RSS

The Magnificent Seven

22 Mar

Setelah menjelaskan secara singkat tentang teori kepemimpinan, seorang dosen pasca sarjana yang mengajar Pengantar Ilmu Manajemen membagi para mahasiswa dalam empat kelompok dan menugaskan mereka untuk membuat kriteria / karakteristik seorang pemimpin yang baik atau hebat  dan membuat daftar pemimpin yang memenuhi kriteria atau karakteristik tersebut.

Hasil diskusi kelompok tidak terlalu mengejutkan. Beberapa nama beken yang sudah akrab di telinga menempati urutan pertama dan kedua, antra lain Bill Gates dan Jack Welch. Ada juga kelompok diskusi yang lebih suka kepada pemimpin dari kalangan militer seperti Jenderal Colin Luther Powell dan Norman Schwarzkopf, bahkan Jenderal Mac Arthur yang sudah almarhum pun masih menjadi idola.

Meskipun masing-masing kelompok bersikukuh mendukung pemimpin yang menjadi “jagoan” mereka, semua kelompok memiliki persamaan. Pertama, tidak ada satupun kelompok yang menyebutkan pimpinan perusahaan mereka layak dinominasikan sebagai pemimpin bisnis yang hebat. Kedua, tidak ada satupun dari nama-nama pemimpin yang disebutkan adalah orang Indonesia.

Saya tidak tahu mengapa teman-teman (dan saya juga) terlalu “under estimate” terhadap kualitas pemimpin bisnis lokal. Kami tidak sempat mendiskusikannya dan lebih fokus pada pemimpin bisnis yang lebih jelas reputasi mereka. Bagi saya pribadi, fakta tersebut bisa ditanggapi serius dan juga tidak serius. Memang aneh juga kalau seorang anak laki-laki memiliki idola Kurt Cobain ketimbang ayahnya sendiri. Tetapi bisa juga ini bukan hal yang serius, anggap saja tidak ada bedanya penggemar sepakbola di Indonesia yang lebih sayang kepada Fernando Torres dan Lionel Messi (kaki mereka lebih “tokcer” untuk mencetak gol) dari pada pesepakbola lokal (kaki mereka lebih “tokcer” untuk tendangan kungfu).

Baru-baru ini saya membaca kembali buku “What the Best CEOs Know” yang ditulis oleh Jeffrey A. Krames. Buku ini membahas tentang 7 pemimpin bisnis yang hebat, ciri khas mereka, dan apa saja yang telah mereka lalukan sehingga layak disebut pemimpin bisnis yang hebat.  Anggota dari “The Mafnificent Seven” adalah Michael Dell (pendiri dan CEO, Dell Computer), Jack Welch (mantan CEO, GE), Lou Gerstner (mantan CEO, IBM), Andy Grove (rekan pendidi dan mantan CEO, Intel), Bill Gates (rekan pendiri dan mantan CEO, Microsoft), Herb Kelleher (pendiri dan mantan CEO, Southwest Airlines), Sam Walton (pendiri dan mantan CEO, Wal-Mart).

Mengapa mereka disebut sebagai 7 CEO terbaik? “Ketujuh CEO tersebut”, demikian Krames (2005), “mewakili generasi terbaik yang sebagian dibentuk oleh kondisi dan tantangan yang merupakan ciri lingkungan bisnis pasca-1980. Ada beberapa faktor yang mengubah aturan main pada tahun 1980-an : tingginya persaingan luar negeri (dari Eropa dan Jepang, yang paling nyata) dan lingkungan teknologi yang terus mengubah peta bisnis, menuntut para manajer dan korporasi menyesuaikan diri dengan arena bisnis yang berubah secepat kilat. Perubahan yang cepat itu membutuhkan jenis pemimpin bisnis tertentu, seseorang yang mau merangkul perubahan, bukan yang menyangkal atau menolaknya”.

Tujuh pemimpin bisnis tersebut bukan pemimpin yang sempurna, mereka semua juga pernah melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan (Bill Gates dan Andy Grove adalah pemimpin bisnis yang pernah melakukan kesalahan fatal. Silakan baca tulisan saya The King Can Do Wrong dalam blog ini). Mereka juga bukan pemimpin yang kharismatis dan tidak juga high-profile. Peter Drucker dan Jim Collins (penulis buku Built to Last dan Good to Great) mengatakan bahwa “kepemimpinan yang efektif hampir tidak ada kaitannya dengan kharisma”. Sejarah mencatat bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil tidak perlu memiliki kharisma, antara lain Dwight Eisenhower, George Marshall dan Harry Truman yang lebih tepat disebut sebagai pemimpin yang efektif daripada sebagai pemimpin yang memiliki kharisma.

Krames (2005) menyebut ada enam ciri khas pemimpin bisnis yang hebat sebagai berikut :

1.       CEO terbaik mulai dengan memahami pasar dan menanamkan sudut pandang “dari luar ke dalam” di perusahaannya.

2.       Banyak CEO hebat memiliki “gen kepemimpinan evangelis (pendakwah)”.

3.       Pemimpin bisnis yang efektif memahami peran kritis budaya perusahaan, dan betapa sulitnya membuat perubahan budaya yang bermakna.

4.       Para CEO ini menciptakan atau menyesuaikan produk, proses atau jalan keluar “generasi berikutnya”

5.       Para pemimpin ini menerapkan gagasan terbaik, tanpa melihat asal-usulnya.

6.       CEO hebat mengembangkan kerangka pengetahuan kepemimpinan dengan sebuah cara yang bermakna.

Adalah menarik mencermati bahwa pemimpin bisnis yang hebat ternyata memanfaatkan peran budaya perusahaan terhadap efektivitas pengelolaan organisasi. Di Indonesia, budaya perusahaan kadang-kadang tidak lebih sekedar kumpulan kata-kata indah yang bombastis dan tidak diterapkan dalam pengelolaan perusahaan. Kinerja perusahaan seringkali tidak ada hubungannya dengan budaya perusahaan.

Grove di Intel memperkenalkan “budaya takut” (silakan baca tulisan saya Only the Paranoid Survive dan The King Can Do Wrong dalam blog ini). Grove meyakini bahwa menanamkan rasa takut dalam tingkatan organisasi merupakan hal yang baik. “Hanya sebuah budaya yang mengenal rasa takut”, demikian Grove “yang mampu menjauhkan perusahaan dari perangkap rasa puas diri yang mematikan.” (Krames, 2005)

Rasa takut yang dimaksud Grove bukan rasa takut kepada manajemen dan rekan kerja, melainkan rasa takut akan ancaman eksternal yang mematikan terhadap organisasi. “Peran terpenting para manajer”, menurut Grove “adalah menciptakan suasana di mana orang-orang dengan penuh semangat mengabdikan diri untuk memenangkan pasar.” (Krames, 2005). Grove meyakini bahwa rasa takut akan persaingan, takut bangkrut, takut salah, dan takut rugi dapat menjadi motivator agar setiap orang penuh semangat mengabdikan diri untuk memenangkan pasar.

Hanya mereka yang mengikuti pengalaman Grove dan Intel Corp.  yang terpaksa keluar dari bisnis memory chip yang telah dipeloporinya dan membesarkannya dan memulai dari nol bisnis microprocessor yang dapat memahami mengapa Grove “memaksakan”  budaya takut di Intel. Setelah dua kali – meminjam istilah yang digunakan sendiri oleh Grove – “tersesat dalam lembah kematian”, sangat manusiawi kalau Grove dan Intel Corp. menekankan budaya takut sebagai modal untuk bertahan, tumbuh dan berkelanjutan.

Pembahasan tentang 7 pemimpin bisnis yang hebat, ciri-ciri mereka dan apa saja yang telah mereka lalukan akan saya tulis secara bersambung dalam tulisan berjudul “What the Best CEOs Know”

Bumi Serpong Damai 20 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 22, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: