RSS

Witing Biso Jalaran Soko Gumun

11 May

Mengapa  tsunami di Aceh tahun 2004 dan di Mentawai 2010 memakan korban manusia relatif banyak dibandingkan dengan tsunami di Jepang pada tahun 2011?. Apakah karena masyarakat Jepang telah memiliki teknologi canggih dan early warning system mereka sudah teruji? Apakah untuk mengetahui peristiwa alam yang akan terjadi selalu harus menggunakan teknologi canggih?. Barangkali, kita harus benar-benar belajar memahami makna dari peribahasa “tidak ada rotan akarpun jadi” dan kemudian mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejatinya, manusia tidak harus tergantung kepada teknologi canggih untuk mampu mendeteksi peristiwa alam yang telah, sedang dan akan terjadi. Bukan berarti bahwa teknologi canggih tidak diperlukan untuk mendeteksi berbagai peristiwa alam, tetapi fungsi teknologi itu sendiri adalah bersifat melengkapi. Bahkan jika suatu masyarakat dan bangsa belum memiliki teknologi canggih, atas kebesaran Allah SWT, manusia masih diberikan kemampuan untuk memahami berbagai peristiwa di alam raya ini melalui berbagai ciptaanNya, baik hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia itu sendiri.

Jika untuk mendeteksi segala sesuatu yang sedang dan akan terjadi di alam raya ini  harus menggunakan teknologi, maka nenek moyang manusia yang hidup di masa lalu dan hewan adalah pihak-pihak yang sangat dirugikan. Faktanya, para nenek moyang yang hidup di masa lalu, tanpa menggunakan teknologi canggih juga mampu memahami segala sesuatu yang mungkin sedang dan akan terjadi di alam raya ini.  Hewan juga berhak hidup dan karena itu mestinya, atas kebesaran Allah SWT, mereka juga dibekali dengan instrumen untuk membaca segala peristiwa yang sedang dan akan terjadi di alam raya ini. Hal itu bisa terjadi karena nenek moyang kita mampu dan mau menggunakan akalnya dan sedangkan hewan memang sudah dari sononya dibekali insting.

Ada dua artikel yang pernah saya baca tentang orang-orang yang selamat dari tsunami karena kemampuan mereka menggunakan otak untuk  memahami tanda-tanda kekuasaan Allah SWT di muka bumi. Sebagian dari tulisan tersebut akan saya kutipkan sebagai berikut :

“Wakil Panglima Komando Operasi Darurat Sipil Nanggroe Aceh Darussalam Brigjen Suroyo Gino hari Minggu (26/12) pagi itu mendapat tugas melepas kepulangan Batalyon 744 kembali ke Kupang setelah hampir setahun bertugas di daerah itu. Dengan menggunakan mobil dinasnya, Brigjen Gino menuju Pelabuhan Malahayati, Banda Aceh, tempat sekitar 700 prajurit hendak diberangkatkan pulang.

Menjelang mendekati arah pelabuhan, Gino sempat merasa takjub ketika sekelompok burung berbulu putih berarakan menuju kota. Namun, ketakjuban itu diikuti dengan tanda tanya besar, apa yang sedang terjadi dengan alam ini ?

Nalurinya segera mengatakan bahwa itu sebuah pertanda yang tidak baik. Ada sesuatu yang tidak biasanya dan ini berkaitan dengan pertanda yang tidak baik.

Segera Gino memerintahkan sopirnya untuk berbalik arah. Namun, keadaan jalan sudah agak padat pagi itu. Ia tidak mungkin bisa melaju lebih cepat untuk menghindar dari ancaman.

Tidak lama kemudian pertanda buruk itu benar-benar terjadi. Gelombang dahsyat tsunami menerjang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Ribuan, bahkan ada yang berani mengatakan ratusan ribu, warga Banda Aceh tewas akibat terjangan gelombang yang mematikan itu.

Gino sendiri bersyukur bisa selamat dari musibah yang memilukan itu. Prajurit Batalyon 744 yang akan kembali ke kampung halamannya pun pagi itu beruntung masih belum masuk ke dalam lambung kapal. Polisi Militer masih memeriksa satu per satu isi ransel yang dipanggul para prajurit.

Ketika tiba-tiba ombak dahsyat itu tiba, para prajurit masih mendengar suara peringatan dan segera berhamburan, berlari ke arah bukit yang ada di sekitar pelabuhan. Hanya lima prajurit yang terlambat untuk menghindar dan mereka harus menjadi korban gelombang tsunami.

Alam bukanlah sesuatu yang misterius. Bagi mereka yang akrab dan bersahabat dengan alam, justru alam itu adalah sahabat sejati. Ia selalu memberi pertanda mengenai apa yang sebenarnya akan terjadi.

Manusia kadang kalah dengan hewan untuk mengakrabi alam tempat tinggalnya. Hewan memiliki indera keenam yang lebih tajam sehingga bisa merasakan ketika alam akan marah.” (Ketika Kawanan Burung Putih Berarakan ke Tengah Banda Aceh, Suryapratomo
Kompas, 21.01.2005).

Artikel kedua adalah tentang pengalaman masyarakat yang tinggal di Pulau Simelue sebagai berikut :

“The earthquake followed by tsunami on 26 December 2004, struck several regions of Aceh and Nias Island, North Sumatra, taking a toll of hundreds of thousands of lives and causing the destruction of various physical facilities and infrastructure including houses ownedby population. However, in Simelue island with 95% of its population living on coastal areas close to the earthquake’s epicenter, the number of victims that died was relatively minimal. According to an official report issued by the district government, the number of dead victims was 7 people out of the total population over 78,000.

The small number of victims was due to the fact that the majority of the population who lived on the coast could save themselves by fleeing to the nearby hilly area, just after the earthquake occurred and sea water seen to retreat on the coast. The act of saving themselves in the direction of the relatively higher and “safer” area was not merely a spontaneous act, but was related to a tsunami occurence of the past, that had been repeatedly handed down from one generation to the next generation. This local knowledge was known as “smong stories“, or stories about the tsunami incident in 1907. The study attempts to delve into the condept of “smong” first arose by using the year 1907 as a reference point, namely wether the concept was created after 1907 or wether it had existed prior to the occurrence of tsunami in 1907.” (http://www.siagabencana.lipi.go.id/ index.php?q=node/15 16 April 2011)

***

Saya tidak pernah lupa konten kuliah perdana sosiologi yang disampaikan oleh Prof. Soedjito Sosrodihardjo pada tahun 1981. Ada dua pesan yang beliau sampaikan, yaitu pertama sebagai calon-calon sarjana sosiologi tidak boleh memiliki kebiasaan seperti burung beo; dan kedua, witing bisa jalaran soko gumun (seseorang menjadi bisa karena dimulai dari perasaan heran terhadap sesuatu hal).

Sebelum  Isaac Newton terheran-heran melihat buah apel jatuh dari pohon, dari dulu apel kalau jatuh selalu dari atas ke bawah. Perbedaan Newton dengan orang lain adalah semua orang tidak merasa heran dan tidak perlu bertanya mengapa buah apel jatuh dari atas ke bawah (bumi), sedangkan Newton justru terheran-heran dan menelitinya sehingga menemukan teori gravitasi.

Hampir semua penemuan di muka bumi ini dimulai dengan perasaan heran. Sebut saja beberapa nama penemu seperti Alexander Graham Bell (penemu telepon, meskipun Kongres AS pada tahun 2002 menetapkan penemu telepon adalah Antonio Meucci) dan Robert Gillaume Marconi (penemu radio). Bell adalah bukan orang cerdas dan bahkan orang yang dicap tidak becus sekolah, tetapi dengan modal rasa heran ia dapat fokus dan menemukan telepon. Itulah sebabnya saya kurang setuju dengan nasehat ojo kagetan (jangan gampang kaget) dan ojo gumunan (jangan gampang terheran-heran). Kalau jangan terbengong-bengong sih OK, tetapi terheran-heran adalah keharusan.

Bagaimana mungkin seseorang akan tertarik meneliti sesuatu kalau tidak penasaran? Bukankah dalam proses berpikir sesungguhnya juga ditandai dengan mempertanyakan berbagai hubungan antara berbagai hal? Kecerdasan mungkin mampu membuat kualitas dari pemikiran lebih baik, meskipun bukan hal itu bukan merupakan jaminan. Beberapa tokok penemu seperti Bell dan Thomas Alva Edison tidak termasuk orang yang cerdas. Jadi, cerdas saja tidak cukup.

Harus ada gumun (heran). Witing biso jalaran soko gumun (menjadi bisa karena dimulai dari heran). Dimulai dari heran maka akan timbul hasjrat yang membuncah untuk mengetahui dan meneliti lebih lanjut semua rahasia di balik semua peristiwa.

Bumi Serpong Damai, 7 Mei 2011.

 
Leave a comment

Posted by on May 11, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: