RSS

Buy Peanut Get Monkey

16 May

Roberto Carlos, salah satu wing back terbaik yang pernah dimiliki timnas sepakbola Brazil, baru-baru ini mendapatkan “hadiah” pisang dari penonton sepakbola Russia. Barangkali Carlos tidak pernah akan menyangka di penghujung karirnya akan mendapat “penghargaan” yang kurang lazim tersebut. Sebagai “jagoan tendangan pisang” – salah satu gol tendangan pisang yang pernah dibuatnya adalah ketika timnas Brazil melawan timnas Perancis dalam satu pertandingan persahabatan. Kala itu gawang Perancis yang dikawal oleh Fabian Barthez bobol gara-gara gol tendangan pisang yang disebut-sebut sebagai salah satu tendangan pisang terbaik – dan pemain kelas dunia, Carlos tentu tidak pernah berpikir ia akan diperlakukan seperti itu.

Mengapa pisang? Manusia berkomunikasi dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan simbol. Di dunia sepakbola, pisang dan kacang adalah simbol paling sempurna untuk merepresentasikan penghinaan. Pisang dan kacang adalah jenis makanan yang diberikan kepada monyet dengan cara dilempar. Jadi, kalau seorang pesepakbola sampai mendapatkan pisang dan kacang, itu berarti si pemberi pisang dan kacang menghina pesepakbola tersebut tidak lebih seperti monyet.

Carlos bukan satu-satunya pesepakbola yang pernah mendapatkan hadiah pisang atau kacang. Samuel Eto’o, pesepakbola asal Kamerun, ketika masih bermain di liga Spanyol dan membela FC Barcelona, juga pernah dilempari kacang. Demikian juga nasib Balotelli, pesepakbola Italia yang keturunan Ghana, juga pernah diperlakukan seperti monyet. Hadiah pisang dan kacang memang lebih banyak diterima oleh pesepakbola berkulit hitam, karena konteks penghinaan berkaitan erat dengan rasialisme. Penonton sepakbola di Spanyol dan Italy terkenal sebagai penonton yang masih cenderung rasialis.

Di dunia kerja, kasus rasialisme  secara terang-terangan memang jarang terjadi. Tetapi peringatan agar jangan sampai mempekerjakan “monyet” bukan hal yang baru. Demikianlah, kalau perusahaan bermaksud memperjakan seorang karyawan yang memiliki “bandwidth” bagus, maka perusahaan harus rela berkorban membayar gaji yang bagus pula. Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan karyawan dengan “bandwidth” terbaik tetapi dengan bayaran murah. Sebab, bukankah peribahasa sudah mengingatkan buy peanut get monkey?

Mungkin ada benarnya buy peanut get monkey, tetapi tidak selalu demikian. Di dunia sepakbola profesional, seringkali peribahasa buy peanut get monkey tidak terbukti benar. Klub-klub sepakbola yang royal menghambur-hamburkan uang untuk membeli pemain mahal seringkali harus gigit jari karena yang didapat justru hanya “monkey”. Sebut saja klub  sepakbola Real Madrid yang terang berjuluk Los Galacticos karena memang bertaburan bintang sepakbola papan atas. Dengan diperkuat pesepakbola hebat di semua lini, sangat tidak pantas Real Madrid hanya memboyong Copa de Rei. Hampir tidak pernah Real Madrid membeli pemain dengan harga murah, tetapi juga tidak selamanya Real Madrid berhasil membedakan monkey dan bukan monkey. Demikian juga dengan klub Manchester City yang bermimpi menyaingi prestasi Manchester United, meskipun sudah menghambur-hamburkan uang untuk membeli pemain bintang, masih juga sulit meraih gelar bergengsi, baik di tingkat Inggris maupun Eropa.

Justru sebaliknya adalah klub sepakbola seperti Arsenal di Inggris dan Ajax Amsterdam. Kedua klub ini selalu berhasil membeli pemain dengan “modal peanut”, tetapi para pemain yang direkrut tidak bisa dibilang cuma “monyet”. Kedua klub tersebut memiliki tradisi pembinaan yang sangat panjang dan mengandalkan rekrutmen pemain senior harus bersumber dari akademi sepakbola internal. Hampir tidak pernah Arsenal membeli pemain mahal, terutama sejak era “profesor” Arsene Wenger yang lebih percaya kepada para pemain muda.

Bahkan, Wenger memiliki kelebihan dalam hal melakukan “metamorfosa” pesepakbola yang pernah  dianggap “monyet” (baca : gagal) di klub lain sehingga menjadi pemain bintang. Thiery Henry dan Patrick Viera dianggap  “monyet” (baca : gagal) ketika bermain di Italy. Padahal Juventus membeli Henry  dan AC Milan membeli Viera dengan harga relatif mahal pada saat itu. Tetapi di tangan Wenger kedua pemain yang sempat dianggap sebagai “monyet” tersebut  masing-masing menjelma penjadi penyerang dan gelandang pengatur serangan yang “tajir” di Arsenal.

Jadi, peribahasa buy peanut get monkey tidak selalu dapat digunakan untuk menjustifikasi penyimpangan dari sebuah standar yang telah ditetapkan. Dalam konteks barang, sesuatu yang mahal boleh jadi memang merupakan harga dari sebuah kualitas dan brandname. Dalam konteks manusia, orang yang dibeli dan dibayar mahal, tidak serta merta akan menunjukkan kinerja yang sesuai dengan harganya.

Uang mungkin merupakan salah satu yang dapat memotivasi manusia untuk menunjukkan kinerja istimewa. Tetapi uang bukan dan tidak selalu menjadi faktor utama yang mampu memotivasi manusia. Tentu saja masih ada faktor-faktor lain yang mungkin pada suatu periode tertentu akan lebih dominan mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Last but not least, kinerja pada dasarnya adalah fungsi dari ability, motivation, dan environment [P = f (A, M, E)] seperti ditunjukkan gambar sebagai berikut :

Loyang dan emas memang berbeda. Sekali loyang tetap loyang, meskipun dihargai mahal. Sekali emas tetap emas, meskipun dihargai murah.

Bumi Serpong Damai, 11 Mei 2011

 
Leave a comment

Posted by on May 16, 2011 in Human Capital

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: