RSS

Esuk Tempe Sore Dele

16 Apr

Tidak terlalu sulit untuk mengetahui “bandwidth” seseorang. Para leluhur telah mewariskan segambreng peribahasa dan kata-kata bijak yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan. Dalam konteks “bandwidth” seseorang, kita bisa menggunakan peribahasa “tong kosong bunyinya nyaring” dan “air beriak tanda tak dalam”. Saya lebih suka menggunakan peribahasa dari Irlandia “everyone is wise until he speaks”. Apapun yang keluar dari mulut dapat mengindikasikan “bandwidth” dan seberapa bijak seseorang.

Esuk tempe sore dele. Inilah peribahasa yang paling sesuai untuk menggambarkan sikap dan perilaku seseorang yang tidak konsisten. Tempe adalah bahan makanan yang sudah siap untuk digoreng atau dibacem, sedangkan kedelai masih berupa bahan baku. Peribahasa ini menunjukkan bahwa orang yang tidak konsisten adalah orang yang membuat segala sesuatu sudah siap atau jadi dan tinggal dieksekusi menjadi mentah kembali dan mesti diulangi dari awal lagi.  Dalam hal ini sesungguhnya telah terjadi pemborosan sumberdaya, antara lain waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.

Jika dalam peribahasa esuk tempe sore dele dimensi waktu masih dalam hitungan hari, maka peribahasa orang Minang untuk mendeskripsikan orang yang tidak konsisten lebih heboh lagi, yakni  “ibarat baling-baling di atas bukit”. Sebagaimana baling-baling yang mudah berputar dan berganti arah tergantung dari angin, demikian juga seseorang yang tidak konsisten cenderung akan berubah-ubah sikap dan pendirian, suka-suka kapan saja  orang itu mau berubah. Bahkan perubahan orang yang tidak konsisten tidak lagi dihitung dalam hari, melainkan setiap saat.

Orang yang tidak konsisten memiliki sikap, perilaku dan karakter yang bertolak belakang dibandingkan dengan  orang yang keras kepala. Memang, berhubungan dengan orang yang tidak konsisten dan orang yang keras kepala sama-sama menyebalkan. Tetapi orang yang keras kepala cenderung konsisten, bahkan tidak mau mengubah pendiriannya, sekalipun pendiriannya sangat tidak masuk akal dan mengada-ada. Meskipun demikian, orang yang keras kepala, karena sikap dan perilakunya yang konsisten, otak dan kepentingannya masih bisa “dibaca”.

Daniel Pasarela adalah mantan kapten timnas Argentina yang berhasil membawa Argentina memboyong juara dunia sepak bola untuk pertama kalinya pada tahun 1978. Ketika menjadi pelatih timnas Argentina, Pasarela dikenal sebagai orang yang sangat keras kepala, suka mengada-ada, dan punya segudang alasan yang tidak masuk akal. Misalnya ia mengeluarkan aturan bahwa siapapun yang terpilih masuk timnas di bawah kepemimpinannya, tidak boleh berambut gondrong. Orang bodoh pun tahu bahwa tidak ada hubungan antara rambut gondrong dengan kompetensi dan kinerja pesepakbola. Salah satu korban dari sikap, perilaku dan karakter keras kepala Pasarela adalah seorang gelandang serang Fernando Redondo yang juga memilih bersikap “keras kepala” tidak mau mencukur rambutnya yang gondrong.

Sebaliknya, orang yang tidak konsisten dapat memiliki pendirian yang berubah-rubah dalam hitungan hari, bahkan setiap saat. Orang yang tidak konsisten biasanya juga punya alasan segambreng untuk menjelaskan pendiriannya yang berubah-ubah. Ironisnya, meskipun orang tidak konsisten,  sebenarnya orang yang tidak konsisten cenderung memiliki sikap, perilaku dan karakter yang cenderung fleksibel dibandingkan dengan orang yang keras kepala, pendiriannya kadang-kadang juga tidak masuk akal dan mengada-ada. Tetapi karena sangat fleksibel orang yang tidak konsisten menjadi sulit “dibaca”. Ibaratnya, orang yang tidak konsisten itu seperti seorang sopir bajaj yang hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan akan belok.

Setiap manusia memiliki naluri untuk tidak konsisten. Hanya saja, dalam menerapkan konsistensi, manusia memiliki standar ganda. Orang lain harus konsisten, sementara dirinya sendiri “boleh-boleh” saja tidak konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa sikap, perilaku dan karakter tidak konsisten memang menyakitkan, tetapi orang lebih mudah menyakiti orang lain daripada dirinya yang disakiti oleh orang lain.

Siapa saja juga bisa menjadi manusia yang tidak konsisten. Meskipun demikian, secara umum, seorang atasan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memiliki sikap, perilaku dan karakter tidak konsisten dibandingkan bawahan. Artinya, semakin tinggi jabatan seseorang, kesempatan dan probabilitas untuk memiliki sikap, perilaku dan karakter untuk tidak konsisten. Bukankah power abuse hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya power dan itu berarti seorang atasan? Sedangkan bagi bawahan, sama saja dengan “membangunkan singa tidur” kalau sampai berani bersikap dan berperilaku tidak konsisten ketika menghadapi atasan.

Daripada mengeluh dan mengelus dada menghadapi atasan yang tidak konsisten, mungkin lebih baik berdo’a dan bersabar menghadapinya. Dalam suatu organisasi, memiliki hak bersuara dan memberikan pendapat seringkali merupakan kemewahan. Tetapi tentu saja tidak perlu bersedih hati jika tidak atau belum bisa mendapatkan keistimewaan seperti punokawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong) yang diberikan kekuasaan dan kebebasan memberikan masukan kepada ndhoro mereka, mengingatkan jika ada sikap dan perilaku ndhoro mereka yang kurang tepat.

Tetapi mengapa seseorang tidak konsisten? Tentu saja ada beberapa sebab, versi saya adalah sebagai berikut :

 

Kebutuhan vs. Keinginan

Anak kecil cenderung tidak konsisten, tetapi bukan disebabkan oleh karakter. Anak kecil tidak konsisten karena belum mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Sikap dan perilaku anak kecil cenderung didominasi oleh keinginan. Jika seorang anak kecil menghendaki sesuatu barang, belum tentu mereka membutuhkannya. Tidak jarang ketika barang yang diminta sudah disediakan, seorang anak kecil sudah mempunyai keinginan yang lain lagi.

Seorang “dewasa” yang tidak mampu membedakan kebutuhan dan keinginan akan cenderung terjebak pada sikap dan perilaku tidak konsisten. Kebutuhan adalah sesuatu yang mendesak dan karena itu harus diprioritaskan. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang tidak mendesak dan karena itu tidak harus diprioritaskan.

Kepentingan sesaat.

Prof. Soedjito, seorang sosiolog, pernah mengatakan bahwa “sikap adalah fungsi dari kepentingan”. Jika ingin mengetahui sikap dan perilaku seseorang, maka ketahuilah kepentingan orang tersebut. Jika kepentingan berubah, maka sikap dan perilaku juga akan berubah. Tidak terlalu sulit untuk “mengamini” dalil ini. Bukankan di dunia politik ada dalil “tidak ada musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”. Hari ini lawan, besok sudah menjadi kawan. Atau, hari ini kawan, besok sudah menjadi lawan.

Orang yang tidak konsisten ibarat baling-baling di atas bukit. Semakin kencang angin, semakin kencang pula putaran baling-baling. Jika arah angin berbalik arah, demikian juga arah putaran baling-baling akan mengikuti perubahan arah angin. Itulah sebabnya orang yang tidak konsisten susah “dipegang” dan hampir-hampir mustahil ditebak sikap dan perilakunya. Semua tergantung dari kepentingannya. Dalamnya laut dapat diketahui, tapi siapa dapat mengetahui secara pasti kepentingan seseorang dan perubahan-perubahannya?.

Kehilangan Popularitas.

Orang yang konsisten cenderung memiliki banyak “musuh”. Pada dasarnya manusia lebih suka dengan konsistensi. Meskipun demikian, sikap dan perilaku yang konsisten kadang-kadang menyakitkan pihak lain, terutama jika orang lain tersebut sudah memiliki agenda kepentingan sendiri. Karena itu, dengan memiliki sikap dan perilaku konsisten akan mengundang orang lain membenci diri kita sendiri. Tidak setiap orang siap kehilangan. Bahkan ketika seseorang tidak memiliki konsekuensi ekonomis apapun jika bersikap konsisten, tetap saja tidak menjamin seseorang berani bersikap dan berperilaku konsisten.

Kebutuhan manusia memang tidak hanya kebutuhan ekonomis. Kebutuhan sosial seperti mendapat puji dan puja dari orang lain, pertimbangan harmoni, dlsb menjadikan orang sulit untuk bersikap tegas. Kebutuhan sosial dapat menjadikan orang yang sangat kuat pun tidak berdaya. Betapapun hebat kuasa dan kekayaan yang dimiliki, seorang gembong narkoba seperti Pablo Escobar adalah makhluk sosial juga yang tidak tahan kalau tercerabut dari lingkungan sosialnya, baik keluarga maupun lingkaran sosial terdekatnya.

“Resep” menghadapi orang yang tidak konsisten.

Sesungguhnya tidak ada resep (baca : strategi dan solusi) yang berlaku umum untuk menghadapi orang yang tidak konsisten. Setiap manusia adalah unik sehingga strategi dan solusi yang mempan untuk menghadapi seseorang mungkin tidak efektif untuk menghadapi orang lain. Untuk menghadapi orang tidak konsisten, siapapun tidak dapat konsisten hanya bergantung pada satu strategi dan solusi saja.

Pada dasarnya mengapa seseorang “berani” bersikap dan berperilaku tidak konsiten adalah karena orang yang bersangkutan merasa bargaining position dan bargaining powernya lebih baik dibandingkan orang lain. Mana ada orang yang memiliki bargaining position dan bargaining power lebih lemah berani menantang orang yang memiliki bargaining position dan bargaining power lebih kuat?  Sehebat-hebatnya dan se”galak-galak”nya seorang boss perusahaan, biasanya tidak lebih dari “jago kandang”. Walaupun berjanji akan sungguh-sungguh melaksanakan good corporate governance, kemungkinan juga tidak berkutik menghadapi seorang pejabat, apalagi kalau pejabat itu memiliki “bakat” dan “hobby” abuse of power dalam mengeluarkan perizinan yang menentukan “hidup-mati”nya sebuah perusahaan.

“Dunia ini panggung sandiwara”, demikian salah satu lirik lagu yang pernah dinyanyikan rocker Ahmad Albar. Barangkali, cara terbaik untuk menghadapi orang yang tidak konsisten adalah menganggap apa yang dilakukan oleh orang lain tidak lebih sekedar sandiwara. Persamaan matematisnya begini : orang yang konsisten adalah orang yang serius dan orang yang tidak konsisten adalah orang yang tidak mampu dan tidak mau serius. Jika kita terlalu serius menghadapi orang-orang yang punya “bakat” tidak konsisten juga tidak baik. Sebab manusia pada dasarnya mengharapkan orang lain untuk bersikap dan berperilaku konsisten, tetapi pada saat yang sama manusia tidak menyiapkan diri menghadapi situasi terburuk jika orang yang dihadapinya sedang bersandiwara (baca : tidak konsisten). Nah loooo!!!!

Bumi Serpong Damai, 16 April 2011

 
Leave a comment

Posted by on April 16, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: