RSS

Air Tuba Untuk Paus Sastra

02 Apr

Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Almarhum H.B. Jassin yang semasa hidupnya dijuluki sebagai Paus Sastra Indonesia tidak sekedar meninggalkan nama. Paus Sastra itu meninggalkan karya sastra dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin (“PDSJ”) yang terletak di bilangan Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Penghormatan apa yang telah kita berikan kepada Paus Sastra Indonesia?. Air susu dibalas dengan air tuba, barangkali ungkapan itulah yang paling sesuai untuk menggambarkan penghormatan kita kepada orang yang berjasa memelihara peradaban manusia. Buku dan sastra konon diakui sebagai salah satu simbol peradaban manusia. Itu “kata dunia”, tetapi barangkali pernyataan itu tidak berlaku di Indonesia.

Sesungguhnya bukan baru kali ini saja media massa memberitakan tentang nasib PDSJ yang selama bertahun-tahun ibarat telur diujung tanduk. Tahun-tahun sebelumnya media massa sudah memberitakan bukan saja pendanaan yang minim, melainkan juga perhatian dari pemerintah daerah (dan pusat??) yang sangat minimalis. Setelah berlaku pepatah “anjing menggongong kafilah berlalu”, baru kemudian Bang Foke turun tangan memberikan tambahan bantuan pendanaan dan menjamin PDSJ tidak akan ditutup.

Jangan bandingkan PDSJ dengan yayasan yang dibentuk oleh Bill Gates dan Oprah Winfrey. Dari koceknya sendiri Bill Gates menyisihkan 30 % dari kekayaannya dan disumbangkan kepada yayasan yang didirikannya (meskipun gara-gara perbuatannya ini Gates “terlempar”  dari ranking pertama orang terkaya di dunia). Almarhum Jassin memang tidak meninggalkan warisan dalam bentuk uang dan karena itu PDSJ tidak mampu mandiri mendanai sendiri kegiatannya. Asal tahu saja, mengelola pendanaan sebuah pusat dokumentasi sastra jauh lebih sulit daripada mengelola pendanaan rumah bordil.

Saat meresmikan PDSJ pada tahun 1977, Bang Ali menegaskan bahwa pemda DKI Jakarta bertanggung jawab untuk merawatnya. Berapa sih bantuan dari pemda DKI Jakarta?. Sumatera Ekspres (http://www.sumeks.co.id/) edisi 31 Maret 2011 memberitakan sebagai berikut : “Pada 2003, pemprov menyubsidi hingga Rp. 500 juta. Namun, sejak Fauzi Bowo (Foke) menjadi gubernur DKI pada 2007, tiba-tiba dana disunat separo tanpa alasan yang jelas. Ajip meminta bertemu Foke, tapi tak pernah diterima. Tak lama kemudian, dana tersebut sempat ditambah Rp100 juta menjadi Rp350 juta. Tapi, kebiasaan menyunat dana subsidi itu kumat pada 2009. Subsidi kembali dikorting 50 persen menjadi Rp. 275 juta.”

Bandingkan dengan bantuan dana yang diterima oleh PSSI. Berita yang saya kutip dari situs http://www.gelorabungkarno.co.id/ pada tanggal 31 Maret 2011 menyebutkan “Anggota Komisi X DPR, Angelina Sondakh memastikan bila proyeksi anggaran yang diajukan PSSI sebesar Rp 100 miliar (untuk 2010 dan 2011) tak semuanya turun. Saat ajang AFF 2010 lalu, timnas sudah mendapat cairan dana sebesar Rp 20 miliar. Sisa Rp 80 miliar yang tersedia, akhirnya hanya diijinkan Rp 50 miliar saja yang digunakan.” PSSI masih memiliki sumber pembiayaan lain, antara lain subsidi dari FIFA per tahun mencapai Rp. 2,05 milyar, dan pendaftaran pemain asing yang bermain di Liga Super Indonesia, sponsor, dan denda pelanggaran indisipliner.

Khusus timnas sepakbola yang dalam sejarahnya belum pernah menyumbangkan medali emas di tingkat Asian Games, menurut pernyataan Menpora Andi Malarangeng (www.detiknews.com, 8 Januari 2011) mendapatkan suntikan dana sejumlah Rp. 20 milyar. Silakan bandingkan sendiri perlakuan kepada “anak tiri” olahraga dayung yang pada kesempatan Asian Games 2010 berhasil mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia melalui tiga medali emas.

Kalau terhadap cabang olahraga yang nyata-nyata telah mampu mengharumkan kehormatan bangsa dan negara saja masih kurang diperhatikan dibandingkan dengan sepakbola yang jelas-jelas memble, barangkali “wajar” kalau perlakuan kepada dunia sastra sangat minim. Lagi-lagi, itu mungkin “wajar” terjadi di Indonesia.

Kota Berlin memiliki lebih dari 2 museum holocaust, dua diantaranya saya pernah kunjungi. Salut kepada bangsa dan negara Jerman yang tidak malu-malu “membeberkan” aib sejarah kelam mereka tidak saja kepada anak-anak dan cucu mereka, melainkan juga kepada manusia dari negara-negara lain. Kelengkapan dokumentasi tentang kekejaman bangsa Jerman terhadap Yahudi patut diacungi jempol. Kesabaran, ketekunan, dan ketelitian orang-orang Jerman mendokumentasikan sejarah dalam format teks, gambar, dan audiovisual dapat menjadi benchmark bagi kita.

Di Indonesia, dokumen asli dan  penting seperti Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966 pun tidak jelas keberadaannya. Nasib penulisan sejarah juga setali tiga uang, masyarakat dibuat bingung mana yang sejatinya “history” dan mana yang tidak lebih dari  “his story”.

Di Indonesia, sastra dan budaya memang cenderung mendapat perlakuan seperti layaknya “anak tiri”. Meskipun tidak pernah dikatakan secara terang-terangan, jurusan bahasa di sekolah lanjutan tingkat atas adalah tempat “murid-murid buangan”, artinya mereka dianggap kurang cerdas dibandingkan dengan anak-anak “pintar” yang mempelajari ilmu-ilmu eksakta. Kalaupun sastra dan budaya digadang-gadang sebagai kekayaan bangsa dan negara, niatnya tidak jauh dari sekedar menghasilkan devisa.

Justru bangsa lain seperti Jepang lebih mampu dan mau menghargai sastra dan budaya karya anak bangsa. Bengawan Solo karya Gesang sangat diagung-agungkan di Jepang dan untuk dapat membawakan lagu ini di Jepang lisensinya lumayan mahal. Kitaro yang pernah membawakan Bengawan Solo dalam salah satu konsernya di Jepang diharapkan juga membawakan lagu ini dalam konsernya di Jakarta pada tanggal 7 April 2011. Mengingat bahwa fee yang harus dibayar untuk membawakan lagu Bengawan Solo relatif mahal, permintaan yang sudah disampaikan kepada Kitaro itu boleh jadi akan menjadi sekedar harapan.

Kalapun kemudian ada penghargaan dari bangsa dan negara Indonesia, selalu penghargaan dari bangsa dan negara lain lebih cepat. Ajip Rosidi yang “hanya” tamat SMP dan yakin dengan “gaya hidup tanpa ijazah” justru menjadi visiting professor di tiga universitas di Jepang, yaitu  Osaka Gaikokugo Daigaku di Osaka, Jepang, Gurubesar Luar Biasa pada tahun 1983-1994 di Tenri Daigaku di Tenri, Nara, dan  Tahun 1983-1996 menjadi Gurubesar Luar Biasa pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto. Ajip yang pernah tinggal di Jepang lebih dari 20 tahun mengatakan bahwa di Jepang “sastra tidak hanya menjadi bahan konsumsi para sastrawan dan budayawan, tetapi juga telah menjadi bahan bacaan para dokter atau arsitek.” (http://gudang-biografi. blogspot.com/2010/01/biografi-ajip-rosidi.html, 1 April 2011).

Syukur alhamdulillah beberapa anak muda melalui media sosial “miniblog” twitter dan facebook memiliki kepedulian besar terhadap keberadaan PDSJ. Mereka tidak hanya aktif mengkoordinir penggalangan dana, melainkan juga memiliki action plan konkrit untuk digitalisasi dokumen sastra. Mungkin program digitalisasi dokumen sastra ini bisa menggugah pengelola pusat arsip dan perpustakaan (nasional dan daerah) sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan dokumen-dokumen berharga yang merepresentasikan peradaban bangsa dan negara. Mudah-mudahan, gerakan anak-anak bangsa yang saya sebut sebagai “Gerakan Air Susu Untuk Paus Sastra” ini berhasil. Amien.

Bumi Serpong Damai, 2 April 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 2, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: