RSS

Nelson “The Black Pimpelner” Mandela

27 May

Pendahuluan.

Dalam rangka merayakan hari jadinya ke 100 pada tahun 1998,  Majalah Time merasa perlu memilih “Man of The Century” (“MTC”). Mereka yang masuk nominasi “Man of The Century” berasal dari kalangan yang beragam : negarawan, pimpinan negara, ilmuwan, politikus, pemimpin keagamaan, artis, olahragawan, budayawan, dan lain sebagainya. Salah seorang kandidat MTC adalah Nelson Rolihlala Mandela.

Dengan susah payah akhirnya Time berhasil memilih MTC, yaitu Albert Einstein dan “runner up” disabet oleh Theodore Roosevelt. Meskipun akhirnya Nelson Mandela “kalah” dan tidak terpilih sebagai MTC, pencalonan dirinya oleh Time sebagai salah seorang kandidat kuat MTC, menunjukkan bahwa Mandela adalah salah seorang pemimpin yang berhasil dan layak diteladani.

Uraian di bawah ini mencoba mengamati kepemimpinan Nelson Rolihlala Mandela. Meskipun tidak terkait langsung dengan kehidupan kita, namun kepemimpinan dan nilai-nilai yang mendasari kepemimpinannya layak diteladani.

Kehidupan dan Perjuangan Mandela.

Lahir di Qunu, dekat daerah Umwata, pada tanggal 18 Juli 1918. Ayahnya yang bernama Henry Mgadla Mandela, adalah mantan Ketua Dewan KotaTembuland. Ketika ayahnya meninggal, Nelson Mandela kemudian di bawah perwalian dan dipersiapkan sebagai kepala suku untuk menggantikan ayahnya. Tetapi karena di usianya yang masih sangat muda Mandela sudah melihat dan merasakan ketidakadilan sistem apartheid, ia lebih memilih perlawanan terhadap sistem apartheid.

Lahir dengan nama Rolihlala Mandela. Nama depan Mandela, sesuai dengan bahasa sukunya, secara harfiah berarti “troublemaker”. Tidak jelas apakah ketika orang tuanya memberikan nama Rolihlala, orang tuanya sudah melihat “tanda-tanda zaman” bahwa anaknya kelak akan menjadi seorang yang berkarakter “mbalelo” melawan ketidakadilan. Tambahan nama Nelson diberikan oleh guru sekolah dasarnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di sekolah misi lokal, Mandela kemudian melanjutkan pendidikannya di Weslyan Secondary School, Healdtown untuk kemudian melanjutkan ke University College of Fort Hare untuk mempelajari hukum. Di universitas ini Mandela terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa. Di universitas ini pula, sekitar awal tahun 1940an,  Mandela sudah mengawali karirnya sebagai aktivis mahasiswa sehingga ia diskors karena melakukan protes boikot. Selesai menjalani penahanan, Mandela pindah ke Johannesburg sambil menyelesaikan pendidikan sarjana muda melalui kuliah jarak jauh / korespondensi.

Aktivitas politik Mandela secara resmi dimulai pada April 1944, di mana ia bersama generasi muda Afrika mendirikan Liga Pemuda Kongres Nasional Afrika (African National Congress Youth League – ANCYL).  Liga Pemuda ini mengemban tugas berat untuk mengubah Kongres Nasional Afrika (African National Congress – ANC) menjadi gerakan massa. Mendapatkan kekuatan dan motivasi dari para buruh di perkotaan dan pedalaman, dukungan dari para petani di pedesaan, dan para profesional, Liga Pemuda memproklamirkan diri sebagai sebagai organisasi politik yang mempunyai tujuan untuk membangun demokrasi yang sesungguhnya di Afrika Selatan dan seluruh benua Afrika. Inti tujuan yang hendak dicapai adalah bahwa dalam demokrasi, maka semua bangsa dan minoritas mempunyai hak yang fundamental yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar yang demokratis. Untuk mencapai tujuannya, Liga Pemuda ANC memperjuangkan (i.) penghapusan diskriminasi hukum dan peradilan, dan (ii.) memberikan bantuan kepada masyarakat Afrika untuk mendapatkan kewarganegaraan penuh sehingga mereka mempunyai perwakilan langsung dalam parlemen.

Usaha-usaha yang dilakukan Mandela, terutama kedisiplinan dan usahanya yang konsisten, sangat mengesankan teman-temannya. Hanya dalam waktu 3 tahun, pada tahun 1947 Mandela terpilih sebagai sekretaris dari Liga Pemuda. Jabatan tersebut hanyalah salah satu dari jabatan-jabatan yang kemudian diembannya : Presiden Liga Pemuda ANC (1950), Presiden ANC Transvaal (1952),  Deputy National President (1952), Presiden ANC (1991), dan terakhir sebagai Presiden Afrika Selatan (10 Mei 1994 s.d. Juni 1999).  Bersama Oliver Tambo, Mandela juga membuka praktek kantor pengacara hukum pertama di Afrika Selatan, suatu hal yang tidak lumrah untuk dekade 50an.

Selama dekade 50an, Mandela dikenal sebagai tokoh terdepan dalam hal perlawanan terhadap sistem apartheid.  Ia menjadi korban dari berbagai kebijakan yang bersifaf represif. Ia dihalang-halangi untuk melakukan aktivitas, ditahan, dan dipenjarakan berulang kali. Namun semua itu dianggapnya sebagai biaya yang harus ditanggungnya sebagai akibat dari aktivitas politik dan pekerjaannya di bidang hukum.

Liga Pemuda ANC secara konsisten memilih aksi damai dan menolak semua bentuk perlawanan dengan kekerasan. Meskipun demikian, pemerintah justru menanggapinya dengan cara mobilisasi militer secara besar-besaran. Ketika menjalankan Defiance Campaign, Mandela justru dituduh melanggar Communism Act dan Mandela harus menjalani hukuman penjara.

Selain menjadi pelanggan utama rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan, untuk mewujudkan tujuan perjuangannya Mandela juga harus berpisah dengan keluarganya. Untuk menghindari kaki tangan penguasa dan mata-mata polisi, Mandela tidak hanya harus pindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan juga melakukan penyamaran, misalkan sebagai buruh kasar dan pengemudi. Untuk penyamarannya yang terbilang sukses, Mandela diberikan julukan Black Pimpernel oleh para polisi yang memburunya.

Setelah berusaha mengedepankan perlawanan dengan jalan damai dan anti kekerasan dalam bentuk apapun, Mandela dengan persetujuan para pimpinan ANC lainnya, terpaksa menempuh “jalan kekerasan”. ANC kemudian membentuk unit yang dikenal sebagai Umkhonto we Sizwe, sebuah satuan / sayap militer / bersenjata yang dipersiapkan untuk melakukan perlawanan dengan kekerasan. Jalan kekerasan tidak terelakkan, terutama karena pemerintah menanggapi gerakan perdamaian dengan kekuatan bersenjata. Seperti dikatakan oleh Mandela :

“At the beginning of June 1961, after long and anxious assessment of the South African situation, I and some colleagues came to the conclussion that as violence in this country was inevitable, it would be wrong and unrealistic for African leaders to continue preaching peace and non-violence at a time when the government met our peaceful demands with force. It was only when all else had failed, when all channels of peaceful protest had been barred to us, that the decision was made to embark on violent forms of political struggle, and to form Umkhonto we Sizwe… the Government had left us no other choice.”

Mandela sendiri yang bertindak sebagai commander-in-chief dari Umkhonto we Sizwe. Ini yang membedakan Mandela dengan Gandhi, meskipun sama-sama menekankan pada gerakan perlawanan tanpa kekerasan, tetapi Mandela lebih realistik dan taktis dalam melakukan perlawanan. Setelah menjadi orang nomor 1 ANC, aktivitas Mandela selalu menjadi perhatian dari pemerintah kulit pulih.

Pada tahun 1962 Mandela mulai meninggalkan negaranya secara tidak sah untuk menggalang dukungan dari negara-negara Afrika lainnya. Selama keberadaannya di luar negeri, Mandela tetap mengadakan hubungan dengan ANC, bahkan merancang kegiatan perlawanan bersenjata yang lebih intensif dan mulai memberikan latihan-latihan perang gerilya kepada anggota Ukhonto we Sizwe.

Semua kegiatannya tersebut harus dibayarnya mahal. Sekembalinya dari luar negeri, Mandela ditahan pihak berwajib dengan tuduhan telah pergi ke luar negeri tanpa prosedur yang sah dan dituduh telah menghasut tindakan huru-hara. Bagi Mandela, pembelaan di pengadilan adalah jalan terbaik yang harus ditempuh dan merupakan proses pembelajaran terbaik bagi masyarakat Afrika Selatan. Namun ia mempertanyakan majelis hakim, mengingat bahwa peradilan dikuasai oleh kulit putih dan karena itu diragukan untuk tidak memihak. Ia juga merasa tidak mempunyai kewajiban untuk mematuhi hukum-hukum produk dari parlemen kulit putih, di mana ia sebagai anggota masyarakat tidak mempunyai perwakilan di parlemen. Akhirnya, sejak Nopember 1964. Mandela dihukum dengan penjara seumur hidup di penjara Robben Island, sebuah penjara yang mendapatkan pengamanan sangat maksium dari pihak keamanan.

Meskipun dipenjara, perjuangan Mandela dan seluruh rakyat Afrika Selatan terhadap sistem apartheid tidak terhenti. Bahkan, Robben Island menjadi center of learning, di mana Mandela menjadi figur sentral dari pendidikan politik yang terorganisasi. Keteguhan Mandela dalam mempertahankan prinsip diperlihatkannya selama di penjara. Meskipun mendapatkan tawaran pembebasan asalkan ia bersedia meninggalkan kekerasan, Mandela menolak semua bentuk negosiasi. Ia juga ditawari pembebasan, asalkan ia bersedia hidup tenang di tanah kelahirannya dan tidak melakukan perlawanan terhadap sistem apartheid.  Semua ditolaknya,  sebab menurut Mandela, seorang tahanan tidak dapat mengadakan kontrak apapun. Hanya orang merdeka yang dapat mengadakan negosiasi.

Pada bulan April 1984 Mandela dipindahkan dari penjara Robben Island ke penjara Pollsmoor di Cape Town, dan kemudian dipindahkan lagi ke penjara Victor Verster pada tahun 1988. Akhirnya, setelah menjalani “long and lonely years”, pada tanggal 11 Pebruari 1990 Mandela dibebaskan dari penjara. Pembebasan Mandela bukan hanya merupakan kemenangan pribadi, tetapi sekaligus juga menandai berakhirnya sistem apartheid di Afrika Selatan.

Lebih dari 27 tahun hidup dipenjara dan menunggu selama lebih dari 4 dekade memperjuangkan masyarakat yang harmoni dan persamaan hak, bukanlah waktu yang pendek. Penderitaan yang dialaminya dan juga dialami oleh seluruh warga kulit hitam Afrika Selatan, boleh jadi akan menanamkan benih-benih kebencian, kemarahan, dan motivasi untuk membalas dendam. Meskipun mendapatkan provokasi dan tekanan, Mandela tidak membalas rasisme dengan rasisme. Barangkali, salah satu tahap yang paling sulit dari keseluruhan tahap mewujudkan perjuangan Mandela, adalah tatkala kemenangan sudah di tangan. Saat itulah sebenarnya kepemimpinan Mandela mendapatkan ujian yang sejati. Menghadapi masa-masa yang sulit dalam perjuangan Mandela, Profesor Andre Brink mencatat sebagai berikut :

“Then began the real test. Every inch of the way, Mandela had to win the support of his own followers. More difficult still the process of allaying white fears. But the patience, the wisdom, the visionary quality Mandela brought to his struggle, and above all the moral integrity with which he set about to unify a divided people, resulted in the country’s first democratic elections and his selection as President.”

Untuk kehidupannya yang merupakan simbol kemenangan semangat kemanusiaan terhadap kekejaman terhadap manusia, Nelson Mandela layak menerima hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1993. Ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian yang ia persembahkan untuk seluruh rakyat Afrika Selatan yang telah menderita dan berkorban sangat banyak, untuk mewujudkan kedamaian untuk bangsanya. Tahun 1994, saat digelar pemilihan umum yang pertama kalinya diselenggarakan secara demokratis, Nelson Rolihlala Mandela terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan.

Visi Kepemimpinan Mandela.

Banyak orang dari seluruh pelosok dunia mengenal secara tidak langsung Mandela, bahkan lebih dari itu mereka juga mengagumi Mandela. Tetapi boleh jadi orang memahami Mandela secara tidak tepat. Karena kebetulan Mandela seorang berkulit hitam, dan “musuh” yang dihadapinya berkulit putih, maka serta merta sementara pihak menyimpulkan bahwa Mandela merupakan sosok wakil kulit hitam melawan kulit putih.

Sejatinya, musuh  Mandela adalah bukan  orang-orang kulit putih. Bagi Mandela, musuh utamanya adalah masyarakat yang tidak demokratis, tidak tidak harmoni, dan tidak adil. Nilai-nilai tersebut tampak sekali pada saat ia mengajukan pembelaannya di hadapan Rivonia Trials sebagai berikut :

I have fought against white domination, and I have fought against black domination. I have cherished the ideal of democratic and free society in which all persons live together in harmony and with equal opportunities. It is an ideal which I hope to live for and to achieve. But if needs be, it is an ideal for which I am prepared to die.

Sebagaimana Martin Luther King, Jr. mempunyai “mimpi”, demikian juga Mandela berusaha menyampaikan “mimpi”nya tentang masyarakat yang dicita-citakan. Dengan menggunakan teknik framing (Stephen P Robbins, 2005 : 362), Mandela menggunakan cara-cara yang biasa digunakan oleh para pemimpin untuk mempengaruhi bagaimana melihat kejadian-kejadian dan memahaminya.

Itulah sebabnya, mengapa Mandela mendapat dukungan yang luas tidak hanya dari masyarakatnya saja, tetapi juga umat manusia dari seluruh dunia. Perjuangan Mandela bukanlah perjuangan melawan ras kulit putih, melainkan perjuangan melawan ketidakadilan dalam masyarakat, sesuatu yang bisa terjadi dalam masyarakat manapun.

Refleksi Kepemimpinan Mandela.

Dibandingkan dengan Marthin Luther King, saya memang lebih “mengenal” Luther King daripada Nelson Mandela. Saya sempat menganggap apa yang telah dilakukan oleh Mandela sebagai biasa-biasa saja. Mandela mungkin sangat “diuntungkan” oleh media massa yang gencar mempublikasikan perjuangannya. Mandela juga menjadi lebih mudah dikenali perjuangannya karena ia hidup – meminjam istilah Gelombang Ketiga yang digunakan Alvin Toffler – di zaman Revolusi Informasi. Seperti layaknya “bintang iklan”, Mandela  hadir di mana-mana karena media elektronik berlomba-lomba menginformasikan perjuangan Mandela kepada masyarakat dunia.

Saya baru sadar dan mampu menghargai Nelson Mandela sebagai salah seorang pemimpin yang layak “diperhitungkan” pada saat ia menyampaikan gagasan forgive, but not forget. Dalam hal forgive ini, Mandela mengingatkan saya kepada Nabi Muhammad S.A.W yang memilih jalan damai dan memaafkan musuh-musuhnya setelah beliau “merebut” kembali kota Mekkah. Tahun 8 H, Rasulullah berusaha “merebut” kembali Mekkah dari kekuasaan orang-orang kafir, dan menjadikan Mekkah kembali sebagai pusat penyebaran agama Islam. Mereka yang membaca sejarah Islam paham bagaimana sikap dan perilaku musuh-musuh Rasulullah Muhammad SAW, tidak hanya memfitnah dan mengusirnya dari kota kelahirannya Mekkah, melainkan juga berusaha untuk membunuhnya. Namun, setelah berhasil menaklukkan kota Mekkah, dengan mengenggam kekuasaan tertinggi dan berhak mengambil keputusan apapun, Rasululullah memimilih jalan damai dengan memaafkan sikap dan perbuatan musuh-musuhnya di masa lampau.

Memaafkan bukan perkara mudah. Memaafkan adalah urusan besar dan orang-orang berjiwa besar yang mampu memberikan maaf. Sikap dan perbuatan musuh-musuh Mandela tentu sangat menyakiti lahir dan batin Mandela. Konsistensinya menempuh jalur hukum pun tidak berbuah seperti yang diharapkannya. Jalur hukum justru “mengantarkan” Mandela menuju penjara dan memberikan pengalaman merasakan, meminjam istilah yang digunakan oleh Mandela, “long and lonely years”.

Memaafkan bukan sekedar urusan akhlak dan kemurahan hati. Memaafkan bukan sekedar aspek kecerdasan emosional dan spiritual. Tindakan memaafkan, juga membutuhkan kecerdasan intelektual. Bagi Mandela, perjuangan melawan rasialisme yang diperagakan secara sempurna oleh F.W. de Klerk, hanya lah merupakan tahapan tertentu dari keseluruhan tahap perjuangannya. Mandela justru melihat, bahwa masalah besar akan timbul apabila setelah berhasil memperjuangkan penghapusan rasialisme di Afrika Selatan, tidak ada upaya-upaya yang cerdas untuk mengisi kehidupan di masa mendatang.

Forgive but not forget. Itulah solusi cerdas yang ditawarkan oleh Mandela untuk menyelesaikan permusuhan di antara anak-anak bangsa yang telah berlangsung bertahun-tahun. Sadar bahwa abuse of power yang dipraktekan golongan putih akan mengundang pembalasan dendam yang tidak terkontrol, dan sadar bahwa apabila akar-akar kebencian dan permusuhan tidak dikendalikan maka bangsa Afrika Selatan akan hancur dalam perang saudara yang berkesinambungan, maka jalan terbaik adalah dengan memaafkan.  Tetapi memaafkan tidak berarti melupakan. Mandela tetap  memilih jalur hukum untuk menyelesaikan pelanggaran HAM yang terjadi pada rejim apartheid.

Dalam bukunya Pyramid of Leadership (Donald Clark, 2001 : 6-8), Clark menyebutkan tentang leadership competencies, core competencies, dan professional competencies yang harus ada dalam seorang pemimpin. Dengan menggunakan model pyramid of leadership, Mandela dapat dikatakan sebagai seorang pemimpin hebat. Saya mencoba mengamati dari 2 leadership competencies yang disebutkan oleh Clark, yaitu visioning dan foster conflict resolution (win-win).

Dalam hal visi ke depan, mensosialisasikan visi kepada para pengikutnya, dan menjadikan visi tersebut menjadi visi pengikutnya, Mandela tidak perlu diragukan lagi. Kehebatan Mandela juga dalam memberikan framing tentang apa yang dicita-citakan. Visi Mandela tidak sekadar menghapus dominasi kulit putih dan menggantikan dengan dominiasi kulit hitam. Visi sesungguhnya dari Mandela adalah masyarakat yang demokratis, seluruh anggota masyarakat hidup dalam suasana yang harmonis dan mempunyai persamaan hak. Visi tersebut dapat diterima oleh para pengikutnya dan menjadi framing gerakan perjuangan.

Menyadari bahwa sangat mungkin terjadi balas dendam terhadap orang-orang kulit putih terhadap apa yang mereka telah lakukan terhadap kulit hitam, dan menyadari bahwa apabila tidak dikendalikan akan terjadi dominasi kulit hitam yang mayoritas terhadap orang-orang kulit putih yang merupakan minoritas, maka ia menegaskan nilai-nilai yang harus mendasari masyarakat masa depan yang akan dibangun bersama seluruh bangsa Afrika Selatan. Tidak ada pilihan lain bagi Mandela kecuali mengedepankan foster conflict resolution yang memberikan win-win kepada pihak-pihak yang bermusuhan.

Melalui forgive but not to forget, tidak terjadi pembalasan dendam dan pertumpahan darah. Tetapi karena kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh minoritas kulit putih di masa lalu tidak dapat dilupakan begitu saja, maka Mandela memilih jalur hukum sebagai mekanisme penyelesaian yang adil. Visi cemerlang dari Mandela inilah yang kemudian dicontoh oleh bangsa-bangsa lain dalam menyelesaikan konflik internal. Korea Selatan misalnya, tidak segan-segan mengadili mantan Presiden Choo Do Hwan dan Roo Tae Woo di depan pengadilan, meskipun kemudian keduanya dimaafkan.

Pendapat Clark dapat kita bandingkan dengan pendapat dari Rosabeth Moss Kanter tentang Cosmopolitan Leaders, kriteria penilaian terhadap kepemimpinan dari force of personality to quality of mind. Menurut Kanter, Cosmopolitan Leader adalah seorang pemimpin yang memenuhi kriteria sebagai (i.) integrators yang dapat memahami perbedaan-perbedaan di antara organisasi, sektor, disiplin, fungsi-fungsi dan budaya; (ii.) diplomats yang dapat mengatasi / menyelesaikan konflik; (iii.) cross-fertilizers yang mampu membawa yang terbaik dari satu tempat ke tempat lain; dan (iv.) deep thinkers yang cukup cerdas melihat kemungkinan-kemungkinan dan mengkonseptualisasikannya. Mandela mempunyai kemampuan sebagai integrator, dengan kemampuannya menyatukan a divided people, dan kemampuan diplomats, dengan kemampuannya menyelesaikan konflik yang memuaskan pihak-pihak yang berselisih.

 

Kesimpulan dan Penutup.

Meskipun berasal dari keturunan keluarga terpandang di masyarakatnya, Nelson Mandela bukanlah seorang pemimpin karismatik. Kalau toh pada akhirnya ia mempunyai karisma, itu tidak berarti Mandela mendasarkan power yang dimilikinya dari charismatic power.

Seperti yang dikatakannya sendiri, Mandela bukanlah seorang Messiah, tetapi orang biasa yang menjadi seorang pemimpin karena keadaan lingkungan yang luar biasa. Menjatuhkan pilihan melawan apartheid dari pada hidup tenang di kampung halamannya dan berkarir sebagai pekerja kantoran, Mandela harus membayar mahal terhadap jalan hidup yang telah dipilihnya.

Daripada memilih hidup tenang dan enak di desa tempat kelahirannya, meniti karir sebagai pengacara dengan penghasilan yang layak, Mandela justru memilih jalan hidup yang jauh lebih sulit. Satu hal yang pasti dari pilihannya menentang rezim apartheid adalah pengorbanan dan penderitaan, dan harapan untuk sukses yang hampir mustahil diwujudkan dalam masyarakat dengan sistem politik dan kekuasaan militer terpusat pada minoritas kulit putih, akses pendidikan dan kesejahteraan yang dibatasi.

Berhasil memberikan visi dan framing keadaan masyarakat mendatang yang dicita-citakan, pada akhirnya Mandela berhasil membawa pengikutnya hidup dalam masyarakat yang harmonis, adil dan demokratis. Tidak hanya untuk masyarakat kulit hitam, melainkan juga untuk minoritas kulit putih yang pernah mendzalimin masyarakat kulit hitam. Melalui solusi cerdas forgive but not forget, Mandela mampu menghindarkan perang saudara dan pembalasan dendam tak terkendali di Afrika Selatan.

Layak apabila kemudian Mandela, bersama “musuh bebuyutan”nya, mendapat anugerah Nobel Perdamaian pada tahun 1993. Meskipun tidak terpilih menjadi Man of the Century, hal itu tidak mengurangi sumbangan Mandela terhadap kemanusiaan. Andre Brink secara tepat menggambarkan tentang Mandela sebagai “as the world’s most famous prisoner, his country’s leader, he exemplirfies a moral integrity that shines far beyond South Africa”.

Pamulang, 4 April 2005.

Daftar Pustaka :

  • Brink, Andre,  Nelson Mandela, dalam Time 100, 13 April 1998.
  • Clark, Donald, Leadership, 2001
  • Kanter, Rosabeth Moss, World Class : Thriving Locally in the Global Economy,  (New York : Simon & Schuster, 1995)
  • Robbins, Stephen P., Organizational Behavior, Pearson Prentice Hall, New Jersey, 2005.
  • Mandela, Nelson Rolihlala and Stengel, Richard, Long Walk to Freedom.
 
Leave a comment

Posted by on May 27, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: