RSS

Telur Busuk

16 Mar

Manusia memang makhluk “aneh”.  Tetapi jangan coba-coba menertawakan dan menyepelekan manusia aneh.  Terutama jika anda seorang pengusaha atau calon pengusaha, jangan sekali-kali memandang enteng manusia aneh.  Manusia aneh adalah sumber peluang dan peluang adalah sumber uang. Kejelian membaca manusia aneh adalah sumber inovasi pengembangan bisnis baru.

Bulan lalu saya menerima brosur tentang San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes.  Pandangan mata saya langsung tertuju pada foto-foto di brosur dan kesan pertama saya San Diego adalah tempat wisata. Setelah membaca teks, baru saya mengetahui bahwa San Diego Hills bukan tempat wisata, tetapi juga bukan sekedar tempat pemakaman eksklusif.  Penjelasan yang saya kutip dari website San Diego Hills menjelaskan sebagai berikut :

“Konsep baru sebuah taman pemakaman unik dan terpadu kini hadir di Indonesia ….. Inilah persembahan terbaik yang bisa Anda berikan bagi orang-orang terkasih yang telah berpulang. Sebuah tempat yang pantas untuk mengantar dan mengenang kepergian mereka menuju alam keabadian, sekaligus nyaman di kunjungi seluruh keluarga yang ditinggalkan.

San Diego Hills Memorial Parks and Funeral Homes merupakan kawasan pemakaman pertama di dunia yang menawarkan kelengkapan fasilitas dan layanan berkualitas : taman pemakaman eksklusif, danau seluas 8 Ha., kapel, musholla, restoran Italia, jogging track, kolam renang, florist & gift shop, padang rumput asri bagi outdoor activity, hingga gedung serba guna berkapasitas 250 orang. Kini, melangsungkan pernikahan dan berwisata di kawasan pemakaman bukan lagi sesuatu hal yang tidak lazim dilakukan.”

Tidak banyak orang yang mau menekuni usaha taman pemakaman. Jangankan menekuni, pengusaha yang mau “masuk” ke dalam usaha taman pemakaman pun terbilang langka. Padahal manusia pasti mati dan kebutuhan terhadap lahan pemakaman adalah pasti. Banyak yang “lupa” jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 240 juta adalah pasar potensial yang sangat besar untuk usaha taman pemakaman.

Saya tidak terkejut setelah mengetahui the man behind the gun San Diego Hills. Ide awalnya adalah ketidaknyamanan (dan kesulitan-kesulitan lainnya) yang dialami oleh Mochtar Riady pada saat harus ziarah ke makam orang tuanya di Jawa Timur (problem yang sama juga dialami oleh orang lain). Singkat cerita, Mochtar Riady kemudian memindahkan makam orang tuanya dari Jawa Timur ke San Diego Hills sembari menjadikan San Diego Hills sebagai obyek usaha yang diperuntukkan bagi orang lain.

Mochtar Riady adalah salah satu orang dibalik kesuksesan BCA. Melalui ketajaman insting bisnisnya, Mochtar membaca salah satu karakter manusia Indonesia yang sangat senang jika menerima hadiah. BCA adalah salah satu bank swasta nasional yang mempelopori pemberian hadiah kepada nasabahnya. Terbukti iming-iming hadiah mampu mendongkrak jumlah nasabah BCA. Sepengetahuan saya, Mochtar Riady adalah salah satu pebisnis yang kreatif dan inovatif. Itulah sebabnya, Hermawan Kartajaya sering menggadang-gadang dan mengutip pendapat Mochtar Riady, salah satunya adalah seperti yang saya kutip sebagai berikut :

Salesman yang punya barang, tapi pembeli memang sedang butuh barang tersebut, sebenarnya cuma salesman kelas tiga. Sedang salesman yang punya barang, tapi orang tidak membutuhkan adalah salesman kelas dua. Dan, salesman kelas satu adalah salesman yang tidak punya barang dan pembelinya tidak butuh. Dia bisa jual konsep!”

Masih ingat saat Group Bakrie memasarkan dan menjual Apartemen Rasuna?. Saat itu tinggal dan hidup di apartemen bukan pilihan utama dan juga bukan tradisi orang Indonesia. Memasarkan dan menjual apartemen harus dimulai dari titik nol, yaitu mengedukasi dan “mengubah” mindset manusia Indonesia (orang-orang yang bekerja di Jakarta), bahwa tinggal dan hidup di apartemen adalah suatu kewajaran dan pilihan yang tepat. Saat memasarkan apartemen Rasuna, Group Bakrie “hanya” berbekal konsep. Faktanya, bangunan belum ada atau belum selesai dibangun, calon pembeli bersedia inden dan menyerahkan uang muka.

Selain Mochtar Riady, ada beberapa pebisnis nasional yang mungkin bisa menjadi benchmark dalam hal kreativitas dan inovasi yang mereka lakukan dan menjadi fenomenal pada zamannya. Mereka adalah Abdul Latief (“jagoan” retail dan pemilik Pasaraya), Tirto Utomo (perintis bisnis air mineral dalam kemasan / AMDK) dan Sutjipto Sosrodjojo  (perintis bisnis teh kemasan dalam botol).

Saya mengetahui kelihaian Abdul Latief dalam berbisnis dari majalah Prisma (majalah ilmu-ilmu sosial pada tahun 80-an). Berawal ikut dan belajar berdagang kebutuhan hidup sehari-hari, setelah merasa cukup modal dan pengalaman, Latief memutuskan untuk berusaha sendiri pada pertengahan dekade 60-an. Demikianlah Latief membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari dari Karawang dan membawanya ke Jakarta untuk dijual. Sialnya, pada hari pertama Latief memutuskan usaha sendiri, kesialan sudah menimpanya. Separoh telur yang dibelinya di Karawang ternyata telur busuk. Pukulan yang cukup telak bagi pendatang baru dan dapat membuat panik. Singkat cerita, timbul ide dari Latief untuk menjual telur busuk kepada orang yang sedang marah. Menjual telur busuk kepada orang normal pasti tidak laku dan membuat orang bisa jadi marah. Tetapi menjual telur busuk kepada orang yang sedang marah mungkin masih bisa laku dan membuat orang yang sedang marah malah menjadi senang. Blessing in disguise saat itu sedang marak demonstrasi mahasiswa menentang orde lama. Para mahasiswa membutuhkan telur busuk sebagai “arsenal” untuk melengkapi pelampiasan kemarahan mereka. Kemampuan mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan karakteristik konsumen  telah menyelamatkan Latief dari kerugian. Dalam contoh ini, nilai nominal dagangan bukan utama, tetapi mengubah tantangan menjadi peluang adalah pelajaran yang berharga.

Semasa bekerja, Tirto Utomo adalah pegawai PT. Pertamina. Jabatannya saat itu adalah Humas (hubungan masyarakat) dan sering menyambut tamu-tamu asing. Tirto mengamati kejadian bahwa sebagian besar tamu asing yang menginap di hotel selalu mengalami sakit perut. Tirto mengetahui penyebab utama adalah “kesembronoan” para tamu asing tersebut minum air ledeng di hotel. Mereka mempunyai persepsi bahwa air ledeng hotel-hotel di Indonesia adalah drinkable water sebagaimana layaknya air ledeng di rumah-rumah dan hotel-hotel di negara mereka. Singkat cerita, timbul gagasan Tirto Utomo untuk memproduksi air mineral dalam kemasan. Di zamannya, ide memproduksi AMDK adalah aneh dan tindakan “gila” yang menjadi bahan tertawaan para bankir. Beruntung Tirto berhasil mendapatkan pinjaman untuk membangun pabrik AMDK dan sampai sekarang produk AMDK tersebut menjadi benchmark kualitas bagi para pelanggan dan produsen AMDK.

Tahun 70-an, tradisi minum teh pada sore hari sambil bersantai di beranda rumah masih kuat. Kalau ada orang yang mempunyai ide memproduksi teh dalam kemasan botol, tidak dianggap sebagai ide cemerlang dan justru menjadi bahan tertawaan. Dengan semangat maju terus pantang mundur, Sutjipto tetap meneruskan “ide gila” memproduksi teh dalam kemasan botol. Saat ini tidak ada satupun pabrikan teh botol yang mampu menandingi teh botol Sosro. Bahkan ketika sebuah perusahaan multinasional di bidang minuman ringan bermaksud “menggoyang” Sosro, MNC itu terpaksa “angkat topi” dengan kehebatan jalur distribusi yang dibangun Sosro.

Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Sejarah perusahaan mencatat prestasi para pemimpin perusahaan yang berhasil membangun perusahaan menjadi besar dan berkelanjutan, tetapi sejarah bisnis hanya mencatat para pebisnis yang melegenda karena kepeloporan dalam hal inovasi bisnis.

Bumi Serpong Damai, 13 Maret 2011.

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: