RSS

Bukan Sekedar Ulat Bulu

15 Apr

Selamat datang ulat bulu. Terima kasih atas kehadiran kalian di muka bumi, khususnya di bumi pertiwi. Kehadiran kalian sungguh kami tunggu-tunggu karena kalian adalah salah satu makhluk yang membawa tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi mereka yang berpikir. Kalian juga telah, sedang, dan akan mengajarkan apa makna kehadiran kalian.

Ternyata memang tidak ada satu pun ciptaan Allah SWT di muka bumi ini yang sia-sia. Paling tidak hal ini dibuktikan dengan invasi ulat bulu yang menyerbu di beberapa kota di pulau Jawa. Para ahli serangga memahami kehadiran ulat bulu sebagai indikator perubahan iklim. Salah satunya seperti yang saya kutip dari harian Kompas, 14 April 2011 sebagai berikut :

“Peningkatan populasi ulat bulu yang sangat tinggi belakangan ini diduga turut disebabkan perubahan ekosistem secara global. Salah satu indikasinya, peningkatan tersebut merata di sejumlah daerah di Indonesia.

Hal ini dikemukakan oleh Prof Dr Deciyanto Soetopo, Peneliti Utama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan), di lokasi habitat ular bulu, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (13/4/2011).

“Secara global, ada gejala yang sama. Dari lingkungan biotik maupun abiotik, faktor penghambat atau penekan perkembangan ulat bulu semakin berkurang. Faktor biotik, misalnya, predator ulat bulu semakin langka. Sementara faktor abiotiknya, curah hujan yang tinggi sepanjang tahun lalu justru mengakibatkan predatornya berkurang,” papar Deciyanto.

Ia mencontohkan, di lokasi habitat ulat bulu di Tanjung Duren, Jakarta Barat, hampir tidak ditemukan spesies pemangsa ulat bulu, seperti burung, sejenis serangga seperti capung, dan semut. Parasitoid atau mikroorganisme parasit yang hidup di telur ataupun di tubuh ulat bulu pun belum terlihat.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan adanya gangguan ekosistem, yakni hilangnya keseimbangan alami dalam lingkungan hidup.

Perubahan iklim juga dipandang sebagai salah satu pemicu pertumbuhan drastis ulat bulu. Curah hujan yang terlampau tinggi, misalnya, tidak terlalu berpengaruh terhadap ulat bulu, tetapi hal itu justru menjadi faktor penghambat perkembangan spesies pemangsanya.

Dengan adanya indikasi yang sama di berbagai daerah yang dilanda peningkatan populasi ulat bulu, Deciyanto menyimpulkan telah terjadi perubahan ekosistem secara global. “Gejala-gejala ini kan terlihat di mana-mana, termasuk di sini. Faktor penghambat populasi ulat bulu sudah semakin langka. Kita bisa berasumsi ada perubahan ekosistem secara global, baik lingkungan biotik (bernyawa) maupun abiotik (tak bernyawa),” jelas Deciyanto.”

***

Fenomena alam berupa wabah ulat bulu di beberapa daerah di pulau Jawa dapat dianggap sebagai persoalan biasa atau sebagai persoalan serius. Pada akhirnya, peristiwa apapun yang terjadi di dunia ini akan menjadi pelajaran yang berharga atau tidak, sangat tergantung dari persepsi manusia dan makna yang diberikan manusia kepada berbagai peristiwa itu sendiri.

Dalam rubrik going green di blog saya ada artikel tentang kodok yang saya unduh dari salah satu website. Ternyata hanya 1 pengunjung yang membaca “Why Frog Master”. Padahal, kodok adalah hewan yang menjadi indikator tentang perubahan iklim. Sebagaimana ditulis di Kompas, 18 Desember 2008kodok merupakan hewan yang sangat terikat pada habitatnya. Kodok juga sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Kepekaan ini dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya perubahan lingkungan di sekitarnya. Dampak perubahan lingkungan terlihat pada turunnya populasi yang disertai turunnya keanekaragaman jenis kodok.”

Dalam komunikasi, manusia dapat  menyampaikan pesan dalam berbagai bentuk, antara lain melalui bahasa dan simbol. Boleh-boleh saja kalau Allah SWT menyampaikan pesan melalui ciptaanNya di alam raya, entah itu  hewan, tumbuh-tumbuhan, atau bahkan manusia. Hewan seringkali memberikan petunjuk tentang alam atau lingkungan hidup dan perubahan-perubahannya yang telah, sedang dan akan terjadi. Mungkin banyak orang yang tidak atau kurang memperhatikan hubungan perilaku hewan dengan kejadian-kejadian di alam raya.

Mungkin sudah banyak yang melupakan berita di harian Kompas tentang tsunami di Aceh 2004 yang lalu. Saat itu ada 1 batalyon TNI AD yang telah selesai bertugas di Aceh dan akan kembali ke Jawa dengan menggunakan kapal laut. Pada saat menuju ke pelabuhan atau pantai, sang komandan batalyon melihat segerombolan burung yang terbang dari arah laut menuju darat. Melihat kejadian tersebut sebagai kejadian yang aneh, sang komandan memerintahkan pasukannya kembali ke darat. Alhamdulillah, berkat pengetahuannya tentang fenomena alam, analisis yang cepat dan tepat, ia berhasil mengambil keputusan yang tepat pada saat yang tepat sehingga banyak nyawa manusia yang terselamatkan.

Tentu saja kebesaran dan perlindungan Allah SWT yang menentukan hidup dan mati manusia. Tetapi sungguh sangat naif memahami kejadian yang dialami batalyon TNI AD itu semata-mata karena Allah SWT masih melindungi umatNya. Para filsuf sepakat bahwa perbedaan antara manusia dan hewan adalah dalam hal otak sehingga manusia mampu berpikir dan sedangkan hewan hanya mampu menggunakan instingnya. Kemampuan berpikir dan memberikan makna terhadap suatu kejadian menjadi “keunggulan kompetitif” manusia terhadap hewan. Tetapi, ada kalanya manusia tidak terampil memanfaatkan keunggulan kompetitifnya dibandingkan hewan sehingga seolah-olah yang terjadi adalah insting lebih baik daripada berpikir.

Itulah sebabnya, mengapa pada saat tsunami Aceh tahun 2004, terlalu banyak korban manusia dibandingkan hewan. Moeller dan Bradi menjelaskan fenomena ini sebagai berikut :

“When the devastating tsunami struck Indonesia in 2004, two groups emerged relatively unscathed: they were indigenous tribal people and animals. They survived because they had instinctively moved to the safety of higher ground. They detected even the weakest signals because their senses were so acute and active. Because they recognized an existential environmental threat and also had a healthy respect for what the environment can do, their antennae were permanently up. They understood that if they ignored the environment, it could do them serious harm. Corporations that ignore the balance between internal and external demands are almost certainly doomed to the equivalent of business tsunamis.”

Moeller dan Bradi memang tidak sedang membual.  Kompas juga pernah menulis ada masyarakat di Aceh yang selamat karena mereka mewarisi puisi atau karya sastra  dari nenek moyang mereka. Puisi tersebut menceritakan tentang kejadian-kejadian alam yang berkaitan dengan tsunami. Ketika kemudian ada kejadian-kejadian alam yang “match” dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam puisi, mereka pun bersiap-siap menyelamatkan diri.  Meskipun ada tetap ada korban, tetapi penduduk di wilayah tersebut yang menjadi korban tsunami relatif sedikit.

Sejatinya, Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa tidak ada yang sia-sia dalam penciptaanNya dan  segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini ada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT bagi orang yang berpikir. Dalam Surat Al-Imran ayat 190 Allah SWT berfirman sebagai berikut :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”  (http://www.alquran-indonesia.com/ diunduh pada tanggal 15 April 2011)

Mengapa manusia cenderung terlambat memahami segala sesuatu yang terjadi? Masalah yang dihadapi manusia bukan pada tidak adanya tanda-tanda yang menginformasikan tentang suatu peristiwa telah, sedang dan akan terjadi.  Masalahnya juga bukan pada keterbatasan teknologi canggih untuk memahami tanda-tanda. Masalahnya juga bukan pada kekurangan jumlah ahli yang mampu memahami berbagai peristiwa alam.

Orang-orang Jepang karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah mereka capai memang mampu mempersiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi tsunami. Tetapi tanpa harus menunggu menjadi masyarakat yang maju dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, siapapun yang mampu membaca dan memberikan makna terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah SWT tetap memiliki kesempatan untuk memberikan reaksi yang tepat terhadap suatu peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Moeller dan Bradi (2008) menulis sebagai berikut Intelligence failures generally occur despite the wealth of information available, because of a lack of suitable analysis for decision makers to draw upon”. Pada bagian lain dari buku mereka, Moeller dan Bradi (2008) menjelaskan bahwa, “most of the companies’ external sensory functions were either not working or not registering at the policy level. According to two Wharton professors, the President and CEO was not a “vigilant leader” but rather an operational leader (more controlling, focused on efficiency and cost cutting and doesn’t explore outside potential).” (Moeller & Bradi, 2008).

Sejatinya, masalah utama adalah pada sikap mental manusia. Allah SWT sudah memberikan kemampuan berpikir dan selalu mengingatkan manusia untuk selalu berpikir. Tetapi sikap mental manusia lah yang menjadikan kemampuan dan kemauan untuk berpikir menjadi terbatas. Bandwidth, antena dan sensor sudah built in atau in place dalam diri manusia,  tetapi manusia lah yang tidak mampu dan tidak mau bersyukur menggunakan semua itu sesuai dengan peruntukannya.

Bumi Serpong Damai, 15 April 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: