RSS

Jalan Belakang

17 Mar

Ada sebuah jenis jalan yang barangkali hanya ada di Indonesia.  Jalan ini tidak ada di peta dan di mana letaknya di bumi juga tidak jelas. Jalan ini bukan termasuk dalam salah satu  jalan darat, jalan laut, jalan udara sebagaimana kategori yang dibuat oleh Kementerian Perhubungan. Tentu saja jalan ini ada kelas-kelasnya, tetapi jelas tidak dapat disamakan dengan kelas jalan I s.d. jalan IV. Sebutan jalan ini pun tidak bisa dikelompokkan dalam salah satu dari jalan setapak, jalan kampung, jalan kecamatan, jalan kabupaten / kotamadya, jalan propinsi.

Nama jalan ini adalah jalan belakang. Ada beberapa istilah lain yang memiliki makna kurang lebih sama dengan jalan belakang, antara lain “jalan pintas”, “jalan cepat” dlsb. Mengapa dinamakan jalan belakang dan bagaimana sejarahnya tidak pernah jelas. Nasib sejarah di Indonesia memang mengenaskan, tidak lagi “history” tetapi “his story”. Lha wong dokumen Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang asli pun bisa tidak jelas rimbanya, apalagi sejarah nama sebuah jalan.

Meskipun tidak ada di peta, invisible dan sulit dibuktikan di muka hukum, semua orang mengakui bahwa jalan belakang ini memang ada. Seperti makhluk halus yang tidak terlihat, begitu juga dengan jalan belakang. Jangan salah sangka bahwa jalan belakang adalah jalan tidak bertuan. Lazimnya, sesuatu yang halus dan tidak terlihat oleh mata selalu ada penunggunya. Karena ada penunggunya, tentu saja bagi mereka yang percaya dan membutuhkan pertolongan penunggu (“juru kunci”) jalan belakang, harus memberikan sesaji atau persembahan.

Jalan belakang dapat diibaratkan sebagai “jalan sutra” bagi orang-orang yang sedang “kepepet”. Justru karena sedang “kepepet” orang jadi tahu kalau ada jalan belakang. Perjalanan melewati jalan belakang bisa nyaman atau menyeramkan. Nyaman, kalau  “rela” memberikan sejaji berapapun nilainya asal kepentingan dan tujuan tercapai. Meskipun diporotin habis-habisan, kalau uang bukan masalah utama, fokus hanya pada kepentingan dan tujuan, tidak pada keserakahan para penunggu jalan belakang. “Menyeramkan”, kalau income per capita “payah” dan tidak mampu memberikan sesaji yang “pantas” bagi para penunggu jalan belakang.

Pemeliharaan dan perawatan terhadap jalan belakang bisa dibilang sempurna. Hanya segelintir orang yang dipercaya untuk menjadi “juru kunci” jalan belakang dan mereka adalah orang-orang pilihan. Meskipun jumlah “juru kunci” jalan belakang relatif sedikit, tetapi kondisi jalan belakang sangat terawat. Siapapun yang diantar oleh “juru kunci” jalan belakang akan menerima pelayanan sangat eksklusif. Anda tidak akan menemukan orang lain di jalan belakang kecuali “juru kunci” yang sedang menemani anda. Klien lain yang juga sedang melewati jalan belakang akan melewati jalan belakang yang lain dan ditemani oleh “juru kunci” yang lain.

“Keamanan” adalah jaminan utama selama menikmati perjalanan di jalan belakang. Meskipun tidak pernah diproklamirkan secara resmi (justru yang terjadi adalah bantahan ada jalan belakang), keberadaan jalan belakang selalu diketahui dan direstui oleh “orang kuat”. Siapapun yang berada  di jalan belakang pasti aman. Anda menjadi tidak aman jika “menyanyi” di luar bahwa anda telah mengadakan “wisata” di jalan belakang dan menyebutkan siapa saja “juru kunci” yang menemani perjalanan anda.

Jalan belakang juga bukan jalan yang baru ada. Tahun 70-an, Prof. Koentjaraningrat (seorang anthropolog) telah mengatakan salah satu karakter manusia Indonesia : mentalitas menerabas. Setelah masuk ke abad 21 dan sudah gembar-gembor tentang good governance, mentalitas menerabas tetap saja ada dan bukannya berkurang. Kehadiran lembaga-lembaga baru untuk menumpas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) tidak pernah mampu menumpas tuntas jalan belakang dan para penunggunya. Reformasi yang mengusung dan menggadang-gadang pemberantasan KKN juga “hanya” mampu melengserkan penguasa orde baru, tetapi tidak pernah mampu meluluhlantakkan jalan belakang dan para penunggunya.

Keberadaan jalan belakang memang berkaitan erat dengan mentalitas menerabas. Anehnya,  dalam hal mentalitas menerabas, ada perbedaan signifikan antara orang-orang yang mengaku tidak beragama atau tidak mau menjalankan perintah agama dan orang yang percaya kepada Tuhan dan tekun beribadah. Orang-orang Jerman yang mengaku  terus terang  tidak beragama justru memiliki komitmen dan konsisten yang kuat untuk menjalankan good governance. Di Indonesia, orang yang percaya kepada Tuhan dan beribadah tekun, tidak segan-segan menggunakan jalan belakang untuk melindungi kepentingannya dan agar tujuannya tercapai. Jalan belakang bukan hanya ada di stasiun dan pekerjaan dari para calo, melainkan justru ada di beberapa lembaga pendidikan, lembaga penegakan hukum, bahkan juga di kantor-kantor pemerintahan dan swasta. Sudah bukan rahasia lagi kalau ada seseorang yang tidak lulus seleksi penerimaan calon karyawan bisa diterima karena lewat jalan belakang.

Jalan belakang tetap ada dan “dibutuhkan” karena para stakeholders tetap membutuhkan jalan belakang. Memang tidak selalu mentalitas menerabas menjadi alasan utama, kadang-kadang kesibukan dan keterbatasan waktu menjadi alasan mengapa orang memilih jalan belakang. Kadang-kadang orang terpaksa memilih jalan belakang dan memberikan sesaji kepada para “juru kunci” jalan belakang, meskipun pelayanan yang diterima biasa-biasa saja.

Penunggu jalan belakang bisa bermacam-macam, dari penunggu “kelas teri” sampai “kelas kakap”. Secara umum, penunggu setia jalan belakang tidak jauh dari “the big three”. Mereka adalah “orang dalam”, “orang kuat” dan “tangan kanan”. Manusia boleh percaya Tuhan, tetapi jangan pernah sembarangan meremehkan setan. Manusia boleh saja bersumpah tidak ada tuhan selain Tuhan dan tidak akan menyekutukan Tuhan, tetapi jangan pernah ragu-ragu dengan “kesaktian” para penunggu jalan belakang.

Banyak jalan ke Roma, tetapi khusus di Indonesia, sebelum mencapai Roma, kadang-kadang tidak ada jalan lain lagi kecuali melewati jalan belakang. Bahkan, sebelum memulai perjalanan menuju ke Roma, para penunggu jalan belakang sudah mengetahui terlebih dahulu kebutuhan orang-orang yang sedang “kepepet”. Begitu anda selesai parkir mobil atau motor, anda akan didekati oleh “prototype” penunggu jalan belakang yang menawarkan berbagai kemudahan. Semakin “kepepet” orang dan semakin tinggi “demand”, maka hukum penawaran dan permintaan berlaku sempurna.

Begitulah, beli tiket apapun orang akan menemukan “prototype” penunggu jalan belakang (saya sebut “prototype” karena mereka sekedar pesuruh dari penunggu jalan belakang yang sesungguhnya). Di bandar udara bertaraf internasional pun tidak terlalu sulit menjumpai para penunggu jalan belakang. Bahkan, orang yang berada dalam rumah tahanan pun masih dilayani oleh para penunggu jalan belakang.

 

Karakteristik “juru kunci” Jalan Belakang.

Dari sepak terjang para juru kunci jalan belakang dapat dipetakan beberapa karakteristik yang dapat menjelaskan makhluk seperti apa mereka, antara lain :

“Juru Selamat”. Bagi sebagian orang, penunggu jalan belakang adalah “juru selamat”. Cakupan produk dan pelayanan para penunggu jalan belakang sangat beragam. Dari sekedar urusan “ringan” seperti bantuan untuk nonton pertandingan tenis profesional sampai dengan masuk sekolah ternama, semua akan dilayani dengan baik. Jika anda punya anak remaja tetapi memiliki “bandwidth” terbatas dan gagal masuk sekolah top dan prestisius, jangan lekas cemas dan putus asa.  Abaikan “waiting list”, juru kunci jalan belakang akan bertindak sebagai “juru selamat” yang sakti untuk memastikan anak anda diterima di sekolah top.

“Tukang Sulap”. Salah satu “kesaktian” para penunggu jalan belakang adalah mengubah kegagalan menjadi sukses. Mereka selalu meyakinkan klien mereka bahwa “kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Para penunggu jalan belakang mampu mengubah hal-hal yang mustahil menjadi serba mungkin.  Bagi mereka yang memiliki sikap mental suka menerabas, pertolongan juru kunci jalan belakang dirasakan sangat membantu dan bermanfaat.

“Cash is the King”. Para penunggu jalan belakang hanya mengenal satu jenis “sesaji” atau persembahan, yaitu uang tunai. Kalau ada sesaji dalam bentuk lain, misalnya barang dan entertainment, semua itu cuma dianggap sebagai bonus dan tidak termasuk paket sesaji. Cash is the king, jangan coba menawarkan sesaji dalam bentuk aset tidak liquid. Sekali para penunggu jalan belakang ini bilang “cash is the king” dan anda menolaknya, jangan harap anda akan mendapatkan pelayanan prima. Bahkan penolakan anda dapat menjadi bumerang, jika kemudian anda masih membutuhkan pertolongan juru kunci jalan belakang, mereka bisa jadi menaikkan paket sesaji.

Memperhatikan karakteristik juru kunci jalan belakang seperti yang dijelaskan di atas, tampaknya hanya tinggal mimpi menjebloskan juru kunci ke bui dan menghilangkan praktek-praktek jalan belakang. Semua orang yang mengaku pemimpin dan penegak hukum di bumi pertiwi ini boleh-boleh saja menjanjikan pelaksanaan tata kelola yang berlandaskan prinsip-prinsip transparency (keterbukaan informasi), accountability (akuntabilitas), responsibility (pertanggungjawaban), independency (kemandirian), dan fairness (kesetaraan dan kewajaran).

40 tahun bukan waktu yang sebentar. Tidak ada perbedaan antara 40 tahun yang lalu dengan kondisi saat ini, manusia Indonesia tetap saja memiliki mentalitas menerabas. Tidak ada yang meragukan kecerdasan manusia Indonesia, tetapi tidak ada yang percaya bahwa manusia Indonesia mampu mengatasi mental menerabas.

Bumi Serpong Damai, 14 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: