RSS

Kambing Hitam dan Oknum

03 Mar

Dalam hal akal-akalan, orang Indonesia memang terkenal sebagai “jago”nya. Ketika manusia di belahan bumi lain berusaha untuk mewujudkan “semua harus di atur” dan “semua harus teratur”, kita malah lebih yakin bahwa “semua bisa diatur”. Tidak tanggung-tanggung, yang bicara “semua bisa diatur” adalah orang yang pernah menjadi “orang nomor dua” di republik ini. Mungkin dia bermaksud mengatakan “banyak jalan menuju ke Roma”, tetapi setiap kata selalu mengandung arti denotatif dan konotatif, tergantung siapa dan bagaimana orang menginterpretasikannya.

Di bumi pertiwi yang kita cintai ini, ada tradisi yang diwariskan oleh sebagian pimpinan dan pejabat tertentu kepada generasi muda, yaitu : menyelesaikan masalah dengan masalah. Metode yang digunakan adalah “pembiaran”, sedangkan “kambing hitam” dijadikan tools. Setelah itu, cukup dengan memberikan label “oknum” kepada orang yang telah terpilih menjadi  “kambing hitam”. Maka masalah sudah dianggap “selesai”.

Tidak ada proses harakiri seperti di Jepang karena bukan budaya nusantara dan haram untuk dilakukan. Juga tidak ada proses pengunduran diri dari pimpinan dan pejabat yang bersangkutan. Jangankan merasa bertanggung jawab dan mengundurkan diri, lha wong merasa bersalah juga tidak. Bagaimana mungkin merasa bersalah kalau hati nuraninya sudah mati dan yang tinggal tidak lebih dari seonggok daging bernyawa?

Calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang sudah terbukti dan dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Konstitusi juga masih ndhableg maju kembali mengikuti pemilihan kepala daerah yang diulang. Bakal calon dan para pendukungnya setali tiga uang, tidak punya rasa malu dan legowo mengakui kesalahan dan kekalahan.

Boleh percaya boleh tidak, barangkali kambing hitam dan oknum sudah menjadi berhala yang dipuji dan dipuja oleh para pimpinan dan pejabat yang bermasalah. Entah sudah berapa pimpinan dan pejabat yang bermasalah yang diselamatkan oleh kambing hitam dan oknum. Entah sudah berapa lembaga yang kehormatan korpsnya diselamatkan oleh kambing hitam dan oknum. Entah sudah berapa pimpinan, pejabat dan lembaga negara yang terpelihara “nama baik”nya berkat pengorbanan kambing hitam dan oknum. Keikhlasan kambing hitam dan oknum untuk memikul tanggung jawab pimpinan, pejabat dan lembaga-lembaga yang bermasalah telah menyelematkan kedudukan, kehormatan, dan nama baik mereka yang sempat seperti telur di ujung tanduk.

Tidak ada yang meragukan keampuhan metode “pembiaran” dan penujukan “kambing hitam” dan “oknum” untuk menyelamatkan kedudukan, kehormatan dan nama baik. Pimpinan dan pejabat boleh berganti, tetapi karena pembinaan akhlak mereka di “kawah candradimuka” yang sama, hasilnya juga tetap sama. Buku sejarah kepemimpinan di republik ini sudah lama dibiarkan kosong karena memang tidak ada peristiwa luar biasa yang layak untuk dicatat dan menjadi tuntunan untuk generasi berikut.

Sejatinya pembiaran, kambing hitam dan oknum memang tidak menyelesaikan masalah apapun. Terbukti kemudian bahwa “tabrakan banteng” sesama kereta api masih terjadi, kecelakaan kapal laut tidak mereda, tragedi penerbangan juga masih terjadi. “Tidak ada prajurit yang salah, yang salah adalah perwiranya” cuma menjadi retorika. Apapun yang terjadi, tidak ada perubahan karakter, sikap dan perilaku para pimpinan dan pejabat yang bermasalah.

Mungkin orang-orang yang berada di kursi terhormat perlu belajar lagi mengenai makna tanggung jawab, kehormatan, dan nama baik. Lebih penting lagi adalah para pimpinan dan pejabat tinggi juga menyadari bahwa setiap orang, tanpa memandang apapun jabatannya, adalah memiliki kehormatan dan nama baik dan setiap orang juga berhak untuk mempertahankan kehormatan dan nama baiknya. Mereka perlu empati, bagaimana kalau dirinya sendiri yang dikorbankan menjadi  kambing hitam dan oknum.

Masyarakat Indonesia sudah hidup dan mengenyam jaman moderen.  Manusia Indonesia juga belajar tentang hak asasi manusia, persamaan hak, dan demokrasi. Tetapi sejatinya, sifat, sikap dan perilaku masih percaya pada persembahan korban sebagai tolak bala. Kambing hitam dan oknum adalah korban yang dipersembahkan untuk menolak bala agar jabatan, kehormatan, dan nama baiknya tetap terpelihara.

Bumi Serpong Damai 2 Maret 2011

 
1 Comment

Posted by on March 3, 2011 in Selasar

 

One response to “Kambing Hitam dan Oknum

  1. uncung

    March 3, 2011 at 6:19 pm

    posting tulisannya ke kompasiana. di sana rame banget. nanti tak’ koment. salam dari jogya

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: