RSS

Biomimicry (Biomimetic)

06 May

Pembaca “setia” blog saya protes dan mempertanyakan analogi permainan sepakbola yang sering saya pergunakan untuk menjelaskan tentang suatu hal. Tidak ada diskriminasi, pilihan saya lebih didasarkan alasan praktis dan memang analogi permainan sepakbola lebih saya pahami. Pertanyaan tentang analogi permainan sepakbola sebenarnya dapat dirumuskan lebih spesifik : mengapa diperlukan analogi untuk menjelaskan tentang sesuatu hal?

Sepengetahuan saya, di Indonesia ada dua orang penulis dengan latar belakang ilmu-ilmu sosial yang mengamati sepakbola, yaitu almarhum Gus Dur dan Sindhunata. Perbedaannya dengan saya, mereka mengkaji sepakbola dari sudut perspektif sosiologis dan anthropologis. Sedangkan saya mengkaji manajemen dengan menggunakan analogi sepakbola. Tulisan Sindhunata masih dapat dibaca di harian Kompas, terutama menjelang dan selama penyelenggaraan Piala Dunia dan Piala Eropa.

Sepakbola adalah olahraga paling populer di dunia dan digemari oleh banyak orang, apapun latar belakang mereka. Dari cucu sampai dengan kakek bisa kompak nontong bareng, meskipun masing-masing menjadi fans klub atau timnas yang berbeda. Remaja putri, ibu-ibu, dan bahkan para pekerja wanita rela meninggalkan hobby, urusan dapur, dan pekerjaan kantor untuk bareng-bareng nobar.

Karena merupakan olahraga populer, sepakbola juga mendapatkan porsi pemberitaan paling lengkap. Mulai dari sejarah klub, squad, dan bahkan aturan permainan sepakbola relatif mudah dipahami oleh mereka yang tidak “gila” sepakbola sekalipun. Kalau toh ada perbedaan dalam menilai suatu pertandingan sepakbola, biasanya perbedaannya tidak jauh-jauh dari penafsiran tentang off-side.

Seperti olahraga pada umumnya, sepakbola menerapkan “division of labor” yang digagas oleh bapak manajemen modern Frederick Winslow Taylor. “Struktur organisasi” (baca : formasi) yang terdiri dari penjaga gawang, pemain bertahan, gelandang dan penyerang memiliki uraian pekerjaan (job description) dan persyaratan pekerjaan dan persyaratan orang (job specification) yang sangat jelas.

Dalam sepakbola dibutuhkan tiga persyaratan utama, yaitu teknik, stamina, dan mentalitas. Ketiga istilah tersebut mirip dengan persyaratan KSA (knowledge, skill, attitude) yang diberlakukan di dunia kerja. “Ritual” organisasi sepakbola secara umum adalah berlatih dan bertanding, demikian juga dengan dunia kerja yang intinya adalah memberikan penugasan dan training.

Beberapa istilah yang digunakan di bidang Manajemen SDM dan Organizational Behavior seperti job enlargement, job enrichment, multi tasking, dan multi skilling juga ditemukan di dunia sepakbola. Job enlargement yang secara sederhana diartikan sebagai penambahan tugas-tugas di luar tugas utama, diterapkan kepada pemain bertahan, terutama bek kiri dan kanan. Kalau semula bek kiri dan kanan adalah pemain bertahan murni, maka dengan job enlargement seorang bek kiri atau kanan diberi tambahan tugas membantu penyerangan (disebut wing back). Demikian juga dengan multi tasking yang diperagakan secara sempurna dalam total football, di mana semua pemain aktif membantu penyerangan dan bertahan.

Justru, organisasi dan sistem klub sepakbola seringkali jauh lebih profesional dan tertata rapi dibandingkan kebanyakan organisasi swasta sekalipun. Manajemen talenta yang dikelola oleh klub-klub sepakbola seperti FC Barcelona dan Ajax Amsterdam memiliki sejarah, tradisi, kontribusi dan reputasi yang dibanggakan dengan menjadi sumber utama rekrutmen pemain senior klub dan tim nasional. Nama-nama besar seperti Johann Cruyff di Ajax Amsterdam, Andreas Iniesta dan Xavi Hernandez, adalah hasil dari proses manajemen talenta.

Jadi, tidak ada hal yang aneh dengan pilihan analogi permainan sepakbola. Pertanyaannya adalah mengapa diperlukan analogi? Menjelaskan tentang sesuatu hal adalah salah satu bentuk komunikasi dan komunikasi adalah pekerjaan manusia yang paling sulit. Komunikasi yang sejatinya “hanya” aktivitas komunikator (pengirim pesan) mengirimkan pesan kepada komunikan (penerima pesan), bisa dikatakan urusan sepele atau urusan sulit tergantung siapa dan bagaimana memandang komunikasi.

Dalam buku 7 Habits of High Effective People, Stephen Covey menjelaskan bahwa pesan yang disampaikan dengan kata-kata hanya efektif tiga puluh persen. Artinya, tidak semua pesan manusia dapat disampaikan dengan kata-kata. Masih dibutuhkan simbol, gambar, suara dan lainnya untuk dapat menyampaikan pesan.

Keterbatasan tidak hanya dalam hal bentuk / format pesan yang disampaikan, melainkan juga pada persepsi penerima pesan terhadap pesan yang diterima dari pemberi pesan. Latar belakang seseorang (pendidikan, agama, budaya, pengalaman masa lalu, dlsb) dapat mempengaruhi persepsi seseorang pada saat mengartikan atau memahami suatu pesan. Jangankan berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda, bahasa dan istilah yang sama pun selalu mengandung kemungkinan penafsiran berbeda.

Karena itulah, dalam komunikasi, cenderung dibutuhkan cara lain untuk menjelaskan sesuatu hal, misalnya dengan peragaan, ilustrasi, gambar. Satu hal yang penting adalah peragaan, ilustrasi, analogi dan lain sebagainya, sebaiknya yang mudah dipahami oleh penerima pesan sehingga pesan menjadi lebih mudah dipahami sebagaimana yang dimaksud dan dipahami oleh pengirim pesan. Permainan sepakbola adalah salah satu contoh analogi yang mungkin relatif mudah dipahami oleh banyak orang daripada cabang olah raga yang tidak mudah dipahami oleh banyak orang, misalnya bowling, catur, dlsb.

Biomimikri atau Biomimetik

Sebelum ilmuwan serta ahli penelitian dan pengembangan memulai proyek baru, mereka biasanya mencari model pada makhluk hidup dan meniru sistem dan rancangannya. Dengan kata lain, mereka melihat dan mempelajari rancangan yang diciptakan di alam oleh Allah SWT dan, terilhami oleh semua itu, mereka mengembangkan teknologi baru. Pendekatan ini telah melahirkan biomimetik, cabang baru ilmu pengetahuan ayng berusaha meniru makhluk hidup.

Apakah yang dimaksud dengan biomimicry? “Biomimicry or biomimetics is the examination of nature, its models, systems, processes, and elements to emulate or take inspiration from in order to solve human problems. The term biomimicry and biomimetics come from the Greek words bios, meaning life, and mimesis, meaning to imitate.(www.en.wikipedia.org, 15 Maret 2011).

Biomimetik atau biomimikri pertama kali dicetuskan oleh Janine M. Benyus, seorang penulis dan pengamat sains dari Montana. Konsep ini belakangan dianalisis oleh banyak orang dan mulai diterapkan. Biomimetik mengacu pada semua substansi, peralatan, mekanisme dan sistem yang diproduksi manusia untuk meniru sistem yang ada di alam. Kalangan ilmiah saat ini merasakan kebutuhan mendesak untuk menggunakan biomimetik, terutama dalam bidang nanoteknologi, teknologi robot, kecerdasan buatan, pengobatan dan militer.

Permodelan, entah dengan menggunakan contoh dari alam, hewan dan tumbuh-tumbuhan atau contoh lainnya, memang menjadi metode belajar dan mengajar yang sangat powerful. Bagi anda yang pernah belajar kepemimpinan, sangat terbantu dengan model situasional leadership yang digagas oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard. Meskipun tidak membaca bukunya secara lengkap, orang dapat memahami apa yang dimaksud dengan situational leadership dengan membaca model situational leadership.

Robert S. Kaplan dan David P. Norton, penggagas balanced scorecard, mampu menjelaskan teori dalam bagan-bagan yang diciptakannya, bahkan untuk setiap buku dapat dipahami oleh satu model / bagan saja. Untuk mempelajari balanced scorecard, kita dapat mengerti membaca model balanced scorecard. Untuk belajar tentang strategy map, kita lebih mudah  memahami dari model strategy map, meskipun belum membaca lengkap bukunya. Demikian juga untuk memahami buku Strategy Focused-Organization, kita dapat memahami melalui model Strategy Focused-Organization.

Masih banyak contoh-contoh lain tentang permodelan dalam manajemen dan perilaku organisasi, misalnya model Johary Window yang menjelaskan tentang komunikasi dan saling memahami orang lain. Suatu model berusaha menyederhanakan dan merepresentasikan suatu konsep dalam bentuk visual sehingga lebih mudah dipahami. Secara teoritis, pesan yang disampaikan dalam bentuk teks relatif lebih sulit dipahami daripada pesan yang disampaikan dalam bentuk gambar.

Bumi Serpong Damai, 4 Mei 2011

 
Leave a comment

Posted by on May 6, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: