RSS

Monthly Archives: June 2011

Amazing Camera?

Sebuah artikel berjudul “Stop wishing for that Amazing Camera and Appreciate The One You’ve Got” yang ditulis oleh Dan Dyer, seorang Guest Contributor untuk  http://www.digital-photography-school.com, mampu membuat saya “turun gunung” untuk menulis artikel tentang fotografi. Sebagian dari artikel tersebut saya kutip sebagai berikut :

All cameras have are essentially the same thing, a shutter that exposes light on a light-sensitive surface. Sure, there are differences in engineering tolerances and technical ranges and the latest technology. But Ansel Adams didn’t have today’s latest gadget. He had know-how, and practice. The real difference between an average photo and an amazing photo, is the photographer, not the camera.”

Saya katakan “turun gunung”, sebab dalam jangka pendek belum ada niat untuk menulis tentang fotografi. Selama ini saya “hanya” menjadi pemerhati fotografi, terutama karya-karya pewarta foto yang mendapatkan penghargaan Pulitzer. Pandangan subyektif saya lebih tertarik kepada foto jurnalistik, termasuk foto-foto pewarta foto perang.

Pemahaman saya terhadap fotografi mungkin juga berbeda dengan kebanyakan orang yang menekuni hobby fotografi. Bagi saya, fotografi adalah media untuk berekspresi. Kemampuan saya untuk menyampaikan gagasan relatif terbatas. Selama ini saya “hanya” menggunakan teks sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Tetapi ternyata tidak semua gagasan bisa saya ekspresikan melalui teks. Karena itu, saya membutuhkan media lain untuk mengekspresikan gagasan.

Pilihan saya adalah gambar / visual. Karena saya tidak mampu menggambar dan menulis, maka pilihan jatuh kepada fotografi. Secara harfiah fotografi berarti melukis dengan cahaya.  Bukankah orang bijak berkata “a picture is worth a thousand words”?.

Sejak fotografi memasuki era digital, jumlah orang yang “gandrung” dan memilih hobby fotografi kian bertambah banyak. Bahkan seorang businessman yang “bingung” memilih hobby untuk memasuki usia pensiun, “patuh” terhadap saran-saran dari anak dan menantunya agar menekuni dunia fotografi.

Kegandrungan orang kepada fotografi semakin menjadi-jadi setelah sebuah media sosial bernama facebook “memfasilitasi” hasyrat untuk “mejeng”. Tidak tanggung-tanggung, foto dengan kualitas “amburadul” yang diambil dengan menggunakan fasilitas kamera dari sebuah handphone dan blackberry, tetap dipaksakan untuk diupload.

 

Fotografi dan Simbol Status.

Fotografi bisa disebut hobby murah sekaligus hobby mahal. Sebuah restoran mengusung tagline “harga kaki lima, kualitas bintang lima”. Artinya, setiap orang bisa makan makanan yang berkualitas bintang lima (“enak tenan, “maknyus”, dan “nendang”), tetapi dengan harga kaki lima, dan tentu saja tidak perlu ke restoran di hotel bintang lima. Begitu juga dengan fotografi, siapa saja dapat menghasilkan karya foto dengan kualitas “bintang lima” dari sebuah kamera dan lensa berharga “kaki lima”.

Untuk menghasilkan sebuah foto yang baik dan berkarakter, tidak harus menggunakan sebuah kamera DSLR yang berharga relatif mahal. Seorang fotografer profesional tetap saja mampu menghasilkan sebuah foto yang baik dan berkarakter “hanya” menggunakan sebuah kamera saku yang berharga relatif murah.

Tetapi alat-alat fotografi juga mengenal “kasta-kasta”. Sebuah kamera dan lensa misalnya, ada “kasta” entry level di lapisan paling bawah, medium, dan premium sebagai “raja” di tingkat paling atas. Harga lensa (terutama tele dan premium) juga relatif lebih mahal dibandingkan dengan kamera. Fotografi menjadi sebuah hobby yang relatif mahal kalau semua peralatan utama dan penunjang dilengkapi, terutama kamera dan lensa kualitas premium.

Barangkali karena ada “kasta-kasta” peralatan utama dan penunjang fotografi tersebut menjadikan manusia mempunyai sikap dan perilaku yang “menyimpang” terhadap fotografi. Bagi sebagian orang, memiliki hobby fotografi merupakan prestise sosial, dan karena itu  diharapkan mampu “mendongkrak” status sosial.

Tetapi, di Indonesia ini apa sih yang tidak “dimanipulasi” menjadi sebuah simbol status? Seperti halnya handphone yang menjadi simbol status dan digadang-gadang alat untuk “redefining success”, sebagian orang memperlakukan fotografi sebagai “diferensiator” lapisan sosial. Sejatinya, kualitas fotografer tidak dapat dibedakan dari kamera dan lensa. Kualitas sejati seorang fotografer dibedakan dari karya-karya fotonya.

 

Kamera Hanya Alat.

Apa kegunaan kamera, lensa, filter, tripod, dan berbagai alat lainnya dalam fotografi? Jawabannya sangat sederhana : semua benda-benda tersebut hanya merupakan alat utama dan alat bantu untuk memotret. Tidak lebih dari itu.

Saya senang dengan pesan yang disampaikan oleh Bung Toga Tampubolon, seorang fotografer dan salah seorang staf pengajar fotografi di Darwis Triadi School of Photography. Menurut “halak hita” ini (halak hita adalah bahasa Batak, artinya “orang kita” juga), “kamera, lensa, filter dan alat-alat lain di dunia fotografi adalah sekedar alat bantu”. Sebagai fotografer memang tidak sepatutnya “menghamba” kepada berbagai alat bantu tersebut.

Alat utama dan alat bantu dalam fotografi digunakan untuk melukis dengan cahaya. Teknologi kamera dan lensa memang selalu berkembang, bahkan semakin cepat berkembang. Meskipun demikian, seberapapun canggih kamera dan lensa, prinsip the man behind the gun tetap berlaku.

Teknologi kamera dan lensa boleh semakin canggih. Tetapi sebuah foto yang indah dan berkarakter bukan hasil dari teknologi kamera dan lensa yang canggih. Sebuah foto yang indah dan berkarakter adalah perwujudan visi dan kreativitas dari seorang fotografer.

Meskipun demikian, adalah “normal” jika seorang pemula di dunia fotografi tidak percaya diri terhadap perlatan fotografi yang dimilikinya. Menurut Laura Radniecki (www.digital-photography-school.com) salah satu dari “5 penyakit” orang-orang yang hobby fotografi adalah tidak percaya diri dan mereka pada umumnya berkata “my gear isn’t good enough”.

Untuk mengatasi rasa tidak percaya diri terhadap peralatan fotografi yang dimiliki, Radniecki memberikan tips sebagai berikut : “Expensive gear doesn’t necessarily equal good photos. If you don’t know how to use a camera to its full potential, the most expensive gear in the world won’t give you great photos. That said, fantastic photos can come from all ranges of equipment”.
Memotret, Menyempurnakan, dan Memanipulasi.

Tanpa bermaksud membandingkan kamera analog dan kamera digital, saya pribadi lebih senang dengan tingkat kesulitan dan tantangan yang ditawarkan kamera analog. Teknologi kamera digital memang jauh lebih unggul, tetapi manusia  seolah-olah terlalu “dimanjakan” oleh berbagai fasilitas teknologi kamera digital.

Bagi saya, fotografi adalah memotret. Dengan berbagai teknologi kamera, lensa, dan software untuk mengedit sebuah foto, saat ini memang dimungkinkan seorang fotografer melakukan “penyempurnaan” dan bahkan “manipulasi” terhadap sebuah foto. Olah digital memang membuat segala sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin menjadi serba mungkin.

Saya tidak “mengharamkan” orang lain “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto. Tetapi bagi saya sendiri, karena secara teknis fotografi hampir tidak ada lagi kesulitan memotret dengan kamera digital, “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto adalah perbuatan merendahkan diri sendiri. Bukankah orang bijak juga sudah mengingatkan “a picture never lies”?.

Taking pictures vs Creating Images.

Matt Dutile memberikan tips untuk menjadi seorang fotografer yang “baik”. Katanya : “Stop taking pictures, start creating images”. Di sekolah-sekolah fotografi profesional juga dijelaskan perbedaan antara tingkat basic dan intermediate. Di tingkat basic, seorang fotografer hanya pintar “taking pictures”. Sementara di tingkat intermediate, seorang fotografer sudah mampu “making pictures” dan membaca foto.

Apa beda “taking pictures” dan “creating images”? (atau perbedaan antara “taking pictures” dan “making images”). Matt Dutile menjelaskan perbedaan di antara keduanya sebagai berikut :

“A picture is what you take when you accidentally mash your hands on the shutter release while your camera sits idle on the living room table. It’s when you bump the camera while it hangs from your shoulder and snap that oddly angled picture of your feet. It’s the photos you took of your friend just because they asked you to. It’s also generally what most of us are shooting the first time we pick up our cameras – myself included.

But if you really want to advance your photography, you’ve got to stop pressing that shutter release just because you can. Instead, take the time to create a vision. Stop taking pictures. Start creating images.” (www.digital-photography-school.com).

Memotret masih bisa digolongkan sebagai kegiatan taking pictures, syukur-syukur creating images. Tetapi tampaknya perlu hati-hati mengkategorikan “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto sebagai kegiatan “taking pictures”, apalagi “creating images”.

Tampak Siring 27 Juni 2011

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Photography

 

SWOT Analysis

Ada berbagai model untuk menganalisis lingkungan internal dan ekternal organisasi. Jika prinsip KISS (keep it simple and short) menjadi pedoman dasar, maka kecuali SWOT analysis, barangkali tidak ada pendekatan yang lebih sederhana dan mudah dipahami dan dilaksanakan.

Hampir semua pimpinan puncak organisasi sampai dengan tingkat supervisor mengetahui SWOT analysis. Bahkan sebuah majalah berita mingguan (MBM) “papan atas” di Indonesia “hanya” menggunakan SWOT analysis untuk membuat perencanaan jangka panjang dan rencana kerja tahunan perusahaan.

Jika memang mudah, untuk apa dipersulit? Jika dengan SWOT analysis suatu organisasi sudah mendapatkan data dan informasi yang relevan, lengkap, akurat, valid, terkini, mudah dipahami yang dapat dijadikan dasar untuk membuat rencana kerja, “makruh” hukumnya meninggalkan pendekatan atau model analisis lain.

Perlu dipahami bahwa intisari dari swot analysis tidak sekedar mengidentifikasi dan membuat daftar lengkap tentang kekuatan dan kelemahan internal organisasi dan peluang dan ancaman dari eksternal organisasi. Jika kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sudah diketahui, adalah lebih penting bagi organisasi untuk menyusun dan mengeksekusi swot strategy.

 

Apa yang dimaksud SWOT Analysis?.

SWOT merupakan akronim dari Strengths (kekuatan-kekuatan), Weaknesses (kelemahan-kelemahan), Opportunities (peluang-peluang), dan Threats (ancaman-ancaman). Strengths dan weaknesses merupakan kondisi internal organisasi, sedangkan opportunities dan threats merupakan kondisi ekternal organisasi.

Brandname yang kuat, reputasi yang positif di benak pelanggan, akses yang kuat terhadap jaringan distribusi adalah contoh dari kekuatan-kekuatan organisasi. Sebaliknya, brandname yang lemah, reputasi yang negatif di benak pelanggan, dan akses yang lemah terhadap jaringan distribusi adalah contoh dari kelemahan-kelemahan organisasi.

Beberapa contoh dari peluang antara lain adalah kebutuhan pelanggan yang belum terlayani, kehadiran teknologi baru, pemberian insentif bea masuk dan keringanan perpajakan. Sedangkan kondisi eksternal yang dapat menjadi ancaman bagi organisasi antara lain menguatnya bargaining power pemasok dan pembeli, regulasi baru yang membatasi gerak, maupun kehadiran teknologi baru.

Pada prinsipnya, tidak selalu kondisi yang merupakan kelemahan-kelemahan dari suatu organisasi akan selalu dan selamanya menjadi kelemahan organisasi. Tergantung dari kemampuan suatu organisasi menyiasati kondisi yang selama ini menjadi kelemahannya, suatu kelemahan bisa berubah menjadi kekuatan dari organisasi.

Demikian juga dengan kondisi yang menjadi peluang bagi organisasi, tidak selalu berdampak positif bagi organisasi, bahkan dapat berubah menjadi ancaman. Perubahan-perubahan yang relatif cepat di bidang teknologi misalnya, dapat dianggap sebagai peluang sekaligus ancaman terhadap organisasi, tergantung dari kemampuan organisasi menghadapi perubahan teknologi tersebut.

 

Mengapa SWOT Analysis?

Analisis terhadap kondisi internal dan eksternal organisasi sangat penting bagi suatu organisasi sehingga organisasi dapat membuat perencanaan stratejik yang akuntabel. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan internal organisasi serta peluang dan ancaman dari eksternal organisasi, maka organisasi dapat menyusun sasaran stratejik dan  merumuskan strategi yang tepat untuk mencapai sasaran stratejik.

 

SWOT  Interactions

Setelah mengetahui kondisi internal dan kondisi eksternal organisasi, adalah penting untuk mengetahui hubungan-hubungan masing-masing kondisi internal dengan kondisi eksternal organisasi. Menurut Dr. Kevin Lance Jones, hubungan antara masing-masing SWOT dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. SWOT Interactions

Interaksi antar kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan internal organisasi dengan peluang dan ancaman dari eksternal organisasi akan menghasilkan leverage, constraints, problems dan vulnerability.

Interaksi antara kekuatan-kekuatan organisasi dengan berbagai peluang eksternal membentuk leverage. Artinya, kekuatan-kekuatan organisasi dapat menunjang organisasi untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari peluang. Jika kelemahan-kelemahan organisasi dihadapkan dengan berbagai peluang, maka kelemahan-kelemahan tersebut menjadi constraints bagi organisasi untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari berbagai peluang.

Kekuatan-kekuatan organisasi yang dihadapkan pada ancaman-ancaman eksternal akan menempatkan organisasi dalam kondisi vulnerable. Sedangkan kelemahan-kelemahan organisasi akan menempatkan organisasi dalam masalah jika berhadapan dengan berbagai ancaman eksternal.

SWOT Strategy

Setelah mengetahui karakteristik dari interaksi masing-masing kondisi internal dan eksternal organisasi, langkah selanjutnya adalah menyusun strategi yang tepat. Ringkasan SWOT Strategy ditunjukkan gambar 2 sebagai berikut :

Gambar 2. SWOT Strategy

S-O Strategy berusaha fokus dan prioritas pada berbagai peluang yang sesuai dengan kekuatan-kekuatan organisasi. Organisasi berusaha memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang dimilikinya untuk merealisasikan berbagai peluang yang ada. Sedangkan W-O Strategies fokus dan prioritas mengatasi berbagai kelemahan organisasi yang dapat menjadi constraints dalam menyikapi berbagai peluang. Dalam hal ini, fokus dan prioritas adalah memperbaiki berbagai kelemahan organisasi, bukan pada merealisasikan peluang.

S-T strategies berusaha mengidentifikasi berbagai alternatif cara untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan organisasi menghadapi berbagai ancaman eksternal. Organisasi berusaha memanfaatkan kekuatan-kekuatannya untuk melemahkan atau meminimalkan dampak kemungkinan terjadinya dan dampak negatif dari ancaman dari eksternal. Sedangkan W-T strategies merupakan strategi yang defensif untuk melindungi berbagai kelemahan-kelemahan organisasi sehingga tidak menjadi “sasaran empuk” dari ancaman eksternal.

Dalam menghadapi SWOT organisasi, perlu dipahami bahwa jangan overestimate terhadap kekuatan-kekuatan yang menjadi keunggulan kompetitif organisasi. Sebab, bagaimanapun kekuatan-kekuatan organisasi adalah bersifat relatif dan tidak ada yang pasti dalam hal keunggulan kompetitif yang abadi (silakan baca artikel “Only the Paranoid Survive” dan “Strategic Inflection Point” dalam blog ini, category : Change Management).

Demikian pula dengan menghadapi kelemahan-kelemahan organisasi, tidak perlu underestimate. Kelemahan-kelemahan organisasi juga tidak seharusnya membuat kecil hati dalam posisi “underdog”. Orang Jawa memiliki peribahasa “marwito marganing maruto”. Angin dari buritan dan haluan pada prinsipnya dapat dimanfaatkan oleh kapal untuk melaju ke depan.

Prinsip-prinsip dalam ilmu alam sesungguhnya dapat dimanfaatkan sebagai strategi menghadapi kompetitor. Syamsul Anwar Harahap, mantan petinju nasional kelas welter ringan yang kemudian menjadi komentator pertandingan tinju, seringkali memberikan contoh bagaimana petinju yang semula dianggap “underdog”, justru mampu mengalahkan lawannya yang “Raja KO” dengan kemenangan knock out (KO).

Kekuatan dan pukulan keras seorang petinju tidak berarti apa-apa jika lawan yang dihadapinya selalu bergerak dan mampu menghindar sehingga ia hanya “memukul angin”. Pukulan seorang petinju “underdog” bisa menjadi sebuah pukulan dengan kekuatan dan keras yang berlipat-lipat ganda kalau tepat mengenai sasaran dan pada saat yang bersamaan petinju lawan dalam kekuatan penuh “menyongsong” pukulan. Dalam hal ini, hukum momentum berlaku. Inilah strategi “mengalahkan lawan dengan menggunakan kekuatan lawan”.

Satu lagi strategi yang biasa dilakukan oleh petinju yang “lemah” adalah berusaha “menghindar”. Cara umum yang dilakukan oleh semua petinju adalah berputar menjauhi titik kekuatan lawan dan bergerak menuju titik kelemahan lawan. Jika seorang petinju kuat dalam pukulan kiri atau kidal, maka petinju lawannya akan menjauhinya dengan cara bergerak mundur melingkar menjauhi pukulan kiri kuat dan mendekati pukulan lawan yang relatif lemah. Bukankah memilih melayani niche market pada intinya  adalah strategi menghindari kekuatan lawan?

Dalam olahraga sepakbola, tubuh yang relatif pendek tidak selalu menjadi titik kelemahan. Tubuh para pesepakbola Spanyol yang memperkuat dan merebut Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 relatif pendek dibandingkan tubuh kebelasan lawan mereka. Tubuh yang relatif pendek ternyata sesuai dengan strategi permainan bola-bola bawah, operan jarak pendek dan relatif cepat.

Bumi Serpong Damai, 19 Juni 2010

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Management

 

Whistle Blower

Istilah whistle blower kembali “meroket” setelah ibu Siami “menyanyi” tentang kasus contek massal dalam proses ujian nasional  tingkat sekolah dasar tanggal 11-12 Mei 2011 yang lalu di sebuah SD di Surabaya. Karena telah dianggap mencemarkan “nama baik” sekolah dan kampungnya, sebagian warga masyarakat merasa “berhak” untuk main hakim sendiri dan mengusir keluarga Ibu Siami.

Ibu Siami bukan orang pertama yang menjadi whistle blower. Sebelumnya Agus Chondro -anggota DPR RI dari PDI Perjuangan – juga telah menjadi whistle blower. Komjen (Pol.) Susno Duaji termasuk whistle blower yang mampu membuat merah telinga jajaran kepolisian RI. Bahkan, Gayus Tambunan yang terlibat kasus mafia pajak pun diberikan Whistle Blowing Award pada tahun 2010 (penghargaan yang sama juga diberikan kepada Susno Duadji).

Secara umum, whistle blowing masih merupakan hal yang baru dan langka di Indonesia. Padahal, di negara yang korupsi yang menjadi “budaya”, dilakukan secara “berjamaah”, dan terjadi di semua sektor kehidupan, bahkan juga di lembaga pendidikan, kehadiran whistle blower sangat dibutuhkan dan dapat memberikan manfaat untuk proses pemberantasan korupsi. Meskipun demikian, karena perlindungan yang relatif lemah dan pembuktian tindak pidana korupsi yang relatif sulit, menjadi whistle blower memang tidak mudah.

Definisi Whistler Blower.

Wikipedia mendefinisikan  whistleblower (whistle-blower or whistle blower) adalah “a person who tells the public or someone in authority about alleged dishonest or illegal activities (misconduct) occurring in a government department, a public or private organization, or a company. The alleged misconduct may be classified in many ways; for example, a violation of a law, rule, regulation and/or a direct threat to public interest, such as fraud, health/safety violations, and corruption. Whistleblowers may make their allegations internally (for example, to other people within the accused organization) or externally (to regulators, law enforcement agencies, to the media or to groups concerned with the issues).”(www.en.wikipedia.org, diunduh pada tanggal 20 Juni 2011).

Whistler Blower di Organisasi Laba dan Nir-Laba.

Di negara-negara Barat, peran whistler blower di perusahaan swasta beorientasi profit maupun organisasi nirlaba bukan hal yang baru.  Sebagai contoh program whistle blowing yang dijalankan oleh The Office of Special Council, Amerika Serikat sebagai berikut :

Di Indonesia, salah satu organisasi pemerintah yang telah menerapkan whistle blower adalah BPMIGAS  (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi). BPMIGAS menjelaskan maksud program whistle blower di lingkungannya sebagai berikut  “Program ini dimaksudkan agar setiap pekerja BPMIGAS dapat menjadi ‘pengawas’ pekerja yang lain, baik staf, penunjang maupun pimpinan. Pegawai dapat melaporkan jika ada indikasi pelanggaran norma maupun perundang-undangan.  Dengan adanya program ini  diharapkan  akan  meningkatkan disiplin pekerja.” (www.bpmigas.go.id).

Belum ada penelitian tentang organisasi swasta dan pemerintah di Indonesia yang telah memiliki dan melaksanan program whistle blowing. Gembar-gembor organisasi swasta dan pemerintah yang mengaku telah menerapkan praktek-praktek good corporate governance mungkin lebih baik jika dilengkapi dengan pelaksanaan program whistle blowing.

Di Indonesia, semua organisasi berlomba-lomba untuk merumuskan nilai-nilai organisasi yang isinya indah-indah, tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan. Sebagai contoh adalah nilai-nilai kejujuran (integrity). Hampir semua organisasi menyebutkan bahwa kejujuran adalah nilai yang melandasi sikap dan perilaku seluruh anggota organisasi, mulai dari pimpinan puncak sampai karyawan paling bawah. Tetapi apakah nilai-nilai kejujuran benar-benar dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan, itu lain cerita lagi.

Whistle Blower Award.

Aktivitas masyarakat memang cenderung lebih sigap dan cepat daripada pemerintah. Meskipun peraturan perundang-undangan yang ada saat ini masih belum memberikan perlindungan yang sepantasnya kepada whistle blower, toh dorongan dan dukungan masyarakat terhadap orang-orang yang “berani” menjadi whistle blower semakin menguat. Salah seorang yang pernah menerima Whistle Blower Award 2010 dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Kupas) adalah Komjen Susno Duadji.

Beberapa kriteria Whistle Blower Award antara lain (i.) laporan berdasarkan fakta dan bukan fitnah; (ii.) memberikan dampak publik yang luas dan positif; (iii.) bertujuan agar ada langkah-langkah konkret untuk perbaikan ke depan; (iv.) tidak ada motivasi untuk memopulerkan diri dan meraih keuntungan pribadi, baik secara fisik maupun secara finansial; dan (v.)  serta menyadari sepenuhnya segala potensi risiko bagi dirinya atau keluarganya.(http://politik.kompasiana.com/2010/04/21/sang-whistle-blower/).

Honesty is the best policy.

William Shakespeare pernah mengatakan bahwa “honesty is the best policy”. Saya pikir tidak ada orang Indonesia yang tidak sepakat bahwa kejujuran adalah perbuatan yang baik atau kebaikan. Tetapi masalahnya seringkali bukan berhenti pada mendefinisikan secara tepat makna kejujuran dan berdiskusi mengapa kita perlu jujur. Masalah sesungguhnya bukan what dan why, tetapi how to?

Menjadi manusia jujur berarti siap menjadi a legal alien. Sanksi sosial yang paling ringan adalah sekedar dicemooh “sok jujur”, “munafik” dan lain sebagainya. Sanksi sosial yang ekstrem adalah pengusiran dari lingkungan tempat tinggal atau ancaman pembunuhan.

Sayang sekali, budaya masyarakat dan bangsa Indonesia cenderung pada shame culture (silakan baca shame culture and guilty culture dalam blog ini, category : sosiologi). Bagi orang Indonesia, kesalahan bukan hasil dari kesadaran, tetapi paksaan dari pihak luar. Bahkan, ketika faktanya seseorang terbukti melakukan kesalahan, tetap saja ia mangkir dan tidak mengakui atau merasa telah dikorbankan. Menurut saya, budaya malu kurang mendukung munculnya manusia-manusia jujur.

Bumi Serpong Damai, 20 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2011 in Selasar

 

Birds Of A Feather Flock Together

Tampaknya prosesi “hijrah” Michael Neuer dari klub Schalke 04 ke klub Bayern Muenchen pada musim panas 2011 ini masih menyisakan “pekerjaan rumah” bagi Bayern. Kiper nomor 1 timnas sepakbola Jerman saat ini memang telah lulus seleksi kesehatan. Schalke 04 dan Bayern juga telah sepakat harga transfer di kisaran angka 15 juta Euro. Neuer juga telah menandantangani kontrak dengan Bayern untuk jangka waktu 5 musim kompetisi ke depan. Tetapi untuk melindungi Neuer, Bayern “terpaksa” menyewa ahli teror.

Gerangan apakah yang terjadi? Selidik punya selidik, meskipun Neuer saat ini adalah kiper terbaik di Jerman, pendukung klub Bayern tidak suka kepada Neuer. Saat masih digadang-gadang akan bergabung dengan Bayern pun para pendukung Bayern sudah memperlihatkan antipati terhadap Neuer. Tahun 2010, saat Bayern bertemu Schalke 04 di Piala Jerman, para pendukung Bayern tampil garang membentangkan spanduk bertuliskan “Koan Neuer”, artinya “Tidak untuk Neuer”.

Mengapa para pendukung Bayern begitu antipati terhadap Neuer? Neuer lahir di kota Gelsenkirchen dua puluh lima tahun yang lalu. Gelsenkirchen ialah sebuah kota di Jerman di negara bagian Nordrhein-Westfalen. Ibukota negara bagian Nordrhein-Westfalen adalah Duesseldorf. Sedangkan klub kebanggaan kota dan warga masyarakat Gelsenkirchen adalah FC Schalke 04, salah satu musuh bebuyutan Bayern Muenchen!

Sejatinya, seorang pesepakbola yang bermain di sebuah klub profesional dan kemudian pindah ke klub lain yang menjadi musuh bebuyutannya adahal kejadian yang umum dan lumrah. Bukankah di manapun berlaku “fatwa” cash is the king?.  Ashley Cole, wing back klub Arsenal pindah ke FC Chelsea yang sama-sama bermarkas di London. Luis Figo pernah membela FC Barcelona selama beberapa musim dan memutuskan untuk “membelot” ke klub Real Madrid. Sebaliknya, Samuel Eto’o pernah membela Real Madrid dan kemudian “berselingkuh” dengan FC Barcelona yang menjadi musuh bebuyutan Real Madrid. Ibrahimovic malah lebih “gila” karena pernah memperkuat Juventus, Inter Milan, dan saat ini AC Milan.

Kekecewaan – dan mungkin kemarahan dan kebencian –  pendukung klub terhadap Cole, Figo, dan Eto’o memang manusiawi dan dapat dipahami. Pendukung klub biasanya memiliki prinsip yang tidak dapat ditawar-tawar : silakan pindah ke klub mana saja, asalkan bukan klub lawan yang menjadi musuh bebuyutan di negara yang sama. Lazimnya, pendukung yang kecewa dan marah adalah pendukung klub yang ditinggalkan pujaan hati mereka. Pendukung klub kan manusia juga, lebih baik sakit gigi daripada patah hati.

Itulah sebabnya para pendukung Arsenal marah kepada Cole dan memberikan gelar kepadanya “Cashley Cole”. Pendukung Arsenal yakin bahwa Cole adalah pesepakbola yang “mata duitan” dan kepindahannya ke Chelsea tidak lebih tidak bukan untuk memuaskan nafsu serakah terhadap gaji besar. Setali tiga uang, Figo dan Eto’o juga mendapat hujatan masing-masing dari para pendukung FC Barcelona dan Real Madrid. Bahkan, kemarahan pendukung Real Madrid sempat melampaui batas. Eto’o yang berasal dari Kamerun dan berkulit hitam seringkali menjadi sasaran empuk diskriminasi.

Dalam kasus Neuer, justru para pendukung Schalke 04 legowo. Adalah wajar bagi seorang kiper seperti Neuer bermain di level tertinggi di kompetisi Eropa. Bayern Muenchen adalah salah satu klub Jerman yang paling sering bermain di Liga Champion. Penting bagi Neuer untuk meningkatkan kompetensinya dan merasakan persaingan di level tertinggi. Hasil yang diharapkan tentu bukan untuk Neuer sendiri, tetapi timnas sepakbola Jerman juga akan mendapatkan “barokah” jika kompetensi Neuer meningkat dan telah teruji di kompetisi level tertinggi.

Tetapi manusia adalah makhluk yang absurd. Tidak selalu pertimbangan rasional dapat diterima, entah dengan alasan apapun. Yang aneh dan tidak masuk akal selalu mungkin terjadi di dunia. Rafael Nadal – petenis yang “jagoan” bertanding di lapangan tanah liat – adalah asli orang Barcelona. Tetapi apa yang terjadi?. Alamak, Nadal adalah bobotoh Real Madrid!.

Alasan penolakan pendukung Bayern kepada Neuer dilandasi sentimen kedaerahan. Orang-orang Bayern selalu merasa lebih istimewa dibandingkan orang Jerman lainnya. Meskipun orang-orang Bayern tidak memiliki semangat separatisme “separah” orang-orang Catalan Barcelona dan Basque (keduanya di Spanyol), “arogansi” Bayern tetap kuat di kehidupan masyarakat Jerman, termasuk di dunia sepakbola.

Alasan penolakan terhadap Bayern adalah karena Neuer bukan putra daerah Bayern. Padahal, sebagai klub sepakbola profesional idaman di Jerman, sudah lumrah diversitas akan terjadi di Bayern. Lagi pula, kiper-kiper andalan Bayern sebelumnya juga bukan “putra daerah” asli. Sebut saja  Hans-Jorg Butt (orang Oldenburg, daerah di negara bagian Bremen), dan Oliver Kahn yang berasal dari Karlsruhe.

Secara sosiologis, manusia dipersatukan oleh kesamaan darah, daerah, dan pemikiran / keyakinan. Ferdinand Toennies, sosiolog berkebangsaan Jerman, memberikan istilah untuk ketiga hal tersebut gemeischaft of blood, gemeinschaft of locality, dan gemeinschaft of minds. Biasanya, orang lain yang tidak memiliki kesamaan darah, tidak berasal dari daerah yang sama, dan juga tidak satu pemikiran / keyakinan, dikelompokkan sebagai “bukan orang kita”.

Heterogenitas masyarakat memang dapat “mencairkan” kekakuan terhadap batas-batas darah, daerah dan keyakinan. Meminjam istilah yang diperkenalkan oleh Michael Gorbachev, glasnost (keterbukaan) dan perestroika (reformasi) yang menghembuskan wind of change tidak hanya merobohkan tembok Berlin, melainkan juga membongkar “tembok sosial” di antara manusia.

Sejak November 1989 Jerman memang bersatu kembali. Tetapi sebagaimana masyarakat di negara lain, semangat untuk berbeda tetap tidak dapat dihilangkan. Perbedaan asal-usul darah, kedaerahan, dan keyakinan memang tidak akan pernah hilang. Perbedaan-perbedaan itu akan semakin jelas manakala sudah diletakkan dalam konteks kepentingan.

Batas antara kita dan bukan kita akan semakin jelas pada saat manusia memperjuangkan kepentingannya. Pada saat kepentingan menjadi “panglima”, akan banyak orang yang “dieliminasi” dari “kita”. Peribahasa “sekali lancung seumur hidup orang tak percaya” juga berlaku : sekali orang melakukan kesalahan, maka ia bukan lagi bagian dari “kita”. Ketika susah maunya sama-sama, tetapi ketika sudah sukses, maka “kita” direkonstruksi.

Kepentingan memang tidak pernah mengenal lawan atau kawan. Selama kepentingan sama, lawan atau kawan sama saja. Tidak ada musuh dan sahabat abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.

Bumi Serpong Damai, 18 Juni 2011.

 
Leave a comment

Posted by on June 20, 2011 in Selasar

 

Teknologi, Struktur dan Pekerjaan

Sudah sering dibahas, bahwa teknologi memiliki pengaruh terhadap sikap dan perilaku manusia, baik pengaruh positif maupun negatif. Bahkan, dampak teknologi diyakini lebih jauh dari sekedar mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Teknologi mampu mengubah filosofi manusia terhadap manusia, makhluk hidup lainnya dan alam raya.
Dalam bukunya yang berjudul “Alone Together”, penulis Sherry Turkle (2011) mengatakan bahwa “teknologi membuat manusia mempunya pola interaksi sosial yang aneh.” Berdasarkan sebuah penelitian di AS, orang mengaku kini memiliki lebih sedikit sahabat meskipun terhubung dengan banyak teman maya di Facebook. Teknologi juga membuat orang lebih senang berkomunikasi dengan teks daripada percakapan. Mengapa? Karena seluruh kendali komunikasi ada dalam genggamannya. Kapan pun ia boleh memulai dan menghentikan kontak itu. (Kompas Minggu, 12 Juni 2011).
Dengan memanfaatkan teknologi, manusia menjadikan lingkupan hidup menjadi korban keganasannya. Sistem TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) memang “memaksa” para pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di hutan tropis Indonesia untuk menebang pohon dengan diameter minimum 50 cm. Asal tahu saja, setiap tahun diameter pohon berkembang 1 cm. Artinya, untuk memiliki diameter 50 cm, dibutuhkan waktu 50 tahun. Sebuah teknologi yang relatif sederhana bernama chain saw mampu merobohkan sebuah pohon yang berdiri kokoh selama 50 tahun hanya dalam hitungan menit.
Perubahan hutan tropis Indonesia yang semula “gondrong” menjadi “gundul” menunjukkan bahwa, kemudahan teknologi sederhana seperti chain saw mampu membuat karakter manusia yang sudah greedy sejak dari sononya menjadi tambah serakah. Teknologi bahkan seringkali mampu membuat orang menjadi arogan. Sebuah teknologi telepon genggam yang relatif canggih misalnya, benda yang sejatinya berfungsi sebagai alat komunikasi yang mampu menyiasati ruang dan waktu, “dipelintir” sedemikian rupa menjadi simbol status yang dapat memenuhi tujuan redefining success.

Kehadiran teknologi juga berpengaruh banyak terhadap dunia kerja, baik dampak positif maupun negatif. Dalam artikel ini, hanya akan dibahas dampak teknologi terhadap struktur organisasi, pekerjaan dan tempat kerja.

Teknologi dan Struktur Organisasi.
Mengapa di berbagai negara terdapat kecenderungan, bahwa struktur organisasi kepolisian cenderung lebih “gemuk” dibandingkan dengan struktur organisasi militer, baik itu angkatan darat, udara dan laut?. Mengapa struktur organisasi angkatan udara di berbagai belahan dunia cenderung relatif lebih “ramping” dibandingkan struktur organisasi angkatan laut, dan terutama angkatan darat?

Teknologi memang memiliki pengaruh terhadap struktur organisasi. Dalam buku mereka yang berjudul Contemporary Management (2006), Jennifer M. George dan Gareth R. Jones menyebutkan ada empat faktor yang mempengaruhi struktur organisasi, yaitu strategi organisasi, lingkungan organisasi, teknologi dan (kompetensi / kapabilitas) sumber daya manusia.

Kehadiran teknologi berpengaruh terhadap struktur organisasi. Dalam masyarakat industri struktur organisasi cenderung bersifat mekanistik, antara lain struktur organisasi fungsional dan divisional. Dalam masyarakat informasi, struktur organisasi cenderung bersifat organistik, sebagaimana diperlihatkan gambar 1 sebagai berikut :

Perbandingan karakteristik struktur organisasi mekanistik dan organik ditunjukkan dalam tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1. Perbandingan Struktur Organisasi Mekanistik dan Organik

Tugas-tugas seorang polisi pada dasarnya lebih banyak berhubungan dengan manusia. Tidak semua bentuk pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat dapat digantikan oleh teknologi. Tetap diperlukan komunikasi tatap muka antara polisi dengan individu dan masyarakat. Karena itu, ada rasio ideal antara jumlah polisi dan penduduk.

Tugas-tugas angkatan udara  pada prinsipnya heavy-techology. Artinya, kehadiran teknologi adalah mutlak untuk menunjang tugas-tugas yang berkaitan dengan pertahanan udara. Demikian juga dengan angkatan laut, relative membutuhkan teknologi dibandingkan dengan angkatan darat. Sebuah kapal induk Nimitz yang berawak 20.000 pasukan dan selalu mobile untuk mengamankan wilayah yang cukup luas semakin menegaskan bahwa kehadiran teknologi dalam matra laut adalah mutlak.

Teknologi dan Pekerjaan.

Di negara berpenduduk relatif padat seperti Indonesia, barangkali tidak ada benda yang menakutkan kecuali produk budaya bernama teknologi. Dalam konteks pekerjaan, kehadiran teknologi memang tidak selalu ramah.

Pada prinsipnya, manusia tetap membutuhkan kehadiran teknologi dan berpendapat bahwa “sampai batas-batas tertentu” teknologi lebih banyak manfaatnya ketimbang mudharatnya. Tidak pernah terbayangkan bagaimana dunia kedokteran tanpa kehadiran teknologi kedokteran. Tidak terbayangkan bagaimana media massa dapat berkembang pesat tanpa kehadiran teknologi di bidang media.

Tetapi teknologi juga menjadi musuh abadi bagi manusia. Kemampuan teknologi untuk menggantikan manusia dan mengerjakan tugas-tugas yang semula hanya dapat dilakukan manusia, sungguh merupakan pukulan telak bagi manusia yang hanya bekerja dengan mengandalkan otot dan tenaga fisiknya saja.

Itulah sebabnya, di negara yang digolongkan sedang berkembang, jargon “teknologi tepat guna” dikedepankan untuk melindungi manusia dari kehilangan pekerjaan. Itulah sebabnya, meskipun di dunia Barat sudah ada teknologinya, teknologi itu “dilarang” masuk agar sistem kerja padat karya  tetap dapat dipertahankan. Siapapun penguasa di republik ini akan senang jika tingkat pengangguran tidak mencapai dua digit.

Teknologi dan Tempat Kerja.

Bill Gates mengatakan bahwa saat ini manusia hidup dan bekerja di era  era “web lifestyle” (gaya hidup internet) dan “web workstyle” (gaya kerja internet). Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih memang mampu membuat dunia menjadi “rata”  (“the world is flat”, kata Thomas L. Friedman) dan “global village”  (Marshall McLuhan).  Semua menjadi serba dekat dan “ramalan” Alvin Toffler tentang dunia kerja yang berubah menjadi kenyataan.

Dalam bukunya yang berjudul “Future Shock” dan “The Third Wave”,  Toffler mengemukakan bahwa dalam setiap masyarakat akan terdapat perbedaan gaya perkerjaan. Toffler membagi perkembangan masyarakat menjadi tiga, yaitu masyarakat agraris, masyarakat industri, dan masyarakat informasi.

Dalam konteks pekerjaan, perbedaan antara ketiga jenis masyarakat itu antara lain dapat disederhanakan dalam hal tempat tinggal dan tempat kerja. Dalam masyarakat agraris, tempat tinggal dan tempat kerja menjadi satu. Dalam masyarakat industri, tempat tinggal dan tempat kerja berada di tempat yang terpisah. Tempat tinggal semakin menjauh dari tempat tinggal dan berada di kantor-kantor dan pabrik-pabrik. Sedangkan dalam masyarakat informasi, berkat dukungan teknologi informasi dan komunikasi, tempat tinggal dan tempat kerja “rujuk”  kembali dan berada di tempat yang sama, yaitu tempat tinggal.

Melalui sistem kerja yang dinamakan telecommuting, dimungkinkan karyawan dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu bekerja dari rumahnya. Pemborosan waktu untuk perjalanan pergi dan pulang dari tempat tinggal ke tempat kerja dapat dikurangi. Lebih dari itu, barokah yang lebih besar adalah semakin banyak waktu bagi para pekerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Dengan kata lain, Toffler berusaha menunjukkan bahwa kehadiran teknologi, jika dimanfaatkan secara tepat, dapat membuat kehidupan dan pekerjaan manusia lebih manusiawi.

Bumi Serpong Damai,  12 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 15, 2011 in Management

 

Lingkungan Organisasi dan Struktur Organisasi

Meskipun telah terjadi perubahan zaman dalam masyarakat dari masyarakat agraris ke masyarakat industrialis dan kemudian masyarakat pengetahuan, bentuk-bentuk struktur organisasi pada umumnya masih bertahan menggunakan struktur organisasi fungsional dan divisional.

Padahal, seperti dikemukakan oleh Alfred J. Chandler, struktur harus mengikuti strategi. Artinya, jika strategi berubah, maka struktur organisasi juga harus diubah sehingga menjadi struktur organisasi yang efektif untuk mengeksekusi strategi.

Bahkan, jika lingkungan organisasi berubah, maka struktur organisasi juga harus beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan organisasi. Di zaman agraris dan industrialisasi faktor-faktor produksi adalah modal, tanah, dan tenaga kerja.  Di era pengetahuan, faktor pengetahuan menjadi faktor produksi yang penting di samping faktor produksi konvensional. Perubahan faktor produksi tersebut membutuhkan struktur organisasi yang berbeda sehingga faktor-faktor produksi dapat dikelola secara efektif dan efisien.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Struktur Organisasi.

Menurut Jeniffer M. George dan Gareth R. Jones, ada 4 faktor yang mempengaruhi struktur organisasi, yaitu lingkungan organisasi, teknologi, sumber daya manusia, dan strategi organisasi, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut :

Pokok bahasan tulisan ini adalah hubungan antara lingkungan organisasi dan struktur organisasi. Dalam hal ini, lingkungan organisasi ditempatkan sebagai variabel bebas (independent variable) yang mempengaruhi struktur organisasi (sebagai dependent variable)

Karakteristik Lingkungan.

Dengan menggunakan variabel derajat kompleksitas (sederhana dan kompleks) dan variabel derajat perubahan (stabil dan dinamis), maka akan diperoleh empat jenis lingkungan organisasi, yaitu :

  1. Simple – Stable, yaitu lingkungan yang relatif sederhana (tidak kompleks) dan relatif stabil (perubahan yang terjadi relatif kecil, baik dalam skala dan dampaknya).
  2. Simple – Dynamic, yaitu lingkungan yang relatif sederhana tetapi dengan tingkat perubahan relatif dinamis.
  3. Complex – Stable, yaitu lingkungan yang relatif kompleks tetapi relatif stabil; dan
  4. Complex – Dynamic, yaitu lingkungan yang relatif kompleks dan disertai dengan tingkat perubahan lingkungan yang relatif dinamis.

Dalam buku Fundamentals of Management, Mary Coulter dan Stephen P. Robbins (2007) merangkum hubungan antara tingkat kompleksitas lingkungan dan tingkat perubahan lingkungan organisasi, serta karakteristik masing-masing lingkungan organisasi dalam gambar sebagai berikut :

Bentuk-Bentuk Organisasi vs Lingkungan.

Tidak semua bentuk struktur organisasi sesuai untuk setiap jenis lingkungan organisasi. Struktur organisasi relatif lebih sesuai atau efektif untuk menyikapi jenis lingkungan tertentu. Karena itu, jika lingkungan organisasi berubah, adalah penting memahami karakteristik lingkungan organisasi yang baru sehingga organisasi dapat beradaptasi dengan membuat struktur organisasi yang lebih sesuai untuk menghadapi peluang dan ancaman di lingkungan yang baru.

Dari empat jenis lingkungan organisasi maka dapat didesain struktur organisasi yang sesuai dengan masing-masing lingkungan, yaitu struktur organisasi sederhana, fungsional, divisional, matriks / tim / networks. Hubungan antara lingkungan organisasi dan struktur organisasi ditunjukkan dalam gambar berikut (PPM School of Management, 2002) :

Struktur organisasi sederhana sesuai dengan lingkungan organisasi yang sederhana dan perubahan lingkungan relatif dinamis. Struktur organisasi fungsional sesuai dengan lingkungan organisasi yang sederhana dan relatif stabil. Struktur organisasi divisional sesuai dengan lingkungan organisasi yang relatif kompleks tetapi dengan tingkat perubahan relatif kecil (stabil). Sedangkan struktur organisasi Matriks / Tim / Networks  sesuai dengan lingkungan organisasi yang kompleks dan tingkat perubahan yang dinamis.

Bumi Serpong Damai, 8 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 13, 2011 in Management

 

Kolesterol dan Asam Lemak Jenuh

Kolesterol adalah suatu substansi seperti lilin yang berwarna putih, secara alami ditemukan di dalam tubuh kita. Kolesterol diproduksi di hati, fungsinya untuk membangun dinding sel dan membuat hormon-hormon tertentu.

Tubuh kita sebetulnya akan menghasilkan sendiri kolesterol yang kita perlukan. Tetapi, karena produk hewani yang kita konsumsi, menyebabkan banyak orang memiliki kelebihan kolesterol.

Kadar kolesterol yang berlebihan di dalam darah merupakan penyebab utama dari penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah. Kolesterol membentuk bekuan dan plak yang menyumbat arteri dan akhirnya memutusksn aliran darah ke jantung (menyebabkan serangan jantung) dan ke otak (menyebabkan stroke).

Dengan menurunkan kadar kolesterol, anda bisa menghentikan pembentukan plak di dalam arteri dan menyusutkan bekuan yang sudah terbentuk.

Jika anda pernah mengalami suatu serangan jantung atau pembedahan bypass, kadar kolesterol anda harus diperiksa secara rutin. Menjaga kadar kolesterol tetap rendah merupakan jaminan terbaik untuk melawan penyumbatan pembuluh darah arteri.

Memahami Kadar Kolesterol
Kadar kolesterol terbagi menjadi 2 (dua) bagian:
• Kolesterol HDL (High-Density Lipoprotein), merupakan “kolesterol baik” karena kemampuannya untuk membersihkan pembuluh darah arteri.

• Kolesterol LDL (Low-Density Lipoprotein) atau “kolesterol jahat” yang membuat endapan dan menyumbat arteri.
Kadar kolesterol HDL diatas 60 berarti sangat baik. Makin tinggi kadar kolesterol HDL, makin rendah resiko untuk mendapat serangan jantung atau stroke. Kadar kolesterol LDL yang baik adalah lebih rendah dari 130, dan semakin rendah, akan semakin baik.

Pemeriksaan kadar kolesterol paling baik dilakukan setelah berpuasa selama 12 jam. Pemeriksaan darah juga akan mengukur komponen darah seperti trigliserida. Seperti halnya kolesterol, trigliserida merupakan sejenis lemak yang ditermukan di dalam makanan seperti daging, keju, ikan dan kacang-kacangan dan juga dibuat sendiri oleh tubuh.

Bagaimana menurunkan kadar kolesterol?

Berikut ini cara menurunkan kadar kolesterol, yaitu :
• Berolah raga secara teratur.

• Menjaga berat badan yang sehat.

• Mengurang jumlah alkohol, karbohidrat dan lemak jenuh dalam makanan.

• Banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, roti gandum, sereal dan buncis.

• Hanya mengkonsumsi susu skim, keju, krim asam dan yogurt yang rendah lemak.

• Konsumsi/pilihlah daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit dan ikan.

• Menghindari makanan yang banyak mengandung lemak dan kaya akan kolesterol, seperti kentang goreng dan makanan cepat saji lainnya, tortila, sosis, daging babi, hot dog, kue, kue kering dan hidangan pencuci mulut lainnya.

• Jangan menggoreng makanan anda, tapi masaklah dengan microwave, direbus, dipanggang atau dibakar.

• Hindari juga lemak jenuh, yang terdapat di dalam daging atau produk hewan lainnya. Lemak jenuh meningkatkan kadar kolesterol darah, meskipun makanan yang mengandung lemak jenuh diberi label “bebas kolesterol”. Contohnya, kue bebas kolesterol mungkin kaya akan lemak jenuh seperti minyak palem atau minyak kelapa, yang akan menaikkan kadar kolesterol anda.

• Tidak ada anjuran mengenai jumlah asupan total lemak perhari. Meskipun demikian, anda harus mencoba untuk membatasinya sampai 30% atau kurang dari total kalori setiap harinya dan lemak yang berasal dari lemak jenuh harus kurang dari 10%.
Bagaimana mengurangi lemak jenuh dalam makanan?

Berikut ini cara bagaimana mengurangi lemak jenuh dalam makanan, yaitu:
• Kurangi produk hewan yang berlemak dalam makanan anda, seperti hamburger, daging babi, sosis dan jeroan (hati, otak, ginjal).
• Bacalah label secara seksama dan hindari makanan yang mengandung minyak sayur yang terhidrogenasi, mentega coklat, minyak palem atau minyak kelapa, lemak sapi dan lemak babi.

• Lepaskan kulit dari unggas dan hilangkan lemak dari dagingnya sebelum dimasak.

• Siapkan minimal satu kali makan tanpa daging setiap harinya.

• Gunakan susu skim atau susu rendah lemak dan produk-produknya.

• Nikmatilah makanan kecil bebas lemak, termasuk pretzel (kue kering asin), popcorn (jagung berondong) dan buah-buahan.

• Hindari permen dan hidangan penutup, terutama yang mengandung coklat, yang terbuat dari gula merah dan mentega dan karamel.

• Masaklah telur bagian putihnya saja.

• Hindari makanan siap saji (kue, kue kering dan pastel) yang dijual di toko-toko.

• Masak dan pangganglah makanan dengan menggunakan minyak sayur seperti kanola, bunga matahari, jagung, kedelai dan minyak zaitun.

• Buatlah saus salad anda sendiri dengan menggunakan minyak-minyak di atas.

• Gunakanlah margarin yang ringan/lembut.

Menurunkan berat badan, juga akan membantu

Apakah anda kelebihan berat badan ? Jika ya, menurunkan berat badan akan membantu anda menurunkan kadar kolesterol. Yang paling baik adalah penurunan sebanyak ½ -1 kg/minggu, karena hal ini biasanya menunjukkan bahwa anda sudah merubah kebiasaan makan anda menjadi lebih baik.

Sebaiknya anda menghindari diet yang berlebihan, penggunaan pil atau larutan penurun berat badan. Berolah raga juga akan membantu menurunkan berat badan dan kadar kolesterol anda.

Latihan yang baik meliputi berjalan, joging, bersepeda, berenang, aerobik dan dansa. Cobalah untuk menemukan kegiatan yang anda sukai dan lakukanlah 3-4 kali/minggu selama 20-30 menit setiap kalinya.

Obat-obatan yang diresepkan
Jika dokter anda memberikan resep obat untuk menurunkan kolesterol, minumlah sesuai petunjuk dan aturan. Ada beberapa obat penurun kadar kolesterol yang juga menurunkan kadar trigliserida.

Bila anda menderita penyakit hati atau keadaan lainnya yang membuat anda tidak dapat mengkonsumsi obat penurun kadar kolesterol, niasin (vitamin B3) dosis tinggi (1000-2000 mgr/hari) bisa membantu menurunkan kadar kolesterol anda. Mintalah kepada dokter anda untuk membantu memulainya pada dosis yang rendah dan menaikkannya secara bertahap.

Sumber : http://medicastore.com/stroke/Kolesterol_Asam_Lemak_Jenuh.php; diunduh pada tanggal 6 Juni 2011.

 
Comments Off on Kolesterol dan Asam Lemak Jenuh

Posted by on June 10, 2011 in Body | Mind | Soul