RSS

Amanah

21 May

Seorang sahabat mengirimkan sebuah pesan melalui blackberry. Isi pesan tentang kebohongan yang pernah dilakukan oleh Dr. Arun Gandhi – salah seorang cucu dari Mahatma Gandhi – kepada ayahnya. The moral of the story adalah like father like son atau like mother like daughter.  Alhamdulillah, dengan “meng-goggling”, cerita tersebut sangat mudah ditemukan di beberapa blog, antara lain seperti yang saya kutip sebagai berikut :

“Waktu itu Arun masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua disebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya yaitu Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.

Suatu hari ayah Arun meminta Arun untuk mengantarkan ayahnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.”. Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya. Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya menanyakan Arun “Kenapa kau terlambat?”.

Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film John Wayne sehingga dia menjawab “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu”. Padahal ternyata tanpa sepengetahuan Arun, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”.

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebodohan bodoh yang Arun lakukan.” (http://zulfanahri.blogsome.com/ 2008/10/18/ berikut-ini-adalah-cerita-masa-muda-dr-arun-gandhi-cucu-dari; diunduh 21 Mei 2011).

Pesan dari sahabat itu mengingatkan saya pada perbuatan yang pernah saya lakukan pada saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Singkat kata, saya telah melakukan sebuah kesalahan dan bapak saya menghukum saya menulis indah sebuah kalimat pendek “saya tidak akan main ketapel lagi” sebanyak 100 kali. Setelah selesai dan saya serahkan kepada bapak saya, saya kemudian diminta menyerahkan tulisan tersebut beserta surat pengantar dari bapak saya kepada wali kelas. Karena alasan malu, saya keberatan untuk melaksanakan perintah bapak saya. Bapak saya menjawab dengan tegas bahwa dengan memperlihatkan kenakalan anaknya kepada wali kelas, bapak saya justru merasa paling malu karena telah gagal mendidik anaknya. (silakan baca “Father and Son” di rubrik “Parodi” blog ini).

Adalah Prof. Dr. J.E. Sahetapy, Guru Besar Emeritius Universitas Airlangga, yang suka sekali mengutip sebuah peribahasa dari Afrika yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut “ikan membusuk dimulai dari kepala, bukan ekornya”. Dalam konteks keluarga, keluarga yang bobrok dimulai dari kepala keluarga yang tidak becus menjadi pemimpin keluarga. Dalam konteks masyarakat, masyarakat yang rusak adalah cermin dari ketidakmampuan pimpinan masyarakat memimpin masyarakatnya secara amanah. Dalam konteks organisasi, organisasi yang amburadul menjelaskan bagaimana sesungguhnya kapabilitas dan kapasitas moral pemimpin organisasi mengorganisir manusia dan sumberdaya milik  organisasi.

Dalam konteks tanggung jawab seorang atasan inilah kita menjadi paham, mengapa seorang pemimpin di Jepang, meskipun tidak bertanggung jawab langsung atas suatu kesalahan, selalu merasa sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah dilakukan oleh anak buahnya. Bahkan ketika sebab-sebab kegagalan sebuah organisasi disebabkan oleh faktor force majeure sekalipun, seorang pimpinan di Jepang tetap bertanggung jawab terhadap organisasinya.

Demikianlah yang dilakukan oleh Masataka Shimizu, orang nomor satu di Tepco, sebuah perusahaan di Jepang yang menjalankan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima yang rusak parah terlanda gempa bumi dan tsunami bermagnitud 9,0 yang melanda Jepang pada Jumat 11 Maret 2011. Akibatnya,  Tepco kini merugi 1,25 triliun yen atau 15,3 miliar dollar AS. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Shimizu memilih lengser (Kompas, 20 Mei 2011).

Tentu saja perbedaan hakiki antara seorang atasan dengan bawahan bukan pada jabatan, gaji dan tunjangan. Perbedaan antara seorang atasan dengan bawahan juga bukan dalam hal berbagai simbol status yang digunakan oleh dua kelas sosial yang berbeda tersebut, antara lain kendaraan mewah, baju mahal, parfum mahal yang harumnya tahan 48 jam, arloji berlapis emas dan intan, dan lain sebagainya. Sejatinya, perbedaan antara seorang antasan dengan bawahan adalah dalam hal amanah dan bagaimana amanah itu dipertanggungjawabkan, di muka bumi dan pada hari akhir.

Kisah masa lalu Dr. Arun Gandhi menunjukkan bahwa keberhasilan seorang kepala keluarga ternyata tidak cukup semata-mata diukur dari keberhasilan memberikan sandang pangan yang cukup dan mengantarkan anak-anak “menjadi orang” yang ditandai dengan gelar kesarjanaan. Keberhasilan seorang pemimpin negara tampaknya terlalu naif kalau hanya diukur dari indikator-indikator ekonomi makro seperti GDP, GNP, tingkat inflasi, ketersediaan lapangan kerja, tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan, income per capita. Demikian juga dengan sebuah organisasi laba dan nirlaba, karena pada dasarnya organisasi juga terdiri manusia, indikator keberhasilan kepemimpinan tidak cukup hanya menggunakan pertumbuhan revenue, kemampulabaan, return of investment, dan lain sebagainya.

Anak-anak, rakyat, dan karyawan adalah manusia dan bukan sekedar seonggok daging. Apa arti pencapaian keberhasilan itu semua kalau ditandai dengan kepala ikan sudah membusuk? Jika itu yang terjadi, hanya soal waktu bagian badan dan ekor juga membusuk.

Bumi Serpong Damai 21 Mei 2011.

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: