RSS

Inspiring People

14 Mar

Saya tidak begitu terenyuh ketika Hee Ah Lee – The Four Finger Pianist asal Korea Selatan – memainkan Serenade, salah satu komposisi karya Franz Schubert yang bertempo relatif lambat dan tidak njelimet. Saya juga tidak begitu terperanjat ketika Hee Ah memainkan Hungarian Dance, sebuah komposisi karya dari Johannes Brahms. Saya baru “diam seribu bahasa” ketika kemudian Hee Ah memainkan Fantasie Impromptu Op. 66, sebuah komposisi karya dari Frederic Francois Chopin, musisi klasik blasteran Perancis-Polandia.

Sebagai penggemar dari komposi karya Chopin, saya “tahu betul” bagaimana sulit memainkan Fantasie Impromptu (artinya imajinasi dadakan). Fantasie Impromptu “sama dan sebangun” dengan karya-karya Chopin cenderung bertempo cepat dan njelimet. Ternyata, the four finger pianist penderita lobster claw syndrome dan kedua kakinya juga hanya sebatas lutut, membutuhkan waktu 5 (lima) tahun untuk dapat memainkan Fantasie Impromptu. Tidak perlu ada penjelasan khusus lagi bagaimana enthusiasm, passionate, dan patient dari seorang Hee Ah Lee.

Lobster claw syndrome atau sindrom capit lobster (dalam istilah medis disebut ectrodactyly) adalah kelainan bentuk yang langka dari tangan atau kaki, saat bagian tengahnya tidak ada, dan terdapat celah di tempat metakarpal jari seharusnya berada. Belahan ini menyebabkan tangan / kaki memiliki penampilan seperti capit (pada kepiting / lobster / udang galah). Oleh karena itu, kelainan ini disebut “sindrom capit lobster” (Kurnia Effendi, 2008 : 23). Barangkali, belum tentu dari 1 milyar manusia, ada satu orang penderita sindrom capit lobster yang memiliki hasyrat I will survive yang luar biasa dan mampu menjadi seorang pianis.

Hee bearti sukacita atau kegembiraan, dan Ah adalah pohon yang terus tumbuh. Harapannya adalah Hee Ah akan terus tumbuh dengan perasaan sukacita seperti tunas pohon (Kurnia Effendi, 2008 : 8-9), pernah pentas di Jakarta dah dihadiri pula oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono (konon, menurut berita di media cetak dan media elektronik, beliau sempat meneteskan air mata ketika menyaksikan Hee Ah pentas). Pada saat itu sebagian besar orang yang menyaksikan konsernya atau membaca buku dan VCD Hee Ah terharu, terenyuh dan seolah-olah mendapat pencerahan dan disadarkan untuk bersyukur. Kini, orang sudah lupa Hee Ah, bahkan ketika saya bercerita tentang Hee Ah, orang balik bertanya siapa Hee Ah?.

Kecuali Hee Ah, saya juga terkesan kepada Erik Weihenmayer. Lagi-lagi ketika saya menyebut nama Erik Weihenmayer, orang bertanya siapa dia, apa hebatnya, dan apa yang bisa kita pelajari dari dia? Erik adalah orang Jerman dan menderita kebutaan karena penyakit glukoma. Lahir dalam keadaan normal dan tumbuh berkembang normal, sampai pada akhirnya kebutaan menimpanya. Hambatan fisik tidak pernah merontokkan hasyrat Erik untuk mendaki puncak gunung.

Begitulah, sampai pada tahun 2002 Erik tercatat sebagai tunanetra pertama di dunia yang pernah mendaki 8 puncak dunia (www.touchthetop.com), yaitu Mount McKinley (tinggi 6194 m, Juni 1995), Kilimanjaro (5892 m, dua kali pendakian :  Agustus 1997 dan September 2005), Aconcagua (6942 m, Januari 1999), Vinson Massif (4892m, Januari 2000), Mount Everes (tinggi 8848 m, 25 Mei 2001), Mount Elbrus (5642 m, Juni 2002), Mount Koscuizsko (2228  m, September 2002)  Carstensz Pyramid (tinggi 4884 m, Agustus 2008).

Erik mendaki puncak dunia dalam keadaan buta. Tidak perlu ditanya dan diragukan lagi bagaimana enthusiasm, passionate dan patient seorang Erik. Tidak mengherankan jika saat ini Erik memiliki profesi sebagai motivator, coach, mentor, trainer. Sebagai seorang tunatetra yang pernah menaklukkan 8 puncak dunia, jelas Erik bukan seorang motivator, coach, mentor dan trainer yang sekedar berbekal teori dan konsep, melainkan mengetahui secara pasti bagaimana mengatasi segala kelemahan, keterbatasan dan kesulitan yang ada untuk mencapai tujuan seolah-olah hampir tidak mungkin untuk diwujudkan. Barangkali Erik memang menghayati motivational quote dari Albert Einstein “saat kita menerima keterbatasan, saat itulah kita melampauinya.”

Mengapa ada orang-orang yang memiliki keterbatasan kemampuan dan menghadapi kondisi yang relatif sulit tetap bertahan dan mampu melejit, sementara mereka sebagian orang dengan kemampuan normal dan di atas rata-rata tidak mampu bertahan untuk meraih prestasi istimewa? Orang-orang seperti Hee Ah dan  Erik  memiliki Adversity Quotient (AQ) tinggi. Secara sederhana, AQ  diartikan sebagai kecerdasan untuk mengubah  hambatan (keterbatasan kemampuan fisik, kesulitan hidup dan sebagainya) menjadi peluang. Orang-orang yang memiliki AQ tinggi adalah mereka yang “tahan banting”, tidak mudah menyerah dalam kondisi keterbatasan dan kesulitan apapun. Mereka juga bukan tipikal orang yang mudah memilih jalan pintas. Bahkan ketika semua orang mengatakan “mustahil”, orang-orang yang memiliki AQ tinggi masih tetap yakin bisa mewujudkan cita-cita mereka. Hee Ah Lee dengan 4 jari tangan dan secara matematis dan teoritis “mustahil” mampu main piano, toh mampu menjadi pianis yang dipuji oleh Richard Clayderman (Hee Ah Lee pernah pentas bareng dengan Richard Clayderman di Gedung Putih, Washington DC)

Paul G. Stoltz memperkenalkan istilah AQ untuk melengkapi beberapa pendekatan sebelum : Intellegent Quotient, Emotional Quotient, Spiritual Quotient. Menurut Stoltz, IQ, EQ dan SQ belum mampu memprediksikan keberhasilan orang di masa yang akan datang. Bahkan Stoltz mengatakan bahwa “success in your work and in life is largely determined by your Adversity Quotient.”  Mengapa AQ berperan besar terhadap keberhasilan di kehidupan dan dunia kerja? Dalam buku “Adversity Quotient, Turning Obstacles into Opportunities”, Stoltz (1997 : 5) menjelaskan :

  • AQ tells you how well you withstand adversity and your ability to surmount it.
  • AQ predicts who will overcome adversity and who will be crushed.
  • AQ predicts who will exceed expectations of their performance and potential and who will fall short.
  • AQ predicts who gives up and who prevails.

Untuk menjelaskan AQ, Stoltz membagi manusia menjadi tiga “kasta”, yaitu Quitter, Camper dan Climber. Quitter adalah jenis orang yang memiliki AQ rendah dan memiliki keterbatasan kemampuan, kemauan dan ketahanan terhadap tantangan dan perubahan. Camper adalah jenis orang yang memiliki AQ rata-rata dan kemampuan, kemauan dan ketahanan  yang cukup untuk menghadapi tantangan dan perubahan. Sedangkan Climber adalah jenis orang yang memiliki AQ relatif tinggi (di atas rata-rata) dan kemampuan, kemauan dan ketahanan terhadap tantangan dan perubahan.

Dalam konteks dunia kerja, menurut Stoltz, ketiga jenis Quitter, Camper dan Climber memiliki perbedaan dalam hal hubungan kerja sama, respons terhadap tantangan dan perubahan, dan kontribusi mereka dalam pencapaian sasaran organisasi yang dipengaruhi oleh tingkat adversity mereka.

Dalam suatu organisasi akan terjadi the adversity dilemma. Artinya, organisasi biasanya terdiri dari sedikit orang-orang jenis Climber dan memiliki AQ relatif tinggi daripada orang-orang berjenis Camper dan Quitter. Adalah suatu tantangan untuk  mengelola manusia yang memiliki AQ berbeda-beda dan mengorganisasi manusia jenis quitter, camper, dan climber yang memiliki kemampuan, kemauan dan ketahanan berbeda-beda terhadap tantangan dan perubahan-perubahan yang dihadapi organisasi.

Tanpa perlu penjelasan lagi kita sudah tahu di “kasta” mana Hee Ah dan Erik berada. Orang-orang seperti Hee Ah dan Erik adalah inspiring people sejati. Tetapi mereka relatif tidak dikenal oleh banyak orang daripada penyanyi dan bintang film yang hidup dalam dunia gemerlap dan memperoleh porsi pemberitaan yang relatif besar di media cetak dan elektronik. Bukan berarti bahwa orang-orang tidak pantas memilih artis menjadi idola mereka. Esensi dari mengidolakan seseorang adalah keteladanan dari seorang idola dalam hal moral, perjuangannya mencapai prestasi puncak, dan hal-hal yang memberikan manfaat bagi kebanyakan orang.

Orang-orang seperti Hee Ah Lee dan Erik Weihenmayer menjadi istimewa karena mereka mampu mengatasi segala kelemahan, keterbatasan dan kesulitan untuk mencapai prestasi luar biasa yang bahkan untuk ukuran orang “normal” sekalipun tidak mudah diraih. Mereka tidak memanfaatkan kelemahan, keterbatasan dan kesulitan yang mereka hadapi untuk meminta bantuan orang lain. Pada prinsipnya tidak mungkin semua orang mampu mencapai prestasi tanpa bantuan orang lain, baik moril dan materiil. Tetapi faktor-faktor dalam diri Hee Ah dan Erik seperti antusiasme, passion dan kesabaran yang luar biasa sejatinya adalah faktor pembeda yang memungkinkan mereka dalam segala kelemahan, keterbatasan, dan kesulitan tetap mampu meraih prestasi puncak

Saya setuju dengan pendapat Stoltz ketika ia mengatakan bahwa “Success can be defined as the degree to which one moves forward and upward, progressing in one’s lifelong mission, despite all obstacles or other forms of adversity.” Sejatinya tidak penting orang menjadi apa, lebih penting adalah bagaimana orang bisa mencapainya dan apa yang dilakukannya. Sukses tidak dapat dinilai sekedar hasil, tetapi juga proses.

Di hadapan sebah (persidangan) di Lebak pada bulan Januari 1856, Multatuli mengatakan sebagai berikut : “Sebab kita bersuka cita bukan karena memotong padi, kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanam.” (Multatuli, 1985). Mungkin yang perlu kita bukan sekedar memuji dan memuja sembarang orang, melainkan memuji dan memuja orang yang mampu memotong padi yang mereka tanam sendiri.

Bumi Serpong Damai, 12 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: