RSS

People Behind The Stars

28 Apr

Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Tampaknya, peribahasa itu “tidak mempan” untuk Bill Clinton, mantan presiden AS. Ada dua “dosa besar” yang telah dilakukan oleh Clinton. Pertama, selama menjabat presiden AS, ia selingkuh dengan Monica Lewinsky. Kedua, ia berbohong telah selingkuh dengan Lewinsky (setelah tidak dapat mengelak dari bukti-bukti, kemudian ia mengakui perbuatannya dan kemudian meminta maaf).

Sekalipun sudah lancung, mujur bagi Clinton masih sempat menjadi presiden AS untuk kedua kali. Sekalipun sudah lancung, sungguh beruntung yayasan yang didirikan Clinton masih juga mendapat kepercayaan dari para donatur. Sekalipun sudah lancung, buku yang ditulis oleh Clinton masih laris manis. Mengapa begitu?

Peran people behind the stars tampaknya tidak dapat dipungkiri.  Banyak orang yang sukses dan populer karena peran people behind the stars. Banyak orang mengetahui kehebatan pebasket AS Michael Jordan dan tandemnya Magic Johnson, tetapi mungkin tidak banyak orang yang mengetahui siapa yang “membesarkan” kedua pebasket ini. Banyak orang mengetahui siapa van der Sar, tetapi siapa pelatih kiper yang mampu membuat van der Sar sebagai kiper hebat yang masih mampu bertahan sampai dengan umur 40 tahun di level yang sangat kompetitif?

Tulisan ini berusaha untuk menunjukkan bahwa ada orang-orang yang senang bekerja di belakang layar dan membantu orang lain untuk mengubah “from zero to hero”. Siapakah mereka?

“All The President Men”

Dalam setiap kampanye pemilihan presiden selalu ada tim sukses (sebut saja mereka “All The President Men” – judul sebuah film tentang skandal watergate di era Nixon) yang terdiri dari berbagai profesi dan latar belakang pendidikan. Bagi saya pribadi, tim sukses Bill Clinton untuk pemilihan presiden (untuk periode jabatan kedua bagi Clinton) tergolong berani melawan arus.

Meskipun saat itu Clinton sudah ketahuan sebagai “playboy cap kampak”, tim sukses  justru “menjerumuskan” Clinton untuk maju kedua kalinya sebagai calon presiden dengan tema tentang perempuan. Dari hasil riset diketahui bahwa pada saat itu, mayoritas pemilih dari jenis kelamin perempuan relatif lebih banyak daripada pemilih laki-laki. Sudah kepalang basah, kalau mau merebut dukungan dan suara dari perempuan, tidak ada cara lain kecuali mengusung tema perempuan.

Terbukti kemudian Clinton menang untuk kedua kalinya berkat dukungan dan suara perempuan. Barangkali kalau tim sukses Clinton tidak tepat menganalisis keadaan dan salah mem ”positioning” kan Clinton, pilihan tema itu justru bisa jadi bumerang. Clinton sungguh beruntung karena kaum perempuan Amerika Serikat memaaftkannya. Mungkin kaum perempuan AS terinspirasi “kata-kata bersayap” dari Nelson Mandela bahwa “the evil must be forggiven, not forgotten.”

Pelatih.

Meskipun Roger Federer saat ini telah menjadi satu-satunya manusia di muka planet bumi  ini yang pernah meraih 16 gelar grandslam tenis putra (2 gelar lebih banyak dari gelar grandslam yang diperoleh Pete Sampras), Federer masih merasa perlu untuk merekrut Paul Annacone. Annacone adalah mantan petenis putra AS yang “hanya” mampu merebut 1 gelar grandslam dan karirnya cenderung datar-datar saja. Tetapi Annacone adalah pelatih tenis yang mengantarkan Pete Sampras meraih 14 grandslam tenis putra dan Sampras digelari sebagai The King of Swing.

Peran pelatih tidak dapat dipungkiri sangat vital bagi keberhasilan seorang olahragawan. David Beckham dan Christiano Ronaldo boleh saja menjadi pesepakbola hebat dan sangat populer di seantero bumi, tetapi tidak ada yang meragukan jasa Sir Alex Ferguson yang telah “membesarkan” mereka. Di cabang olah raga individual seperti tenis lapangan, peran seorang pelatih sangat kentara. Itulah sebabnya Federer di usianya yang menginjak 30 tahun ini masih yakin mampu bertahan dan bersaing di level tertinggi kalau ditangani oleh pelatih yang telah sukses melatih Sampras.

Sekondan.

Di mana sekarang Susanto Megaranto, pecatur Indonesia termuda yang meraih gelar Grand Master? Anak dari pasangan petani Wastirah dan Darsinah di Indramayu ini meraih gelar GM pada umur 17 tahun (4 tahun lebih muda dari Utut Adianto – gurunya di sekolah catur Utut Adianto – yang meraih gelar GM pada umur 21 tahun) pada tahun 2005.  Megaranto memang pecatur berbakat, namun untuk tetap bertahan di level yang sangat kompetitif ia kesulitan menggaji sekondan.

Sekondan adalah sparing partner pecatur profesional. Sekondan tidak hanya sekedar lawan tanding, tetapi juga mengetahui kekuatan dan kelemahan pecatur-pecatur profesional, mampu memainkan gaya bermain catur pecatur yang akan menjadi lawan, dan lain sebagainya. Di Russia adalah “gudang”nya  para sekondan dan di sana sekondan adalah juga pecatur-pecatur dengan gelar Grand Master (gelar tertinggi di olahraga catur) dan dibayar mahal. Itulah sebabnya, pecatur dunia seperti Gary Kasparov dapat bertahan lama di level tertinggi di tingkat internasional karena ia mampu membayar sekondan-sekondan hebat.

Sekondan adalah benar-benar orang yang bekerja di belakang layar untuk kepentingan seorang pecatur profesional. Hampir semua orang mengenal pecatur genius Bobby Fischer dan Gary Kasparov, tetapi barangkali tidak satupun orang (kecuali mereka yang benar-benar mengenal dunia catur) yang mengetahui siapa orang yang berperan di balik kesuksesan Fischer dan Kasparov. Tidak ada satupun pecatur kelas dunia yang sukses tanpa bantuan sekondan.

Talent Scoutter.

Klub-klub sepakbola profesional di Belanda, Inggris, Italia, Perancis, dan Spanyol dapat bertahan selama berpuluh-puluh tahun karena mengandalkan pembibitan dan pembinaan yang sistematis dan berkesinambungan. Berbeda dengan timnas sepakbola Indonesia yang “malas” berakit-rakit dahulu dan bersenang-senang kemudian (baca : cenderung memilih jalan pintas naturalisasi pemain asing daripada membangun fondasi yang kuat untuk pembibitan dan pembinaan), hidup mati klub-klub sepakbola profesional di Eropa dan Amerika Latin memang sangat tergantung dari pasokan pemain dari akademi sepakbola yang mereka dirikan.

Sebagian besar orang hanya mengenal beberapa pesepakbola papan atas seperti Lionel Messi, Christiano Ronaldo, Cecs Fabregas, dan Javier “Chicharito” Hernandez. Klub-klub papan atas mampu merekrut para pesepakbola profesional karena jasa dari para pemandu bakat. Bahkan Lionel Messi lengkap dengan keluarganya sudah diboyong ke Barcelona sejak berusia 13 tahun. Kejelian seorang talent scoutter “mengendus-endus” bakat bermain sepakbola sejak masa kanak-kanak dan kemudian akurasi prediksi keberhasilan talenta memang patut diacungi jempol.

Saat ini ada seorang pemandu bakat yang sedang “naik daun” dan menjadi rebutan klub-klub sepakbola di Inggris, yaitu  Steve Rowley. Kinerja Rowley di klub Arsenal, Inggris sebagai pemandu bakat yang jeli dibuktikan antara lain dari sejumlah pemain muda yang menjadi andalan Arsene Wenger saat ini seperti Cesc Fabregas, Robin van Persie dan Thomas Vermaelen.  Rowley jugalah yang menemukan pemain-pemain muda potensial seperti Alex Song, Wojciech Szczesny, Bacary Sagna dan Gael Clichy dengan harga yang terbilang murah (Daily Mail,13.2.2011)

Punokawan

Salah satu people behind the stars adalah punokawan yang berada di belakang Pandawa Lima. Punokawan adalah wong cilik yang bertugas melayani Pandawa Lima. Meskipun dari lapisan sosial lebih rendah dibandingkan Pandawa Lima, mereka “berani” memberikan masukan kepada “boss” mereka yang mereka sampaikan dalam kemasan humor.

Pandawa Lima memang hebat dan berhasil mengalahkan kaum Kurawa. Tetapi kehebatan mereka bukan turun begitu saja dari langit. Tanpa dukungan dari Punokawan, barangkali sejarah akan mencatat hal yang berbeda dari Pandawa Lima.

Vox Populli, Vox Dei.

Kalau tidak ada suara rakyat, maka para anggota dewan yang terhormat itu tidak akan pernah berada di gedung parlemen. Rakyat sejatinya adalah yang menjadikan mereka from zero to hero. Karena itu, para anggota dewan yang terhormat, para pejabat negara dan pejabat daerah, sudah sepatutnya tahu dan sadar bahwa “vox populli, vox dei” (suara rakyat adalah suarat Tuhan)

Tidak ada cerita bahwa menjadi wakil rakyat, pejabat negara dan pejabat daerah menderita dan tidak sejahtera. Yang sungguh-sungguh terjadi adalah rakyat tetap tidak sejahtera dan diperlakukan tidak adil, meskipun rakyat telah bersusah payah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi para wakil rakyat, pimpinan negara dan para pimpinan daerah. Orang-orang yang sejatinya bukan siapa-siapa kalau tidak ada suara rakyat sudah tinggal landas dan rakyat yang selalu berada di landasan untuk menjadi tempat take-off dan tempat landing bagi orang-orang yang mereka besarkan.

Militer dan para politisi di Mesir tidak akan mampu melengserkan Hosni Mubarak tanpa ada people power. Begitulah sejarah, selalu mencatat pengorbanan rakyat dan kemudian rakyat selalu dilupakan oleh orang-orang yang berkarakter “kacang ninggal lanjaran” (kacang melupakan kulit).

Bumi Serpong Damai, 27 April 2011.

 
Leave a comment

Posted by on April 28, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: