RSS

It’s more important to be nice.

14 May

Almarhum bapak saya pernah bercerita kepada saya tentang seorang abdi dalem yang dipanggil oleh seorang ndoro (tuan).  Dengan perasaan suka cita yang membuncah, abdi dalam sowan pada hari, tanggal, waktu dan tempat yang telah ditetapkan oleh ndoro. Setelah sekian lama menunggu, masih juga belum kelihatan batang hidung ndoro, abdi dalem pun pamit dan berpesan bahwa dia juga masih banyak urusan penting lain yang harus dikerjakan.

Cerita tentang abdi dalem yang gagah berani itu memang tidak pernah menjadi news di media cetak dan elektronik. Tetapi bisik-bisik tentang keberanian dan ketegasan dari abdi dalem itu tersebar santer dari mulut ke mulut. Saat itu belum ada media sosial semacam facebook dan twitter sehingga moral of the story menguap begitu saja. Saya juga tidak pernah menanyakan kepada almarhum bapak saya, bagaimana beliau mendapatkan informasi tersebut dan  apakah sudah melakukan check and recheck untuk memenuhi kriteria cover both side.

Jika kebanyakan orang terperanjat dengan keberanian dan kehebatan abdi dalem itu, saya melihat dari sudut pandang lain yang menurut saya lebih sederhana dan konkrit. Bagi saya, moral of the story bukan tentang keberanian dan kehebatan, melainkan tentang saling menghormati. Bukankan hubungan antarmanusia harus dilandasi saling menghormati?

Bagi saya, dunia yang tidak lebih dari sekedar panggung sandiwara ini, hanya akan indah jika manusia saling menghormati. Bagi saya, kewajiban saling menghormati bersifat simetris. Artinya, tidak hanya orang yang lebih muda yang harus menghormati orang yang lebih tua, tetapi orang yang lebih tua juga harus menghormati orang yang lebih muda. Bukan hanya bawahan yang harus menghormati atasan, melainkan juga atasan juga harus menghormati bawahan, dan seterusnya. Jangan pernah lupa, siapapun manusia, apapun status sosial ekonomi seseorang, manusia adalah khalifah Allah SWT di muka bumi.  Jika Tuhan saja menghormati ciptanNya, atas nama apa seorang manusia boleh tidak menghormati manusia lain? Kecuali anda setuju disamakan dengan Fir’aun, boleh-boleh saja anda tidak menghormati manusia lain.

Dalam contoh hubungan antara ndoro dan abdi dalem terjadi hubungan yang asimetris. Pihak ndoro merasa berbeda dalam segala hal dibandingkan dengan abdi dalem. Mungkin karena merasa bargaining position dan bargaining powernya lebih kuat, ndoro merasa boleh-boleh saja seenak wudhelnya tidak tepat waktu. Seharusnya, ndoro itu bersyukur telah mendapatkan “teguran halus” dari abdi dalem.

Manusia memang aneh. Jika sebuah pesawat berangkat tidak tepat waktu (terlambat, delay), orang tidak bisa menerima dan langsung membanding-bandingkan dengan maskapai penerbangan negara tetangga yang dikelola secara benar dan selalu tepat waktu. Jika orang lain tidak tepat waktu, pasti orang lain itu salah. Tetapi jika diri sendiri yang tidak tepat waktu, orang lain yang harus sabar dan mengerti.

Orang selalu gembar-gembor bicara tentang hemat energi, karena energi ada yang terbarukan dan tidak terbarukan. Waktu sudah pasti tidak terbarukan dan tidak akan berulang. Orang Barat mengatakan “time is money”, orang Arab mempunyai peribahasa “waktu adalah pedang”. Waktu adalah sumber daya yang sangat penting. Jika seseorang tidak menepati janji, pada dasarnya ia tidak hanya tidak menghormati orang lain, tetapi juga merampok waktu orang lain. Untunglah di bumi pertiwi ini, orang masih santun dan tidak menganggap tidak tepat waktu sebagai perampokan.

Hubungan antara ndoro dan abdi dalem sebenarnya dapat ditempatkan dalam konteks yang sangat sederhana. Dua orang manusia sepakat berjanji untuk saling bertemu. Bahwa satu orang memiliki status sosial lebih tinggi daripada yang lain, itu di luar konteks. Bahwa orang yang satu memanggil dan orang yang lain menghadap, itu bukan inti persoalan. Intinya dua orang telah berjanji untuk bertemu pada waktu dan tempat yang disepakati bersama.

Bagaimana kedudukan janji di muka hukum? Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer) mengatur bahwa  “Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.” Persetujuan-persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Persetujuan-persetujuan itu harus dilaksanakan dengan itikad baik.

Bagaimana kedudukan manusia di muka hukum? Hukum hanya mengenal equal before law. Bahwa ada orang berkulit putih dan ada orang yang berkulit hitam, prinsip equal before law berlaku mutlak. Bahwa ada orang punya bargaining position dan bargaining power yang kuat, di muka hukum tetap sama dengan orang-orang yang tidak memiliki posisi dan kekuasaan. Bahwa antara tataran ideal dan realita berbeda jauh, itu soal lain. Prinsip equal before law juga tidak membedakan “darah biru” dan darah merah.

Di masa lalu saya pernah mempunyai atasan yang suka mengobral “janji-janji surga”.  Karena begitu sering berjanji dan jarang sekali menepati janji, saya menggolongkan atasan saya sebagai orang yang tidak mampu dan tidak mau membedakan antara promise dan statement. Kalau hanya pernyataan, tidak ada konsekuensi untuk melaksanakan apa yang sudah dinyatakan. Tetapi kalau janji, ada konsekuensi untuk melaksanakan apa yang sudah dijanjikan.

Ketika masih “bersemayam” di departemen HRD, pada saat orientasi karyawan baru, saya sering sekali “menggurui” mereka. Karena kebisaan saya adalah di bidang sosiologi, maka saya seringkali mengingatkan kepada karyawan baru bahwa manusia adalah  individu dan sekaligus makhluk sosial. Sebagai individu, setiap orang boleh-boleh saja punya kemauan dan keinginan apa saja. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa berbuat apa saja tanpa memperhatikan aturan bermain dan mengabaikan kepentingan dan kehormatan orang lain.

Contoh paling gampang adalah kisah nikmat dan sengsara seorang anggota dewan yang terhormat dan tertangkap basah bobok bobok bareng sama artis dangdut. “Kenikmatan” hanya mereka berdua yang menikmati, tetapi sengsara ditanggung bukan oleh mereka berdua saja. Anak, istri, keluarga besar yang tidak tahu menahu dan tidak menikmati apapun dari perbuatan mereka berdua, harus menanggung sengsara sosial. Partai politik di mana anggota dewan yang terhormat itu bernaung, dan bahkan organisasi kemahasiswaan di mana anggota dewan yang terhormat itu pernah bergabung, ikut terkena getah. Tentu saja yang  lembaga tinggi yang terhormat juga ikut menanggung malu.

Jadi, setiap manusia adalah representasi atau wakil. Pada saat seseorang melakukan sesuatu, sejatinya ia tidak hanya mewakili dirinya sendiri, melainkan juga keluarganya, orang tuanya, guru-gurunya, almamaternya, organisasinya, suku bangsanya, negaranya, agamanya, dan bahkan mewakili Tuhan. Kalau seseorang melakukan perbuatan baik, maka bukan hanya dirinya sendiri yang akan menikmati kebanggaan. Sebaliknya, jika seseorang melakukan perbuatan tidak baik, hukuman dan terutama sanksi sosial tidak hanya akan ditanggungnya sendiri. Orang-orang yang tidak tahu menahu pun ikut dibuat malu bukan kepalang.

Jika seorang kepala keluarga berzinah dan kemudian perbuatannya diketahui oleh umum, ia tidak dapat melarang istri dan anak-anaknya agar tidak usah malu. Ia juga tidak bisa mengadakan jumpa pers dan memberitahukan kepada khalayak bahwa isteri dan anak-anaknya tidak bersalah, dan karena itu tidak boleh dipermalukan. Ia juga tidak bisa membendung kalau kemudian orang lain mengkait-kaitkan karakter dan akhlaknya dengan pendidikan keluarga, pendidikan sekolah, dan organisasi di mana ia menjadi anggota.

2 + 2 = 6 adalah salah. Tidak menepati janji bukan hanya salah, tetapi juga representasi dari karakter. Kalau sudah menyangkut karakter, orang lain cenderung menghubung-hubungkan karakter dengan segala sesuatu yang terjadi di masa lalu : pendidikan keluarga, pendidikan agama, dan pendidikan sekolah.  Jika kebetulan seseorang mewakili suatu organisasi dan kemudian ia ingkar janji, maka para pemasok, pelanggan, mitra stratejik,  hanya dapat bertanya-tanya dalam hati, bagaimana sesungguhnya nilai-nilai dalam organisasi, proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai organisasi?

Setiap orang memang boleh-boleh saja merasa dirinya sebagai orang penting dan banyak urusan penting yang harus dikerjakan dan diselesaikannya. Dalam konteks menepati janji, tidak ada alasan bagi seseorang menganggap orang lain bukan orang penting dan segala yang dikerjakan orang lain tidak penting. It’s nice to be important, but it’s more important to be nice.

Bumi Serpong Damai, 14 Mei 2011

 
Leave a comment

Posted by on May 14, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: