RSS

Komunikasi (Bagian Pertama)

06 Mar

Masih ingat Sidang Umum MPR tahun 1999 dengan agenda pertanggungjawaban presiden Republik Indonesia B.J. Habibie? Semua sudah tahu bahwa akhirnya MPR menolak pertanggungjawaban Habibie dan karena itu pada sidang umum tersebut sekaligus MPR memilih presiden RI yang baru.

Yang menarik bukan hasil (baca : keputusan penolakan pertanggungjawaban Habibie), melainkan proses penolakannya. Saya masih teringat bagaimana Habibie di-“kuyo-kuyo”. Setelah reformasi, semua orang menjadi bicara apa saja dan mengekspresikan pendapat dengan cara apapun. Setelah reformasi, semua merasa “plong” tidak ada lagi “manusia setengah dewa” yang akan menyensor substansi dan etika orang dalam menyampaikan pendapat.

Saya menganalogikan situasi yang dihadapi Habibie dengan sliding tackle dalam sepakbola. Inti sliding tackle adalah fokus pada bola, bukan pada kaki lawan. Aliran bola yang harus dihentikan, bukan kaki pemain lawan yang harus dibuat cedera atau patah. Demikian juga ketika mengemukakan gagasan dan terutama perbedaan pendapat, fokus pada subtansi gagasan, bukan pada personal.

Dagelan yang hanya terjadi di “republik mimpi” bisa sungguh-sungguh terjadi di Republik Indonesia. Komentar dan kritik yang semestinya tetap fokus pada substansi, seringkali berkembang liar masuk ke ranah personal. Pimpinan sidang kewalahan mengawal peserta sidang, ibaratnya seperti seorang wasit yang kewalahan dan ketakutan mengingatkan pesepakbola agar tetap “kick the ball, not the foot”. Ketika sedang berkomunikasi, idealnya orang paham bahwa “everyone is wise until he speaks”. Tetapi situasi dan kondisi saat itu lebih menggambarkan “everyone speaks until he is wise.”

Seorang ibu kemudian tampil ke depan mimbar untuk menyampaikan pandangan fraksinya. Fraksinya juga menolak pertanggungjawaban Habibie, tetapi si Ibu berhasil membuat perbedaan, membuat suasana menjadi peace dan “cair”,  ketika ia kemudian membacakan terjemahan salah satu surat dalam  Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 5 Al Maa-idah, ayat 8.

Menyampaikan pendapat dan mengkritik pihak lain sembari menghujat bukanlah suatu kesalahan dan kebodohan. Kemampuan menghujat orang lain tidak selalu disebabkan oleh kemarahan yang membuncah. Keterampilan menghujat orang lain, apalagi merasa “plong” setelah menghujat orang lain, adalah bagian dari karakter. Bedakan antara api dalam sekam dan angin yang dapat membuat api dalam sekam menjadi menyala berkobar. Kesalahan atau kekhilafan orang lain adalah angin, sedangkan kemarahan dan kebencian adalah api dalam sekam. Kesalahan orang lain adalah trigger, tapi kemarahan dan kebencian yang membuncah adalah karakter yang memang sudah ada dalam hati seseorang yang kemudian mempengaruhi sikap dan perilakunya ketika menghadapi orang lain.

Kita tidak perlu belajar njelimet untuk sampai pada kesimpulan bahwa perlu ada etika komunikasi, termasuk pada saat memberikan pendapat. Orang Jawa selalu mengingatkan “ngono yo ngono, ning ojo ngono” (begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu). Ngono pertama dan kedua adalah substansi, sedangkan ngono yang ketiga adalah cara. Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa cara adalah sama pentingnya dengan substansi atau konten. Pesan yang benar, jika disampaikan dengan cara yang menyakitkan orang lain, menjadi kontra produktif.

Memang ada juga orang-orang yang memiliki cara dan gaya komunikasi fokus pada substansi dan pada saat bersamaan tetap “ngomel-ngomel”, tetapi orang itu tetap sukses dan dihormati. Sebut saja nama Simon Cowell, dedengkot American Idol, yang mampu memberikan kritik yang konstruktif sekaligus rada-rada “nylekit”.  Begitu juga Andy F. Noya, menurut pengakuannya ketika diwanwancara oleh sebuah harian nasional terkemuka di Jakarta, seringkali dinilai  “ketus”.  Meskipun memiliki “kelemahan” dalam verbal communication dan personal communication, toh Cowell dan Noya dapat diterima di lingkungan sosialnya.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Cara dan gaya komunikasi seseorang antara lain dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, keyakinan, budaya, dan prasangka. Idealnya, perbedaan latar belakang tersebut tidak dijadikan dasar untuk melupakan etika berkomunikasi. Cara dan gaya komunikasi sangat mungkin berbeda, tetapi etika komunikasi idealnya universal, diterima oleh sebagian besar orang, dan diterapkan oleh siapapun yang sedang berkomunikasi. Banyak buku dan tulisan yang membahas tentang etika komunikasi. Demikian juga banyak lembaga-lembaga pelatihan yang mengajarkan tentang etika komunikasi.

Saya membayangkan memahami etika komunikasi semudah kita memahami “fair play” dalam permainan sepakbola. Siapapun orangnya, dari manapun asalnya, apapun latar belakangnya, mengerti dengan mudah bagaimana etika bermain sepakbola.  Untuk memudahkan agar kita dapat berkomunikasi dengan baik, pesan dari Bernarch Buruch, seorang pebisnis dari Amerika Serikat dapat menjadi pertimbangan. Buruch mengatakan bahwa “the ability to express an idea is almost as important as the idea itself.”

Sesungguhnya, tanpa perlu belajar secara khusus tentang etika komunikasi, setiap orang akan mampu berkomunikasi secara etis. Caranya adalah mengetahui tujuan utama dari komunikasi itu sendiri. Dalam buku “Making Management Communication Persuasive”, Patrick Forsyth (1992) menjelaskan tujuan komunikasi sebagai berikut :

1. to get your listeners to HEAR what you tell them (or to SEE what you show them);

2. to get your listeners to UNDERSTAND what they have heard or seen;

3. to get your listeners to AGREE with what they have heard (or to disagree while understanding clearly what you have said or shown them);

4.       to get you listeners to TAKE ACTION which accords exactly with your overall objective, and which they find acceptable.

Agar kita selalu berhati-hati dalam komunikasi, mungkin perlu eling peribahasa rakyat Irlandia “everyone is wise, until he speaks.” Sungguh sayang kalau kehormatan, reputasi, dan segala prestasi yang telah diraih, lenyap begitu saja hanya gara-gara mulut. Konon, orang yang mampu memelihara etika komunikasi memiliki mulut di belakang hatinya. Wallahu’alam Bishawab.

Bumi Serpong Damai, 6 Maret 2011.

 
Leave a comment

Posted by on March 6, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: