RSS

The Fantastic Four

07 Apr

Sejak menginjakkan kaki di Highbury Stadium, Inggris (stadion klub sepakbola Arsenal sebelum kemudian Arsenal membangun stadion baru Emirate) 15 tahun yang lalu, pelatih Arsene Wenger mengeluarkan “fatwa” yang membuat geger para pesepakbola profesional : “hukum makan coklat bagi pesebakbola di klub Arsenal adalah haram”. Meski diolok-olok oleh para pesepakbola, Wenger tetap bergeming pada “fatwa” yang telah diputuskannya.

Itulah sebabnya mengapa pesepakbola yang main di klub Arsenal sebagian besar memiliki postur tubuh bagaikan seorang peragawati : kutilangdarat (kurus, tinggi langsing, dada rata). Kaki pemain Arsenal pun lebih menyerupai “kaki bangau” daripada, maaf,  “kaki tukang becak”. Semua memang ada aturannya. Tampaknya, hal-hal yang “remeh-temeh” juga perlu diatur, apalagi kalau hal itu memiliki efek samping yang penting terhadap kebugaran dan stamina olahragawan. Bukankah hukum dan penegakan hukum merupakan pertanda dari peradaban suatu bangsa?

Dalam setiap kelompok sosial akan selalu ada “the fantastic four” yang menjadikan suatu kelompok sosial menjadi wadah yang kondusif bagi para anggotanya untuk eksis dan berinteraksi sosial. Keempat faktor tersebut adalah struktur, status, peranan, dan norma. Setiap bentuk kelompok sosial dan bahkan keluarga sebagai bentuk kelompok sosial terkecil juga memiliki keempat faktor tersebut.

Dalam kelompok sosial yang berbeda nama dari keempat faktor tersebut bisa saja berbeda-beda, tetapi substansinya tetap sama. Dalam masyarakat disebut struktur sosial (social structure), status sosial (social status), peran sosial (social roles), dan norma sosial (social norms). Dalam organisasi, nama dari masing-masing adalah struktur organisasi (organisation structure), jabatan, uraian jabatan (job description) dan berbagai bentuk peraturan yang berlaku di organisasi, antra lain Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Peraturan Perusahaan, Kebijakan Direksi, dan lain sebagainya.

Keberadaan struktur, status, peran, dan norma selalu dibutuhkan oleh setiap kelompok sosial agar dapat berfungsi baik dan proses hubungan antarmanusia dalam kelompok sosial berlangsung harmonis dan tertib. Keempat faktor tersebut sangat penting agar setiap bentuk kelompok sosial dapat menjalankan misi, mencapai visi dan sasaran-sasaran jangka pendek.

Struktur merupakan bentuk visual dari bagian-bagian dalam suatu kelompok sosial, hubungan antar bagian. Dari struktur dapat diketahui prinsip pembagian kerja (division of labor) dalam suatu organisasi dan pengelompokannya. Masing-masing bagian memiliki tugas pokok dan fungsi (baca : kontribusi) berbeda untuk mendukung pencapaian sasaran organisasi. Departemen Sumber Daya Manusia misalnya, memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mewujudkan kesiapan SDM organisasi. Sedangkan Departemen Pengadan bertanggung jawab atas pengadaan barang dan jasa  dalam jumlah, mutu, harga dan waktu yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan organisasi.

Status sosial atau jabatan-jabatan dalam organisasi menunjukkan pembagian kerja yang lebih rinci dari bagian-bagian dalam organisasi. Setiap jabatan memiliki tugas pokok dan fungsi berbeda-beda untuk menghasilkan barang dan jasa. Setiap jabatan akan memiliki persyaratan jabatan (job specification / job requirement) dan persyaratan orang (person specification).  Pada masing-masing jabatan akan ditempatkan personil yang memiliki kualifikasi KSA (knowledge, skills, attitude), pengalaman dan keahlian yang sesuai dengan job specification dan person specification.

Peran sosial dalam suatu organisasi adalah uraian pekerjaan (job description) yang berisi tentang tugas-tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan oleh para pemangku jabatan. Setiap orang dalam organisasi memiliki tugas-tugas dan pekerjaan yang jelas dan juga hasil pekerjaan yang diharapkan. Setiap orang harus melaksanakan tugas-tugasnya dan memberikan kontribusi yang diharapkan sehingga organisasi dapat mencapai sasaran jangka panjang maupun mewujudkan visi dalam jangka panjang.

Norma sosial dalam suatu organisasi merupakan pedoman dan standar tentang apa yang benar dan salah, apa yang baik dan tidak baik, apa yang indah dan tidak indah, dan juga apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Bentuk-bentuk norma sosial dalam suatu organisasi sangat beragam. Fungsi utama dari norma sosial adalah memastikan bahwa semua harus diatur, semua harus teratur, dan semua harus bersedia diatur. Norma sosial juga dapat berfungsi sebagai pedoman untuk menyelesaikan konflik yang mungkin terjadi dalam hubungan antarmanusia dalam organisasi dan dalam proses kerjasama untuk mencapai sasaran dan visi organisasi.

Sesungguhnya, jika setiap anggota organisasi memahami struktur organisasi, kedudukan / jabatan masing-masing, uraian pekerjaan (tugas-tugas, tanggung jawab, dan kontribusi) yang diharapkan, dan aturan-aturan yang mengatur hubungan antarmanusia dan proses kerja sama dalam organisasi, keharmonisan hubungan antarmanusia dan proses kerjasama antarmanusia dan antarbagian dalam organisasi bukan hal yang sulit diwujudkan.

Dengan memahami struktur, jabatan, peran, dan norma, setiap angggota organisasi mampu berperan aktif untuk mewujudkan organisasi yang tertib. Kepastian tercapainya tertib organisasi sudah dapat diketahui dari kemampuan setiap anggota organisasi memahami, memiliki komitmen, dan konsisten melaksanakan struktur, jabatan, peran dan norma-norma yang telah ditetapkan.

Contoh paling mudah adalah keluarga. Dalam sebuah keluarga, hampir tidak pernah secara formal dan sengaja membahas tentang struktur, status, peran, dan norma. Setiap anggota keluarga telah mengetahui struktur keluarga dan kedudukan sosial masing-masing yang terdiri dari ayah sebagai kepala keluarga, ibu sebagai wakil dari kepala keluarga, dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Demikian juga setiap anggota keluarga juga secara alamiah telah mengetahui peran sosial yang menjadi tanggung jawab masing-masing, misalnya ayah sebagai kepala keluarga mempunyai tugas mencari nafkah dan sebagai penanggung jawab utama tercukupinya kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga (kadang-kadang ibu juga sukarela dan “terpaksa” membantu kepala keluarga untuk mencukupi pendapatan keluarga). Ayah dan ibu juga “otomatis” mengetahui tugas dan tanggung jawab mereka untuk melindungi, melayani, dan mendidik anak-anak mereka. Norma-norma umum dalam keluarga juga tidak pernah dibahas secara khusus tetapi rasa aman, terlindungi, harmonis tetap terjaga. Adalah tidak sepatutnya terjadi “pagar makan tanaman”, sebab jika hal itu sampai terjadi, rasa aman dan terlindungi anak-anak menjadi hilang.

Jadi, pemahaman tentang struktur, status, peran, dan terutama norma adalah mutlak dalam hubungan antarmanusia dan proses kerjasama dalam kelompok sosial apapun. Jika salah satu dari keempat faktor tersebut tidak dipahami, tidak ada komitmen dan tidak konsisten untuk melaksanakannya, maka hubungan antarmanusia dan proses kerjasama antarmanusia dan antarbagian dalam organisasi akan terpengaruh.

Selama tinggal hampir 1 tahun di Jerman, saya tidak pernah mengamati secara khusus norma-norma sosial dan sistem sosial budaya masyarakat Jerman. Tetapi “hanya” dengan mengamati perilaku orang Jerman sehari-hari, saya (dan bahkan setiap orang) dapat mengetahui aturan umum yang berlaku bagi pejalan kaki. Peraturan lalu lintas di Jerman adalah kendaraan (sepeda, motor, mobil) berada di sebelah kanan. Sepengetahuan saya, tidak ada peraturan bahwa pejalan kaki juga harus berjalan di sebelak kanan. Faktanya, setiap pejalan kaki pada saat berjalan di jalan umum, melewati tangga, masuk dan keluar lift, masuk dan keluar dari bis umum, selalu mengambil posisi kanan. Mereka yang berjalan lambat berada di sebelah kanan, dan mereka yang berjalan cepat dan  akan “overtaking” mengambil posisi sebelah kiri.

Secara umum,  orang Jerman memahami aturan berjalan kaki di sebelah kanan, memiliki komitmen dan konsisten melaksanakan aturan tidak tertulis tersebut. Masalah timbul kemudian ketika orang-orang dari benua Asia dan Afrika yang tidak memahami aturan tidak tertulis tersebut dan menganggapnya sebagai aturan aneh dan “gila”. Itulah sebabnya, mengapa sesama orang Jerman jarang sekali terjadi “tabrakan fisik” antarmanusia. Proses ke luar masuk kendaraan umum, lift, naik dan turun tangga, berlangsung relatif cepat.

Kondisi yang ideal memang tidak selalu mudah diwujudkan. Adalah “umum” dan “lumrah” suatu kelompok sosial memiliki struktur, status, peran dan norma yang tidak ideal. Toh kelompok sosial tersebut tetap eksis dan bertahan. Memang, dalam kelompok sosial tertentu, pengabaian terhadap struktur, status, peran, dan norma belum tentu membawa petaka dan menghancurkan kelompok sosial. Tetapi dalam organisasi militer yang bertanggung jawab terhadap kedaulatan dan kehormatan bangsa dan negara,  pengabaian terhadap struktur, status, peran, dan norma adalah “dosa besar” dan terlalu berisiko. Tanpa memahami, memiliki komitmen, dan konsisten melaksanakan struktur, status, peran dan norma-norma, tidak mungkin organisasi militer akan mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya menjaga kedaulatan dan kehormatan bangsa dan negara.

Bagi saya pribadi, dari keempat faktor tersebut, satu-satunya yang tidak mudah untuk dikompromikan adalah norma. Struktur, status dan peran boleh amburadul, tetapi norma harus pasti dan semua anggota organisasi memahami, memiliki komitmen dan konsisten melaksanakan norma-norma organisasi. Bayangkan dalam satu keluarga jika tidak ada pemahaman, komitmen dan konsistensi melaksanakan norma-norma yang berlaku umum. Jika itu yang terjadi, tidak aneh kalau kemudian terjadi “pagar makan tanamam”.

Dalam kehidupan bermasyarakat, norma-norma inilah yang seringkali tidak dihormati dan tidak dilaksanakan. Indikasinya adalah ketidakmampuan memahami traffic light. Warna merah yang berarti berhenti, warna kuning berhati-hati, dan warna hijau berarti boleh jalan, adalah warna-warna yang berlaku universal untuk di jalan raya. Faktanya, warna-warna itu dipahami berbeda oleh sebagian tertentu anggota masyarakat. Sebagian anggota masyarakat juga sudah tidak tahu lagi mana sebelah kiri dan mana sebelah kanan.

Bangsa yang besar tidak hanya diukur dari kemampuan menghormati pahlawan. Tidak ada bangsa dan negara besar dan maju yang tidak mempunyai hukum. Tidak ada bangsa dan negara yang besar yang tidak melaksanakan penegakan hukum. Tidak ada bangsa dan negara besar yang tidak memperlakukan semua warga negara sama di muka hukum. Garuda memang sudah di dada, tetapi sejatinya kita tidak atau belum memiliki persyaratan untuk menjadi bangsa dan negara besar

Bumi Serpong Damai 15 Maret 2011

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: