RSS

Amazing Camera?

30 Jun

Sebuah artikel berjudul “Stop wishing for that Amazing Camera and Appreciate The One You’ve Got” yang ditulis oleh Dan Dyer, seorang Guest Contributor untuk  http://www.digital-photography-school.com, mampu membuat saya “turun gunung” untuk menulis artikel tentang fotografi. Sebagian dari artikel tersebut saya kutip sebagai berikut :

All cameras have are essentially the same thing, a shutter that exposes light on a light-sensitive surface. Sure, there are differences in engineering tolerances and technical ranges and the latest technology. But Ansel Adams didn’t have today’s latest gadget. He had know-how, and practice. The real difference between an average photo and an amazing photo, is the photographer, not the camera.”

Saya katakan “turun gunung”, sebab dalam jangka pendek belum ada niat untuk menulis tentang fotografi. Selama ini saya “hanya” menjadi pemerhati fotografi, terutama karya-karya pewarta foto yang mendapatkan penghargaan Pulitzer. Pandangan subyektif saya lebih tertarik kepada foto jurnalistik, termasuk foto-foto pewarta foto perang.

Pemahaman saya terhadap fotografi mungkin juga berbeda dengan kebanyakan orang yang menekuni hobby fotografi. Bagi saya, fotografi adalah media untuk berekspresi. Kemampuan saya untuk menyampaikan gagasan relatif terbatas. Selama ini saya “hanya” menggunakan teks sebagai media untuk menyampaikan gagasan. Tetapi ternyata tidak semua gagasan bisa saya ekspresikan melalui teks. Karena itu, saya membutuhkan media lain untuk mengekspresikan gagasan.

Pilihan saya adalah gambar / visual. Karena saya tidak mampu menggambar dan menulis, maka pilihan jatuh kepada fotografi. Secara harfiah fotografi berarti melukis dengan cahaya.  Bukankah orang bijak berkata “a picture is worth a thousand words”?.

Sejak fotografi memasuki era digital, jumlah orang yang “gandrung” dan memilih hobby fotografi kian bertambah banyak. Bahkan seorang businessman yang “bingung” memilih hobby untuk memasuki usia pensiun, “patuh” terhadap saran-saran dari anak dan menantunya agar menekuni dunia fotografi.

Kegandrungan orang kepada fotografi semakin menjadi-jadi setelah sebuah media sosial bernama facebook “memfasilitasi” hasyrat untuk “mejeng”. Tidak tanggung-tanggung, foto dengan kualitas “amburadul” yang diambil dengan menggunakan fasilitas kamera dari sebuah handphone dan blackberry, tetap dipaksakan untuk diupload.

 

Fotografi dan Simbol Status.

Fotografi bisa disebut hobby murah sekaligus hobby mahal. Sebuah restoran mengusung tagline “harga kaki lima, kualitas bintang lima”. Artinya, setiap orang bisa makan makanan yang berkualitas bintang lima (“enak tenan, “maknyus”, dan “nendang”), tetapi dengan harga kaki lima, dan tentu saja tidak perlu ke restoran di hotel bintang lima. Begitu juga dengan fotografi, siapa saja dapat menghasilkan karya foto dengan kualitas “bintang lima” dari sebuah kamera dan lensa berharga “kaki lima”.

Untuk menghasilkan sebuah foto yang baik dan berkarakter, tidak harus menggunakan sebuah kamera DSLR yang berharga relatif mahal. Seorang fotografer profesional tetap saja mampu menghasilkan sebuah foto yang baik dan berkarakter “hanya” menggunakan sebuah kamera saku yang berharga relatif murah.

Tetapi alat-alat fotografi juga mengenal “kasta-kasta”. Sebuah kamera dan lensa misalnya, ada “kasta” entry level di lapisan paling bawah, medium, dan premium sebagai “raja” di tingkat paling atas. Harga lensa (terutama tele dan premium) juga relatif lebih mahal dibandingkan dengan kamera. Fotografi menjadi sebuah hobby yang relatif mahal kalau semua peralatan utama dan penunjang dilengkapi, terutama kamera dan lensa kualitas premium.

Barangkali karena ada “kasta-kasta” peralatan utama dan penunjang fotografi tersebut menjadikan manusia mempunyai sikap dan perilaku yang “menyimpang” terhadap fotografi. Bagi sebagian orang, memiliki hobby fotografi merupakan prestise sosial, dan karena itu  diharapkan mampu “mendongkrak” status sosial.

Tetapi, di Indonesia ini apa sih yang tidak “dimanipulasi” menjadi sebuah simbol status? Seperti halnya handphone yang menjadi simbol status dan digadang-gadang alat untuk “redefining success”, sebagian orang memperlakukan fotografi sebagai “diferensiator” lapisan sosial. Sejatinya, kualitas fotografer tidak dapat dibedakan dari kamera dan lensa. Kualitas sejati seorang fotografer dibedakan dari karya-karya fotonya.

 

Kamera Hanya Alat.

Apa kegunaan kamera, lensa, filter, tripod, dan berbagai alat lainnya dalam fotografi? Jawabannya sangat sederhana : semua benda-benda tersebut hanya merupakan alat utama dan alat bantu untuk memotret. Tidak lebih dari itu.

Saya senang dengan pesan yang disampaikan oleh Bung Toga Tampubolon, seorang fotografer dan salah seorang staf pengajar fotografi di Darwis Triadi School of Photography. Menurut “halak hita” ini (halak hita adalah bahasa Batak, artinya “orang kita” juga), “kamera, lensa, filter dan alat-alat lain di dunia fotografi adalah sekedar alat bantu”. Sebagai fotografer memang tidak sepatutnya “menghamba” kepada berbagai alat bantu tersebut.

Alat utama dan alat bantu dalam fotografi digunakan untuk melukis dengan cahaya. Teknologi kamera dan lensa memang selalu berkembang, bahkan semakin cepat berkembang. Meskipun demikian, seberapapun canggih kamera dan lensa, prinsip the man behind the gun tetap berlaku.

Teknologi kamera dan lensa boleh semakin canggih. Tetapi sebuah foto yang indah dan berkarakter bukan hasil dari teknologi kamera dan lensa yang canggih. Sebuah foto yang indah dan berkarakter adalah perwujudan visi dan kreativitas dari seorang fotografer.

Meskipun demikian, adalah “normal” jika seorang pemula di dunia fotografi tidak percaya diri terhadap perlatan fotografi yang dimilikinya. Menurut Laura Radniecki (www.digital-photography-school.com) salah satu dari “5 penyakit” orang-orang yang hobby fotografi adalah tidak percaya diri dan mereka pada umumnya berkata “my gear isn’t good enough”.

Untuk mengatasi rasa tidak percaya diri terhadap peralatan fotografi yang dimiliki, Radniecki memberikan tips sebagai berikut : “Expensive gear doesn’t necessarily equal good photos. If you don’t know how to use a camera to its full potential, the most expensive gear in the world won’t give you great photos. That said, fantastic photos can come from all ranges of equipment”.
Memotret, Menyempurnakan, dan Memanipulasi.

Tanpa bermaksud membandingkan kamera analog dan kamera digital, saya pribadi lebih senang dengan tingkat kesulitan dan tantangan yang ditawarkan kamera analog. Teknologi kamera digital memang jauh lebih unggul, tetapi manusia  seolah-olah terlalu “dimanjakan” oleh berbagai fasilitas teknologi kamera digital.

Bagi saya, fotografi adalah memotret. Dengan berbagai teknologi kamera, lensa, dan software untuk mengedit sebuah foto, saat ini memang dimungkinkan seorang fotografer melakukan “penyempurnaan” dan bahkan “manipulasi” terhadap sebuah foto. Olah digital memang membuat segala sesuatu yang sebelumnya tidak mungkin menjadi serba mungkin.

Saya tidak “mengharamkan” orang lain “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto. Tetapi bagi saya sendiri, karena secara teknis fotografi hampir tidak ada lagi kesulitan memotret dengan kamera digital, “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto adalah perbuatan merendahkan diri sendiri. Bukankah orang bijak juga sudah mengingatkan “a picture never lies”?.

Taking pictures vs Creating Images.

Matt Dutile memberikan tips untuk menjadi seorang fotografer yang “baik”. Katanya : “Stop taking pictures, start creating images”. Di sekolah-sekolah fotografi profesional juga dijelaskan perbedaan antara tingkat basic dan intermediate. Di tingkat basic, seorang fotografer hanya pintar “taking pictures”. Sementara di tingkat intermediate, seorang fotografer sudah mampu “making pictures” dan membaca foto.

Apa beda “taking pictures” dan “creating images”? (atau perbedaan antara “taking pictures” dan “making images”). Matt Dutile menjelaskan perbedaan di antara keduanya sebagai berikut :

“A picture is what you take when you accidentally mash your hands on the shutter release while your camera sits idle on the living room table. It’s when you bump the camera while it hangs from your shoulder and snap that oddly angled picture of your feet. It’s the photos you took of your friend just because they asked you to. It’s also generally what most of us are shooting the first time we pick up our cameras – myself included.

But if you really want to advance your photography, you’ve got to stop pressing that shutter release just because you can. Instead, take the time to create a vision. Stop taking pictures. Start creating images.” (www.digital-photography-school.com).

Memotret masih bisa digolongkan sebagai kegiatan taking pictures, syukur-syukur creating images. Tetapi tampaknya perlu hati-hati mengkategorikan “menyempurnakan” dan “memanipulasi” sebuah foto sebagai kegiatan “taking pictures”, apalagi “creating images”.

Tampak Siring 27 Juni 2011

 
Leave a comment

Posted by on June 30, 2011 in Photography

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: