RSS

Orang Dalam

09 Mar

Di Indonesia ada profesi yang tidak ada sekolahnya dan memang tidak diperlukan ijazah khusus. Profesi tersebut antara lain “orang dalam”, “orang kuat” dan “orang pintar”. Mungkin anda pernah mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan dengan orang-orang tersebut.  Tetapi jangan sekali-kali meremehkan power yang mereka miliki. Jangan pernah pula dengan sengaja meragukan “kesaktian” orang-orang yang mungkin lebih tepat disebut “manusia setengah dewa”.

Tulisan ini “menguliti” tentang kehebatan orang dalam. Tidak ada definisi baku orang dalam. Sejauh yang saya ketahui, orang dalam adalah orang dalam suatu organisasi yang memiliki data, informasi, pengetahuan, atau setidak-tidaknya memiliki akses data, informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan (dan menjadi rebutan) pihak eksternal. Orang dalam juga memiliki akses terhadap pihak yang berwenang mengambil keputusan dan karena itu dapat menjadi “liaison officer” bagi pihak-pihak yang eksternal yang bermaksud “sowan” kepada para pengambil keputusan.

Tidak jelas bagaimana sejarahnya dan mengapa mereka disebut orang dalam. Dalam bahasa Inggris orang dalam biasa disebut sebagai insider trading. Di pasar modal dan perusahaan-perusahaan terbuka, kehadiran dan praktek-praktek insider trading adalah illegal dan unfair. Perusahaan   tertutup cenderung mengabaikan good corporate governance. Karena itulah keberadaan orang dalam masih dibutuhkan. Anda boleh percaya bahwa banyak jalan menuju ke Roma, tetapi juga ada “jalan” yang tahu cuma orang dalam saja.

Meskipun “kemanfaatan” orang dalam dapat dirasakan, tetapi “kehadiran”nya tidak dapat dilihat oleh sembarang orang. Itulah sebabnya “Koalisi” Pemberantasan Korupsi dan “Sekretariat Gabungan” Anti Mafia Hukum dan Pajak juga nggak bisa melihat dan menyentuh orang dalam. Mungkin orang dalam ini dapat diibaratkan seperti, maaf, “kentut”. Seperti kentut yang tidak kelihatan oleh mata telanjang, begitu juga orang dalam tidak mudah dilihat oleh sembarang orang. Seperti kentut yang bau, orang dalam ini juga mengeluarkan “bau” yang hanya dideteksi oleh orang-orang yang memiliki panca indrea penciuman istimewa.

Sesungguhnya, orang dalam tidak seperti Al Capone yang disebut-sebut sebagai “The Untouchable”. Tanpa menggunakan radar dan “Global Positioning System” keberadaan  orang dalam tetap dapat dilacak, tetapi butuh kompetensi khusus untuk mengendus-ngendus di mana orang dalam berada. Di setiap organisasi biasanya memiliki “jago lobby” yang lincah kasak-kusuk dan membututi   ke manapun orang dalam bergerak. Biasanya, jago lobby yang dimiliki organisasi dan orang dalam memiliki “frekuensi” yang sama. Kedua “manusia langka” ini juga tipikal SKSD (sok kenal sok dekat). Frekuensi yang sama dan modal SKSD inilah yang membuat kedua “manusia langka” ini cepat menyatu.

Mengapa orang dalam eksis dan pihak eksternal tidak berkutik untuk menghadapinya? Information and knowledge are power. Ketidakseimbangan informasi dan pengetahuan inilah yang kemudian menyebabkan bargaining position dan bargaining power orang dalam tidak dapat dijinakkan oleh pihak-pihak eksternal yang berkepentingan. Di mana-mana manusia sama saja, kalau sudah memiliki kekuasaan cenderung korup. “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men.”, demikian Lord Acton mengatakan. Lagian, kalau orang dalam itu sampai memiliki bargaining power yang begitu kuat, tidak mungkin kalau orang dalam itu jalan sendirian. Pasti ada “orang kuat” yang melindungi dan memberikan restu atas sikap dan perilaku orang dalam.

Profil Orang Dalam

Tidak mudah untuk mendeskripsikan profil orang dalam. Karena posisi orang dalam tidak ada dalam struktur organisasi formal, maka tidak ada job description dan job specification dari orang dalam. Apa yang bisa dilakukan adalah mereka-reka apa saja yang bisa dilakukan oleh orang dalam. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, profil orang dalam kurang lebih adalah sebagai bulldozer, back, bodyguard, tukang gosip, dan mata-mata.

Bulldozer”. Fungsi bulldozer adalah untuk mendobrak semua rintangan yang menjadi penghalang. Bulldozer juga dapat digunakan untuk meratakan jalan sehingga perjalanan menjadi mudah. Organisasi yang berkepentingan dapat menggunakan orang dalam untuk melakukan tugas-tugas sebagaimana layaknya bulldozer sehingga semua kepentingan, rencana dan strategi organisasi menjadi mulus untuk dieksekusi.

Back”. Dalam suatu kesebelasan sepakbola, back adalah pemain bertahan. Tugas utamanya adalah mengamankan wilayah pertahanan dari serangan kesebelasan lawan. Orang dalam juga bisa menjadi back yang sempurna. Jika ada organisasi yang tidak kooperatif, maka orang dalam dengan segala cara dapat menghambat laju gerak gerik dan sepak terjang organisasi tersebut. Karena itu, orang dalam juga dapat dimanfaatkan untuk menahan sepak terjang dan laju pergerakan kompetitor.

Bodyguard”. Orang dalam sering menawarkan “jasa pengawalan” terhadap surat, dokumen tender dan lain sebagainya. Sebagaimana layaknya seorang pengawal, orang dalam juga akan melindungi kerahasiaan semua dokumen dan kepentingan klien. Jika diminta, tukang dalam juga mampu sebagai “tukang pukul” dalam arti menghalang-halangi dokumen dan kepentingan kompetitor.

Tukang Gosip”. Orang dalam adalah penyebar gosip yang diandalkan. Berkat akses terhadap data, informasi, dan pengetahuan serta akses dan kedekatan kepada para pengambil keputusan, orang dalam lebih dahulu mengetahui apa yang akan terjadi sebelum kebanyakan orang mengetahuinya. Orang dalam ini kadang-kadang juga punya sesi “breaking news” jika ada data, informasi, dan pengetahuan penting yang segera harus digosipkan kepada kliennya.

Mata-Mata”. Orang dalam juga mampu memerankan fungsi sebagai mata-mata, terutama untuk me-mata-mata-i apa saja yang dilakukan oleh kompetitor. Semakin besar “persembahan” yang disajikan, semakin lengkap, akurat dan terkini data dan informasi tentang kompetitor yang akan dibocorkan. Namun musti kudu waspada terhadap orang dalam, jangan-jangan orang dalam mau juga menjadi agen ganda. Kalau sudah orang dalam berprinsip “di sini senang di sana senang”, bukan hanya data dan informasi kompetitor yang terbuka, melainkan juga diri kita sendiri yang ditelanjangi oleh orang dalam.

Persembahan atau “Sesajen” Kepada Orang Dalam.

Jangan pernah berpikir orang dalam memiliki ideologi sosialisme. Ideologi orang dalam adalah kapitalisme dan mereka orang-orang “kapitalis tulen” yang mampu dengan sempurna mempraktekkan ideologi kapitalis. Setiap orang dan organisasi yang bermaksud memanfaatkan jasa orang dalam harus ingat “there is no free lunch”.

Jangan sekali-kali menyamaratakan orang dalam seperti tabib yang bersedia mengobati orang sakit dengan imbalan sesuai keikhlasan orang sakit. Orang dalam tahu benar bahwa orang-orang dan organisasi-organisasi yang membutuhkan jasa pelayanan orang dalam adalah orang dan organisasi yang sehat dan karena itu tidak ada istilah “persembahan seikhlasnya”. Repotnya, tidak ada rumus baku dan tarif yang berlaku umum untuk menetapkan besaran persembahan.

Namanya juga “manusia setengah dewa” dan karena itu se-suka-sukanya sendiri menetapkan persembahan atau “sesajen” yang harus disajikan. Lagi-lagi perlu keahlian khusus untuk mengetahui sesajen apa yang disukai oleh orang dalam dan pantangan-pantangan yang harus dihindarkan. Jangan sekali-kali menawarkan – maaf meminjam istilah Ismail Marzuki – “sudut kerling wanita”, karena kadang-kadang orang dalam ini orang yang tekun beribadah dan takut sekali dengan “sudut kerling wanita”. Ingat, orang dalam biasanya memiliki kekebalan yang tidak bisa ditembus dengan senjata sembarangan. Satu-satunya yang pasti adalah orang dalam tidak kebal terhadap uang. Orang dalam juga lebih suka entertainment daripada infotainment dan edutainment.

Kalau begitu, apa persembahan yang sesuai untuk orang dalam? Berapa besarnya? Sekali lagi tidak ada rumus baku. Financial advisor yang hebat pun tidak mampu memberikan saran tentang sesajen untuk orang dalam. Satu-satunya sumber yang dapat menjadi benchmark untuk menetapkan sesajen adalah orang atau organisasi lain yang juga pernah kongkalikong dengan orang dalam.

Memang rezeki di Tangan Tuhan dan surga di bawah telapak kaki ibu. Boleh saja orang bersumpah tidak akan menyekutukan Tuhan dan akan menghormati ibu. Tetapi ingat bahwa proyek-proyek di bawah “ketiak” orang dalam. Boleh benci kepada orang dalam, tetapi pasti juga rindu kepada orang dalam. Di dunia, orang dalam adalah “juru selamat”.

Bumi Serpong Damai, 7 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 9, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: