RSS

Stakeholder Analysis

31 May

Kecuali dibatasi oleh norma-norma agama, norma sosial, hukum positif yang berlaku di tingkat negara maupun daerah, etika sosial, etika bisnis, dan berbagai peraturan lainnya, hidup kita juga dibatasi oleh “siapa diri kita”.

Siapa diri anda menjelaskan bagaimana sesungguhnya bargaining position dan bargaining power anda. Semakin tinggi jabatan anda – dan karena itu semakin kuat bargaining position – maka akan semakin kuat bargaining power anda. Secara umum logika dan kecenderungannya seperti itu, meskipun dalam kehidupan nyata, korelasi antara bargaining position dan bargaining power tidak selalu positif.

Di negara manapun yang menganut sistem pemerintahan republik dan menerapkan trias politika, kedudukan antara eksekutif, legislatif dan yudikatif adalah sama. Di zaman orde baru, “pakem” tersebut tidak berlaku. Bahwa kemudian eksekutif jauh lebih kuat dibandingkan lembaga legislatif dan yudikatif dianggap wajar.

Bargaining position dapat mempengaruhi bargaining power, atau sebaliknya. Sebuah partai yang memenangkan pemilihan umum anggota legislatif dengan suara mayoritas dapat membuat bargaining position dan bargaining power lembaga legislatif menjadi lemah. Itu bisa terjadi jika partai tersebut dipimpin oleh ketua partai maupun ketua dewan kehormatan yang “ndhilalah” menjadi seorang presiden.

Dalam sistem parlementer – bahkan dalam sistem presidensial – seorang presiden yang menang dengan suara mayoritas dalam proses pemilihan umum presiden, tetapi partainya menjadi minoritas di lembaga legislatif, maka bargaining position dan bargaining power sang presiden relatif lemah. Ancaman “impeachment”, meskipun sekedar “gertak sambal”, sudah cukup membuat nyali sang presiden ciut.  Meskipun saat kampanye menawarkan program-program yang bagus, dalam kondisi seperti itu, menegakan idealisme menjadi ibarat menegakkan benang basah.

Untuk menegakkan moral membutuhkan modal. Sebaliknya, untuk mencari modal diperlukan moral. Modal dan moral saja tidak cukup di dunia politik. Tanpa memiliki power yang lebih kuat dibandingkan dengan power yang dimiliki oleh lawan-lawan politik, menegakkan idealisme akan berujung pada “NATO”  (no action talk only).

Barangkali, praktek-praktek “balas jasa politik” dan “politik dagang sapi” bersumber dari bargaining position dan bargaining power yang seimbang dan tidak seimbang  di antara politikus. Dalam kondisi seperti itu, dalil “tidak ada musuh dan kawan abadi dalam politik, yang ada adalah kepentingan abadi” akan berlaku sempurna.

Di dunia bisnis,  persaingan dan unjuk kekuatan di internal organisasi maupun antar organisasi sangat seru. Dalam buku Keunggulan Bersaing, Michael E. Porter (1992 : 5) mengidentifikasi 5 kekuatan yang mempengaruhi persaingan industri, sebagaimana diperlihatkan gambar berikut ini :

Bargaining position dan bargaining power antara pemasok dan pembeli tidak hanya dipengaruhi langsung oleh pola hubungan antara kedua belah pihak, melainkan juga dipengaruhi oleh pola hubungan dan peta 5 kekuatan itu dalam suatu industri.

Pemasok akan memiliki bargaining position dan bargaining power lebih kuat daripada pembeli jika produk barang atau jasa langka. Bargaining position dan bargaining power pembeli menjadi lemah jika di daerahnya dan pada saat itu tidak ditemukan produk substitusi yang dapat menggantikan produk yang dibutuhkan pembeli. Demikian juga jika tidak ada pendatang baru (baca : pemasok baru) yang menawarkan produk barang dan jasa yang sama kepada pembeli, akan membuat bargaining position dan bargaining power pemasok menjadi relatif kuat.

Di Jerman, harga tempe dan mie instan dari Indonesia relatif mahal karena faktor kelangkaan. Penggemar tempe tidak menemukan produk substitusi. Jumlah pemasok juga tidak banyak, hanya toko-toko sembako yang dikelola oleh emigran asal Vietnam yang menjual tempe dan mie instan. Konsekuensinya, berapapun harga tempe, pembeli yang berasal Indonesia akan bayar.

Jika siapa diri kita, bargaining position, dan bargaining power mempengaruhi, atau bahkan menentukan, apa yang yang masih bisa kita lakukan, bagaimana caranya mengetahui tingkat bargaining position dan bargaining power kita dibandingkan pihak lain?.

Analisa Pemangku Kepentingan.

Salah satu metode yang umum digunakan adalah dengan melakukan analisis pemangku kepentingan (stakeholder analysis). Stakeholders adalah pihak-pihak di dalam maupun di luar organisasi yang mempunyai kepentingan dan pengaruh terhadap organisasi.

Yang termasuk internal stakeholders antara lain unit-unit formal di dalam organisasi seperti Divisi, Departemen, Biro, Bagian, Seksi, Dewan Komisaris / Pemegang Saham, dan lain sebagainya, Kelompok-kelompok informal, dan perorangan yang mempunyai power / kekuatan.

Yang termasuk external stakeholders antara lain Serikat Pekerja; Organisasi atau kelompok yang mempunyai hubungan atau kaitan usaha secara langsung maupun tidak langsung seperti pemasok, pelanggan / konsumen, agen, distributor, bank, pesaing, dan sebagainya; Kelompok-kelompok khusus dalam masyarakat seperti LSM dalam interest groups; Pemerintah dan masyarakat luas.

Hubungan antara organisasi dengan para pemangku kepentingan dipengaruhi oleh tiga variabel, yaitu power, predictability dan interest. Hubungan antara power dan predictability di antara organisasi dan pemangku kepentingan ditunjukkan dalam diagram sebagai berikut :

Semakin tidak dapat diduga (perilaku, kepentingan, kebiasaan-kebiasaan, kekuatan dan kelemahan), dan semakin kuat power dari stakeholder, maka semakin kuat bargaining position dan bargaining powernya. Menghadapi kondisi demikian, organisasi dalam ancaman (threat) terbesar, atau mungkin juga peluang (opportunity), tergantung dari kekuatan dan kelemahan organisasi. Sebaliknya, semakin mudah diduga dan lemah power dari stakeholder, maka organisasi menghadapi relatif sedikit masalah.

Sedangkan hubungan antara power dan interest ditunjukkan dalam diagram sebagai berikut :

Hubungan antara power dan interest stakeholder dapat menjelaskan apa yang harus dilakukan atau masih bisa dilakukan oleh organisasi.  Semakin lemah kekuatan dan rendah kepentingan stakeholder terhadap organisasi, maka organisasi cukup melakukan pemantauan terhadap stakeholder. Sebaliknya, semakin kuat kekuatan dan tinggi kepentingan stakeholder terhadap organisasi, maka organisasi harus melakukan perhatian dan usaha intens terhadap stakeholder.

 

Sumber-Sumber Kekuatan Para Pemangku Kepentingan.

Sumber-sumber kekuatan stakeholder di dalam organisasi antara lain hirarki dalam organisasi, misalnya wewenang untuk mengambil keputusan; kualitas pribadi / kepemimpinan seseorang atau adanya tingkat konsesus yang tinggi dalam kelompok atau organisasi; menguasai atau mengendalikan sumberdaya strategic; pengetahuan dan keterampilan yang sangat  diperlukan organisasi; kemampuan mengendalikan lingkungan, misalnya mempunyai keterampilan negosiasi atau lobby; keterlibatan dalam implementasi strategi. (PPM School of Business, 2005)

Sumber kekuatan stakeholder yang berada di luar organisasi, antara lain adanya ketergantungan terhadap mereka dalam sumberdaya; peranan mereka dalam implementasi strategi; memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan oleh organisasi; hubungan kuat dengan pihak-pihak di dalam organisasi. (PPM School of Business, 2005)

Setiap setiap sumber daya cenderung memiliki karakteristik sebagai berikut (i.) jumlah sumber daya yang dikuasai organisasi relatif terbatas, dan (ii) sumber daya terdistribusi tidak merata (menjadi milik pihak lain dan berada di wilayah relatif jauh dari organisasi).  Memahami sumber-sumber kekuatan stakeholder menjadi penting bagi organisasi untuk mengatahui kekuatan dan kelemahan organisasi dan ancaman dan peluang yang akan dihadapi.

Bumi Serpong Damai, 30 Mei 2011

 
Leave a comment

Posted by on May 31, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: