RSS

Shame Culture and Guilt Culture

18 May

Beberapa teman menulis di status facebook mereka tentang tanggapan terhadap keputusan PM Jepang Naoto Kan tidak bersedia menerima gaji sebagai PM mulai dari bulan Juni 2011 sampai dengan krisis reaktor nuklir Fukushima selesai. Sebagian besar teman “bermimpi” dan “berharap” keteladanan yang ditunjukkan oleh PM Kan juga dilakukan oleh para “pemimpin” di bumi pertiwi ini.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Karakter, sikap dan perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem nilai budaya masyarakat. Mengapa PM Kan memiliki karakter, sikap dan perilaku seperti itu tentu saja karena ia dibesarkan dalam sistem nilai budaya masyarakat Jepang. Karena itu, “mimpi kali ye” kalau berharap para “pemimpin” di republik ini berbondong-bondong “mengikuti” keteladanan PM Kan. Ingat, setiap ada peristiwa kecelakaan transportasi di republik ini, kita sangat mudah menemukan siapa yang menjadi “kambing hitam” dan siapa yang tidak mau bertanggung jawab.

Sebagaimana diberitakan di berbagai media massa, “Perdana Menteri Jepang Naoto Kan pada hari Selasa mengatakan bahwa ia tidak akan menerima gaji sebagai perdana menteri hingga krisis di reaktor nuklir Fukushima berakhir. Namun, ia akan tetap mengambil gajinya sebagai anggota parlemen (Tempo Interaktif, Rabu 11 Mei 2011).

PM Kan mengemukakan alasan sebagai berikut : “Bersama dengan operator reaktor, Tepco (Tokyo Electric Power Company), pemerintah mengemban tanggung jawab yang besar atas kecelakaan nuklir ini karena telah menerapkan kebijakan energi nuklir,”…………”Sebagai orang yang bertanggung jawab atas kebijakan ini, saya ingin menawarkan permintaan maaf saya kepada masyarakat,” (Tempo Interaktif, 11 Mei 2011).

PM Kan sesungguhnya bukan orang yang paling bertanggung jawab terhadap kecelakaan reaktor nuklir di Fukushima. Keputusan dan kebijakan menggunakan nuklir sebagai sumber energi adalah keputusan masa lalu dan diputuskan bukan dalam masa jabatan PM Kan. Tetapi orang Jepang memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan pertanggungjawaban kepada masyarakat, bangsa dan negaranya. Jangankan uang, nyawa pun akan dipertaruhkan demi kehormatan dan pertanggungjawaban. Itulah sebabnya mengapa di Jepang tradisi altruistic suicide seperti harakiri dan kamikaze sangat dinjunjung tingi.

Secara sosiologis dan anthropologis, karakter, sikap dan perilaku PM Kan dapat dijelaskan dengan teori guilt culture (kebudayaan kebersalahan) dan shame culture (kebudayaan malu). Karakteristik dasar dari shame culture seluruhnya ditandai oleh rasa malu dan disitu tidak dikenal rasa bersalah, sedangkan dalam guilt culture terdapat rasa bersalah. K. Bertens (2007) menjelaskan kedua bentuk budaya tersebut sebagai berikut :

“Menurut pandangan ini, shame culture adalah kebudayaan di mana pengertian-pengertian seperti “hormat”, “reputasi”, “nama baik”, “status” dan “gengsi” sangat ditekankan. Bila orang melakukan suatu kejahatan, hal itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk begitu saja, melainkan sesuatu yang harus disembunyikan  untuk orang lain. Malapetaka paling besar terjadi, bila suatu kesalahan diketahui oleh orang lain, sehingga pelaku kehilangan muka. Harus dihindarkan sekuat tenaga agar si pelaku jangan dicela atau dikutuk oleh orang lain. Bukan perbuatan jahat itu sendiri yang dianggap penting; yang penting ialah bahwa perbuatan jahat tidak akan diketahui. Bila perbuatan jahat toh sampai diketahui, ya, pelakunya menjadi “malu”. Dalam shame culture sanksinya datang dari luar, yaitu apa yang dipikirkan atau dikatakan oleh orang lain. Kiranya, sudah jelas bahwa dalam shame culture tidak ada nurani.

Sebaliknya, guilt culture adalah kebudayaan di mana pengertian-pengertian seperti  “dosa” (sin), “kebersalahan” (guilt), dan sebagainya sangat dipentingkan. Sekalipun suatu kejahatan tidak akan pernah diketahui oleh orang lain,  namun si pelaku merasa bersalah juga. Ia menyesal dan kurang tenang karena perbuatan itu sendiri, bukan karena dicela atau dikutuk oleh orang lain, jadi bukan karena tanggapan pihak luar. Dalam guilt culture, sanksinya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam : dari batin orang yang bersangkutan. Dapat dimengerti bahwa dalam guilt culture semacam itu hati nurani memegang peranan sangat penting”.

Menurut  para anthropolog, hampir sebagian besar kebudayaan Asia adalah shame culture, sedangkan kebudayaan barat di Eropa dan Amerika adalah guilt culture. Pengelompokan ini sangat bersifat umum dan tidak selalu benar. Kebudayaan Jepang dalam kenyataannya justru condong kepada budaya salah.

Jika memang benar bahwa budaya-budaya di Indonesia lebih sesuai dengan karakteristik budaya malu, maka kita dapat mengetahui sebab-sebab mengapa di republik ini selalu sulit menemukan orang-orang yang berani memikul tanggung jawab daripada menemukan “kambing hitam”. Itulah sebabnya pengunduran diri seorang anggota dewan yang terhormat dan “tertangkap basah” sedang melihat situs porno di ruang sidang menjadi sangat istimewa, dipuji dan dipuja-puja.

Padahal, sama sekali tidak ada yang istimewa dari pengunduran diri yang bersangkutan. Jika tidak “tertangkap basah”, apakah yang bersangkutan merasa bersalah dan mengundurkan diri?. Jika memang perbuatan melihat situs porno di ruang sidang adalah “haram” (baca : salah dan pelanggaran disiplin) bagi para anggota dewan yang terhormat, “tertangkap basah” atau tidak, mestinya mereka yang memang melakukan, pantas mengundurkan diri.

Saya tidak pernah lupa keberanian Lettu. (CZI) Piere Tendean yang dengan tegas mengatakan bahwa dirinya adalah Nasution. Meskipun saya hanya bisa menyaksikan keberanian almarhum Piere Tendean melalui film Pemberontakan G 30 S/PKI, toh sudah cukup menunjukkan bagaimana sosok Tendean bertanggung jawab melindungi pimpinannya. Sulit menemukan orang seperti Piere Tendean, seorang yang sangat bertanggung jawab atas amanah, sekalipun pertanggungjawaban itu tidak harus mengorbankan nyawa.

Bumi Serpong Damai, 15 Mei 2011

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: