RSS

Teknologi, Struktur dan Pekerjaan

15 Jun

Sudah sering dibahas, bahwa teknologi memiliki pengaruh terhadap sikap dan perilaku manusia, baik pengaruh positif maupun negatif. Bahkan, dampak teknologi diyakini lebih jauh dari sekedar mempengaruhi sikap dan perilaku manusia. Teknologi mampu mengubah filosofi manusia terhadap manusia, makhluk hidup lainnya dan alam raya.
Dalam bukunya yang berjudul “Alone Together”, penulis Sherry Turkle (2011) mengatakan bahwa “teknologi membuat manusia mempunya pola interaksi sosial yang aneh.” Berdasarkan sebuah penelitian di AS, orang mengaku kini memiliki lebih sedikit sahabat meskipun terhubung dengan banyak teman maya di Facebook. Teknologi juga membuat orang lebih senang berkomunikasi dengan teks daripada percakapan. Mengapa? Karena seluruh kendali komunikasi ada dalam genggamannya. Kapan pun ia boleh memulai dan menghentikan kontak itu. (Kompas Minggu, 12 Juni 2011).
Dengan memanfaatkan teknologi, manusia menjadikan lingkupan hidup menjadi korban keganasannya. Sistem TPTI (Tebang Pilih Tanam Indonesia) memang “memaksa” para pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di hutan tropis Indonesia untuk menebang pohon dengan diameter minimum 50 cm. Asal tahu saja, setiap tahun diameter pohon berkembang 1 cm. Artinya, untuk memiliki diameter 50 cm, dibutuhkan waktu 50 tahun. Sebuah teknologi yang relatif sederhana bernama chain saw mampu merobohkan sebuah pohon yang berdiri kokoh selama 50 tahun hanya dalam hitungan menit.
Perubahan hutan tropis Indonesia yang semula “gondrong” menjadi “gundul” menunjukkan bahwa, kemudahan teknologi sederhana seperti chain saw mampu membuat karakter manusia yang sudah greedy sejak dari sononya menjadi tambah serakah. Teknologi bahkan seringkali mampu membuat orang menjadi arogan. Sebuah teknologi telepon genggam yang relatif canggih misalnya, benda yang sejatinya berfungsi sebagai alat komunikasi yang mampu menyiasati ruang dan waktu, “dipelintir” sedemikian rupa menjadi simbol status yang dapat memenuhi tujuan redefining success.

Kehadiran teknologi juga berpengaruh banyak terhadap dunia kerja, baik dampak positif maupun negatif. Dalam artikel ini, hanya akan dibahas dampak teknologi terhadap struktur organisasi, pekerjaan dan tempat kerja.

Teknologi dan Struktur Organisasi.
Mengapa di berbagai negara terdapat kecenderungan, bahwa struktur organisasi kepolisian cenderung lebih “gemuk” dibandingkan dengan struktur organisasi militer, baik itu angkatan darat, udara dan laut?. Mengapa struktur organisasi angkatan udara di berbagai belahan dunia cenderung relatif lebih “ramping” dibandingkan struktur organisasi angkatan laut, dan terutama angkatan darat?

Teknologi memang memiliki pengaruh terhadap struktur organisasi. Dalam buku mereka yang berjudul Contemporary Management (2006), Jennifer M. George dan Gareth R. Jones menyebutkan ada empat faktor yang mempengaruhi struktur organisasi, yaitu strategi organisasi, lingkungan organisasi, teknologi dan (kompetensi / kapabilitas) sumber daya manusia.

Kehadiran teknologi berpengaruh terhadap struktur organisasi. Dalam masyarakat industri struktur organisasi cenderung bersifat mekanistik, antara lain struktur organisasi fungsional dan divisional. Dalam masyarakat informasi, struktur organisasi cenderung bersifat organistik, sebagaimana diperlihatkan gambar 1 sebagai berikut :

Perbandingan karakteristik struktur organisasi mekanistik dan organik ditunjukkan dalam tabel 1 sebagai berikut :

Tabel 1. Perbandingan Struktur Organisasi Mekanistik dan Organik

Tugas-tugas seorang polisi pada dasarnya lebih banyak berhubungan dengan manusia. Tidak semua bentuk pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat dapat digantikan oleh teknologi. Tetap diperlukan komunikasi tatap muka antara polisi dengan individu dan masyarakat. Karena itu, ada rasio ideal antara jumlah polisi dan penduduk.

Tugas-tugas angkatan udara  pada prinsipnya heavy-techology. Artinya, kehadiran teknologi adalah mutlak untuk menunjang tugas-tugas yang berkaitan dengan pertahanan udara. Demikian juga dengan angkatan laut, relative membutuhkan teknologi dibandingkan dengan angkatan darat. Sebuah kapal induk Nimitz yang berawak 20.000 pasukan dan selalu mobile untuk mengamankan wilayah yang cukup luas semakin menegaskan bahwa kehadiran teknologi dalam matra laut adalah mutlak.

Teknologi dan Pekerjaan.

Di negara berpenduduk relatif padat seperti Indonesia, barangkali tidak ada benda yang menakutkan kecuali produk budaya bernama teknologi. Dalam konteks pekerjaan, kehadiran teknologi memang tidak selalu ramah.

Pada prinsipnya, manusia tetap membutuhkan kehadiran teknologi dan berpendapat bahwa “sampai batas-batas tertentu” teknologi lebih banyak manfaatnya ketimbang mudharatnya. Tidak pernah terbayangkan bagaimana dunia kedokteran tanpa kehadiran teknologi kedokteran. Tidak terbayangkan bagaimana media massa dapat berkembang pesat tanpa kehadiran teknologi di bidang media.

Tetapi teknologi juga menjadi musuh abadi bagi manusia. Kemampuan teknologi untuk menggantikan manusia dan mengerjakan tugas-tugas yang semula hanya dapat dilakukan manusia, sungguh merupakan pukulan telak bagi manusia yang hanya bekerja dengan mengandalkan otot dan tenaga fisiknya saja.

Itulah sebabnya, di negara yang digolongkan sedang berkembang, jargon “teknologi tepat guna” dikedepankan untuk melindungi manusia dari kehilangan pekerjaan. Itulah sebabnya, meskipun di dunia Barat sudah ada teknologinya, teknologi itu “dilarang” masuk agar sistem kerja padat karya  tetap dapat dipertahankan. Siapapun penguasa di republik ini akan senang jika tingkat pengangguran tidak mencapai dua digit.

Teknologi dan Tempat Kerja.

Bill Gates mengatakan bahwa saat ini manusia hidup dan bekerja di era  era “web lifestyle” (gaya hidup internet) dan “web workstyle” (gaya kerja internet). Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih memang mampu membuat dunia menjadi “rata”  (“the world is flat”, kata Thomas L. Friedman) dan “global village”  (Marshall McLuhan).  Semua menjadi serba dekat dan “ramalan” Alvin Toffler tentang dunia kerja yang berubah menjadi kenyataan.

Dalam bukunya yang berjudul “Future Shock” dan “The Third Wave”,  Toffler mengemukakan bahwa dalam setiap masyarakat akan terdapat perbedaan gaya perkerjaan. Toffler membagi perkembangan masyarakat menjadi tiga, yaitu masyarakat agraris, masyarakat industri, dan masyarakat informasi.

Dalam konteks pekerjaan, perbedaan antara ketiga jenis masyarakat itu antara lain dapat disederhanakan dalam hal tempat tinggal dan tempat kerja. Dalam masyarakat agraris, tempat tinggal dan tempat kerja menjadi satu. Dalam masyarakat industri, tempat tinggal dan tempat kerja berada di tempat yang terpisah. Tempat tinggal semakin menjauh dari tempat tinggal dan berada di kantor-kantor dan pabrik-pabrik. Sedangkan dalam masyarakat informasi, berkat dukungan teknologi informasi dan komunikasi, tempat tinggal dan tempat kerja “rujuk”  kembali dan berada di tempat yang sama, yaitu tempat tinggal.

Melalui sistem kerja yang dinamakan telecommuting, dimungkinkan karyawan dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu bekerja dari rumahnya. Pemborosan waktu untuk perjalanan pergi dan pulang dari tempat tinggal ke tempat kerja dapat dikurangi. Lebih dari itu, barokah yang lebih besar adalah semakin banyak waktu bagi para pekerja untuk berkomunikasi dengan keluarganya dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Dengan kata lain, Toffler berusaha menunjukkan bahwa kehadiran teknologi, jika dimanfaatkan secara tepat, dapat membuat kehidupan dan pekerjaan manusia lebih manusiawi.

Bumi Serpong Damai,  12 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 15, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: