RSS

Arrivederci Carletto

24 May

Manajemen Chelsea FC baru saja mengumumkan pemecatan pelatih Carlo Ancelotti. Pada tahun perdananya melatih Chelsea, Anceloti yang biasa dipanggil Carletto, berjasa menambah koleksi piala Chelsea, yaitu juara Liga Inggris musim kompetisi 2009/2010 dan Juara Piala FA 2010. Tahun ini Carleto tidak berjasa apapun kepada Chelsea, meskipun telah diberikan “amunisi” tambahan Fernando Torres yang berharga 50 juta poundsterling dan David Suarez yang berharga 21 juta poundsterling. Sebelumnya, Abramovich juga sudah merogoh koceknya untuk membeli Ramires.

Sudah sejak lama Roman  Abramovich menginginkan Chelsea menjuarai Piala Champion. Menjadi juara liga Inggris dan Piala FA adalah bagus, tetapi belum cukup dan tidak sebanding dengan dana yang telah dikucurkan oleh Abramovich. Siapapun pelatih Chelsea harus mampu mempersembahkan Piala Champion dan siapapun yang gagal harus siap dihujat dan dipecat.

Abramovich tidak pernah main-main dengan target yang ditetapkannya. Jose Mourinho yang juga berjasa mempersembahkan juara Piala Liga Inggris dan Piala FA juga dipecat karena hanya mampu mengantarkan Chelsea masuk semifinal Piala Champion. Avant Grant – pelatih sementara pengganti Mourinho dan karena itu tidak diharapkan terlalu banyak – justru berhasil mengantarkan Chelsea masuk final Piala Champion, dan Chelsea hanya kalah dari MU karena adu tendangan penalti. Toh Grant juga dicampakkan begitu saja oleh Abramovich.

Satu lagi “korban” dari kebijakan Abramovich adalah Luiz Felipe Scolari. Reputasi Scolari jelas tidak diragukan lagi, ia berhasil mengantarkan timnas Brasil menjuarai Piala Dunia 2002 dan mengantarkan generasi emas timnas Portugal masuk final Piala Eropa 2006. Scolari hanya bertahan “seumur jagung” di Chelsea, tetapi ia mendapatkan “berkah” dari pemecatannya. Chelsea harus membayar ganti rugi sebesar sisa kontrak Scolari.

Menjadi pelatih sepakbola profesional sama saja menempatkan diri seperti telur diujung tanduk. Semua pelatih sepakbola profesional menyadari risiko ini dan menikmatinya. Bukan hanya Abramovich yang bermental bagaikan seorang “butcher”, melainkan hampir semua pemilik klub sepakbola profesional berbakat dan selalu gemar memecat pelatih.

Bagi pelatih sepakbola profesional, beda antara sebagai pahlawan dan pecundang memang bagaikan membalik tangan. Musim kompetisi tahun lalu dipuji dan dipuja, tahun musim kompetisi tahun ini dihujat dan dipecat. Selain Mourinho, ada beberapa pelatih yang berhasil mengantarkan klub menjuarai piala liga setempat dan kemudian dipecat. Sebut saja Frank Rijkaard (berhasil mempersembahkan Juara Liga Spanyol dan Piala Champion bagi FC Barcelona), Bernd Schuster  (berhasil mempersembahkan juara liga Spanyol tetapi gagal mempersembahkan juara piala Champion bagi Real Madrid), dan Luis van Gaal yang musim kompetisi 2009/2010 berhasil mengantarkan Bayern Muenchen menjuarai Liga Jerman dan Piala Liga Jerman, tetapi tahun ini sudah harus “angkat koper” sebelum musim kompetisi berakhir.

Hanya sedikit pelatih sepakbola profesional yang gagal mempersembahkan juara liga setempat tetapi tidak dipecat. Ketika dipecat dari Chelsea, Mourinho sempat mengeluarkan “uneg-uneg”nya mengapa ia selalu dipojokkan, sementara Arsene Wenger – pelatih FC Arsenal Inggris – yang sudah 6 tahun tidak mempersembahkan gelar apapun, tetap kokoh menduduki kursi pelatih.

Arsenal adalah “the royal football club”. Klub yang bermakas di London ini adalah klub kebanggaan keluarga kerajaan Inggris. Tetapi tentu saja bukan karena faktor itu sehingga Wenger aman-aman saja sebagai pelatih. Arsenal adalah klub yang percaya kepada pembinaan dan memberikan kepercayaan yang sangat besar kepada para pemain muda. Arsenal menempatkan proses sama pentingnya dengan hasil. Artinya, Arsenal sekaligus mengedepankan process oriented dan result oriented. Lagipula, meskipun keberhasilan Wenger masih kalah jauh dibandingkan dengan Sir Alex Ferguson, Wenger dianggap berjasa mengubah filosofi dan permainan sepakbola Inggris menjadi lebih berbudaya. Semula, filosofi dan gaya permainan sepakbola Inggris adalah kick and rush. Setelah Wenger berada di Arsenal sejak 1995, sepakbola Inggris mulai ketularan “virus” permainan indah dan menyerang.

Dalam konteks human capital, apa yang dilakukan oleh Mourinho dan Wenger seperti sudut bertolak belakang. Meminjam istilah yang digunakan oleh Dave Ulrich, mereka berdua berbeda dalam hal strategi rekruitmen dan seleksi pesepakbola yang akan memperkuat tim utama yang mereka bentuk, yaitu  : buy atau build. Mourinho adalah pelatih yang tidak mau buang-buang waktu untuk segera memberikan hasil dan doyan shopping, karena itu untuk memperkuat squad yang dilatihnya ia cenderung “buy”.  Meskipun FC Real Madrid sudah bertaburan bintang, sudah menjadi kebiasaan Mourinho untuk selalu mengajukan proposal belanja pemain. Sementara Wenger lebih sabar dalam hal proses dan senang dengan gaya “akademisi” dan memilih “build” para pesepakbola, terutama dari negara-negara Afrika pernah menjadi jajahan Perancis.

Perbedaan perlakuan terhadap pelatih berkaitan dengan filosofi klub dan pemilik klub. Tidak semua pemilik klub merupakan pendiri klub. Pemilik klub yang  merupakan keturunan pendiri klub biasanya memiliki filosofi yang lebih manusiawi ketimbang pemilik klub yang masuk belakangan. Pemilik klub seperti Abramovich sejatinya tidak lebih dari sekedar investor, atau bahkan spekulan. Bandingkan misalnya dengan Massimo Moratti, meskipun  pada dasarnya dia adalah seorang investor, tetapi ia mewarisi InterMilan dari nenek moyangnya sehingga lebih paham dan mau bersusah payah memelihara filosofi klub.

Dunia sepakbola adalah dunia yang paling tidak aman. Tidak ada satupun orang yang bisa menjamin posisi pelatih akan aman. Tidak ada satupun pelatih yang mampu menjamin bahwa seorang pemain pasti akan menjadi starter. Bahkan, seorang pemain yang telah berjasa mengharumkan reputasi sebuah klub dapat dibuang begitu saja oleh pemilik klub tanpa ada perasaan bersalah.

Nasib itulah yang dialami oleh Andrea Pirlo, playmaker timnas sepakbola Italia dan AC Milan. Pirlo terpaksa mengucapkan “arrivederci Milan” (selamat tinggal Milan) hanya gara-gara gaya bermain Pirlo tidak cocok dengan strategi pelatih Massimiliano Allegri. Pirlo adalah seorang playmaker yang bernaluri menyerang, sementara strategi Allegri adalah menghendaki seorang playmaker yang memiliki naluri bertahan. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Mark van Bommel, pesepakbola yang sudah relatif uzur dan sudah “dibuang” oleh klub Bayern Muenchen, justru sangat cocok dengan strategi Allegri. Kebetulan, Allegri juga puas dengan performa van Bommel. Belakangan, Adriano Galliani – wakil presiden AC Milan – mengemukakan kebijakan klubnya “meniru” Arsenal : hanya akan memperpanjang kontrak pemain yang berusia di atas 30 tahun dengan jangka waktu kontrak 1 tahun ke depan. Karena Pirlo tidak setuju, Pirlo dipersilakan pergi.

Arrivederci Carleto dan Pirlo.

Bumi Serpong Damai, 23 Mei 2011.

 
2 Comments

Posted by on May 24, 2011 in Selasar

 

2 responses to “Arrivederci Carletto

  1. budisantoso

    May 24, 2011 at 8:17 am

    Bagaimana dengan Liverpool FC Pa?Tetapi menurut saya capitalisme sepakbola memnyebabkan hampir semua klub memakai model Buy…

     
    • wisanggenia

      May 25, 2011 at 7:18 am

      saya senang Liverpool sebelum Benitez jadi pelatihnya. Tetapi pada zaman Benitez, Liverpool termasuk royal beli pemain. Benitez termasuk pelatih “cengeng”, setali tiga uang dengan Mourinho yang selalu merengek-rengek dibelikan pemain. Nggak pernah puas dengan pemain yang sudah ada.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: