RSS

Poros Bayern Muenchen

12 May

Keputusan Joachim Loew, pelatih timnas sepakbola Jerman, untuk mengandalkan poros Bayern Muenchen sebagai tulang punggung timnas sepakbola Jerman untuk Piala Dunia 2010 sempat dipertanyakan dan dicerca oleh masyarakat Jerman. Paling tidak ada 8 pemain klub Bayern Muenchen yang masuk sebagai squad Timnas Jerman PD 2010. Itu hal yang biasa terjadi di dunia sepakbola, namun menjadikan mereka sebagai pemain inti tentu lain cerita.

Beberapa nama yang dianggap tidak layak masuk dalam squad adalah Miroslav Kloese dan Mario Gomez. Kedua pemain ini bahkan bukan pemain inti dan terlalu sering berada di bangku cadangan  tim Bayern Muenchen yang berhasil merebut gelar Juara Liga Jerman 2009/2010. Bahkan produktivitas kedua penyerang ini kalah bersaing dengan yunior mereka Thomas Mueller yang juga masuk squad timnas Jerman untuk PD 2010.

Tentu saja Loew tidak ngawur untuk menyeleksi anggota timnas Jerman untuk PD 2010. Loew menggunakan “dalil” don’t change the winning team dan group cohesiveness sebagai dasar penetapan timnas. “Dalil” itu hampir pasti digunakan oleh semua pelatih (terutama sepakbola) dan dari perspektif manajemen manusia pasti dapat menerima alasannya.

Sebenarnya bukan hanya Loew yang menggunakan metode tersebut. Vincente del Bosque Gonzales, pelatih timnas sepakbola Spanyol untuk PD 2010 juga mengandalkan “Poros Barcelona”. Dalam setiap pertandingan, ada 5 atau 6 pemain klub Barcelona yang menjadi pemain inti (Puyol, Pique, Iniesta, Xavi, Pedro, dan Busquets). Keenam pemain ini juga menjadi tulang punggung Barcelona ketika pada tahun 2009 merebut 6 gelar (La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Piala Champion, Piala Super UEFA, Piala Dunia Antar Klub FIFA).

Apa yang dilakukan Loew dan del Bosque juga dilakukan oleh “nenek moyang” para pelatih sepakbola. Ketika “menukangi” timnas sepakbola Jerman untuk PD 1974, Helmut Schoen juga mengandalkan Poros Bayern Muenchen dan kemudian ternyata berhasil menjadi juara dunia. Di kubu Belanda, the founding father Total Football Rinus Michel juga mengandalkan Poros Ajax Amsterdam sebagai tulang punggung timnas sepakbola Belanda untuk PD 1974.

Mengapa pelatih cenderung memanfaatkan pemain-pemain dari sebuah klub sebagai tulang punggung kesebelasan nasional? Ada dua kata kunci, yaitu the winning team dan group cohesiveness. Secara umum pelatih cenderung menggunakan pemain dari sebuah klub yang menjadi juara liga. Memang jarang sekali 11 pemain timnas merupakan pemain dari sebuah klub. Tetapi prinsip “don’t change the winning team” harus tetap berjalan. Beberapa posisi kunci harus diisi oleh pemain dari sebuah klub dan kemudian tinggal dilengkapi dengan pemain dari klub lainnya.

Tahap tersulit membentuk sebuah timnas adalah membangun group cohesiveness. Sepakbola  adalah olahraga kolektif. Tidak mudah untuk membangun sebuah tim dengan tingkat kekompakan yang kuat. Jangankan membentuk kesebelasan yang terdiri dari 11 pesepakbola, memilih dua pebulutangkis yang akan dipasangkan sebagai pemain ganda sudah bikin kepala pusing tujuh keliling.

Manusia memang makhluk aneh dan sulit ditebak. Memang ada dalam sejarah bulutangkis dua pebulutangkis ganda dari Malaysia yang saling bermusuhan, tetapi mampu menunjukkan prestasi bagus. Cheah Soon Kit dan Soo Beng Kiang adalah pebulutangkis ganda Malaysia yang pada saat kejayaan mereka, Ricky Subagya dan Rexi Mainaky harus susah payah untuk menaklukkan mereka. Bahkan dalam beberapa kesempatan kejuaraan Piala Thomas, Soon Kit dan Beng Kiang mampu menyumbangkan nilai kepada tim. Anehnya ketika mereka dipisahkan dan kemudian Soon Kit dipasangkan dengan si kembar Yap Kim Hok dan Beng Kiang dengan  Yap Kim Her, prestasi mereka justru meredup.

Group Cohesiveness.

Robbins dan Coulter (2005) mendefinisikan group cohesiveness adalah “the degree to which members are attracted to a group and share the group’s goals.” Semakin kohesif suatu kelompok dan tujuan kelompok diselaraskan dengan tujuan dari organisasi, maka semakin efektif dan produktif jika dibandingkan dengan kelompok yang relatif kurang kohesif.

Dalam buku Management, Robbins dan Coulter (2007) menunjukkan hubungan antara group cohesiveness dengan kinerja kelompok melalui gambar sebagai berikut :

Gambar di atas memperlihatkan bahwa semakin tinggi tingkat keserasian antara tujuan kelompok dan tujuan organisasi, maka semakin kuat peningkatan produktivitas. Sebaliknya, semakin rendah tingkat keserasian antara tujuan kelompok dan tujuan organisasi, maka kinerja kelompok tidak mempuyai dampak yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas organisasi.

Mengapa group cohesiveness menjadi sangat penting? Dengan menggunakan teori perkembangan kelompok dari George Tuckman, maka dapat dipahami bahwa group cohesiveness menjadi sangat penting bagi sebuah kelompok, terutama hubungan dan dampaknya dengan kinerja suatu kelompok.

Tuckman membagi tahap-tahap perkembangan kelompok menjadi 5 tahap sebagai berikut : forming, storming, norming, performing, dan adjourning. Setelah suatu kelompok terbentuk, maka tidak serta merta kelompok dapat menunjukkan kinerja istimewa (mungkin saja terjadi, tetapi relatif jarang). Biasanya suatu kelompok akan mengalami tahap “berdarah-darah” (baca : storming), anggota kelompok dalam tahap konflik yang disebabkan oleh perbedaan apapun. Pada tahap storming, kelompok belum menunjukkan kinerja dan kontribusi kepada pencapaian sasaran organisasi.

Dalam buku Management, Robbins dan Coulter (2007) menunjukkan hubungan antara konflik dengan kinerja kelompok melalui gambar sebagai berikut :

Gambar di atas menunjukkan hubungan antara tingkat kinerja kelompok yang dipengaruhi oleh variabel tingkat konflik dalam kelompok. Suatu kelompok akan menunjukkan kinerja terbaiknya bukan pada saat tidak ada konflik dan tingkat konflik sangat tinggi yang ditandai oleh konflik yang disfungsional, melainkan kinerja terbaik suatu kelompok akan dicapai pada saat konflik mencapai tingkat optimal dan konflik yang terjadi adalah fungsional.

Pada dasarnya konflik pasti ada dalam suatu kelompok sosial. Perbedaan latar belakang dan sudut pandang di antara anggota kelompok sosial sudah pasti menimbulkan konflik. Meskipun demikian, melalui manajemen konflik, konflik di antara anggota kelompok akan dapat diselesaikan dan karena itu konflik yang terjadi adalah fungsional dan dapat memotivasi anggota kelompok menunjukkan kinerja terbaik.

Salah satu metode untuk mengatasi konflik di antara anggota kelompok sosial adalah dengan menetapkan rules of the game. Tahap norming adalah tahap menetapkan norma-norma kelompok untuk menjamin tertib sosial dalam kelompok. Pembentukan norma-norma kelompok dapat menjadi alat untuk manajemen konflik dan memperkuat group cohesiveness sehingga suatu kelompok dapat mewujudkan misi dan visi serta mencapai tujuan bersama dari suatu kelompok.

Setelah konflik dapat diatasi dan norma-norma kelompok menjadi dasar mengatur hubungan antarmanusia dan kegiatan dalam kelompok, maka suatu kelompok dapat lebih fokus untuk menunjukkan kinerja (performing). Terakhir, pada tahap adjourning adalah tahap pembubaran kelompok. Tugas-tugas kelompok berakhir, pemberian penghargaan atas kinerja kelompok,  dan hubungan antara anggota kelompok secara formal sudah tidak ada lagi.

Gemeinschaft

Secara umum ada kecenderungan sebuah organisasi untuk bersifat “primordial”. Banyak organisasi yang dibangun atas dasar nepotisme, entah itu berdasarkan hubungan darah, hubungan kedaerahan, maupun orang-orang yang kesamaan ideologi, misi dan visi. “Primordialisme” seperti itu tidak selalu salah dan mungkin saja mampu meminimalisasi konflik di antara anggota dan meningkatkan group cohesiveness.

Mengapa kecenderungan primordialisme tetap terjadi di organisasi-organisasi yang bahkan mempositioningkan sebagai organisasi modern dan terbuka? Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui pendekatan gemeinschaft yang diperkenalkan oleh sosiolog berkebangsaan Jerman, Ferdinand Tonnies. Soerjono Soekanto (1981 : 106) mendefinisikan gemeinschaft adalah bentuk  kehidupan bersama di mana anggota-anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah serta bersifat kekal.

Toennies mengklasifikasikan gemeinschaft menjadi tiga, yaitu gemeinschaft by blood, gemeinschaft of locality dan gemeinschaft of mind. Oleh Tonnies  dikatakan bahwa suatu gemeinschaft mempunyai beberapa ciri (Soerjono Soekanto, 1981 : 107-108), yaitu :

  1. Intimate, artinya hubungan menyeluruh yang mesra sekali.
  2. Private, artinya hubungan bersifat pribadi, yaitu khusus untuk beberapa orang saja.
  3. Exclusive, artinya bahwa hubungan tersebut hanyalah untuk “kita” saja dan tidak untuk orang-orang di luar “kita”.

Apapun bentuk dari kelompok sosial akan selalu dibangun atas dasar salah satu dari tiga bentuk gemeinschaft. Keluarga sebagai kelompok sosial terkecil adalah contoh gemeinschaft yang dibangun atas dasar kesamaan darah (geminschaft of blood). Paguyuban “Arema” (Arek-Arek Malang) dan Seruling Mas (Seruan Eling kepada Banyumas)  adalah kelompok sosial yang dibentuk oleh orang-orang yang memiliki kesamaan asal-usul daerah (gemeinschaft of locality), yaitu  orang-orang dari Malang dan eks Karisidenan Banyumas. Sedangkan alumni perguruan tinggi atau bahkan – alumni dari suatu pelatihan seperti Alumni ESQ dan Komunitas Mulia (alumni mereka yang telah mengikuti pelatihan kubik leadership) – dan partai adalah contoh dari gemeinschaft of mind. Orang-orang yang bergabung dalam gemeinschaft of mind memiliki kesamaan dalam hal, antara lain pemikiran, ideologi, misi dan visi.

Dalam konteks poros Bayern Muenchen, Loew mengedepankan penerapan gemeinschaft of mind. Artinya, ia sengaja memilih para pesepakbola dari satu klub yang sama yang memiliki persamaan dalam hal visi permainan dan gaya bermain serta telah bekerja sama dalam waktu tertentu. Akan relatif lebih mudah membangun kekompakan dan kerja sama tim dari pesepakbola yang memiliki visi dan gaya bermain yang sama daripada pesepakbola yang memiliki visi permainan dan gaya bermain yang berbeda atau heterogen. Itulah sebabnya del Bosque juga mengandalkan para pesepakbola dari klub Barcelona sebagai tulang punggung timnas Spanyol. Del Bosque yang memiliki visi permainan dan gaya bermain indah dan menyerang  tidak mengalami kesulitan yang berarti karena pesepakbola dari FC Barcelona yang bermain untuk timnas sudah terbiasa dengan visi dan gaya bermain indah dan menyerang.

Bumi Serpong Damai, 8 Mei 2011.

 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: