RSS

Yes We Can

28 Mar

Setelah dihajar tsunami dan berakibat pada kebocoran reaktor nuklir di Fukushima, Jepang, Kanselir Jerman Angela Merkel “ketar-ketir” dan mendesak Jerman harus segera mempercepat proses peralihan  penggunaan nuklir  ke sumber energi lainnya. Bangsa Jepang yang  begitu hebat secara teknis dan disiplin yang dalam hal nuklir saja masih “kecolongan”, apalagi negara-negara lain.

Sementara di Indonesia, para pakar di bidang teknik nuklir, memastikan bahwa bahaya nuklir tidak seperti di yang dipikirkan oleh kebanyakan orang dan merupakan salah satu sumber energi yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energi yang selalu meningkat. Mungkin kalau Angela Merkel datang ke Indonesia dan presentasi di hadapan para pakar di bidang nuklir ia akan menjadi bahan tertawaan.

Dalam hal teknik bangsa Jerman tidak kalah dengan bangsa Jerpang. Dalam hal mentalitas bangsa Jerman juga tidak kalah tangguh dibandingkan bangsa Jepang. Daya tahan Jerman dan Jepang untuk  bangkit dari kehancuran setelah kalah telak dalam Perang Dunia II  tidak perlu diragukan lagi. Merkel tidak bicara teknik, melainkan lebih menekankan pada aspek manusia. Manusia adalah manusia, betapapun “super”nya manusia tidak mungkin luput dari kecerobohan dan kesalahan kecil yang dapat berakibat fatal. Selalu ada yang tidak dapat diduga dan di luar kemampuan manusia untuk mengendalikannya.

Dari segi teknis, tidak ada yang meragukan “kehebatan” manusia Indonesia. Tetapi jangan ditanya tentang mentalitas manusia Indonesia. Tahun 70-an seorang anthropolog bernama Koentjaraningrat telah mengingatkan salah satu mentalitas buruk manusia Indonesia, yaitu mentalitas menerabas. Kini, setelah 40 tahun gembar-gembor “pembangunan manusia seutuhnya”, mentalitas menerabas masih eksis, bahkan bukan semakin berkurang. “Manusia yang seutuhnya” hanya konsep yang indah untuk dibahas, tetapi tidak jelas bagaimana mewujudkannya.

Urusan mental bukan urusan sederhana. Sejak diselenggarakan kejuaraan sepakbola piala dunia tahun 30-an, langganan juara dunia adalah negara itu-itu saja, yaitu dari Amerika Latin Uruguay, Brasil, dan Argentina. Sedangkan wakil dari Eropa adalah Jerman, Italy, Perancis dan Spanyol. Para pengamat dan praktisi sepakbola sepakat bahwa sebab kegagalan negara-negara lain menjadi juara piala dunia adalah karena tidak memiliki “mental juara”. Kurang apa Belanda dari segi teknik dan stamina? Kurang apa sistem pembinaan sepakbola di Belanda yang selalu menyumbang pesepakbola hebat? Teknik dan stamina yang prima hanya mampu mengantarkan timnas Belanda menjadi runner up terbanyak.

Klub sepakbola Arsenal di Inggris yang mengandalkan pemain-pemain muda dikenal sebagai pesepakbola dengan teknik tinggi di atas rata-rata dan stamina yang bagus. Dengan modal teknik dan stamina yang relatif baik, toh Arsenal selalu gagal menjadi juara lagi setelah terakhir kali menjuarai Piala FA tahun 2005. Para pengamat dan bahkan pesepakbola juga melihat kelemahan Arsenal tidak memiliki “mental juara”.

Masih ingat slogan Barack Obama pada saat kampanye? Yes We Can lebih mewakili aspek mental daripada sekedar stamina dan teknis. Sesungguhnya, tidak hanya di bidang olah raga saja dibutuhkan kemampuan teknik, stamina dan mental yang prima. Di bidang-bidang lain, misalnya di dunia kerja, ketiga aspek teknik, stamina dan mental yang prima juga dibutuhkan. Istilah yang digunakan memang berbeda, yaitu knowledge, skills dan attitudes (KSA), tetapi maksud dan tujuannya kurang lebih sama saja.

Ada kecenderungan untuk mengakui bahwa faktor pembeda sejati dari sebuah kinerja unggul adalah aspek mental. Dalam ilmu manajemen sumber daya manusia para akademisi dan praktisi sepakat bahwa dibandingkan dengan hard competencies, soft competencies adalah faktor pembeda dan kontributor utama dari kinerja unggul.

Dari pengalaman, pengamatan dan diskusi bersama dengan akademisi dan praktisi di bidang manajemen SDM, saya memiliki “formula khusus” pada saat merekrut calon karyawan. Ada empat kriteria yang saya gunakan dan berturut-turut adalah enthusiasm, passion,  patient, dan talent. Jika semua kandidat memiliki talenta kurang lebih sama dan mereka sama-sama memiliki potensi untuk dikembangkan, maka saya “berani” menempatkan talenta (mewakili hard competency) sebagai persyaratan yang tidak sepenting antusiasme, passion dan kesabaran.

Dalam bahasa yang lebih umum saya sering menggunakan istilah kapabilitas (capability) dan akseptabilitas (acceptability). Jika dalam keadaan dilemma, saya akan mendahulukan akseptabilitas dibandingkan dengan kapabilitas calon karyawan. Tentu saja ini bukan berarti bahwa kapabilitas tidak penting, melainkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, terutama di Indonesia, pertimbangan akseptabilitas cenderung secara subyektif lebih pantas didahulukan. Saya berulang-ulang selalu mengatakan bahwa di Indonesia secara umum orang lebih memandang penting akseptabilitas daripada kapabilitas. Bahasa gampangnya, jangan pernah lupa “ilmu padi”. Boleh orang punya “segambreng” ilmu, tetapi jangan lupa punya “ilmu padi”.

Di republik ini ada seorang pintar (sebut saja Mr. X) yang bergelar profesor dan meraih doktor dari universitas terkenal di luar negeri (baca : kapabilitas OK), tetapi masyarakat secara umum tidak selalu merasa nyaman dengan mulutnya yang selalu bicara blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling (baca : akseptabilitas kurang OK). Tidak ada yang meragukan kapabilitas orang pintar ini untuk memimpin Indonesia, tetapi ia juga diragukan efektivitas kepemimpinannya karena dengan modal mulutnya yang berterus terang cenderung akan mendatangkan lebih banyak musuh.

Sebaliknya, pada saat yang bersamaan, ada seorang (sebut saja Ms. Y) yang relatif pendiam dengan kapabilitas tidak terlalu istimewa dibandingkan Mr. X, tetapi faktanya lebih diterima oleh banyak orang dan bahkan menjadi presiden. Jadi meskipun faktanya Ms. Y memiliki kapabilitas kurang OK (dibandingkan dengan kapabilitas Mr. X), tetapi dengan modal akseptabilitas sangat OK (dibandingkan dengan akseptabilitas Mr. X), Ms. Y lebih bisa diterima oleh rakyat.

Contoh di atas menunjukkan bahwa faktor mental tidak kalah penting dibandingkan dengan faktor teknis dan stamina. Jose Mourinho (saat ini melatih klub sepakbola Real Madrid) dan Joachim Loew (pelatih timnas Jerman) pesepakbola biasa-biasa saja dan tidak pernah bertanding di level Liga Champion.  Meskipun mantan pesepakbola dan Mourinho adalah seorang sarjana di bidang olahraga, awal karir Mourinho adalah penterjemah dari pelatih Bobby Robson di FC Sporting Lisboa. Ketika kemudian Mourinho ikut “hijrah” mengikuti Robson ke FC Porto dan FC Barcelona, Mourinho “naik kelas” menjadi asisten pelatih. Awal kehebatan Mourinho dimulai ketika sebagai pelatih ia mempersembahkan gelar juara Liga Portugal 2 kali dan juara Piala Champion 1 kali kepada FC Porto. Sejak itu, setiap pindah melatih klub lain, Mourinho selalu mempersembahkan gelar dan puncaknya adalah tahun 2010 ketika ia mempersembahkan treble winners untuk Inter Milan.

Dibandingkan dengan Arsene Wenger yang dijuluki profesor sepakbola, karir kepelatihan Mourinho relatif pendek. Dari segi permainan Wenger lebih menjanjikan permainan indah yang enak ditonton, sementara Mourinho cenderung mengutamakan permainan defensif dan menjemukan. Kedua pelatih dikenal sama-sama mampu membesarkan pesepakbola “from zero to hero”. Meskipun demikian, Mourinho tampaknya lebih mahir “memompa” mental pemain sehingga para pemain yang digemblengnya memiliki mental juara. Wenger lebih berhasil memoles teknis dan stamina pasukannya dan gagal menyuntikkan semangat “yes we can”, sementara Mourinho lebih berhasil memompakan semangat “yes we can” kepada pasukannya.

Bumi Serpong Damai, 25 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 28, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: