RSS

Saved by the Bell

31 Mar

Tampaknya, menjadi buruh di Indonesia lebih “enak” dibandingkan dengan pesepakbola profesional. Jangan bandingkan gaji yang diterima, karena memang tidak bisa dibandingkan apel to apel. Perhatikanlah “privilege” atau hak-hak istimewa yang diperoleh buruh karena “bantuan“ dari peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang berlaku.

Pertama, keberuntungan buruh, terutama mereka yang berada di lapisan bawah, mendapatkan kenaikan upah secara otomatis setiap tahun karena “bantuan” peraturan upah minimum yang berlaku di suatu propinsi maupun sektor. Artinya, meskipun peningkatan produktivitas kerja belum tentu berbanding lurus dengan kenaikan upah minimum, buruh yang mendapatkan gaji setara upah minimum, gaji mereka akan naik sekian persen sesuai dengan persentase kenaikan upah minimum.

Faktor inflasi juga menjadi penolong buruh untuk mendapatkan kenaikan gaji umum (general increase). Sesungguhnya kenaikan gaji umum dengan mempertimbangkan inflasi tidak selalu logis. Bank sentral seperti Bank Indonesia mempunyai tugas utama mengendalikan inflasi dan BI  yang memiliki kapabilitas dan kewenangan untuk mengendalikan inflasi saja harus pontang panting mengendalikan inflasi. Karena inflasi merupakan faktor eksternal yang berada di luar kekuasaan dan kemampuan perusahaan, tentu perusahaan tidak dapat “dituntut” untuk memberikan kenaikan gaji umum dengan persentase setara inflasi. Lagi-lagi, tidak ada jaminan bahwa akan terjadi peningkatan produktivitas kerja setara dengan persentase kenaikan gaji umum.

Hak istimewa buruh yang kedua berkaitan dengan keusangan kompetensi. Perubahan-perubahan eksternal di luar perusahaan, antara lain di bidang ekonomi, sosial dan teknologi, dapat menyebabkan kompetensi buruh menjadi usang. Adalah baik jika perusahaan “bertanggung jawab” investasi pada pengembangan sumber daya manusia. Meskipun demikian, tidak mungkin dan tidak logis perusahaan berinvestasi pada pengembangan seluruh sumber daya manusia. Menurut Kaplan dan Norton (penggagas balanced scorecard), dalam satu perusahaan,  jumlah job strategic family – jabatan-jabatan yang bersifat strategik dalam proses penciptaan nilai yang dituntut oleh pelanggan dan pemegang saham –  berkisar antara 5 % sampai dengan 10 %. Lazimnya, perusahaan akan “habis-habisan” berinvestasi untuk pengembangan SDM pada kelompok-kelompok jabatan stratejik. Artinya, akan selalu ada buruh yang dalam posisi marginal dan menjadi “korban diskriminasi” tidak mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan pengembangan.

Kecuali itu, ada jabatan-jabatan yang mematok persyaratan fisik dan stamina sebagai faktor utama dan sama pentingnya dengan  kompetensi. Jabatan satuan pengamanan (satpam) misalnya, tuntutan fisik dan stamina yang prima adalah persyaratan yang tidak bisa ditawar-tawar. Jarang perusahaan-perusahaan outsourcing (perusahaan yang bergerak di bidang penempatan tenaga kerja) menempatkan satpam yang telah berusia lebih dari 40 tahun, atau mungkin juga 35 tahun. Tetapi peraturan perundang-undangan yang berlaku mewajibkan kontrak kerja dan perpanjangannya tidak boleh lebih dari tiga tahun, atau jika ditambah dengan pembaruan kontrak kerja tidak lebih dari lima tahun.

Jadi, berkat perlindungan yang diberikan oleh peraturan dan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan, meskipun produktivitas kerja dan kompetensi buruh tidak dapat memenuhi persyaratan, buruh yang telah dipekerjakan sebagai karyawan tetap akan “aman” sampai dengan usia pensiun. Buruh mendapatkan keistimewaan-keistimewaan tersebut lebih karena “bantuan” peraturan perundang-undangan, bukan karena keistimewaan-keistimewaan dan kinerja yang dicapai.

Keistimewaan seperti itu tidak akan diperoleh oleh pesepakbola profesional. Di sepakbola profesional berlaku sempurna adagium “there is no free lunch” dan “survival of the fittest”. Sehebat apapun Johann Cruyff dan jasa-jasanya mengembangkan permainan indah dan menyerang sepakbola di klub sepakbola Barcelona, tidak ada keistimewaan apapun yang diperoleh Jordi Cruyff di FC Barcelona, bahkan pada saat  Cruyff senior menjadi pelatihnya.

“Kembalinya bek Patrice Evra ke tim nasional Perancis dinilai oleh yuniornya, Gael Clichy, dapat mengikis peluangnya tampil reguler. Clichy pun menyebut bahwa hal ini membuatnya kesal. Evra dinilai Federasi Sepak Bola Perancis terlibat dalam aksi mogok latihan pemain di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, yang berujung pada tersingkirnya Perancis di fase grup dengan rekor tak pernah menang. Atas hal itu, ia diskors lima pertandingan. Evra baru kembali mengenakan kostum Perancis pada pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2012 melawan Luksemburg, Jumat (25/3/2011). Sebelum pertandingan versus Luksemburg, Perancis telah melakoni empat pertandingan kualifikasi, dengan Clichy selalu bermain sebagai starter. “Sulit menerima kenyataan ini. Namun, ini adalah bagian permainan. Meski di sana tak tampak ada hierarki, aku tahu hierarki sebetulnya ada,” ujar Clichy. “Aku tak akan berbohong kepada Anda. Ini mengecewakan dan tidak menyenangkan. Aku tahu itu mungkin terjadi. Aku siap (bersaing dengan Evra),” tambahnya (Kompas, 28 Maret 2011)

Keluhan Clichy adalah keluhan semua pesepakbola profesional. “Diparkir” di bangku cadangan oleh pelatih adalah perlakuan yang “tidak dapat diterima” oleh sebagian besar pesepakbola profesional. Menjadi pemain utama dalam sebuah klub dan pertandingan sepakbola adalah harga diri dan harga mati bagi pesepakbola top. Hampir sebagian besar pesepakbola “papan atas”  yang mendapat perlakuan sebagai pemain cadangan akan gerah dan “memaksa” pelatih untuk menurunkannya menjadi starter. Jika paksaan ini tidak mempan, maka pemain akan menuntut untuk dipinjamkan atau lebih jauh lagi dijual kepada klub sepakbola lain. Emmanuel Adebayor dan Rafael van der Vaart (atau dijuluki “VdV”) adalah dua contoh pesepakbola top yang kalah bersaing dengan pemain lain atau tidak sesuai dengan strategi yang diterapkan pelatih sehingga keduanya “diparkir” di bangku cadangan. Solusinya adalah kemudian Adebayor yang bermain di klub Manchester City dipinjamkan ke klub Real Madrid, sedangkan VdV  yang semula bermain di klub Real Madrid dijual ke klub Tottenham Hotspur.

Alasan utama untuk menjadi pemain reguler dan jam terbang banyak di sebuah klub adalah kepentingan untuk membela tim nasional. Secara umum pelatih akan memilih pemain yang menjadi starter dan menunjukkan permainan baik di tingkat klub. Pengecualian memang ada, Miroslav Kloese (bermain di klub Bayern Muenchen) dan Lukas Podolski  (bermain di klub Koeln) adalah pemain yang “mandul” di tingkat klub. Bahkan sebelum membela timnas Jerman untuk Piala Dunia 2010, Kloese lebih banyak diparkir di bangku cadangan oleh van Gaal (pelatih Bayern Muenchen), sementara Podolski sebagai penyerang sayap hanya membukukan gol dalam jumlah yang bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Dalam hal ini, Joachim Loew (pelatih timnas Jerman) menjadikan jam terbang (baca : pengalaman) dan produktivitas gol yang dicetak oleh duet Kloese dan Podolski untuk timnas Jerman sebagai pertimbangan utama.

Kalah bersaing dengan pemain lain adalah salah satu “nightmare” pesepakbola top. Mungkin tidak ada yang salah dari pemain yang bersangkutan, misalnya dalam kasus Clichy. Dari persyaratan teknis, stamina dan mental bertanding memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pelatih. Clichy juga selalu menjadi pilihan utama sebagai wingback di klub Arsenal dan memiliki jam terbang lebih dari cukup bertanding di level Liga Inggris yang sangat kompetitif. Faktor penyebab di luar diri Clichy, kinerja Patrick Evra yang lebih baik dan pertimbangan strategi pelatih memaksa Clichy harus “rela” posisinya diambil oleh Evra.

“Mimpi buruk” lain yang ditakuti oleh pesepakbola adalah umur dan tentu saja cedera. Kecuali penjaga gawang yang memiliki karir relatif panjang sampai dengan umur 40 tahun, rata-rata pesepakbola di posisi lain memiliki golden age dan karir relatif pendek (kurang lebih sampai usia 30 tahun). Beberapa pesepakbola masih tetap menunjukkan kinerja bagus di atas usia 30 tahun (misalnya Giovanni van Bronckhorst yang masih membela timnas Belanda sampai usia 34 tahun), tetapi secara umum usia di atas 30 tahun cenderung rawan cedera dan semakin menurun kinerjanya.

“Mimpi buruk” yang paling ditakuti oleh pesepakbola adalah cedera, baik cedera ringan maupun cedera permanen yang memaksa pensiun dini. Memang selama cedera pesepakbola tetap mendapatkan gaji lebih dari cukup. Klub Manchester United  tetap harus membayar gaji Owen Hargreaves yang mencapai 80 ribu poundsterling per pekan. Meskipun demikian,  berapapun uang yang diterima selama pemain yang bersangkutan sakit, tetap tidak dapat menggantikan kehormatan dan kebanggaan membela klub dan tim nasional. Van Basten justru terpaksa pensiun dini pada saat mencapai golden age 28 tahun. Michael Ballack benar-benar sial ketika mengalami cedera pada kurun waktu bersamaan dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Cedera memang selalu membuat siapapun menjadi pihak yang dirugikan, baik pemain, klub maupun tim nasional atau bahkan keluarga dan para penggemar.

Dari tiga “mimpi buruk” tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya menjadi pesepakbola profesional bukan sedang membangun jalan sutra, melainkan jalan terjal dan perlu berdarah-darah untuk mencapainya. Untuk menjadi pesepakbola papan atas lebih banyak mengandalkan perjuangan sendiri ketimbang perlindungan undang-undang. Setiap pesepakbola harus menolong dirinya sendiri untuk tetap kompetitif sehingga layak dihormati dan dihargai oleh pelatih, klub, tim nasional, para pendukungnya, dan pemerhati sepakbola.

Bumi Serpong Damai, 30 Maret 2011

 
Leave a comment

Posted by on March 31, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: