RSS

Pole Position

26 May

Bagi rakyat, pemerintah, pengusaha, bangsa dan negara, menjadi tuan rumah pesta sepakbola sejagat  merupakan kehormatan dan kebanggaan yang tiada tara. Lagi pula, timnas negara yang menjadi penyelenggara Piala Dunia (PD) sepakbola otomatis menjadi salah satu peserta dari 32 timnas dari negara-negara lain yang lolos putaran final PD. Barangkali, itulah sebabnya, mengapa sempat ada kasak kusuk dari segelintir orang yang ingin “mengharumkan” nama Indonesia, memperjuangkan agar Indonesia dapat menjadi penyelenggara PD.

Biasanya, hanya ada 1 orang yang paling “sedih” jika negaranya ditunjuk menjadi tuan rumah PD. Para pelatih timnas biasanya tidak begitu senang dengan kondisi lolos otomatis masuk putaran final PD. Ada hal yang sangat penting dan hilang jika suatu timnas langsung masuk putaran final PD, yaitu kesempatan bertanding.

Dengan menggunakan model “football value chain”, maka pertandingan adalah salah satu proses inti tidak hanya khusus untuk sepakbola, melainkan juga cabang-cabang olahraga lainnya.  Football Value chain di dunia sepakbola kira-kira dapat digambarkan sebagai berikut :

Juergen Klinsmann, pelatih timnas sepakbola Jerman untuk PD 2006 yang diselenggarakan di Jerman sempat mengeluh, sebab sebagai tuan rumah PD, timnas Jerman otomatis masuk putaran final PD 2006. Dengan demikian, timnas Jerman kehilangan kesempatan untuk merasakan aura pertandingan yang sesungguhnya.

Bagaimanapun, kualitas suatu uji coba berupa pertandingan persahabatan melawan salah satu timnas calon peserta PD, sangat jauh berbeda dengan kualitas pertandingan yang sesungguhnya di babak penyisihan PD. Dalam pertandingan persahabatan, para pemain tidak mengalami tekanan yang sesungguhnya. Meskipun sebuah uji coba pada dasarnya tetap bermanfaat untuk mengukur seberapa baik kesiapan teknis, fisik (dan stamina), dan mental para pemain, tetapi tidak dapat menjadi barometer terbaik untuk menilai kesiapan seorang pemain untuk menghadapi pertandingan yang sesungguhnya.

Tingkat kesiapan teknis, fisik (dan stamina) dan mental para pesepakbola, demikian juga dengan suasana kompetisi dan tekanan, hanya dapat dirasakan dalam pertandingan yang sesungguhnya. Pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dari beberapa pertandingan di babak penyisihan merupakan lessons learned yang sangat berharga. Berdasarkan tingkat kesiapan masing-masing pemain dan kesenjangan yang ditemukan, seorang pelatih mengetahui tindakan apa saja yang harus dilakukan dan strategi untuk menyiapkan skuadnya. Oleh karena itu, pengalaman bertanding dalam babak penyisihan adalah proses inti yang tidak dapat digantikan oleh proses apapun.

Kebutuhan untuk merasakan suasana kompetisi juga sangat dibutuhkan oleh para pembalap, baik dalam lomba motor GP maupun Formula 1. Sebelum para pembalap bertanding dalam lomba yang sesungguhnya, mereka mengikuti sesi latihan dan kualifikasi. Semua proses itu bukan sekedar ritual biasa untuk menetapkan pole position. Meskipun dalam sesi latihan dan kualifikasi pembalap menghadapi risiko cidera, motor atau kendaraan rusak, tetapi proses latihan dan kualifikasi sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi para pembalap dan tim pabrikan.

Bagi tim pabrikan, kesempatan latihan dan kualifikasi merupakan kesempatan untuk mengetahui kesiapan pembalap dan kesiapan kendaraan. Hal-hal yang masih kurang dan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk menghadapi lomba yang sesungguhnya dapat diketahui selama proses latihan dan kualifikasi. Bahkan, dasar untuk merancang strategi menghadapi lomba dibuat berdasarkan hasil dari latihan dan kualifikasi.

Bagi para pembalap, latihan dan babak kualifikasi tidak hanya penting untuk mengetahui kesiapan teknis, fisik dan stamina, dan mental dirinya, melainkan juga kompetitornya. Bahkan, bagi sebagian pembalap, sesi latihan dan kualifikasi masih dipandang kurang cukup untuk memacu adrenalin mereka. Jenson Alexander Lyons Button, pembalap F1 asal Inggris yang terkenal memiliki “very smooth driving style” dan “jagoan” menghemat ban, masih membutuhkan kegiatan “ekstrakurikuler” seperti mountain bike dan kompetisi triathlon  dengan tingkat risiko ekstrim “hanya” untuk memacu adrenalinnya (baca : tingkat kesiapan mental bertanding). Sementara Robert Kubica, pembalap F1 asal Polandia, mengikuti lomba reli mobil sebelum musim kompetisi F1 dimulai.

Dalam dunia olah raga, babak penyisihan, kualifikasi, atau apapun namanya, adalah proses seleksi yang sudah pasti diadakan dan salah satu cara untuk mewujudkan fairplay. Hampir tidak ada pesepakbola yang terpilih mewakili timnas negaranya di kejuaraan apapun tanpa proses seleksi. Tidak ada dalam sejarah penyelenggaraan lomba Motor GP dan Formula 1, penetapan pole position dilakukan tanpa proses yang akuntable. Meskipun Michael Schumacher telah menjadi juara Formula 1 sebanyak 7 kali, ia tetap harus mengikuti proses kualifikasi untuk menetapkan pole position.

Bumi Serpong Damai, 24 Mei 2011.

 
Leave a comment

Posted by on May 26, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: