RSS

Citizen Journalism

15 Apr

Pesan yang disampaikan dalam bentuk suara dan gambar (atau kombinasi keduanya) akan relatif mudah diterima daripada pesan yang disampaikan dalam bentuk teks.  Itulah sebabnya, mengapa orang lebih mudah dan suka menonton film daripada membaca buku. Mungkin itu juga sebabnya, mengapa orang lebih suka dan ketagihan nonton blue film daripada membaca buku Kamasutra yang tebal, apalagi kalau dalam bahasa Inggris dan gambarnya sedikit.

Membaca dan memahami pesan yang disampaikan dalam bentuk teks (buku, surat kabar, majalah, journal) membutuhkan usaha relatif lebih berat dibandingkan dengan melihat dan memahami pesan yang disampaikan dalam bentuk suara, gambar (atau kombinasi dari keduanya), misalnya lagu, film, foto, lukisan dan lain sebagainya. Mestinya kecenderungan umum seperti itu, meskipun belum tentu mudah memahami lukisan aliran “abstrak” dan film-film “serius” yang ceritanya “njelimet” dan sampai selesai juga tidak bisa dimengerti.

Saya menduga, bahwa setelah saya “go public” di youtube, videoclip saya akan lebih banyak dilihat orang daripada tulisan-tulisan saya yang saya posting di blog wordpress. Dugaan saya salah, justru blog wordpress saya lebih banyak dikunjungi dan pengunjung mau bersusah payah membaca beberapa artikel. Dalam kurun waktu yang sama, account youtube saya hanya dikunjungi 230 orang, sementara blog per tanggal 14 April  2011 telah dikunjungi 526 orang.

Saya tidak mengerti bagaimana menjelaskan bagaimana pesan yang disampaikan dalam bentuk teks jauh lebih menarik dibandingkan pesan yang disampaikan dalam bentuk suara dan gambar (atau kombinasi keduanya). Memang perbandingan apel to apel secara sempurna tidak dapat dilakukan. Di account youtube, meskipun pengunjung masuk ke channel saya, pengunjung yang tidak familiar dengan fasilitas youtube dapat segera menemukan seluruh videoclip saya.  Ibaratnya kalau masuk ke youtube pengunjung masih berada di samudera. Sementara di blog, begitu masuk ke account saya, pengunjung benar-benar berada di “rumah” saya dan bisa melihat semua konten dengan mudah. Keterbatasan bandwith juga mungkin jadi penyebab lainnya. Tapi, ya sudahlah.

Mengapa menulis di Blog?

Saya tidak ingin menyembunyikan alasan utama saya  menulis adalah mencari uang tambahan. Pertama kali menulis puluhan tahun yang lalu tulisan saya langsung dimuat di majalah Gadis. Setelah itu saya menulis dan mengirimkannya ke berbagai media, tetapi satupun tidak pernah lagi dimuat. Kebiasaan menulis saya tetap berjalan, meskipun tidak pernah saya kirimkan lagi ke berbagai media cetak.

Desember 2010 yang lalu saya mengikuti seminar sehari tentang penulisan komersial untuk konsumsi media cetak. Sebenarnya seminar itu tidak terlalu sesuai dengan kebutuhan saya yang lebih tertarik menulis buku. Tetapi dari seminar sehari tersebut saya mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menulis yang baik. Saran dari Toriq Hadad yang menjadi pembicara tunggal dalam seminar itu adalah agar saya menulis di blog.

Saya pikir ada yang lebih penting daripada sekedar uang. Kebutuhan untuk mengekspresikan gagasan jauh lebih penting dan mampu memberikan kepuasan tersendiri daripada sekedar uang.  Menurut  saya blog adalah media yang relatif sesuai dengan karakter saya yang tidak begitu suka tampil di muka publik untuk menyampaikan gagasan. Menulis di blog juga melatih saya berpikir terstruktur dan mencari cara-cara yang termudah agar banyak orang yang mampu memahami gagasan dalam tulisan saya.

Dalam waktu kurang lebih 1 bulan, blog saya telah dikunjungi oleh 370 pengunjung yang bersedia meluangkan waktu dan susah payah membaca tulisan saya. Sungguh tidak pernah terbayangkan orang bersedia meluangkan waktu dan bersusah payah membaca tulisan saya, justru pengunjung membaca pada hari libur (Sabtu dan Minggu).  Logika sederhananya, lha wong Al-Qur’an (apalagi hadits) saja belum tentu setiap hari, atau bahkan seminggu sekali, orang mau membacanya. Apalagi tulisan saya yang tidak dapat dibandingkan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Sesungguhnya uang adalah efek samping saja. Jika memang tulisan saya baik dan layak dimuat di media cetak, uang akan mendatangi saya. Jadi, uang tidak perlu dicari. Menurut saya, proses yang tepat adalah menulis yang baik atau bermutu. Kalau nanti ada tulisan bagus dan ada media cetak yang bersedia memuatnya, anggap saja sebagai bonus.

Berbagi dan Berinteraksi.

Saat ini kita hidup di era yang disebut oleh sosiolog Spanyol Manuel Castells sebagai era “Galaxy Internet” dan oleh Bill Clinton (mantan Presiden Amerika Serikat) sebagai era “the internet superhighway”. Di era galaxy internet,  tidak ada lagi kendala jarak dan waktu bagi manusia dari berbagai belahan dunia manapun untuk terhubung, berinteraksi dan berbagi pada waktu yang sama. Di era galaxy internet juga terbuka berbagai kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, antara lain tentang citizen media dan citizen journalism.

Sebelumnya tidak pernah terbayangkan oleh saya, bahwa saya bisa memiliki personal blog yang memungkinkan saya menyampaikan gagasan saya kepada publik dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video. Saya juga tidak bisa membayangkan saya (dan tentu saja) bisa “mempopulerkan diri”  melalui social blog dengan cara sangat mudah dan biaya sangat murah. Era internet galaxy memberikan kemudahan yang luar biasa kepada setiap orang untuk bersuara dan berpendapat.  Di saat kita tidak dapat berharap banyak kepada para wakil rakyat untuk menyampaikan aspirasi rakyat, media social blog adalah salah satu alternatif solusi yang layak dipertimbangkan.

Social Blog.

Beberapa pembaca memuji tulisan saya dan menyarankan kepada saya agar memposting tulisan saya di Kompasiana.  Dasar pertimbangannya adalah di Kompasiana lebih banyak pembacanya dan karena itu tujuan untuk sharing dan mendiskusikan gagasan tertentu melalui dunia maya akan lebih banyak pesertanya. Saya pernah mendengar istilah kompasiana, yaitu kolom khusus yang dibuat oleh pendiri harian Kompas, P.K. Ojong. Kini, Kompasiana hadir dalam format social blog.

Tentang kompasiana yang saya kutip dari www.kompasiana.com adalah sebagai berikut : “Kompasiana adalah sebuah Media Warga (Citizen Media). Di sini, setiap orang dapat mewartakan peristiwa, menyampaikan pendapat dan gagasan serta menyalurkan aspirasi dalam bentuk tulisan, gambar ataupun rekaman audio dan video. Di Kompasiana, setiap orang didorong menjadi seorang pewarta warga yang, atas nama dirinya sendiri, melaporkan peristiwa yang dialami atau terjadi di sekitarnya. Tren Jurnalisme Warga (Citizen Journalism) seperti ini sudah mewabah di banyak negara maju sebagai konsekuensi dari lahirnya web 2.0 yang memungkinkan masyarakat pengguna internet (netizen) menempatkan dan menayangkan konten dalam bentuk teks, foto dan video.”

Citizen Journalism

Citizen journalism is the concept of members of the public “playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing and disseminating news and information.”  (www.en.wikipedia.org, 16 Maret 2011). Authors Bowman S. and Willis C. say: “The intent of this participation is to provide independent, reliable, accurate, wide-ranging and relevant information that a democracy requires.”

Citizen journalism should not be confused with community journalism or civic journalism, which are practiced by professional journalists, or collaborative journalism, which is practiced by professional and non-professional journalists working together. Citizen journalism is a specific form of citizen media as well as user generated content.

Menurut J.D. Lasica, personal blog termasuk dalam kategori citizen journalism, meskipun untuk blogger yang belum top, menyampaikan pesan melalui personal blog jauh lebih kurang efektif dibandingkan dengan blog yang dikelola oleh media cetak.

Ayo Mulai.

Salah seorang pembaca personal blog saya memberi semangat sebagai berikut :  “yang penting sudah mulai”, demikian pesannya. Beberapa orang tidak menulis di personal blog maupun social blog adalah lebih karena alasan “mengada-ada”, antara lain “tidak punya waktu”, “belum pe-de”, “nggak mahir menulis” dan lain sebagainya.

Mengharapkan kesempurnaan hanya sebuah lelucon. Bagaimanapun orang awam yang tidak berlatar belakang pendidikan jurnalistik / publikasi dan tidak pernah dididik seperti layaknya seorang korensponden, reporter, dan wartawan, tidak seharusnya berharap tulisannya akan bagus. Intinya bukan di bagus, tetapi berinteraksi dan  berbagi.  Syukur-syukur gagasan yang disampaikan melalui media personal blog maupun social blog dapat dipahami oleh para pengunjung blog.

Di personal blog dan social blog, tidak ada redaktur yang begitu “sakti” sebagaimana layaknya di media cetak. Tidak ada kendala seperti di media cetak. Jadi, keputusan untuk memulai adalah keputusan individual yang tidak dipengaruhi oleh siapapun.

Bumi Serpong Damai,  14 April 2011

 
Leave a comment

Posted by on April 15, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: