RSS

Monthly Archives: April 2011

People Behind The Stars

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Tampaknya, peribahasa itu “tidak mempan” untuk Bill Clinton, mantan presiden AS. Ada dua “dosa besar” yang telah dilakukan oleh Clinton. Pertama, selama menjabat presiden AS, ia selingkuh dengan Monica Lewinsky. Kedua, ia berbohong telah selingkuh dengan Lewinsky (setelah tidak dapat mengelak dari bukti-bukti, kemudian ia mengakui perbuatannya dan kemudian meminta maaf).

Sekalipun sudah lancung, mujur bagi Clinton masih sempat menjadi presiden AS untuk kedua kali. Sekalipun sudah lancung, sungguh beruntung yayasan yang didirikan Clinton masih juga mendapat kepercayaan dari para donatur. Sekalipun sudah lancung, buku yang ditulis oleh Clinton masih laris manis. Mengapa begitu?

Peran people behind the stars tampaknya tidak dapat dipungkiri.  Banyak orang yang sukses dan populer karena peran people behind the stars. Banyak orang mengetahui kehebatan pebasket AS Michael Jordan dan tandemnya Magic Johnson, tetapi mungkin tidak banyak orang yang mengetahui siapa yang “membesarkan” kedua pebasket ini. Banyak orang mengetahui siapa van der Sar, tetapi siapa pelatih kiper yang mampu membuat van der Sar sebagai kiper hebat yang masih mampu bertahan sampai dengan umur 40 tahun di level yang sangat kompetitif?

Tulisan ini berusaha untuk menunjukkan bahwa ada orang-orang yang senang bekerja di belakang layar dan membantu orang lain untuk mengubah “from zero to hero”. Siapakah mereka?

“All The President Men”

Dalam setiap kampanye pemilihan presiden selalu ada tim sukses (sebut saja mereka “All The President Men” – judul sebuah film tentang skandal watergate di era Nixon) yang terdiri dari berbagai profesi dan latar belakang pendidikan. Bagi saya pribadi, tim sukses Bill Clinton untuk pemilihan presiden (untuk periode jabatan kedua bagi Clinton) tergolong berani melawan arus.

Meskipun saat itu Clinton sudah ketahuan sebagai “playboy cap kampak”, tim sukses  justru “menjerumuskan” Clinton untuk maju kedua kalinya sebagai calon presiden dengan tema tentang perempuan. Dari hasil riset diketahui bahwa pada saat itu, mayoritas pemilih dari jenis kelamin perempuan relatif lebih banyak daripada pemilih laki-laki. Sudah kepalang basah, kalau mau merebut dukungan dan suara dari perempuan, tidak ada cara lain kecuali mengusung tema perempuan.

Terbukti kemudian Clinton menang untuk kedua kalinya berkat dukungan dan suara perempuan. Barangkali kalau tim sukses Clinton tidak tepat menganalisis keadaan dan salah mem ”positioning” kan Clinton, pilihan tema itu justru bisa jadi bumerang. Clinton sungguh beruntung karena kaum perempuan Amerika Serikat memaaftkannya. Mungkin kaum perempuan AS terinspirasi “kata-kata bersayap” dari Nelson Mandela bahwa “the evil must be forggiven, not forgotten.”

Pelatih.

Meskipun Roger Federer saat ini telah menjadi satu-satunya manusia di muka planet bumi  ini yang pernah meraih 16 gelar grandslam tenis putra (2 gelar lebih banyak dari gelar grandslam yang diperoleh Pete Sampras), Federer masih merasa perlu untuk merekrut Paul Annacone. Annacone adalah mantan petenis putra AS yang “hanya” mampu merebut 1 gelar grandslam dan karirnya cenderung datar-datar saja. Tetapi Annacone adalah pelatih tenis yang mengantarkan Pete Sampras meraih 14 grandslam tenis putra dan Sampras digelari sebagai The King of Swing.

Peran pelatih tidak dapat dipungkiri sangat vital bagi keberhasilan seorang olahragawan. David Beckham dan Christiano Ronaldo boleh saja menjadi pesepakbola hebat dan sangat populer di seantero bumi, tetapi tidak ada yang meragukan jasa Sir Alex Ferguson yang telah “membesarkan” mereka. Di cabang olah raga individual seperti tenis lapangan, peran seorang pelatih sangat kentara. Itulah sebabnya Federer di usianya yang menginjak 30 tahun ini masih yakin mampu bertahan dan bersaing di level tertinggi kalau ditangani oleh pelatih yang telah sukses melatih Sampras.

Sekondan.

Di mana sekarang Susanto Megaranto, pecatur Indonesia termuda yang meraih gelar Grand Master? Anak dari pasangan petani Wastirah dan Darsinah di Indramayu ini meraih gelar GM pada umur 17 tahun (4 tahun lebih muda dari Utut Adianto – gurunya di sekolah catur Utut Adianto – yang meraih gelar GM pada umur 21 tahun) pada tahun 2005.  Megaranto memang pecatur berbakat, namun untuk tetap bertahan di level yang sangat kompetitif ia kesulitan menggaji sekondan.

Sekondan adalah sparing partner pecatur profesional. Sekondan tidak hanya sekedar lawan tanding, tetapi juga mengetahui kekuatan dan kelemahan pecatur-pecatur profesional, mampu memainkan gaya bermain catur pecatur yang akan menjadi lawan, dan lain sebagainya. Di Russia adalah “gudang”nya  para sekondan dan di sana sekondan adalah juga pecatur-pecatur dengan gelar Grand Master (gelar tertinggi di olahraga catur) dan dibayar mahal. Itulah sebabnya, pecatur dunia seperti Gary Kasparov dapat bertahan lama di level tertinggi di tingkat internasional karena ia mampu membayar sekondan-sekondan hebat.

Sekondan adalah benar-benar orang yang bekerja di belakang layar untuk kepentingan seorang pecatur profesional. Hampir semua orang mengenal pecatur genius Bobby Fischer dan Gary Kasparov, tetapi barangkali tidak satupun orang (kecuali mereka yang benar-benar mengenal dunia catur) yang mengetahui siapa orang yang berperan di balik kesuksesan Fischer dan Kasparov. Tidak ada satupun pecatur kelas dunia yang sukses tanpa bantuan sekondan.

Talent Scoutter.

Klub-klub sepakbola profesional di Belanda, Inggris, Italia, Perancis, dan Spanyol dapat bertahan selama berpuluh-puluh tahun karena mengandalkan pembibitan dan pembinaan yang sistematis dan berkesinambungan. Berbeda dengan timnas sepakbola Indonesia yang “malas” berakit-rakit dahulu dan bersenang-senang kemudian (baca : cenderung memilih jalan pintas naturalisasi pemain asing daripada membangun fondasi yang kuat untuk pembibitan dan pembinaan), hidup mati klub-klub sepakbola profesional di Eropa dan Amerika Latin memang sangat tergantung dari pasokan pemain dari akademi sepakbola yang mereka dirikan.

Sebagian besar orang hanya mengenal beberapa pesepakbola papan atas seperti Lionel Messi, Christiano Ronaldo, Cecs Fabregas, dan Javier “Chicharito” Hernandez. Klub-klub papan atas mampu merekrut para pesepakbola profesional karena jasa dari para pemandu bakat. Bahkan Lionel Messi lengkap dengan keluarganya sudah diboyong ke Barcelona sejak berusia 13 tahun. Kejelian seorang talent scoutter “mengendus-endus” bakat bermain sepakbola sejak masa kanak-kanak dan kemudian akurasi prediksi keberhasilan talenta memang patut diacungi jempol.

Saat ini ada seorang pemandu bakat yang sedang “naik daun” dan menjadi rebutan klub-klub sepakbola di Inggris, yaitu  Steve Rowley. Kinerja Rowley di klub Arsenal, Inggris sebagai pemandu bakat yang jeli dibuktikan antara lain dari sejumlah pemain muda yang menjadi andalan Arsene Wenger saat ini seperti Cesc Fabregas, Robin van Persie dan Thomas Vermaelen.  Rowley jugalah yang menemukan pemain-pemain muda potensial seperti Alex Song, Wojciech Szczesny, Bacary Sagna dan Gael Clichy dengan harga yang terbilang murah (Daily Mail,13.2.2011)

Punokawan

Salah satu people behind the stars adalah punokawan yang berada di belakang Pandawa Lima. Punokawan adalah wong cilik yang bertugas melayani Pandawa Lima. Meskipun dari lapisan sosial lebih rendah dibandingkan Pandawa Lima, mereka “berani” memberikan masukan kepada “boss” mereka yang mereka sampaikan dalam kemasan humor.

Pandawa Lima memang hebat dan berhasil mengalahkan kaum Kurawa. Tetapi kehebatan mereka bukan turun begitu saja dari langit. Tanpa dukungan dari Punokawan, barangkali sejarah akan mencatat hal yang berbeda dari Pandawa Lima.

Vox Populli, Vox Dei.

Kalau tidak ada suara rakyat, maka para anggota dewan yang terhormat itu tidak akan pernah berada di gedung parlemen. Rakyat sejatinya adalah yang menjadikan mereka from zero to hero. Karena itu, para anggota dewan yang terhormat, para pejabat negara dan pejabat daerah, sudah sepatutnya tahu dan sadar bahwa “vox populli, vox dei” (suara rakyat adalah suarat Tuhan)

Tidak ada cerita bahwa menjadi wakil rakyat, pejabat negara dan pejabat daerah menderita dan tidak sejahtera. Yang sungguh-sungguh terjadi adalah rakyat tetap tidak sejahtera dan diperlakukan tidak adil, meskipun rakyat telah bersusah payah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi para wakil rakyat, pimpinan negara dan para pimpinan daerah. Orang-orang yang sejatinya bukan siapa-siapa kalau tidak ada suara rakyat sudah tinggal landas dan rakyat yang selalu berada di landasan untuk menjadi tempat take-off dan tempat landing bagi orang-orang yang mereka besarkan.

Militer dan para politisi di Mesir tidak akan mampu melengserkan Hosni Mubarak tanpa ada people power. Begitulah sejarah, selalu mencatat pengorbanan rakyat dan kemudian rakyat selalu dilupakan oleh orang-orang yang berkarakter “kacang ninggal lanjaran” (kacang melupakan kulit).

Bumi Serpong Damai, 27 April 2011.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2011 in Selasar

 

Training Need Analysis

Sebelum membuat perencanaan dan melaksanakan pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia (selanjutnya dalam tulisan ini disebut “pelatihan”) ada tiga pertanyaan yang harus dijawab, yaitu :

  1. Di bagian mana organisasi yang membutuhkan pelatihan?
  2. Apa yang harus dipelajari oleh peserta pelatihan agar mereka dapat mengerjakan pekerjaannya secara efektif?
  3. Siapa yang membutuhkan pelatihan dan pelatihan apa yang dibutuhkan?

Ketiga pertanyaan tersebut harus terjawab dalam proses identifikasi kebutuhan pelatihan (training need analysis). Untuk menjawab pertanyaan pertama, dilakukan organizational analysis (analisis organisasi). Untuk menjawab pertanyaan kedua maka perlu dilaksanakan task analysis (analisis pekerjaan). Sedangkan jawaban dari pertanyaan ketiga diperoleh melalui proses person analysis (analisis orang).

Performance appraisal (penilaian kinerja)  adalah salah satu metode person analysis untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan  paling umum digunakan. Untuk menyusun program pelatihan, sebagian organisasi merasa sudah mendapatkan data dan informasi yang “cukup” dari hasil penilaian kinerja. Karena pada intinya tujuan pelatihan tidak hanya untuk kepentingan individu atau karyawan yang bersangkutan, proses identifikasi kebutuhan pelatihan selayaknya juga mencakup analisis organisasi dan analisis pekerjaan.

Perbedaan utama dari ketiga metode tersebut adalah penilaian kinerja lebih fokus pada kesesuaian kompetensi individual dengan persyratan pekerjaan, analisis pekerjaan fokus pada  isi pekerjaan, dan analisis  organisasi fokus pada tingkat organisasi dan perubahan-perubahannya yang berdampak pada kebutuhan kompetensi baru bagi karyawan. Idealnya, data dan informasi yang diperoleh dari ketiga metode tersebut menjadi dasar untuk merencanakan dan melaksanakan pelatihan.  Hasil dari ketiga metode saling melengkapi dan karena itu perencanaan pelatihan akan lebih valid dan dapat diandalkan. Ketiga metode identifikasi kebutuhan pelatihan tersebut dapat digambarkan dalam model sebagai berikut :

Organizational Analysis (Analisis Organisasi).

Ruang lingkup analisis organisasi mencakup keseluruhan organisasi, faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi efektivitas suatu organisasi, sasaran dan strategi organisasi, sumber daya manusia yang saat ini dimiliki, dan iklim organisasi (terutama employee engagement).

Perubahan-perubahan yang semakin cepat dan kompleks yang terjadi di lingkungan eksternal organisasi berdampak pada organisasi. Salah satu dampak dari perubahan-perubahan adalah perubahan-perubahan pada proses bisnis dan proses kerja, baik dalam hal kecepatan maupun metode kerja. Organisasi dituntut lebih fleksibel dan cepat dalam menjalankan proses bisnis dan mengelola aktivitas-aktivitas untuk menghasilkan produk barang dan jasa. Setiap perubahan proses bisnis dan proses kerja akan berdampak pada pekerjaan individual maupun tim. Pada gilirannya, setiap perubahan pekerjaan (konteks, proses dan konten) akan berdampak pada persyaratan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang dibutuhkan.

Bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi, setiap perubahan teknologi komunikasi dan informasi berdampak langsung terhadap pengetahuan dan keterampilan kerja para teknisinya. Perusahaan dituntut selalu mengadakan pelatihan agar mereka memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang teknologi komunikasi dan informasi yang baru.

Dalam konteks ini, keusangan kompetensi terjadi karena perubahan teknologi komunikasi dan informasi. Kompetensi SDM yang semula sudah sesuai dengan pekerjaan yang lama, maka dengan perubahan teknologi komunikasi dan informasi, pekerjaan yang sama menuntut persyaratan kompetensi yang berbeda.

Survei terhadap iklim organisasi perlu dilakukan untuk mengetahui bagaimana  sesungguhnya employee engagement terhadap organisasi dan pekerjaan. Jika karyawan memiliki persepsi negatif terhadap organisasi (antara lain kebijakan-kebijakan, sasaran dan strategi organisasi, prosedur, dan lain sebagainya) dan pekerjaan, maka rasa memiliki dan keterlibatan karyawan dalam pencapaian sasaran dan implementasi strategi organisasi akan lemah. Dengan melakukan analisis organisasi maka dapat diketahui masalah-masalah yang dihadapi organisasi dan bagian-bagian dalam organisasi yang relevan untuk menjadi materi pelatihan.

 

Task Analysis (Analisis Pekerjaan).

Task analysis adalah metode untuk menganalisis pekerjaan dengan tujuan memperoleh informasi tentang apa yang orang kerjakan, menggunakan alat-alat kerja apa, dan apa pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang harus dimiliki seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan.

Untuk setiap pekerjaan yang berbeda akan terdapat aktivitas-aktivitas yang berbeda, peralatan kerja yang berbeda, dan persyaratan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang berbeda.  Karena itu diperlukan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental baru yang harus dikuasai oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan baru. Melalui analisis pekerjaan akan diperoleh data dan informasi tentang kesenjangan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental dan pelatihan yang dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan tersebut.

Dalam buku mereka Developing and Training Human Resources in Organizations, Wexley dan Latham (1991) menunjukkan aktivitas inti dari suatu analisis pekerjaan, yaitu : pertama, mempelajari uraian pekerjaan (job description) yang ada dalam suatu organisasi; kedua, mengidentifikasi tugas-tugas dalam suatu pekerjaan; ketiga, mengidentifikasi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills) dan sikap mental (attitude) yang diperlukan untuk mampu mengerjakan tugas-tugas; keempat, menetapkan tujuan pelatihan; dan kelima membuat desain pelatihan. Wexley dan Latham (1991) menggambarkan kelima aktivitas tersebut dalam gambar sebagai berikut  :

Hasil dari analisis pekerjaan antara lain dapat menjadi masukan untuk menyusun program-program pelatihan yang dibutuhkan sehubungan dengan penempatan kembali karyawan (employment replacement). Penempatan kembali karyawan pada jabatan-jabatan baru menyebabkan kompetensi lama perlu ditambah dengan kompetensi baru yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaan baru.

 

Person Analysis (analisis orang).

Penilaian kinerja merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan untuk melaksanakan identifikasi kebutuhan pelatihan. Fokus dari person analysis adalah individu atau karyawan. Dalam konteks identifikasi kebutuhan pelatihan, tujuan dari person analysis adalah untuk menjawab pertanyaan siapa yang membutuhkan pelatihan dan pelatihan apa yang dibutuhkannya.

Melalui penilaian kinerja dapat diketahui kinerja seorang karyawan pada suatu periode tertentu. Dari penilaian kinerja juga dapat diketahui kemampuan, kekuatan dan kelemahan karyawan melaksanakan pekerjaan. Jika hasil penilaian kinerja menunjukkan baik, maka secara umum karyawan dianggap mampu melaksanakan pekerjaan, mencapai sasaran dan target-target yang menjadi tanggung jawabnya. Jika hasil penilaian kinerja menunjukkan buruk atau di bawah rata-rata, maka karyawan dianggap tidak mampu melaksanakan pekerjaan, mencapai sasaran dan target-target yang menjadi tanggung jawabnya.

Penilaian kinerja harus menghasilkan data tentang kekuatan dan kelemahan karyawan. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental apa saja yang masih harus diperbaiki. Atau jika sudah baik, pengetahuan, keterampilan dan sikap mental apa saja yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Berdasarkan hasil penilaian kinerja dapat diketahui siapa saja yang masih harus dilatih dan jenis-jenis pengetahuan, keterampilan dan sikap mental apa saja yang harus dilatih.

Hasil-hasil dari proses analisis organisasi, analisis pekerjaan dan analisis orang inilah yang kemudian menjadi dasar untuk menyusun program-program pelatihan sehingga pelatihan yang dilaksanakan dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi proses maupun hasil pelatihan. Sebab, pelatihan yang diadakan adalah merupakan solusi dari masalah-masalah yang dihadapi di tingkat organisasi, unit kerja, pekerjaan, dan individu.

Perlu dipahami bahwa penggunaan ketiga metode tersebut dalam proses identifikasi kebutuhan pelatihan adalah kondisi yang ideal dan mungkin tidak mudah untuk dilaksanakan. Wexley dan Latham (1991) mengingatkan bahwa pertama, identifikasi kebutuhan pelatihan adalah proses yang membutuhkan waktu, terutama jika benar-benar menggunakan ketiga metode tersebut; kedua, identifikasi kebutuhan pelatihan adalah proses yang dilakukan berulang dan berkesinambungan setiap ada perubahan-perubahan terhadap organisasi, baik produk, jasa, teknologi maupun proses bisnis; dan last but not least, ketiga metode tersebut saling berhubungan dan melengkapi serta seyogyanya dilaksanakan secara simultan.

Pada akhirnya, kebutuhan dan pertimbangan masing-masing organisasi akan menentukan apakah untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan digunakan ketiga metode tersebut, atau seperti pada umumnya, hanya menggunakan person analysis (dalam hal ini penilaian kinerja) saja.

Bumi Serpong Damai, 31 Maret 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2011 in Human Capital

 

The Abundant Organization

An abundant organization is a work setting in which individuals coordinate their aspirations and actions to create meaning for themselves, value for stakeholders, and hope for humanity at large. An abundant organization is one that has enough and to spare of the things that matter most: creativity, hope, resilience, determination, resourcefulness, and leadership.

Abundant organizations are profitable organizations, but rather than focusing only on assumptions of competition and scarcity, abundant organizations also focus on opportunity and synergy. Rather than accepting the fear-based breakdown of meaning in hard times, abundant organizations concentrate on bringing order, integrity, and purpose out of chaos and disintegration. Rather than restricting themselves to narrow, self-serving agendas, abundant organizations integrate a diversity of human needs, experiences, and timetables.

In good times and in hard times, abundant organizations create meaning for both the employees who comprise them and the customers who keep them in business. Employees, customers, investors, and society benefit when employees find meaning at work and when companies give meaning to society. This logic applies to small and large organizations, to public agencies and private enterprises, to local storefronts and global conglomerates.

Dave Ulrich and Wendy Ulrich, “The Why of Work”

 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2011 in Management

 

Pembagian Kerja Secara Seksual (Bagian 1)

“Jujur saja, orang paling berjasa dalam keluarga kami adalah istri saya”, demikian pengakuan Sofjan Wanandi dalam wawancara dengan wartawan Stefanus Osa Triyatna dan Hamzirwan yang dimuat dalam rubrik Persona, Kompas, 6 Maret 2011. Masih di rubrik yang sama, Sofjan menambahkan “dalam keluarga, sejak dahulu ada semacam pembagian tugas. Istri menjaga dan mendidik anak-anak, sedangkan saya lebih banyak bertugas di luar. Saya memberikan pendidikan dan memotivasi anak-anak untuk menjadi yang terbaik di sekolah.”

Menjadi ibu rumah tangga adalah pasti pilihan bukan main-main dan hasilnya bisa bukan main. Saya yakin dua keponakan saya yang menjadi doktor adalah berkat kasih sayang, restu, dan do’a dari seorang ibu. Saya percaya bahwa pengorbanan seorang perempuan meninggalkan bangku kuliah dan kemudian “hanya” menjadi ibu rumah tangga mendampingi suaminya bertugas di pedalaman Irian Jaya (sekarang Papua) adalah pilihan mulia. Semua anak-anak mereka sekarang sudah “menjadi orang” dan menjalani kehidupan yang layak.

Meskipun menurut sistem kapitalis menjadi ibu rumah tangga bukan suatu “profesi” dan karena itu tidak dibayar, kontribusi seorang ibu bagi kemanusiaan, masyarakat, bangsa dan negara tidak bisa dianggap remeh temeh. Saya salut kepada ibu-ibu muda yang sempat menjadi duta ASI (antara lain Ine Febriyanti dan Sophie Novita) dan bersama para ibu lainnya (bahkan para selebriti seperti mantan putri Indonesia 2004 Atika Sari Devi) mereka aktif dalam kampanye ASI. Bahkan di berbagai media seringkali diberitakan para wanita karir yang memilih berhenti bekerja dan memilih full time sebagai ibu rumah tangga. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para wanita karir, sebagai “alumnus” PASI (penggemar air susu ibu), saya benar-benar salut kepada para perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga.

Setiap menjelang perayaan hari kemerdekaan Indonesia, ada tradisi “bagi-bagi” bintang tanda jasa kehormatan kepada orang-orang yang berjasa kepada bangsa dan negara. Tidak aneh kalau mereka yang mendapatkan bintang tanda jasa adalah seorang menteri dan mayoritas adalah kaum laki-laki. Kalau tidak salah, sekitar tahun 1992 Menkopolkam saat itu Laksamana (Purn) Soedomo mengumumkan beberapa anak bangsa mendapatkan bintang jasa kehormatan, di antaranya beberapa isteri menteri. Dasar pertimbangan pemberian bintang jasa kehormatan kepada para isteri menteri adalah karena mereka, sebagai ibu rumah tangga, telah berjasa mendukung para suami sehingga para suami merasa tenang dapat konsentrasi penuh untuk melaksanakan tugas-tugas yang diamanahkan oleh bangsa dan negara. Apapun yang terjadi di zaman orde baru orang bisa bilang itu sudah direkayasa. Tetapi menganggap remeh kontribusi seorang ibu rumah tangga mendukung karir suami dan mendidik anak-anak juga tidak tepat.

Pembagian kerja secara seksual ada dalam masyarakat manapun yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang. Tentu saja sudah ada perubahan sosial yang mengubah pola pembagian kerja secara seksual tidak lagi “murni” seperti yang dijelaskan oleh Sofjan Wanandi. Meskipun demikian, terutama di Indonesia, pembagian kerja secara seksual yang menempatkan perempuan di sektor domestik dan tidak mendapatkan gaji, sementara kaum laki-laki berada di sektor publik dan mendapatkan gaji, masih dianggap sahih dan tidak perlu diperdebatkan.

Tidak keliru kalau kemudian sosiolog Arief Budiman (1981) berkomentar bahwa pembagian kerja secara seksual adalah “sebuah persoalan yang sudah terlalu lama ter (di)kubur dalam sejarah perkembangan umat manusia.” Tidak hanya budaya Timur, melainkan juga budaya Barat masih melakukan “pembiaran” terhadap pembagian kerja secara seksual “konvensional” tersebut. Bahkan teori-teori sosiologi dengan pendekatan fungsional berusaha “melanggengkan” pembagian kerja secara seksual “konvensional” adalah “baik” karena memang dibutuhkan dan bermanfaat bagi masyarakat.

Secara garis besar terdapat dua teori tentang pembagian kerja secara seksual, yaitu teori nature dan teori nurture (Arief Budiman, 1981).  “Teori nature”, demikian Arief Budiman,  “beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara laki-laki dan wanita disebabkan oleh faktor-faktor biologis kedua insan ini. Sedangkan teori nurture beranggapan bahwa perbedaan ini tercipta melalui proses belajar lingkungan.” Artinya, pembagian kerja secara seksual disebabkan oleh perbedaan faktor biologis antara kaum laki-laki dan perempuan, serta faktor sosio-kultural.

Sikap saya terhadap pembagian kerja secara seksual adalah netral. Artinya, setiap orang adalah pihak yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi keluarganya. Apapun keputusan setiap pasangan suami istri yang diambil berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, istri bekerja dan menjadi wanita karir atau “hanya” menjadi ibu rumah tangga, kedua-duanya adalah pilihan terbaik. Bagi saya pribadi, menjadi wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga, kedua-duanya adalah bekerja.

Perlu dicatat bahwa sistem masyarakat kapitalis berperan terhadap perlakuan tidak adil terhadap kaum wanita. Mereka  yang bekerja di luar rumah mendapatkan gaji dan bekerja di sektor rumah tangga tidak mendapatkan gaji. Pendapat dari Eli Zaretsky,  sebagaimana dikutip oleh Arief Budiman, menunjukkan bahwa “dalam sistem masyarakat kapitalis, sektor masyarakat dikaitkan dengan sistem pasar, sedangkan sektor rumah tangga merupakan sektor pribadi yang tidak dicampuri oleh sistem pasar. Dalam sistem masyarakat kapitalis, segala sesuatu dinilai menurut nilai tukarnya di pasar, berdasarkan permintaan dan penawaran.” (Arief Budiman, 1981). Dalam sistem masyarakat kapitalis, manusia juga diperlakukan sebagai komoditas, begitu juga perlakuan terhadap kaum perempuan yang berada di sektor domestik, tidak mendapatkan penghargaan apapun.

Sejarah pembagian kerja secara seksual menunjukkan bahwa pada suatu masa kaum perempuan pernah lebih “berkuasa” dibandingkan dengan kaum laki-laki. Arief Budiman (1981) mengutip pendapat Ernestine Friedl, seorang ahli anthropologi sebagai berikut : “di dalam masyarakat primitif, wanita lebih penting daripada laki-laki. Pada masyarakat primitif, ketika manusia hidup masih mengembara dalam kelompok-kelompok kecil, bahaya yang paling besar adalah musnahnya kelompok itu karena matinya anggota kelompok ini satu-satu. Karena itu, jumlah anggota kelompok harus sedapat-dapatnya diperbesar, dengan melahirkan bayi-bayi baru.”

Karena kebutuhan untuk mempertahankan kesinambungan kehidupan kelompok, maka kaum perempuan dianggap relatif lebih penting daripada kaum laki-laki. Karena tugasnya untuk melahirkan, kaum perempuan mendapatkan perlindungan dan dibebaskan dari kewajiban-kewajiban untuk melakukan pekerjaan berbahaya, dan karena itu harus tinggal di rumah. Inilah pembagian kerja berdasarkan seksual yang pertama-tama, di mana kaum laki-laki harus bekerja di luar rumah, dan kaum perempuan bekerja di dalam rumah tanggal yang relatif aman.

Sejatinya, sejarah juga mencatat bahwa pembagian kerja seksual lebih disebabkan oleh kebutuhan keluarga dan masyarakat, bukan disebabkan oleh faktor kekuasaan kaum yang satu terhadap kaum yang lain. Seperti dikatakan oleh Guettel, “pada waktu itu pembagian kerja secara seksual merupakan sesuatu yang tidak bersifat eksploatatif, dalam pengertian bahwa tidak ada pihak yang diuntungkan karena adanya pembagian kerja seperti itu.” (Arief Budiman, 1981).

Pembagian kerja secara seksual menjadi bersifat eksploatatif terjadi sejak sistem masyarakat kapitalis. Dalam sistem masyarakat kapitalis, mereka yang menguasai faktor-faktor produksi memiliki kekuasaan dan karena itu kedudukan sosial dalam masyarakat menjadi kuat.  Sistem masyarakat kapitalis menemukan “peak performance” dengan kehadiran revolusi industri. Dalam konteks pekerjaan, revolusi industri memisahkan secara tegas antara rumah sebagai tempat tinggal, sementara kantor dan pabrik adalah tempat kerja yang sesungguhnya.

Futurulog seperti John Naisbitt dan Patricia Aburdene (penulis buku Megatrends) maupun Alvin Toffler (penulis buku Future Shock dan The Third Wave) pernah meramalkan bahwa dalam masyarakat informasi dan pengetahuan, kaum perempuan akan sangat diuntungkan dengan kehadiran teknologi. “Ramalan” Toffler terbukti benar bahwa kehadiran teknologi telah memungkinkan sistem kerja baru telecommuting yang “mengembalikan” bersatunya tempat tinggal dan tempat kerja.

Saat ini kita memang sudah hidup di era yang disebut oleh Bill Gates sebagai web lifestyle (gaya hidup internet) dan web workstyle (gaya kerja internet). Teknologi informasi dan komunikasi mendukung siapa saja (termasuk kaum perempuan) untuk bekerja di rumah. Meskipun demikian, karena sistem masyarakat kapitalis masih dominan, perubahan persepsi tentang pembagian kerja secara seksual seolah-olah berjalan di tempat (bersambung).

Bumi Serpong Damai, 14 April 2011.

 
 

Esuk Tempe Sore Dele

Tidak terlalu sulit untuk mengetahui “bandwidth” seseorang. Para leluhur telah mewariskan segambreng peribahasa dan kata-kata bijak yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan. Dalam konteks “bandwidth” seseorang, kita bisa menggunakan peribahasa “tong kosong bunyinya nyaring” dan “air beriak tanda tak dalam”. Saya lebih suka menggunakan peribahasa dari Irlandia “everyone is wise until he speaks”. Apapun yang keluar dari mulut dapat mengindikasikan “bandwidth” dan seberapa bijak seseorang.

Esuk tempe sore dele. Inilah peribahasa yang paling sesuai untuk menggambarkan sikap dan perilaku seseorang yang tidak konsisten. Tempe adalah bahan makanan yang sudah siap untuk digoreng atau dibacem, sedangkan kedelai masih berupa bahan baku. Peribahasa ini menunjukkan bahwa orang yang tidak konsisten adalah orang yang membuat segala sesuatu sudah siap atau jadi dan tinggal dieksekusi menjadi mentah kembali dan mesti diulangi dari awal lagi.  Dalam hal ini sesungguhnya telah terjadi pemborosan sumberdaya, antara lain waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.

Jika dalam peribahasa esuk tempe sore dele dimensi waktu masih dalam hitungan hari, maka peribahasa orang Minang untuk mendeskripsikan orang yang tidak konsisten lebih heboh lagi, yakni  “ibarat baling-baling di atas bukit”. Sebagaimana baling-baling yang mudah berputar dan berganti arah tergantung dari angin, demikian juga seseorang yang tidak konsisten cenderung akan berubah-ubah sikap dan pendirian, suka-suka kapan saja  orang itu mau berubah. Bahkan perubahan orang yang tidak konsisten tidak lagi dihitung dalam hari, melainkan setiap saat.

Orang yang tidak konsisten memiliki sikap, perilaku dan karakter yang bertolak belakang dibandingkan dengan  orang yang keras kepala. Memang, berhubungan dengan orang yang tidak konsisten dan orang yang keras kepala sama-sama menyebalkan. Tetapi orang yang keras kepala cenderung konsisten, bahkan tidak mau mengubah pendiriannya, sekalipun pendiriannya sangat tidak masuk akal dan mengada-ada. Meskipun demikian, orang yang keras kepala, karena sikap dan perilakunya yang konsisten, otak dan kepentingannya masih bisa “dibaca”.

Daniel Pasarela adalah mantan kapten timnas Argentina yang berhasil membawa Argentina memboyong juara dunia sepak bola untuk pertama kalinya pada tahun 1978. Ketika menjadi pelatih timnas Argentina, Pasarela dikenal sebagai orang yang sangat keras kepala, suka mengada-ada, dan punya segudang alasan yang tidak masuk akal. Misalnya ia mengeluarkan aturan bahwa siapapun yang terpilih masuk timnas di bawah kepemimpinannya, tidak boleh berambut gondrong. Orang bodoh pun tahu bahwa tidak ada hubungan antara rambut gondrong dengan kompetensi dan kinerja pesepakbola. Salah satu korban dari sikap, perilaku dan karakter keras kepala Pasarela adalah seorang gelandang serang Fernando Redondo yang juga memilih bersikap “keras kepala” tidak mau mencukur rambutnya yang gondrong.

Sebaliknya, orang yang tidak konsisten dapat memiliki pendirian yang berubah-rubah dalam hitungan hari, bahkan setiap saat. Orang yang tidak konsisten biasanya juga punya alasan segambreng untuk menjelaskan pendiriannya yang berubah-ubah. Ironisnya, meskipun orang tidak konsisten,  sebenarnya orang yang tidak konsisten cenderung memiliki sikap, perilaku dan karakter yang cenderung fleksibel dibandingkan dengan orang yang keras kepala, pendiriannya kadang-kadang juga tidak masuk akal dan mengada-ada. Tetapi karena sangat fleksibel orang yang tidak konsisten menjadi sulit “dibaca”. Ibaratnya, orang yang tidak konsisten itu seperti seorang sopir bajaj yang hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan akan belok.

Setiap manusia memiliki naluri untuk tidak konsisten. Hanya saja, dalam menerapkan konsistensi, manusia memiliki standar ganda. Orang lain harus konsisten, sementara dirinya sendiri “boleh-boleh” saja tidak konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa sikap, perilaku dan karakter tidak konsisten memang menyakitkan, tetapi orang lebih mudah menyakiti orang lain daripada dirinya yang disakiti oleh orang lain.

Siapa saja juga bisa menjadi manusia yang tidak konsisten. Meskipun demikian, secara umum, seorang atasan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memiliki sikap, perilaku dan karakter tidak konsisten dibandingkan bawahan. Artinya, semakin tinggi jabatan seseorang, kesempatan dan probabilitas untuk memiliki sikap, perilaku dan karakter untuk tidak konsisten. Bukankah power abuse hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya power dan itu berarti seorang atasan? Sedangkan bagi bawahan, sama saja dengan “membangunkan singa tidur” kalau sampai berani bersikap dan berperilaku tidak konsisten ketika menghadapi atasan.

Daripada mengeluh dan mengelus dada menghadapi atasan yang tidak konsisten, mungkin lebih baik berdo’a dan bersabar menghadapinya. Dalam suatu organisasi, memiliki hak bersuara dan memberikan pendapat seringkali merupakan kemewahan. Tetapi tentu saja tidak perlu bersedih hati jika tidak atau belum bisa mendapatkan keistimewaan seperti punokawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) yang diberikan kekuasaan dan kebebasan memberikan masukan kepada ndhoro mereka, mengingatkan jika ada sikap dan perilaku ndhoro mereka yang kurang tepat.

Tetapi mengapa seseorang tidak konsisten? Tentu saja ada beberapa sebab, versi saya adalah sebagai berikut :

 

Kebutuhan vs. Keinginan

Anak kecil cenderung tidak konsisten, tetapi bukan disebabkan oleh karakter. Anak kecil tidak konsisten karena belum mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sikap dan perilaku anak kecil cenderung didominasi oleh keinginan. Jika seorang anak kecil menghendaki sesuatu barang, belum tentu mereka membutuhkannya. Tidak jarang ketika barang yang diminta sudah disediakan, seorang anak kecil sudah mempunyai keinginan yang lain lagi.

Seorang “dewasa” yang tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan akan cenderung terjebak pada sikap dan perilaku tidak konsisten. Kebutuhan adalah sesuatu yang mendesak dan karena itu harus diprioritaskan. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang tidak mendesak dan karena itu tidak harus diprioritaskan.

Kepentingan sesaat.

Prof. Soedjito, seorang sosiolog, pernah mengatakan bahwa “sikap adalah fungsi dari kepentingan”. Jika ingin mengetahui sikap dan perilaku seseorang, maka ketahuilah kepentingan orang tersebut. Jika kepentingan berubah, maka sikap dan perilaku juga akan berubah. Tidak terlalu sulit untuk “mengamini” dalil ini. Bukankan di dunia politik ada dalil “tidak ada musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”. Hari ini lawan, besok sudah menjadi kawan. Atau, hari ini kawan, besok sudah menjadi lawan.

Orang yang tidak konsisten ibarat baling-baling di atas bukit. Semakin kencang angin, semakin kencang pula putaran baling-baling. Jika arah angin berbalik arah, demikian juga arah putaran baling-baling akan mengikuti perubahan arah angin. Itulah sebabnya orang yang tidak konsisten susah “dipegang” dan hampir-hampir mustahil ditebak sikap dan perilakunya. Semua tergantung dari kepentingannya. Dalamnya laut dapat diketahui, tapi siapa dapat mengetahui secara pasti kepentingan seseorang dan perubahan-perubahannya?.

Kehilangan Popularitas.

Orang yang konsisten cenderung memiliki banyak “musuh”. Pada dasarnya manusia lebih suka dengan konsistensi. Meskipun demikian, sikap dan perilaku yang konsisten kadang-kadang menyakitkan pihak lain, terutama jika orang lain tersebut sudah memiliki agenda kepentingan sendiri. Karena itu, dengan memiliki sikap dan perilaku konsisten akan mengundang orang lain membenci diri kita sendiri. Tidak setiap orang siap kehilangan. Bahkan ketika seseorang tidak memiliki konsekuensi ekonomis apapun jika bersikap konsisten, tetap saja tidak menjamin seseorang berani bersikap dan berperilaku konsisten.

Kebutuhan manusia memang tidak hanya kebutuhan ekonomis. Kebutuhan sosial seperti mendapat puji dan puja dari orang lain, pertimbangan harmoni, dlsb menjadikan orang sulit untuk bersikap tegas. Kebutuhan sosial dapat menjadikan orang yang sangat kuat pun tidak berdaya. Betapapun hebat kuasa dan kekayaan yang dimiliki, seorang gembong narkoba seperti Pablo Escobar adalah makhluk sosial juga yang tidak tahan kalau tercerabut dari lingkungan sosialnya, baik keluarga maupun lingkaran sosial terdekatnya.

“Resep” menghadapi orang yang tidak konsisten.

Sesungguhnya tidak ada resep (baca : strategi dan solusi) yang berlaku umum untuk menghadapi orang yang tidak konsisten. Setiap manusia adalah unik sehingga strategi dan solusi yang mempan untuk menghadapi seseorang mungkin tidak efektif untuk menghadapi orang lain. Untuk menghadapi orang tidak konsisten, siapapun tidak dapat konsisten hanya bergantung pada satu strategi dan solusi saja.

Pada dasarnya mengapa seseorang “berani” bersikap dan berperilaku tidak konsiten adalah karena orang yang bersangkutan merasa bargaining position dan bargaining powernya lebih baik dibandingkan orang lain. Mana ada orang yang memiliki bargaining position dan bargaining power lebih lemah berani menantang orang yang memiliki bargaining position dan bargaining power lebih kuat?  Sehebat-hebatnya dan se”galak-galak”nya seorang boss perusahaan, biasanya tidak lebih dari “jago kandang”. Walaupun berjanji akan sungguh-sungguh melaksanakan good corporate governance, kemungkinan juga tidak berkutik menghadapi seorang pejabat, apalagi kalau pejabat itu memiliki “bakat” dan “hobby” abuse of power dalam mengeluarkan perizinan yang menentukan “hidup-mati”nya sebuah perusahaan.

“Dunia ini panggung sandiwara”, demikian salah satu lirik lagu yang pernah dinyanyikan rocker Ahmad Albar. Barangkali, cara terbaik untuk menghadapi orang yang tidak konsisten adalah menganggap apa yang dilakukan oleh orang lain tidak lebih sekedar sandiwara. Persamaan matematisnya begini : orang yang konsisten adalah orang yang serius dan orang yang tidak konsisten adalah orang yang tidak mampu dan tidak mau serius. Jika kita terlalu serius menghadapi orang-orang yang punya “bakat” tidak konsisten juga tidak baik. Sebab manusia pada dasarnya mengharapkan orang lain untuk bersikap dan berperilaku konsisten, tetapi pada saat yang sama manusia tidak menyiapkan diri menghadapi situasi terburuk jika orang yang dihadapinya sedang bersandiwara (baca : tidak konsisten). Nah loooo!!!!

Bumi Serpong Damai, 16 April 2011

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2011 in Selasar

 

Leaders are meaning makers!

They set direction that others aspire to; they help others participate in doing good work and good works; they communicate ideas and invest in practices that shape how people think, act, and feel. As organizations become an increasing part of the individual’s sense of identify and purpose, leaders play an increasing role in helping people shape the meaning of their lives.

Too many leaders focus on where they are going and how to get there, without paying much attention to how it feels to those on the journey with them. When leaders make work meaningful, they help create abundant organizations where employees operate on a value proposition based on meaning as well as money.

Meaning becomes a multiplier of employee competence and commitment, a lead indicator of customer share, a source of investor confidence, and a factor in ensuring social responsibility in the broader community. We find that even the hardest-nosed leaders become interested in meaning when they realize its potential contribution to bottom-line realities. When leaders grasp the why of meaning, they then seek the how.

Dave Ulrich and Wendy Ulrich, “The Why of Work”

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2011 in Human Capital

 

Bukan Sekedar Ulat Bulu

Selamat datang ulat bulu. Terima kasih atas kehadiran kalian di muka bumi, khususnya di bumi pertiwi. Kehadiran kalian sungguh kami tunggu-tunggu karena kalian adalah salah satu makhluk yang membawa tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi mereka yang berpikir. Kalian juga telah, sedang, dan akan mengajarkan apa makna kehadiran kalian.

Ternyata memang tidak ada satu pun ciptaan Allah SWT di muka bumi ini yang sia-sia. Paling tidak hal ini dibuktikan dengan invasi ulat bulu yang menyerbu di beberapa kota di pulau Jawa. Para ahli serangga memahami kehadiran ulat bulu sebagai indikator perubahan iklim. Salah satunya seperti yang saya kutip dari harian Kompas, 14 April 2011 sebagai berikut :

“Peningkatan populasi ulat bulu yang sangat tinggi belakangan ini diduga turut disebabkan perubahan ekosistem secara global. Salah satu indikasinya, peningkatan tersebut merata di sejumlah daerah di Indonesia.

Hal ini dikemukakan oleh Prof Dr Deciyanto Soetopo, Peneliti Utama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan), di lokasi habitat ular bulu, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (13/4/2011).

“Secara global, ada gejala yang sama. Dari lingkungan biotik maupun abiotik, faktor penghambat atau penekan perkembangan ulat bulu semakin berkurang. Faktor biotik, misalnya, predator ulat bulu semakin langka. Sementara faktor abiotiknya, curah hujan yang tinggi sepanjang tahun lalu justru mengakibatkan predatornya berkurang,” papar Deciyanto.

Ia mencontohkan, di lokasi habitat ulat bulu di Tanjung Duren, Jakarta Barat, hampir tidak ditemukan spesies pemangsa ulat bulu, seperti burung, sejenis serangga seperti capung, dan semut. Parasitoid atau mikroorganisme parasit yang hidup di telur ataupun di tubuh ulat bulu pun belum terlihat.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan adanya gangguan ekosistem, yakni hilangnya keseimbangan alami dalam lingkungan hidup.

Perubahan iklim juga dipandang sebagai salah satu pemicu pertumbuhan drastis ulat bulu. Curah hujan yang terlampau tinggi, misalnya, tidak terlalu berpengaruh terhadap ulat bulu, tetapi hal itu justru menjadi faktor penghambat perkembangan spesies pemangsanya.

Dengan adanya indikasi yang sama di berbagai daerah yang dilanda peningkatan populasi ulat bulu, Deciyanto menyimpulkan telah terjadi perubahan ekosistem secara global. “Gejala-gejala ini kan terlihat di mana-mana, termasuk di sini. Faktor penghambat populasi ulat bulu sudah semakin langka. Kita bisa berasumsi ada perubahan ekosistem secara global, baik lingkungan biotik (bernyawa) maupun abiotik (tak bernyawa),” jelas Deciyanto.”

***

Fenomena alam berupa wabah ulat bulu di beberapa daerah di pulau Jawa dapat dianggap sebagai persoalan biasa atau sebagai persoalan serius. Pada akhirnya, peristiwa apapun yang terjadi di dunia ini akan menjadi pelajaran yang berharga atau tidak, sangat tergantung dari persepsi manusia dan makna yang diberikan manusia kepada berbagai peristiwa itu sendiri.

Dalam rubrik going green di blog saya ada artikel tentang kodok yang saya unduh dari salah satu website. Ternyata hanya 1 pengunjung yang membaca “Why Frog Master”. Padahal, kodok adalah hewan yang menjadi indikator tentang perubahan iklim. Sebagaimana ditulis di Kompas, 18 Desember 2008kodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.”

Dalam komunikasi, manusia dapat  menyampaikan pesan dalam berbagai bentuk, antara lain melalui bahasa dan simbol. Boleh-boleh saja kalau Allah SWT menyampaikan pesan melalui ciptaanNya di alam raya, entah itu  hewan, tumbuh-tumbuhan, atau bahkan manusia. Hewan seringkali memberikan petunjuk tentang alam atau lingkungan hidup dan perubahan-perubahannya yang telah, sedang dan akan terjadi. Mungkin banyak orang yang tidak atau kurang memperhatikan hubungan perilaku hewan dengan kejadian-kejadian di alam raya.

Mungkin sudah banyak yang melupakan berita di harian Kompas tentang tsunami di Aceh 2004 yang lalu. Saat itu ada 1 batalyon TNI AD yang telah selesai bertugas di Aceh dan akan kembali ke Jawa dengan menggunakan kapal laut. Pada saat menuju ke pelabuhan atau pantai, sang komandan batalyon melihat segerombolan burung yang terbang dari arah laut menuju darat. Melihat kejadian tersebut sebagai kejadian yang aneh, sang komandan memerintahkan pasukannya kembali ke darat. Alhamdulillah, berkat pengetahuannya tentang fenomena alam, analisis yang cepat dan tepat, ia berhasil mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat sehingga banyak nyawa manusia yang terselamatkan.

Tentu saja kebesaran dan perlindungan Allah SWT yang menentukan hidup dan mati manusia. Tetapi sungguh sangat naif memahami kejadian yang dialami batalyon TNI AD itu semata-mata karena Allah SWT masih melindungi umatNya. Para filsuf sepakat bahwa perbedaan antara manusia dan hewan adalah dalam hal otak sehingga manusia mampu berpikir dan sedangkan hewan hanya mampu menggunakan instingnya. Kemampuan berpikir dan memberikan makna terhadap suatu kejadian menjadi “keunggulan kompetitif” manusia terhadap hewan. Tetapi, ada kalanya manusia tidak terampil memanfaatkan keunggulan kompetitifnya dibandingkan hewan sehingga seolah-olah yang terjadi adalah insting lebih baik daripada berpikir.

Itulah sebabnya, mengapa pada saat tsunami Aceh tahun 2004, terlalu banyak korban manusia dibandingkan hewan. Moeller dan Bradi menjelaskan fenomena ini sebagai berikut :

“When the devastating tsunami struck Indonesia in 2004, two groups emerged relatively unscathed: they were indigenous tribal people and animals. They survived because they had instinctively moved to the safety of higher ground. They detected even the weakest signals because their senses were so acute and active. Because they recognized an existential environmental threat and also had a healthy respect for what the environment can do, their antennae were permanently up. They understood that if they ignored the environment, it could do them serious harm. Corporations that ignore the balance between internal and external demands are almost certainly doomed to the equivalent of business tsunamis.”

Moeller dan Bradi memang tidak sedang membual.  Kompas juga pernah menulis ada masyarakat di Aceh yang selamat karena mereka mewarisi puisi atau karya sastra  dari nenek moyang mereka. Puisi tersebut menceritakan tentang kejadian-kejadian alam yang berkaitan dengan tsunami. Ketika kemudian ada kejadian-kejadian alam yang “match” dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam puisi, mereka pun bersiap-siap menyelamatkan diri.  Meskipun ada tetap ada korban, tetapi penduduk di wilayah tersebut yang menjadi korban tsunami relatif sedikit.

Sejatinya, Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam penciptaanNya dan  segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini ada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi orang yang berpikir. Dalam Surat Al-Imran ayat 190 Allah SWT berfirman sebagai berikut :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”  (http://www.alquran-indonesia.com/ diunduh pada tanggal 15 April 2011)

Mengapa manusia cenderung terlambat memahami segala sesuatu yang terjadi? Masalah yang dihadapi manusia bukan pada tidak adanya tanda-tanda yang menginformasikan tentang suatu peristiwa telah, sedang dan akan terjadi.  Masalahnya juga bukan pada keterbatasan teknologi canggih untuk memahami tanda-tanda. Masalahnya juga bukan pada kekurangan jumlah ahli yang mampu memahami berbagai peristiwa alam.

Orang-orang Jepang karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah mereka capai memang mampu mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi tsunami. Tetapi tanpa harus menunggu menjadi masyarakat yang maju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, siapapun yang mampu membaca dan memberikan makna terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah SWT tetap memiliki kesempatan untuk memberikan reaksi yang tepat terhadap suatu peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Moeller dan Bradi (2008) menulis sebagai berikut Intelligence failures generally occur despite the wealth of information available, because of a lack of suitable analysis for decision makers to draw upon”. Pada bagian lain dari buku mereka, Moeller dan Bradi (2008) menjelaskan bahwa, “most of the companies’ external sensory functions were either not working or not registering at the policy level. According to two Wharton professors, the President and CEO was not a “vigilant leader” but rather an operational leader (more controlling, focused on efficiency and cost cutting and doesn’t explore outside potential).” (Moeller & Bradi, 2008).

Sejatinya, masalah utama adalah pada sikap mental manusia. Allah SWT sudah memberikan kemampuan berpikir dan selalu mengingatkan manusia untuk selalu berpikir. Tetapi sikap mental manusia lah yang menjadikan kemampuan dan kemauan untuk berpikir menjadi terbatas. Bandwidth, antena dan sensor sudah built in atau in place dalam diri manusia,  tetapi manusia lah yang tidak mampu dan tidak mau bersyukur menggunakan semua itu sesuai dengan peruntukannya.

Bumi Serpong Damai, 15 April 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Selasar