RSS

SWOT Analysis

27 Jun

Ada berbagai model untuk menganalisis lingkungan internal dan ekternal organisasi. Jika prinsip KISS (keep it simple and short) menjadi pedoman dasar, maka kecuali SWOT analysis, barangkali tidak ada pendekatan yang lebih sederhana dan mudah dipahami dan dilaksanakan.

Hampir semua pimpinan puncak organisasi sampai dengan tingkat supervisor mengetahui SWOT analysis. Bahkan sebuah majalah berita mingguan (MBM) “papan atas” di Indonesia “hanya” menggunakan SWOT analysis untuk membuat perencanaan jangka panjang dan rencana kerja tahunan perusahaan.

Jika memang mudah, untuk apa dipersulit? Jika dengan SWOT analysis suatu organisasi sudah mendapatkan data dan informasi yang relevan, lengkap, akurat, valid, terkini, mudah dipahami yang dapat dijadikan dasar untuk membuat rencana kerja, “makruh” hukumnya meninggalkan pendekatan atau model analisis lain.

Perlu dipahami bahwa intisari dari swot analysis tidak sekedar mengidentifikasi dan membuat daftar lengkap tentang kekuatan dan kelemahan internal organisasi dan peluang dan ancaman dari eksternal organisasi. Jika kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman sudah diketahui, adalah lebih penting bagi organisasi untuk menyusun dan mengeksekusi swot strategy.

 

Apa yang dimaksud SWOT Analysis?.

SWOT merupakan akronim dari Strengths (kekuatan-kekuatan), Weaknesses (kelemahan-kelemahan), Opportunities (peluang-peluang), dan Threats (ancaman-ancaman). Strengths dan weaknesses merupakan kondisi internal organisasi, sedangkan opportunities dan threats merupakan kondisi ekternal organisasi.

Brandname yang kuat, reputasi yang positif di benak pelanggan, akses yang kuat terhadap jaringan distribusi adalah contoh dari kekuatan-kekuatan organisasi. Sebaliknya, brandname yang lemah, reputasi yang negatif di benak pelanggan, dan akses yang lemah terhadap jaringan distribusi adalah contoh dari kelemahan-kelemahan organisasi.

Beberapa contoh dari peluang antara lain adalah kebutuhan pelanggan yang belum terlayani, kehadiran teknologi baru, pemberian insentif bea masuk dan keringanan perpajakan. Sedangkan kondisi eksternal yang dapat menjadi ancaman bagi organisasi antara lain menguatnya bargaining power pemasok dan pembeli, regulasi baru yang membatasi gerak, maupun kehadiran teknologi baru.

Pada prinsipnya, tidak selalu kondisi yang merupakan kelemahan-kelemahan dari suatu organisasi akan selalu dan selamanya menjadi kelemahan organisasi. Tergantung dari kemampuan suatu organisasi menyiasati kondisi yang selama ini menjadi kelemahannya, suatu kelemahan bisa berubah menjadi kekuatan dari organisasi.

Demikian juga dengan kondisi yang menjadi peluang bagi organisasi, tidak selalu berdampak positif bagi organisasi, bahkan dapat berubah menjadi ancaman. Perubahan-perubahan yang relatif cepat di bidang teknologi misalnya, dapat dianggap sebagai peluang sekaligus ancaman terhadap organisasi, tergantung dari kemampuan organisasi menghadapi perubahan teknologi tersebut.

 

Mengapa SWOT Analysis?

Analisis terhadap kondisi internal dan eksternal organisasi sangat penting bagi suatu organisasi sehingga organisasi dapat membuat perencanaan stratejik yang akuntabel. Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan internal organisasi serta peluang dan ancaman dari eksternal organisasi, maka organisasi dapat menyusun sasaran stratejik dan  merumuskan strategi yang tepat untuk mencapai sasaran stratejik.

 

SWOT  Interactions

Setelah mengetahui kondisi internal dan kondisi eksternal organisasi, adalah penting untuk mengetahui hubungan-hubungan masing-masing kondisi internal dengan kondisi eksternal organisasi. Menurut Dr. Kevin Lance Jones, hubungan antara masing-masing SWOT dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1. SWOT Interactions

Interaksi antar kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan internal organisasi dengan peluang dan ancaman dari eksternal organisasi akan menghasilkan leverage, constraints, problems dan vulnerability.

Interaksi antara kekuatan-kekuatan organisasi dengan berbagai peluang eksternal membentuk leverage. Artinya, kekuatan-kekuatan organisasi dapat menunjang organisasi untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari peluang. Jika kelemahan-kelemahan organisasi dihadapkan dengan berbagai peluang, maka kelemahan-kelemahan tersebut menjadi constraints bagi organisasi untuk memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari berbagai peluang.

Kekuatan-kekuatan organisasi yang dihadapkan pada ancaman-ancaman eksternal akan menempatkan organisasi dalam kondisi vulnerable. Sedangkan kelemahan-kelemahan organisasi akan menempatkan organisasi dalam masalah jika berhadapan dengan berbagai ancaman eksternal.

SWOT Strategy

Setelah mengetahui karakteristik dari interaksi masing-masing kondisi internal dan eksternal organisasi, langkah selanjutnya adalah menyusun strategi yang tepat. Ringkasan SWOT Strategy ditunjukkan gambar 2 sebagai berikut :

Gambar 2. SWOT Strategy

S-O Strategy berusaha fokus dan prioritas pada berbagai peluang yang sesuai dengan kekuatan-kekuatan organisasi. Organisasi berusaha memanfaatkan kekuatan-kekuatan yang dimilikinya untuk merealisasikan berbagai peluang yang ada. Sedangkan W-O Strategies fokus dan prioritas mengatasi berbagai kelemahan organisasi yang dapat menjadi constraints dalam menyikapi berbagai peluang. Dalam hal ini, fokus dan prioritas adalah memperbaiki berbagai kelemahan organisasi, bukan pada merealisasikan peluang.

S-T strategies berusaha mengidentifikasi berbagai alternatif cara untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan organisasi menghadapi berbagai ancaman eksternal. Organisasi berusaha memanfaatkan kekuatan-kekuatannya untuk melemahkan atau meminimalkan dampak kemungkinan terjadinya dan dampak negatif dari ancaman dari eksternal. Sedangkan W-T strategies merupakan strategi yang defensif untuk melindungi berbagai kelemahan-kelemahan organisasi sehingga tidak menjadi “sasaran empuk” dari ancaman eksternal.

Dalam menghadapi SWOT organisasi, perlu dipahami bahwa jangan overestimate terhadap kekuatan-kekuatan yang menjadi keunggulan kompetitif organisasi. Sebab, bagaimanapun kekuatan-kekuatan organisasi adalah bersifat relatif dan tidak ada yang pasti dalam hal keunggulan kompetitif yang abadi (silakan baca artikel “Only the Paranoid Survive” dan “Strategic Inflection Point” dalam blog ini, category : Change Management).

Demikian pula dengan menghadapi kelemahan-kelemahan organisasi, tidak perlu underestimate. Kelemahan-kelemahan organisasi juga tidak seharusnya membuat kecil hati dalam posisi “underdog”. Orang Jawa memiliki peribahasa “marwito marganing maruto”. Angin dari buritan dan haluan pada prinsipnya dapat dimanfaatkan oleh kapal untuk melaju ke depan.

Prinsip-prinsip dalam ilmu alam sesungguhnya dapat dimanfaatkan sebagai strategi menghadapi kompetitor. Syamsul Anwar Harahap, mantan petinju nasional kelas welter ringan yang kemudian menjadi komentator pertandingan tinju, seringkali memberikan contoh bagaimana petinju yang semula dianggap “underdog”, justru mampu mengalahkan lawannya yang “Raja KO” dengan kemenangan knock out (KO).

Kekuatan dan pukulan keras seorang petinju tidak berarti apa-apa jika lawan yang dihadapinya selalu bergerak dan mampu menghindar sehingga ia hanya “memukul angin”. Pukulan seorang petinju “underdog” bisa menjadi sebuah pukulan dengan kekuatan dan keras yang berlipat-lipat ganda kalau tepat mengenai sasaran dan pada saat yang bersamaan petinju lawan dalam kekuatan penuh “menyongsong” pukulan. Dalam hal ini, hukum momentum berlaku. Inilah strategi “mengalahkan lawan dengan menggunakan kekuatan lawan”.

Satu lagi strategi yang biasa dilakukan oleh petinju yang “lemah” adalah berusaha “menghindar”. Cara umum yang dilakukan oleh semua petinju adalah berputar menjauhi titik kekuatan lawan dan bergerak menuju titik kelemahan lawan. Jika seorang petinju kuat dalam pukulan kiri atau kidal, maka petinju lawannya akan menjauhinya dengan cara bergerak mundur melingkar menjauhi pukulan kiri kuat dan mendekati pukulan lawan yang relatif lemah. Bukankah memilih melayani niche market pada intinya  adalah strategi menghindari kekuatan lawan?

Dalam olahraga sepakbola, tubuh yang relatif pendek tidak selalu menjadi titik kelemahan. Tubuh para pesepakbola Spanyol yang memperkuat dan merebut Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010 relatif pendek dibandingkan tubuh kebelasan lawan mereka. Tubuh yang relatif pendek ternyata sesuai dengan strategi permainan bola-bola bawah, operan jarak pendek dan relatif cepat.

Bumi Serpong Damai, 19 Juni 2010

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Management

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: