dayung dan gulat, bukan tidak mungkin para abdi dalemnya juga akan bersakit-sakit dahulu untuk belajar olah raga dayung dan gulat. Perilaku para pengikut yang suka “mengekor” para pemimpinnya sungguh sangat manusiawi sekali, siapapun ingin bisa dekat dengan para pemimpinnya, atau minimal kelihatan oleh pemimpinnya. Cara termudah adalah dengan bersungguh-sungguh (dan juga mungkin berpura-pura) melakukan apa yang dilakukan oleh para pemimpin mereka.

Sebagai seorang pemimpin yang sudah kepalang basah menjadi public figure, pemimpin selalu sadar untuk menjaga pencitraan. Seorang pemimpin akan melakukan apa saja agar dirinya akan selalu memiliki citra baik dan kelebihan di hadapan para pengikutnya. Namun pemimpin adalah manusia juga, tidak sempurna dan dapat saja memiliki sifat, sikap, dan perilaku yang belum tentu  lebih baik dibandingkan dengan para pengikutnya. Ironisnya, para pengikut cenderung untuk mengikuti tuntunan dan tontonan yang ditunjukkan oleh pemimpin. Apapun yang dilakukan seorang pemimpin, baik atau tidak baik, benar atau salah, etis atau tidak etis, cenderung diikuti oleh para pengikutnya. Singkat kata, kalau seorang pemimpin “kencing berdiri”, maka para pengikutnya juga akan “kencing berlari”.

Betapa visioner dan keahlian strategi seorang pemimpin, seringkali ia tidak sadar ada hal-hal yang tidak baik pada dirinya dan ia melakukan “pembiaran” hal-hal yang tidak baik itu diikuti oleh para pengikutnya. Karena memang tidak ada yang berani protes atau sekedar mengingatkan sifat, sikap dan perilakunya yang tidak baik, seorang pemimpin seolah-olah mendapatkan legitimasi bahwa sifat, sikap dan perilaku apapun dari dirinya adalah baik.

Sebagai contoh adalah seorang pemimpin yang memiliki kebiasaan merokok. “Smoking Culture” seorang pemimpin dapat mengubah total “smoking culture” yang berlaku di dalam organisasi. Jika sebelumnya di suatu organisasi memberlakukan aturan wilayah kerja harus bebas dari rokok dan asap rokok, “smoking culture” itu dapat berubah total dalam sekejap, jika kemudian ada seorang pemimpin yang adigang, adigung, adiguna merokok dalam ruangan. Tanpa komando kebiasaan seorang pemimpin merokok dalam ruangan akan diikuti oleh para perokok. Tindakan pemimpin adalah legitimasi yang paling kuat bagi para pengikutnya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Seorang teman menceritakan pengalamannya kepada saya tentang pimpinannya yang suka gembar-gembor untuk saling menghormati sesama manusia. Di perusahaan tempatnya bekerja memberlakukan aturan bahwa semua orang harus saling menghormati dan menghargai, tanpa memandang suku, agama, ras, jabatan, pendidikan dan atribut-atribut sosial lainnya. Tidak ada yang meragukan keramahtamahan pemimpinnya dalam berkomunikasi dengan karyawan dari berbagai tingkatan. Pemimpinnya juga memiliki keterbukaan dan kesabaran mendengarkan masukan dan keluh kesah dari semua karyawan.

Meskipun demikian, seorang pemimpin adalah manusia juga. Sebagai seorang perokok, ia memiliki kebiasaan untuk merokok dalam ruangan. Anehnya, sebelum menjadi orang nomor 1 di perusahaannya, ia selalu menghormati aturan permainan keharusan merokok di luar ruangan. Memang pantas-pantas saja jika orang nomor 1 di perusahaan merasa it’s nice to be important. Tetapi aneh juga kalau selama ini sang pemimpin memiliki  sifat, sikap dan perilaku respect for others tidak berbekas sama sekali.

Bagi saya pribadi, tidak cukup menilai kehebatan seorang pemimpin dari latar belakang pendidikan, kompetensi, pengalaman kerja, keahlian, jejaring yang dimilikinya, dan berbagai “parameter pemimpin moderen” lainnya. Saya tidak perlu merasa silau dengan kehadiran seorang pemimpin yang memiliki bekal teori dan praktek strategi manajemen yang mumpuni dan kecanggihan  teknologi informasi dan komunikasi yang digunakannya. Adalah penting menilai seorang pemimpin tidak sekedar dari pertumbuhan laba yang diperoleh perusahaan dan keberhasilan perkembangan usaha selama periode kepemimpinannya, melainkan juga akhlaknya.

Saya sampai pada kesimpulan yang mengecewakan bahwa pendidikan, umur, jabatan, kekayaan, pengalaman hidup, dan indikator-indikator kedewasaan lainnya seringkali tidak memiliki korelasi yang positif dalam pembentukan akhlak seseorang. Tidak ada jaminan dan memang seringkali terbukti, bahwa pendidikan, umur, jabatan, kekayaan, pengalaman hidup, sama sekali tidak dapat menjadi barometer kemuliaan akhlak seseorang. Dalam hal akhlak, tidak ada jaminan bahwa seorang pemimpin memiliki akhlak lebih baik dibandingkan dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Bumi Serpong Damai, 20 Februari 2011

 
1 Comment

Posted by on March 2, 2011 in Selasar

 

One response to “Tuntunan dan Tontonan

  1. maharani

    March 3, 2011 at 2:58 am

    tulisannya bagus2 kenapa nggak di posting juga ke kompasiana?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: