RSS

The King Can Do Wrong

19 Mar

Ada dua aturan main yang sering kali membuat siapapun bisa sesak napas. “First, the king can do no wrong. Second, if the King did wrong, refer to the first rule.” Benarkah the king can do no wrong?. Sejarah mencatat bahwa siapapun “king”, ia adalah tetap seorang manusia dan bukan malaikat yang tidak punya hawa nafsu dan tidak mungkin salah.

Melakukan kesalahan adalah menyakitkan dan seperti menunjukkan kebodohan kepada publik. Bagi sebagian orang, mengingat-ingat perbuatan salah adalah traumatik. Tetapi bukankah berbuat salah adalah manusiawi?  Orang mengatakan bahwa Thomas Alfa Edison “hanya” gagal 5000 kali sebelum akhirnya ia menemukan lampu pijar. Padahal, sejatinya Edison melakukan kesalahan 5000 kali sebelum ia menemukan metode yang benar tentang lampu pijar.

Hampir semua orang besar pernah melakukan kesalahan fatal, sebut saja mantan presiden Soeharto, Bill Gates, Andrew S. Grove (CEO Intel Corporation) dan Chamberlain (Perdana Menteri Inggris sebelum era Winston Churchill). Kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang besar tentu saja memiliki dampak lebih besar dan tragis dibandingkan dengan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang biasa.

Dalam kasus Microsoft kesalahan yang dilakukan oleh Gates “hanya” membuat Microsoft terlambat untuk tumbuh, sedangkan dalam kasus Intel Corporation kesalahan Grove berakibat fatal yang nyaris membuat Intel ambruk dan hilang dari peredaran. Kesalahan fatal yang dilakukan Chamberlain adalah menyerahkan Cekoslovakia saat itu kepada “the silence of the lamb” Hitler sehingga genocide tidak terhindarkan.

Dalam konteks knowledge management, lessons learned adalah salah satu metode yang digunakan untuk knowledge sharing. Siemens dan Microsoft adalah segelintir perusahaan yang dinilai berhasil menggunakan metode lessons learned untuk knowledge sharing. Bahkan bagi Gates, lessons learned adalah salah satu cara untuk menjadikan Microsoft sebagai knowledge company.

Terlalu mahal harga yang harus dibayar dengan melupakan begitu saja kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat oleh orang besar. Pelajaran yang sangat berharga bagi generasi berikut menjadi hilang begitu saja dan setiap tindakan akan mulai dari titik nol dan cara bekerja trial and error. Pengabadian kisah Firaun dalam kitab suci Al-Qur’an menunjukkan bahwa lessons learned merupakan metode yang baik untuk pembelajaran.

Lengser yang menyakitkan.

Kesalahan Pak Harto adalah memutuskan menerima jabatan presiden, meskipun beliau sudah 32 tahun berkuasa dan dari segi usia sudah tidak muda lagi. Communication is telling and listening. Memang Pak Harto waktu itu mendengarkan masukan dari orang yang sangat dipercayainya, tetapi kesalahannya adalah percaya pada data dan informasi yang disajikan bahwa rakyat masih menghendaki Pak Harto memimpin bangsa. Terbukti kemudian data dan informasi yang disajikan hanya isapan jempol. Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan setelah dilantik menjadi presiden, rakyat sudah gerah dan people power berhasil melengserkannya. Jadi, meski Pak Harto rendah hati dan bersedia mendengarkan “suara merdu” tetapi palsu, beliau gagal mendengarkan “suara sumbang” tapi asli suara rakyat.

Belajar dari Kesalahan Bill Gates dan Microsoft.

Bill Gates pernah salah besar dengan menganggap enteng kehadiran internet. Heller (2008) menyebutkan bahwa “kesuksesan ataupun sanjungan barangkali telah membuat visi Gates tumpul untuk sesaat. Microsoft yang mengalahkan IBM dengan telak, hampir terhempas karena gagal bereaksi terhadap tantangan dari Internet yang telah jelas sejak awal.” Dalam buku “Business @ the Speed of Thought”, Gates mengakui telah memandang rendah kehadiran internet “kami tidak melihat internet , yang dulunya adalah jaringan untuk kalangan akademis dan techies, akan berkembang menjadi jaringan komersial global seperti sekarang ini.” (Heller, 2008).

Kesalahan Gates diabadikan (baca : didokumentasikan) dalam memo berjudul “10 Kesalahan Besar Microsoft”. Tujuan utama dari mempublikasikan kesalahan-kesalahan tersebut bukan untuk meratapi kesalahan tersebut, melainkan untuk mendorong “Microsofties” (karyawan Microsoft) agar mengambil hikmahnya. Di Microsoft, kesalahan dan kegagalan di masa lalu, tidak pernah dilupakan, tetapi disimpan sebagai bagian dari modal intelektual. Modal intelektual terdiri dari human capital (kekuatan dan sumber daya manusia), structural capital (akumulasi pengetahuan dan tata cara organisasi) dan relational capital (pengetahuan tentang pelanggan).

Belajar dari kesalahan dan kegagalan Intel Corp.

Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui kesalahan dan kegagalan yang telah dilakukan oleh Bill Gates dan Microsoft, apalagi kesalahan dan kegagalan yang pernah dilakukan oleh Andy Grove dan Intel. Padahal, kesalahan dan kegagalan Andy Grove memahami perubahan-perubahan eksternal dan kekuatan kompetitor nyaris membuat Intel gulur tikar, tidak sekedar harus keluar dari industri yang telah dipeloporinya, memberikan kemakmuran dan membesarkan Intel.

Intel adalah “jagoan” chip memori pada dekade 70-an dengan penguasaan pangsa pasar 100 %. Hanya dalam waktu satu dekade saja, pabrikan-pabrikan Jepang menyerbu Intel dengan strategi kualitas tinggi dan harga rendah. Intel tidak mampu bersaing dengan pabrikan Jepang dan tidak dapat bertahan di industri memori yang telah membesarkannya. Pada akhirnya Intel harus memutuskan meninggalkan bisnis memori dan mengalihkan segala energi Intel pada bisnis mikroprosesor. Hebatnya, Intel dua kali menjadi “raja”, pertama Intel sebagai “Raja Memori” dan kedua Intel sebagai “Maharaja Mikroprosesor”.

Inti dari kesalahan dan kegagalan Grove adalah menentukan kapan saat Intel harus berubah. Salah satu hikmah yang dipetik Intel adalah setiap organisasi harus mengetahui   the Inflection Point (Gambar 1). Grove mendefinisikan inflection point “an event that changes the way we think and act.” Dalam buku Only the paranoid survive, Grove menulis bahwa “an inflection point occurs where the old strategic picture dissolves and gives to the new.”

Belajar dari kesalahan dan kegagalan Chamberlain.

Bagaimana dengan kesalahan Chamberlain? Kesalahan Chamberlain adalah tidak memiliki data dan informasi yang lengkap tentang kekuatan dan kelemahan pasukan dan persenjataan Jerman. Karena itu, pada saat Hitler menggertak akan menyerbu Cekoslovakia dengan mengerahkan  ribuan pasukan dan kekuatan persenjataan penuh, Chamberlain ketakutan luar biasa dan memilih jalan diplomasi agar tidak terjadi korban yang besar di pihak sekutu dan rakyat yang tidak berdosa. Padahal, faktanya, saat itu kekuatan pasukan dan persenjataan Jerman tidak seperti yang dipropagandakan oleh Hitler.

Apa boleh buat, ketika Hitler setuju diadakan perundingan dan menawarkan Mussolini sebagai mediator, Chamberlain sekali lagi tidak berkutik. Bukan Hitler kalau tidak pandai menakut-nakuti dan memaksakan kehendak. Singkat cerita, Inggris dan sekutu terpaksa menyerahkan Cekoslovakia dan Hitler mendapatkannya tanpa keringat dan darah setetespun. Begitulah “nasib” seorang pemimpin yang tidak memiliki data dan informasi yang akurat, lengkap, terkini, mudah dipahami, dan tersedia pada waktu yang cepat dan tepat.

 

Belajar dari Punokawan.

Sungguh beruntung kubu Pandawa Lima yang mempunyai penasehat Semar and his gang (Petruk, Bagong, Gareng). Sebagai punokawan, Semar dan kawan-kawan memberikan pendapat dan saran kepada Pandawa Lima, tetapi tidak menggurui dan memaksa Pandawa Lima untuk setuju.  Dalam cerita wayang kulit dan wayang orang, punokawan menyampaikan pendapat dan saran dengan bahasa humor dan lelucon. Barangkali karena lucu atau tidak pernah merasa dikritik secara personal, Pandawa Lima ikhlas mendengarkan dan memahami pesan-pesan yang disampaikan Punokawan.

Communication is telling and listening. Barangkali, kelemahan mendasar seorang pemimpin adalah kerendahan hati dan keikhlasan untuk mendengarkan. Semakin tinggi “kasta” (baca : kedudukan) seorang pemimpin, semakin sulit untuk mendengarkan. Ketika seorang menjadi pemimpin, keahlian telling bertambah seperti deret ukur dan keahlian mendengarkan bertambah seperti deret hitung.  Semakin dituntut untuk memberikan pengarahan, pikiran seorang pemimpin semakin tersita untuk menyiapkan konten pengarahan yang akan disampaikannya. Mungkin saja seorang pemimpin memiliki kerendahan hati, keikhlasan dan kemampuan untuk mendengarkan pesan dan saran, tetapi seringkali waktu yang tersedia untuk telling relatif lebih banyak dibandingkan waktu untuk listening.

Sebenarnya, di kubu Kurawa juga ada penasehat. Tetapi “nasib” Togog tidak semujur para punokawan di kubu Pandawa Lima. Masukan dan kritikan Togog tidak didengarkan dan dipahami oleh Kurawa. Suara Togog selalu dianggap sebagai suara sumbang oleh kubu Kurawa dan karena itu pendapat dan saran Togog selalu hilang tak berbekas.

 

Dengarkan lagunya, bukan siapa penyanyinya.

Adalah manusiawi sekali kalau seseorang lebih tertarik kepada penyanyi ketimbang lagu yang dibawakannya. Dalam konteks mendengarkan, isi lagu lebih penting ketimbang penyanyi. Memang sebuah lagu bisa dibawakan dengan suara merdu atau suara sumbang, tergantung kualitas suara si penyanyi. Secara alamiah, telinga dan perasaan akan merasa lebih nyaman dan tenang mendengarkan suara merdu ketimbang suara sumbang.

Bagaimanapun, suara merdu yang palsu (telah masuk “dapur rekaman”) tidak selalu lebih baik daripada suara sumbang yang asli yang dinyanyikan dengan sepenuh hati di jalan-jalan. Kesalahan Pak Harto adalah lebih mendengarkan suara merdu tapi palsu (dibawakan oleh seorang “penyanyi” bersuara sumbang tetapi telah masuk “dapur rekaman”) daripada ikhlas mendengarkan suara sumbang tapi asli (dinyanyikan oleh rakyat sendiri sehingga bisa dibilang “suara rakyat” yang sesungguhnya).

Dalam konteks mendengarkan, sejarah mencatat bahwa pesan dalam lirik sebuah lagu relatif lebih penting daripada sekedar suara penyanyi dan si penyanyi itu sendiri. Suara sumbang mungkin tidak menyenangkan dan suara merdu mungkin menyenangkan. “Apa yang ‘menyenangkan’ dan ‘tidak menyenangkan’”, demikian Groove dalam buku High Output Management, “tidak boleh ada dalam pemikiran atau perbuatan Anda. Ingat bahwa yang kita cari adalah apa yang paling efektif.”

Bumi Serpong Damai, 19 Maret 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: