RSS

Never Change A Winning Team

06 Jun

Ada sebuah “mantra” di dunia olahraga yang diadopsi sebagian besar olahragawan dan pelatih, yaitu “never change a winning team”. Jika suatu team telah menunjukkan prestasi dan konsisten, maka kesimpulannya itulah team terbaik dan sedapat mungkin anggota-anggota team dipertahankan.

Mengapa “haram” mengubah a winning team? Friederike Mengel dari University of Maastricht, Belanda mengadakan penelitian dengan judul “Never change a winning team: The effect of substitutions on success in football tournaments”. Mengel (2009) mengatakan bahwa “We identify a strong and significant negative effect of substitution in (irrelevant) early games in world cup and olympic football tournaments on performance in later rounds. We argue that this effect is due to the psychological consequences of such a decision and evaluate alternative possible explanation.”

Ketika Valentino Rossi memutuskan “hijrah” ke tim pabrikan Yamaha, Rossi mengajukan syarat membawa tim mekanik yang sebelumnya pernah bekerja sama dengannya di tim pabrikan Honda. Tanpa kesulitan berarti Rossi berhasil meyakinkan para petinggi Yamaha untuk menerima tim mekanik satu “paket” dengan kepindahannya ke tim Yamaha. Terbukti kemudian Rossi berhasil 3  kali mempersembahkan kepada tim Yamaha juara dunia Motor GP untuk kelas 1000 cc (tahun 2004, 2005, dan 2008).

Hampir tidak ada perubahan yang signifikan antara skuad FC Barcelona (FCB) tahun 2009 dan tahun 2011, kedua skuad berhasil memboyong Piala Champion. Beberapa pemain inti tahun 2009 seperti penjaga gawang Victor Valdes, barisan pertahanan yang diisi oleh Dany Alves, Gerard Picquet, Carlos Puyol, Eric Abidal, barisan gelandang yang diperkuat oleh Xavi Hernandez, Sergio Busquets, Andreas Iniesta, S. Keyta, dan barisan penyerang yang terdiri dari Pedro Rodriguez, Lionel Messi, masih tetap bermain di final Liga Champion 2011.

Tidak banyak perubahan yang dilakukan oleh pelatih Guardiola terhadap the winning team 2009, kecuali memasukkan Javier Mascherano dan  David Villa. Kecuali Messi, Mascherano, Abidal dan Keyta, para skuad FCB tersebut adalah para pemain yang memperkuat timnas Spanyol di Piala Dunia 2010 dan mengantarkan Spanyol untuk pertama kali menjadi juara dunia. Bahkan, kebersamaan dalam the winning team sudah dimulai sejak mereka masuk dalam skuad timnas Spanyol untuk Piala Eropa 2008.

Ferguson juga membawa skuad yang relatif sama dengan skuad yang berlaga di final Piala Champion 2009 melawan FCB, kecuali Javier “Chicharito” Hernandez dan Antonio Valencia. Tahun 2009 dan 2011, sebenarnya Ferguson membawa the winning team, sebab pada tahun-tahun itu MU menjuarai Liga Inggris. Tetapi sejatinya, di final Piala Champion 2011, Ferguson membawa the lossing team, yaitu team yang kalah melawan FCB di final Piala Champion 2009.

 

Effective Team.

Bersama kita bisa? Jawabannya bisa ya dan bisa tidak. Sebuah group dan team memang bisa membuat segala sesuatu yang jika dikerjakan sendiri mustahil untuk dicapai, menjadi serba mungkin dan mudah dicapai. Menurut Jennifer George dan Gareth Jones (2006), sebuah kelompok dan tim dapat memperkuat kinerja, meningkatkan daya tanggap terhadap pelanggan, meningkatkan inovasi, dan meningkatkan motivasi dan kepuasan sehingga pada gilirannya akan menjadi keunggulan kompetitif. Hubungan antara kelompok dan tim dengan keunggulan kompetitif ditunjukkan melalui gambar berikut:

Tentu saja tidak semua tim yang dibentuk akan berhasil mewujudkan “bersama kita bisa”. Untuk menjadi sebuah tim pemenang, sebuah tim harus memenuhi kriteria efektif. Menurut Mary Coulter dan Stephen P. Robbins (2007), ada beberapa kriteria sebuah tim yang efektif, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut :

Itulah sebabnya, pebulutangkis Icuk Sugiarto pernah meminta “perlakuan khusus” ketika ia menyatakan hanya merasa “enjoy” saat dilatih oleh pelatih fisik Tahir Djide dan pelatih teknik Atik Jauhari. Beberapa olahragawan juga pernah mengalami hal yang sama ketika harus bekerja sama dengan tim pelatih teknik dan pelatih fisik. Di dunia sepakbola, seringkali seorang pemain tidak bersedia memperkuat timnas “hanya” gara-gara tidak cocok dengan karakter, strategi, dan gaya permainan seorang pelatih.

Beberapa kriteria tim yang efektif mungkin mudah untuk diwujudkan, antara lain clear goals, relevant skills, internal dan external support. Tetapi membangun mutual trust dan unified commitment dalam sebuah tim jelas bukan perkara yang mudah. Itulah sebabnya, dalam sebuah timnas sepakbola, cenderung diperkuat oleh mayoritas  pemain yang berasal dari klub yang sama (silakan baca Poros Bayern Muenchen dalam blog ini). Itulah sebabnya, sepakbola perlu mengadakan kejuaraan U-17 (under 17 years old), U-19, U-21, dan U-23 sebagai – meminjam istilah dalam talent management – acceleration pools dan sumber rekruitmen timnas senior.

Membangun the Winning Team.

Dalam legenda candi Roro Jonggrang dikisahkan tentang seorang pemuda bernama Bandung Bandawasa yang naksir berat seorang putri cantik dari kerajaan Wanasegara yang bernama Roro Jonggrang. Kemudian Bandawasa memberanikan diri untuk melamar Roro Jonggrang. Lamaran diterima, tetapi Roro Jonggrang mengajukan sebuah syarat yang “tidak masuk akal”. Roro Jonggrang bersedia menjadi istri Bandung Bandawasa asalkan Bandawasa sanggup membuat sebuah candi yang dilengkapi dengan 1000 patung.

Sejatinya, Roro Jonggrang bermaksud menolak lamaran Bandung Bandawasa. Tetapi karena ewuh pakewuh dan tidak terbiasa to the point, dibuatlah sebuah syarat yang tidak masuk akal. Asumsinya adalah Bandung Bandawasa tidak akan sanggup memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Di luar dugaan, Bandung Bandawasa menyanggupi “order” proyek pembangunan sebuah candi yang memiliki 1000 patung. Dalam waktu sangat singkat Bandung Bandawasa berhasil membentuk project team yang beranggotakan makhlus halus. Tak disangka-sangka, makhlus halus tersebut bekerja sangat efektif dan cepat sebagaimana layaknya tim mekanik lomba formula 1, terutama pada saat menangani pit-stop. Menjelang tengah malam, project team hampir menyelesaikan “order” sesuai dengan spec yang ditentukan.

Roro Jonggrang pun panik. Tetapi Roro Jonggrang sungguh beruntung, sebab kepanikannya tidak sampai menghilangkan kemampuannya untuk menggunakan akal bulus. Singkat kata, Roro Jonggrang siap dengan strategi berikutnya. Roro Jonggrang pun mengerahkan warga untuk memukul lesung dan membakar jerami yang dapat membuat ayam berkokok sebagai pertanda fajar telah tiba. Harapannya, Bandung Bandawasa terpengaruh dan gagal menyelesaikan proyek pembangunan candi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Karena mengira bahwa fajar telah tiba, maka para makhlus halus pun lari tunggang langgang dan tidak meneruskan pekerjaannya. Proyek yang digarap oleh Bandung Bandawasa menjadi berantakan. Sesuai tenggat waktu yang ditentukan, Bandawasa “hanya” berhasil membangun sebuah candi dengan 999 patung. Karena kurang 1 patung, maka Roro Jonggrang memiliki legitimasi untuk menolak Bandung Bandawasa.

Sebuah the winning team dapat dibangun dalam waktu satu malam hanya sebuah cerita, bahkan khayalan. Dalam kehidupan nyata, the winning team tidak mungkin dalam waktu satu malam. Dalam sejarah penyelenggaraan kejuaraan sepakbola piala dunia dan piala Eropa, Spanyol dikenal sebagai tim spesialis perempat final. Artinya, selama bertahun-tahun mengikuti piala dunia dan piala Eropa, prestasi terbaik Spanyol hanya sampai perempat final.

Tahun 2008 adalah untuk pertama kalinya timnas Spanyol berhasil melepaskan diri dari “kutukan” tim spesialis perempat final. Untuk pertama kalinya, Spanyol berhasil melewati semifinal piala Eropa, lolos ke final, bahkan menjadi juara piala Eropa. Demikian juga tahun 2010, untuk pertama kalinya timnas Spanyol berhasil melepaskan diri dari “kutukan” tim spesialis perempat final piala dunia, lolos ke semifinal, kemudian final, dan bahkan menjadi tim ketiga setelah Jerman dan Perancis yang berhasil meraih gelar juara dunia sepakbola setelah sebelumnya menjuarai piala Eropa.

Dalam sepakbola (tentu saja dalam cabang olah raga lainnya), the winning team dibangun selama bertahun-tahun. Beberapa pemain yang memperkuat timnas senior lazimnya adalah para pemain yang pernah bersama-sama memperkuat timnas U-17, U-19, U-21, dan U-23. Bahkan, beberapa pemain telah bersama-sama dalam satu team sejak mereka dididik di akademi sepakbola.

Meskipun setelah menjadi pesepakbola profesional mereka berpencar memperkuat klub yang berbeda-beda, mengumpulkan kembali mereka menjadi satu team yang efektif tidak terlalu sulit. Contoh nyata mengenai hal ini adalah Cecs Fabregas yang saat ini bermain untuk klub FC Arsenal, Inggris. Fabregas pernah dididik di La Masia (akademi sepakbola milik FCB) dan seangkatan dengan Messi, Picquet, Busquets dan Pedro. Karena itu, ketika para pemain FCB memperkuat timnas Spanyol di piala dunia 2010, mereka tetap mampu menjadi tim yang efektif.

Gerah terhadap prestasi tim Red Bull yang berhasil merebut juara dunia pembalap dan konstruktor tahun 2010, Ferrari sempat diterpa isu akan membajak mekanik Red Bull. Entah bagaimana realisasinya, tetapi jika memang benar Ferrari berhasil membajak tim mekanik Red Bull, saya jamin hasilnya tidak akan seketika. Pasti membutuhkan waktu dan usaha yang tidak ringan untuk membangun tim mekanik Ferrari yang merupakan perpaduan dari tim mekanik lama dan tim mekanik baru yang dibajak.

Tampak Siring, 4 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 6, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: