RSS

Birds Of A Feather Flock Together

20 Jun

Tampaknya prosesi “hijrah” Michael Neuer dari klub Schalke 04 ke klub Bayern Muenchen pada musim panas 2011 ini masih menyisakan “pekerjaan rumah” bagi Bayern. Kiper nomor 1 timnas sepakbola Jerman saat ini memang telah lulus seleksi kesehatan. Schalke 04 dan Bayern juga telah sepakat harga transfer di kisaran angka 15 juta Euro. Neuer juga telah menandantangani kontrak dengan Bayern untuk jangka waktu 5 musim kompetisi ke depan. Tetapi untuk melindungi Neuer, Bayern “terpaksa” menyewa ahli teror.

Gerangan apakah yang terjadi? Selidik punya selidik, meskipun Neuer saat ini adalah kiper terbaik di Jerman, pendukung klub Bayern tidak suka kepada Neuer. Saat masih digadang-gadang akan bergabung dengan Bayern pun para pendukung Bayern sudah memperlihatkan antipati terhadap Neuer. Tahun 2010, saat Bayern bertemu Schalke 04 di Piala Jerman, para pendukung Bayern tampil garang membentangkan spanduk bertuliskan “Koan Neuer”, artinya “Tidak untuk Neuer”.

Mengapa para pendukung Bayern begitu antipati terhadap Neuer? Neuer lahir di kota Gelsenkirchen dua puluh lima tahun yang lalu. Gelsenkirchen ialah sebuah kota di Jerman di negara bagian Nordrhein-Westfalen. Ibukota negara bagian Nordrhein-Westfalen adalah Duesseldorf. Sedangkan klub kebanggaan kota dan warga masyarakat Gelsenkirchen adalah FC Schalke 04, salah satu musuh bebuyutan Bayern Muenchen!

Sejatinya, seorang pesepakbola yang bermain di sebuah klub profesional dan kemudian pindah ke klub lain yang menjadi musuh bebuyutannya adahal kejadian yang umum dan lumrah. Bukankah di manapun berlaku “fatwa” cash is the king?.  Ashley Cole, wing back klub Arsenal pindah ke FC Chelsea yang sama-sama bermarkas di London. Luis Figo pernah membela FC Barcelona selama beberapa musim dan memutuskan untuk “membelot” ke klub Real Madrid. Sebaliknya, Samuel Eto’o pernah membela Real Madrid dan kemudian “berselingkuh” dengan FC Barcelona yang menjadi musuh bebuyutan Real Madrid. Ibrahimovic malah lebih “gila” karena pernah memperkuat Juventus, Inter Milan, dan saat ini AC Milan.

Kekecewaan – dan mungkin kemarahan dan kebencian –  pendukung klub terhadap Cole, Figo, dan Eto’o memang manusiawi dan dapat dipahami. Pendukung klub biasanya memiliki prinsip yang tidak dapat ditawar-tawar : silakan pindah ke klub mana saja, asalkan bukan klub lawan yang menjadi musuh bebuyutan di negara yang sama. Lazimnya, pendukung yang kecewa dan marah adalah pendukung klub yang ditinggalkan pujaan hati mereka. Pendukung klub kan manusia juga, lebih baik sakit gigi daripada patah hati.

Itulah sebabnya para pendukung Arsenal marah kepada Cole dan memberikan gelar kepadanya “Cashley Cole”. Pendukung Arsenal yakin bahwa Cole adalah pesepakbola yang “mata duitan” dan kepindahannya ke Chelsea tidak lebih tidak bukan untuk memuaskan nafsu serakah terhadap gaji besar. Setali tiga uang, Figo dan Eto’o juga mendapat hujatan masing-masing dari para pendukung FC Barcelona dan Real Madrid. Bahkan, kemarahan pendukung Real Madrid sempat melampaui batas. Eto’o yang berasal dari Kamerun dan berkulit hitam seringkali menjadi sasaran empuk diskriminasi.

Dalam kasus Neuer, justru para pendukung Schalke 04 legowo. Adalah wajar bagi seorang kiper seperti Neuer bermain di level tertinggi di kompetisi Eropa. Bayern Muenchen adalah salah satu klub Jerman yang paling sering bermain di Liga Champion. Penting bagi Neuer untuk meningkatkan kompetensinya dan merasakan persaingan di level tertinggi. Hasil yang diharapkan tentu bukan untuk Neuer sendiri, tetapi timnas sepakbola Jerman juga akan mendapatkan “barokah” jika kompetensi Neuer meningkat dan telah teruji di kompetisi level tertinggi.

Tetapi manusia adalah makhluk yang absurd. Tidak selalu pertimbangan rasional dapat diterima, entah dengan alasan apapun. Yang aneh dan tidak masuk akal selalu mungkin terjadi di dunia. Rafael Nadal – petenis yang “jagoan” bertanding di lapangan tanah liat – adalah asli orang Barcelona. Tetapi apa yang terjadi?. Alamak, Nadal adalah bobotoh Real Madrid!.

Alasan penolakan pendukung Bayern kepada Neuer dilandasi sentimen kedaerahan. Orang-orang Bayern selalu merasa lebih istimewa dibandingkan orang Jerman lainnya. Meskipun orang-orang Bayern tidak memiliki semangat separatisme “separah” orang-orang Catalan Barcelona dan Basque (keduanya di Spanyol), “arogansi” Bayern tetap kuat di kehidupan masyarakat Jerman, termasuk di dunia sepakbola.

Alasan penolakan terhadap Bayern adalah karena Neuer bukan putra daerah Bayern. Padahal, sebagai klub sepakbola profesional idaman di Jerman, sudah lumrah diversitas akan terjadi di Bayern. Lagi pula, kiper-kiper andalan Bayern sebelumnya juga bukan “putra daerah” asli. Sebut saja  Hans-Jorg Butt (orang Oldenburg, daerah di negara bagian Bremen), dan Oliver Kahn yang berasal dari Karlsruhe.

Secara sosiologis, manusia dipersatukan oleh kesamaan darah, daerah, dan pemikiran / keyakinan. Ferdinand Toennies, sosiolog berkebangsaan Jerman, memberikan istilah untuk ketiga hal tersebut gemeischaft of blood, gemeinschaft of locality, dan gemeinschaft of minds. Biasanya, orang lain yang tidak memiliki kesamaan darah, tidak berasal dari daerah yang sama, dan juga tidak satu pemikiran / keyakinan, dikelompokkan sebagai “bukan orang kita”.

Heterogenitas masyarakat memang dapat “mencairkan” kekakuan terhadap batas-batas darah, daerah dan keyakinan. Meminjam istilah yang diperkenalkan oleh Michael Gorbachev, glasnost (keterbukaan) dan perestroika (reformasi) yang menghembuskan wind of change tidak hanya merobohkan tembok Berlin, melainkan juga membongkar “tembok sosial” di antara manusia.

Sejak November 1989 Jerman memang bersatu kembali. Tetapi sebagaimana masyarakat di negara lain, semangat untuk berbeda tetap tidak dapat dihilangkan. Perbedaan asal-usul darah, kedaerahan, dan keyakinan memang tidak akan pernah hilang. Perbedaan-perbedaan itu akan semakin jelas manakala sudah diletakkan dalam konteks kepentingan.

Batas antara kita dan bukan kita akan semakin jelas pada saat manusia memperjuangkan kepentingannya. Pada saat kepentingan menjadi “panglima”, akan banyak orang yang “dieliminasi” dari “kita”. Peribahasa “sekali lancung seumur hidup orang tak percaya” juga berlaku : sekali orang melakukan kesalahan, maka ia bukan lagi bagian dari “kita”. Ketika susah maunya sama-sama, tetapi ketika sudah sukses, maka “kita” direkonstruksi.

Kepentingan memang tidak pernah mengenal lawan atau kawan. Selama kepentingan sama, lawan atau kawan sama saja. Tidak ada musuh dan sahabat abadi, yang ada adalah kepentingan abadi.

Bumi Serpong Damai, 18 Juni 2011.

 
Leave a comment

Posted by on June 20, 2011 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: