RSS

Monthly Archives: July 2011

The Six Abilities of Wise Leaders

Wise leaders make decisions only after they figure out what is good for the organization and society.

They can quickly grasp the essence of any situation or problem and intuitively fathom the nature and meaning of people, things, and events.

They constantly create informal as well as formal shared contexts for senior executives and employees to construct new meaning through their interactions.

They know how to use metaphors and stories to convert the essence of their actual experiences into tacit knowledge for individuals and groups.

They exercise political power to bring together people with conflicting goals and spur them to action.

They encourage the development of practical wisdom in others, especially employees on the front lines, through apprenticeship and mentoring.

Ikujiro Nonaka (inonaka@ics.hit-u.ac.jp) is a professor emeritus at Hitotsubashi University in Tokyo.

Hirotaka Takeuchi (htakeuchi@hbs.edu) is a professor at Harvard Business School. They are the authors of The Knowledge-Creating Company (Oxford, 1995).

http://www.blogs.hbr.org

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on July 29, 2011 in Management

 

Lensa Kamera

“Daripada lu beli lensa Canon 17-40mm f/4.0 L USM, mendingan lu beli lensa Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM. Harga kurang lebih sama, tapi kalo lu beli 15-85mm, widenya dapet, normalnya dapet, dan telenya pun masih dapet.” Itulah salah satu nasehat yang sering diberikan oleh sebagian orang yang merasa sudah banyak makan “asam garam” fotografi.

Bagi para pemula di bidang fotografi, kebingungan memilih lensa yang “baik” untuk dirinya adalah lumrah. Bahkan mereka yang tidak lagi “bau kencur” di dunia fotografi, tetapi tidak memiliki tujuan yang jelas mengapa menekuni fotografi, masalah lensa tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak semua orang yang berkecimpung di dunia fotografi memiliki pengetahuan yang mendalam tentang lensa. Karena itu, kebimbangan seputar lensa seringkali merupakan penyakit dasar yang diderita atau pernah diderita oleh orang-orang yang menekuni fotografi (selanjutnya saya sebut saja fotografer).

Gambar tersebut di bawah ini mungkin dapat menunjukkan keragu-raguan seseorang ketiga hendak mengambil keputusan menggunakan lensa atau membeli lensa (photo courtesy of Amar Ramesh) :

Ironisnya, pertanyaan-pertanyaan seputar lensa seringkali diajukan kepada sembarang orang. Ya, saya sebut sembarang orang. Bukan berarti orang-orang yang berada di komunitas fotografer adalah orang mengerti dunia fotografi dan mampu memberikan penjelasan tentang lensa.  Bukan berarti kalau seseorang sering bawa kamera kemanapun pergi dan “rajin” jepret sana dan jepret sini,  pasti mengetahui tentang lensa.

Saran yang disampaikan oleh “senior” di bidang fotografi seperti ditunjukkan di awal tulisan ini sebenarnya tidak salah dan juga tidak benar. Fotografi adalah seni melukis dengan cahaya. Benar atau salah, baik atau buruk, adalah bahasa hukum. Bahasa fotografi adalah indah atau tidak indah. Dalam fotografi, benar atau salah selalu harus ditempatkan dan dilihat sesuai konteksnya.

Ada berbagai konteks, berkaitan dengan lensa saya membatasi konteks menjadi tiga saja, yaitu fungsi, konsep pemotretan, dan minat fotografer itu sendiri. Biaya tentu saja merupakan faktor yang cukup menentukan, mengingat harga-harga lensa premium, terutama dengan diafragma 2.8 atau lebih besar, mampu “menjebol” tabungan. Tetapi karena – meminjam istilah undang-undang – sudah cukup jelas, faktor biaya tidak akan dibahas di tulisan ini.

Fungsi

Setiap alat memiliki fungsi tertentu, demikian juga lensa. Setiap alat akan memberikan manfaat optimal atau terbaik dalam kondisi tertentu dan tujuan tertentu. Meskipun sama-sama memiliki kemampuan membelah sesuatu menjadi dua (atau lebih), kemampuan pisau, cutter, gunting, gergaji, kampak, dan lain sebagainya tentu saja berbeda-beda. Untuk membagi dua kertas A4 misalnya, akan lebih tepat menggunakan cutter atau gunting, daripada menggunakan gergaji dan kampak.

Sungguhpun sebagian besar lensa dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, memotret acara kejuaraan sepakbola maupun F1 tidak tepat kalau menggunakan lensa makro (dalam hal ini lebih tepat menggunakan lensa tele). Demikian juga penggunaan lensa tele untuk memotret landscape, meskipun secara teknis bisa-bisa saja, tetapi akan lebih tepat menggunakan lensa lebar, kecuali fotografer bermaksud menampilkan detail dari arsitektur bangunan.

Tabel berikut di bawah ini menjelaskan secara singkat tentang perbandingan fungsi setiap lensa :

Gambar berikut di bawah ini menunjukkan perbandingan penggunaan berbagai lensa dengan focal length yang berbeda untuk tujuan sama (pemotretan landscape) :

Konsep

“You don’t take a photograph, you make it” begitu wanti-wanti dari Ansel Adams. Kamera, lensa, lampu studio, dan berbagai alat dan aksesori lainnya, adalah alat untuk membuat karya foto. Konsep diperlukan untuk mengisi sebuah karya foto agar dapat bercerita dengan sendirinya. Seorang fotografer akan memilih dan menggunakan kamera, lensa dan kawan-kawan,  yang mampu mendukung realiasi konsep.

Beauty shot untuk kepentingan komersial atau promosi produk kosmetika misalnya, obyek foto adalah wajah dari model. Apapun studio lighting yang digunakan, pada akhirnya bertujuan untuk menghasilkan hidung tampak mancung, pipi tampak naik / menonjol, dan dagu tampak runcing.

Untuk beauty shot, lensa lebar, lensa normal / medium dan lensa tele semuanya dapat digunakan. Tetapi menggunakan lensa tele akan lebih optimal, tidak banyak space yang harus dicrop. Alasan yang lebih tepat adalah dalam sesi beauty shot biasanya menggunakan lampu studio relatif banyak dan dari berbagai arah. Jarak antara kamera dan lensa yang terlalu dekat dengan model dapat mengakibatkan flare.

Minat

“Idealnya”, seorang fotografer memiliki tiga jenis lensa, yaitu lensa lebar, lensa normal, dan lensa tele. Dengan ketiga lensa tersebut, seorang fotografer dapat memotret obyek foto yang sangat bervariasi, mulai dari landscape, interior, arsitektur, model / beautyshot sampai dengan kegiatan olah raga. Bahkan, seorang fotografer boleh-boleh saja memiliki satu lensa “sapu jagat”, yaitu lensa 18-200mm. Lensa ini merupakan lensa “three in one” di mana lensa lebar, lensa normal, dan lensa tele menjadi satu. Tetapi kelemahan lensa jenis ini adalah kualitas foto, mengingat bahwa focal length yang ideal adalah maksimum tiga kali dari angka terkecil (dalam hal ini 18mm dikalikan tiga).

Minat seorang fotografer menjadi faktor yang sangat menentukan dalam pembelian lensa. Jika minat seorang fotografer bukan memotret obyek-obyek foto relatif kecil (misalnya serangga), dan ekstrimnya tidak akan pernah memotret obyek-obyek kecil, maka membeli lensa makro adalah tindakan mubazir. Demikian juga dengan fotografer yang lebih menyukai memotret landscape, interior dan arsitektur, akan lebih tepat memiliki lensa lebar dan lensa tele daripada lensa makro.

Jadi, tidak ada urusan benar atau salah, baik atau buruk dalam pembelian sebuah lensa. Fungsi, konsep pemotretan, dan minat seorang fotografer lebih tepat menjadi pertimbangan dalam pembelian lensa. Kriteria tersebut berlaku spesifik untuk setiap orang, karena setiap orang mempunyai minat dan konsep yang berbeda-beda tentang fotografi dan pemotretan.

Pengalaman saya pribadi, pengalaman memotret berbagai obyek foto yang berbeda akan memberikan wawasan yang fresh tentang fungsi, kelebihan dan kelemahan masing-masing lensa. Sebelumnya, saya banyak bertanya dan mendengarkan saran-saran yang berbeda-beda dari banyak teman-teman fotografer. Setelah mempertimbangkan minat dan kebutuhan pemotretan, saya memilih lensa 24-105mm dan 70-200mm sebagai lensa yang “wajib” saya miliki. Bagaimana dengan anda?

Tampak Siring, 24 Juli 2011

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2011 in Photography

 

Tidak Puas? So What?

Apa tindakan yang akan anda lakukan jika kinerja bawahan anda tidak memuaskan? Apa tindakan yang akan anda lakukan jika karyawan yang di bawah penyeliaan anda melakukan kesalahan? Apa tindakan dan bagaimana konkritnya tindakan anda? Pasif atau aktif? Konstruktif atau destruktif?

Setiap orang mempunyai alternatif solusi untuk menyelesaikan ketidakpuasan dan konflik dengan orang lain. Setiap orang juga memiliki kebebasan memilih alternatif solusi terbaik untuk menyelesaikan ketidakpuasan terhadap kinerja orang lain maupun konflik terhadap orang lain.

Atas nama harmoni, tidak ingin menyakiti orang lain, sungkan terhadap orang lain, atau bahkan tidak percaya diri menghadapi orang lain, ada orang yang memilih tidak melakukan apapun. Meskipun seseorang dengan jabatan tertinggi dan secara legal formal memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk sekedar mengingatkan sampai menghukum, tidak serta merta ia akan mampu melakukannya.

Kadang-kadang sampai terjadi “overacting” yang tidak lucu dan tidak perlu. Ada seseorang yang “berani” mengingatkan bawahannya yang menunjukkan kinerja di bawah rata-rata, atau menghukum orang yang telah melakukan tindakan disipliner. Itu normal dan tidak ada yang aneh. Tetapi, juga bisa terjadi, seseorang tidak memiliki keberanian untuk mengingatkan atau menghukum orang yang lebih pantas untuk diingatkan atau diberikan sanksi.

Dalam buku mereka “Fundamental Management”, Mary Coulter dan Stephen P. Robbin menunjukkan sebuah model solusi jika seseorang mengalami ketidakpuasan kerja (job dissatisfaction), seperti diperlihatkan gambar 1 sebagai berikut :

Gambar 1. Pilihan Tindakan Mengatasi Ketidakpuasan Kerja

Sesungguhnya, model solusi tersebut untuk mengatasi masalah ketidakpuasan kerja yang bersifat individual. Dalam tulisan ini, saya menafsirkan dan menggunakan model tersebut untuk memahami berbagai alternatif tindakan yang dapat dilakukan ketika seorang atasan tidak puas terhadap kinerja bawahannya.

Pada dasarnya seorang atasan dapat melakukan tindakan atau bahkan tidak “ngapa-ngapain” untuk menyelesaikan ketidakpuasan terhadap kinerja bawahannya. Seorang atasan juga dapat memilih cara-cara dan tujuan yang konstruktif atau bahkan destruktif.

Dalam contoh kasus kinerja bawahan yang tidak memuaskan, kedua belah pihak idealnya sama-sama memiliki kemauan untuk menyelesaikan masalah. Lebih dari itu, kedua belah pihak juga sama-sama bertanggung jawab untuk  menyelesaikan dengan cara-cara terbaik dan menghasilkan win-win solution.

Neglect adalah pilihan tindakan seperti menyimpan “bom waktu”. Atasan dan bawahan sama-sama diam dan tetap berada di kelompok atau organisasi yang sama. Dari segi reaksi maupun hasil tindakan sama-sama negatif, sebab tidak menghasilkan manfaat apapun bagi kedua belah pihak.

Exit adalah pilihan tindakan yang paling “ekstrim”. Dalam hal ini, atasan yang tidak puas terhadap kinerja bawahannya maupun bawahan yang menunjukkan kinerja tidak memuaskan, sama-sama keluar dari kelompok atau organisasi. Masalahnya sendiri tidak terselesaikan, meskipun kedua belah pihak tidak lagi berhubungan sama sekali. Meskipun ada reaksi bersifat aktif, yang terjadi adalah seolah-olah masalah sudah selesai. Exit juga cenderung destruktif, karena tidak hasil yang diperoleh oleh kedua belah pihak.

Loyalty adalah pilihan tindakan seperti “bertepuk sebelah tangan”. Salah satu pihak berusaha menyelesaikan masalah kinerja. Misalkan atasan yang tidak puas dengan kinerja bawahannya berusaha mengadakan diskusi dan memberikan umpan balik kepada bawahannya. Dari segi reaksi maupun tujuan hasil yang diharapkan cenderung positif. Meskipun demikian, tidak ada upaya dari bawahan yang dinilai untuk menerima masukan dari atasan dan memperbaiki kinerjanya.

Voice adalah pilihan tindakan terbaik, kedua belah pihak dalam situasi “pucuk dicinta ulam tiba”. Atasan dan bawahan sama-sama aktif mendiskusikan kinerja, mengidentifikasi masalah-masalah yang ada, mencari solusi perbaikan, dan atasan juga memberikan dukungan kepada bawahan untuk memperbaiki kinerjanya.

Dari empat alternatif tindakan untuk menyelesaikan ketidakpuasan tersebut sudah jelas mana pilihan yang terbaik. Tetapi yang ideal dan seharusnya dilakukan seringkali sulit untuk diwujudkan. Bahkan, masalahnya boleh jadi tidak terletak pada sulit tidaknya melakukan tindakan yang terbaik, melainkan pada kemauan.

Konon, pecundang dan pemenang memang memiliki perbedaan seperti bumi dan langit. Karakter pecundang diwakili oleh kalimat sebagai berikut : “itu bisa dilakukan, tetapi sulit”. Sedangkan karakter pemenang diwakili oleh kalimat berikut : “itu sulit, tetapi bisa dilakukan”. Fokus pecundang ada pada masalah dan persoalan, sedangkan fokus pemenang ada pada solusi.

 

Bargaining Position Tidak Sama Dengan Bargaining Power.

Dalam kehidupan berkelompok, berorganisasi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, struktur sosial dan struktur organisasi formal seringkali tidak serta merta menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Kedudukan atau jabatan yang dilengkapi dengan kekuasaan dan kewenangan untuk melakukan (atau tidak melakukan) suatu tindakan seringkali seperti “macan ompong”.

Dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam organisasi berorientasi laba maupun nirlaba, selalu ada “invisible hand” yang jauh lebih dominan dibandingkan struktur formal. Itulah sebabnya, mengapa akan selalu terjadi dan mudah ditemukan, orang-orang yang secara struktur legal dan formal berada dalam status sosial lebih rendah – dan karena itu bargaining position dan bargaining power relatif lemah – tetapi justru memiliki bargaining power lebih kuat.

Saya menganalogikan seorang pimpinan yang “macan ompong” seperti seorang laki-laki yang berselingkuh dengan WIL (wanita intim lain). Rahasia dan bahkan foto-foto mesra mereka berdua diketahui oleh sebagian anak buahnya. Dijamin, digertak sedikit saja, pimpinan yang rahasianya sudah dipegang oleh anak buahnya, akan memenuhi permintaan si anak buah.

Bargaining position dan bargaining power akan mendekati keseimbangan jika rahasia masing-masing pihak sudah “dikantongi” pihak lawan. Tergantung keberanian dan timing memainkan kartu truf, pihak yang satu bisa saja unggul terhadap pihak lain.

Karakter.

Pelatih sekaliber Alex Ferguson juga tidak selalu terampil menyelesaikan ketidakpuasannya terhadap anak buahnya. Kasus yang paling heboh adalah sepatu Fergie melayang dan “mendarat” di pelipis David Beckham. Fergie juga tidak mampu mengelola hubungannya dengan Roy Keane dan Ruud van Nistelrooy – dua pesepakbola yang cukup berjasa kepada Manchester United – sehingga kerja sama terpaksa diakhiri dengan cara-cara yang menyakitkan.

Hampir semua pelatih sepakbola memiliki kelemahan tidak mampu mengelola hubungan dan kerja sama dengan pemain-pemain tertentu. Bahkan Guardiola – pelatih fenomenal yang mampu memberikan 6 gelar kepada FC Barcelona dalam satu musim kompetisi – juga bermasalah dengan Ibrahimovic. Meskipun kehadiran Ibrahimovic ke FC Barcelona adalah “pesanan” Guardiola, ternyata Guardiola tidak mampu menjelaskan ketidakpuasannya kepada Ibrahimovic dan memilih diam seribu bahasa.

Ada hal-hal yang sulit dijelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Memang – seperti kata orang Jawa – menjadi “ora sembodo”. Barangkali karena dunia ini hanya panggung sandiwara, manusia pada akhirnya lebih suka berpura-pura. Toh di dunia, pertanggungjawaban seringkali dianggap selesai begitu saja.

Tampak Siring,  3 Juli 2011

 
Leave a comment

Posted by on July 21, 2011 in Management

 

Obesitas (Bagian Kedua)

GEJALA
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.

Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.

Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).

Sering ditemukan kelainan kulit.
Seseorang yang obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.

Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

KOMPLIKASI

Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan yang mengerikan. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang.
Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti:
– Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa)
– Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Stroke
– Serangan jantung (infark miokardium)
– Gagal jantung
– Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar)
– Batu kandung empedu dan batu kandung kemih
Gout dan artritis gout
Osteoartritis
– Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah)
Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan ngantuk).

DIAGNOSA
Mengukur lemak tubuh.

Tidak mudah untuk mengukur lemak tubuh seseorang. Cara-cara berikut memerlukan peralatan khusus dan dilakukan oleh tenaga terlatih:

  Underwater weight, pengukuran berat badan dilakukan di dalam air dan kemudian lemak tubuh dihitung berdasarkan jumlah air yang tersisa.

  BOD POD merupakan ruang berbentuk telur yang telah dikomputerisasi. Setelah seseorang memasuki BOD POD, jumlah udara yang tersisa digunakan untuk mengukur lemak tubuh.

  DEXA (dual energy X-ray absorptiometry), menyerupai skening tulang. Sinar X digunakan untuk menentukan jumlah dan lokasi dari lemak tubuh.

2 cara berikut lebih sederhana dan tidak rumit:

  Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai forseps).

  Bioelectric impedance analysis (analisa tahanan bioelektrik), penderita berdiri diatas skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh lalu dianalisa.

Pemeriksaan tersebut bisa memberikan hasil yang tidak tepat jika tidak dilakukan oleh tenaga ahli.

Tabel berat badan-tinggi badan.

Tabel ini telah digunakan sejak lama untuk menentukan apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan.
Tabel biasanya memiliki suatu kisaran berat badan untuk tinggi badan tertentu.

Permasalahan yang timbul adalah bahwa kita tidak tahu mana tabel yang terbaik yang harus digunakan. Banyak tabel yang bisa digunakan, dengan berbagai kisaran berat badan yang berbeda. Beberapa tabel menyertakan ukuran kerangka, umur dan jenis kelamin, tabel yang lainnya tidak.
Kekurangan dari tabel ini adalah tabel tidak membedakan antara kelebihan lemak dan kelebihan otot. Dilihat dari tabel, seseorang yang sangat berotot bisa tampak gemuk, padahal sesungguhnya tidak.

Body Mass Index (BMI).

BMI merupakan suatu pengukuran yang menghubungkan (membandingkan) berat badan dengan tinggi badan.
BMI merupakan rumus matematika dimana berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan (dalam meter) pangkat dua.
Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai BMI sebesar 30 atau lebih.

PENGOBATAN
Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan.
Harus dilakukan perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan makan yang sehat.

Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan resiko kesehatannya dengan cara menghitung BMI.
Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka BMI:

  Resiko rendah : BMI < 27

  Resiko menengah : BMI 27-30

  Resiko tinggi : BMI 30-35

  Resiko sangat tinggi : BMI 35-40

  Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih.

Jenis dan beratnya latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada setiap penderita berbeda-beda dan obat yang diberikan disesuaikan dengan keadaan penderita.

  Penderita dengan resiko kesehatan rendah, menjalani diet sedang (1200-1500 kalori/hari untuk wanita, 1400-2000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olah raga

  Penderita dengan resiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori (800-1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria) disertai olah raga

  Penderita dengan resiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi, mendapatkan obat anti-obesitas disertai diet rendah kalori dan olah raga.

Peluang penurunan berat badan jangka panjang yang berhasil akan semakin tinggi bila dokter bekerja dalam suatu tim profesional yang melibatkan ahli diet, psikologis dan ahli olah raga.
Tim ini akan membantu penderita untuk:
– mencapai perubahan gaya hidup yang permanen
– memantau perkembangan penderita
– memberikan dukungan dan dorongan yang positif
– menemukan dan membantu mengurangi sumber stres
– mencegah kekambuhan.

Obat-obatan.

Ada 2 jenis utama obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi obesitas:

  1. Obat yang mengurangi nafsu makan, contohnya fenfluramin, deksfenfluramin, fentermin.
  2. Obat yang menghalangi penyerapan zat gizi dari usus, contohnya orlistat (menghalangi penyerapan lemak di usus).

Perasaan lapar dan kenyang diatur oleh zat kimia otak yang disebut neurotransmiter. Contoh neurotransmiter adalah serotonin, norepinefrin dan dopamin.
Obat anti-obesitas yang menekan nafsu makan bekerja dengan cara meningkatkan kadar neurotransmiter ini pada persambungan diantara ujung-ujung saraf di otak (persambungan ini disebut sinaps). Fenfluramin (fen) dan deksfenfluramin menekan nafsu makan terutama dengan meningkatkan pelepasan serotonin oleh sel-sel saraf. Tetapi fen dan deksfen telah ditarik dari pasaran sejak September 1997 karena obat ini menyebabkan hipertensi pulmoner dan fen menyebabkan kerusakan katup jantung.

Fentermin menekan nafsu makan dengan menyebabkan pelepasan norepinefrin oleh sel-sel saraf. Fentermin saja masih bisa digunakan untuk mengobati obesitas, tetapi hanya untuk jangka pendek (beberapa minggu).
Efek samping dari obat ini adalah sakit kepala, insomnia (sulit tidur), mudah tersinggung dan gelisah.

Memilih program penurunan berat badan yang aman dan berhasil.

Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam memilih suatu program penurunan berat badan:

  1. Diet harus aman dan memenuhi semua kebutuhan harian yang dianjurkan (vitamin, mineral dan protein). Diet untuk menurunkan berat badan harus rendah kalori.
  2. Program penurunan berat badan harus diarahkan kepada penurunan berat badan secara perlahan dan stabil.
  3. Sebelum sebuah program penurunan berat badan dimulai, dilakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
  4. Program yang diikuti harus meliputi pemeliharaan berat badan setelah penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat badan merupakan bagian tersulit dari pengendalian berat badan.
    Program yang dipilih harus meliputi perubahan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang permanen, untuk merubah gaya hidup yang pada masa lalu menyokong terjadinya penambahan berat badan.
    Program ini harus menyelenggarakan perubahan perilaku, termasuk pendidikan dalam kebiasaan makan yang sehat dan rencana jangka panjang untuk mengatasi masalah berat badan.

Obesitas merupakan suatu keadaan menahun (kronis). Obesitas seringkali dianggap suatu keadaan sementara yang bisa diatasi selama beberapa bulan dengan menjalani diet yang ketat.
Pengendalian berat badan merupakan suatu usaha jangka panjang. Agar aman dan efektif, setiap program penurunan berat badan harus ditujukan untuk pendekatan jangka panjang.

Pembedahan hanya boleh dilakukan pada obesitas berat. Pada umumnya pembedahan ini aman dan efisien.

PENCEGAHAN
Apakah Anda beresiko menjadi gemuk, yang saat ini kelebihan berat badan atau dengan berat badan yang sehat, Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah penambahan berat badan dan tidak sehat yang terkait masalah kesehatan. Tidak mengherankan, langkah-langkah untuk mencegah penambahan berat badan adalah sama dengan langkah-langkah untuk menurunkan berat badan:

  1. setiap hari olahraga, diet sehat, sebuah komitmen jangka panjang untuk memantau apa yang Anda makan dan minum.
  2. Berolahragalah secara teratur. Salah satu hal paling penting yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penambahan berat badan adalah dengan berolahraga secara teratur. Menurut American College of Sports Medicine, Anda perlu untuk mendapatkan 150-250 menit intensitas moderat-kegiatan per minggu untuk mencegah penambahan berat badan. Aktivitas fisik yang cukup intens termasuk berjalan cepat dan berenang.
  3. Makan makanan sehat dan makanan ringan. Fokus pada rendah kalori, gizi makanan padat, seperti buah-buahan, sayuran dan biji-bijian. Hindari lemak jenuh dan membatasi permen dan alkohol. Ingat bahwa tidak ada satu makanan menawarkan semua nutrisi yang Anda butuhkan. Pilih berbagai makanan sepanjang hari. Anda masih dapat menikmati sejumlah kecil makanan lemak tinggi, berkalori tinggi sesekali. Pastikan untuk memilih makanan yang mempromosikan berat badan yang sehat dan kesehatan yang baik lebih sering daripada Anda memilih makanan yang tidak sehat.
  4. Ketahui dan hindari jebakan makanan yang menyebabkan Anda makan. Mengidentifikasi situasi yang memicu out-of-kontrol makan. Cobalah membuat jurnal dan tulis apa yang Anda makan, berapa banyak Anda makan, ketika Anda makan, perasaan Anda dan bagaimana rasa lapar Anda. Setelah beberapa saat, Anda akan melihat pola muncul. Anda dapat merencanakan ke depan dan mengembangkan strategi-strategi untuk menangani jenis situasi ini dan tetap memegang kendali atas perilaku makan Anda.
  5. Monitor berat badan Anda secara teratur. Orang-orang yang menimbang berat sekurang-kurangnya sekali seminggu lebih berhasil dalam menjaga berat badan turun. Pemantauan berat badan Anda dapat memberitahu Anda apakah usaha Anda bekerja dapat membantu Anda mendeteksi berat badan kecil sebelum mereka menjadi masalah besar.
  6. Jadilah konsisten. Pegang rencana berat badan yang sehat- selama seminggu, di akhir pekan, dan di tengah-tengah liburan dan hari libur meningkatkan peluang Anda untuk sukses jangka panjang.

Jika Anda benar-benar ingin untuk mencegah penambahan berat badan, pendekatan terbaik adalah dengan fokus pada gaya hidup aktif yang mencakup rencana makan yang menyenangkan, namun sehat dan rendah kalori.

Sumber : http://medicastore.com/penyakit/42/Obesitas.html; diunduh pada tanggal 6 Juni 2011.

 
Leave a comment

Posted by on July 19, 2011 in Body | Mind | Soul

 

Obesitas (Bagian Pertama)

DEFINISI
Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.

Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya.
Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria.
Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.

Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

  Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%

  Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%

  Obesitas berat : kelebihan berat badan >100%.
Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk.

Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda.
Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel.
Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak; kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause.

Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Mereka memiliki resiko yang lebih tinggi. Gambaran buah pir lebih baik dibandingkan dengan gambaran buah apel.

Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul.
Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul.
Seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki rasio pinggang-pinggul sebesar 0,76.
Wanita dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 1, dikatakan berbentuk apel.

PENYEBAB
Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh.
Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas.

Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor:

  1. Faktor genetik.
    Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas.
    Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik.
    Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
  2. Faktor lingkungan.
    Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya).
    Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.
  3. Faktor psikis.
    Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya.
    Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari).
    Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak.
    Pada sindroma makan pada malam hari, adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan, agitasi dan insomnia pada malam hari.
  4. Faktor kesehatan.
    Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya:
    – Hipotiroidisme
    – Sindroma Cushing
    – Sindroma Prader-Willi
    – Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.
  5. Obat-obatan.
    Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.
  6. Faktor perkembangan.
    Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh.
    Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampak 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal.
    Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.
  7. Aktivitas fisik.
    Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur.
    Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.(bersambung)

Sumber : http://medicastore.com/penyakit/42/Obesitas.html; diunduh pada tanggal 6 Juni 2011.

 
Leave a comment

Posted by on July 15, 2011 in Body | Mind | Soul

 

Dislike for Unpunctuality

Jantung saya seringkali “dak-dik-duk”, kepala “senut-senut”, dan gigi “cekot-cekot”, terutama pada saat mendapat tugas untuk mengatur sebuah pertemuan. Pada hari “H”, semakin mendekati waktu pertemuan, “dak-dik-duk”, “senut-senut”, dan “cekot-cekot” semakin menjadi-jadi. Hal itu dipicu terutama jika pihak yang diundang sudah datang, tetapi tuan rumah yang mengundang justru belum kelihatan “batang hidung”nya.

Debar-debar jantung, senut-senut kepala, dan cekot-cekot gigi semakin meng”gila” jika tepat pada waktunya, tuan rumah yang mengundang belum juga hadir. Anehnya, rasa berdebar-debar, senut-senut, dan cekot-cekot otomatis hilang seiring dengan keterlambatan tuan rumah bertambah seperti deret ukur. Rasa berdebar-debar, senut-senut, dan cekot-cekot dikalahkan oleh perasaan bersalah dan malu. Masih segar dalam ingatan saya pesan almarhum/ah bapak dan ibu saya “jangan sekali-kali membuat malu orang lain”.

Sungguh saya bersyukur karena masih memiliki rasa bersalah dan rasa malu. Rasa bersalah dan rasa malu itu seperti  – meminjam istilah yang digunakan oleh almarhum Basuki untuk mempromosikan iklan sebuah obat –  “wes ewes ewes”  yang ajaib  meluluhlantakkan rasa berdebar-debar, senut-senut, dan cekot-cekot.

Meskipun dibesarkan di lingkungan budaya bangsa Indonesia yang lebih cenderung shame culture ketimbang guilt culture, saya bersyukur masih memiliki perasaan bersalah dan malu telah “melecehkan” tamu yang diundang. Sungguh tidak mudah untuk menyampaikan permintaan maaf, sebab memang tidak sepantasnya kesalahan berupa tidak tepat waktu dilakukan, kecuali karena keadaan kahar atau force majeure. Urusan “sangat penting” memang tidak serta merta dapat didefinisikan sebagai force majeure.

Bagaimana saya tidak malu? Bagaimana mungkin saya tidak merasa bersalah? Saya yang menghubungi mitra kerja yang diundang untuk hadir pada sebuah pertemuan. Saya pula yang mengatur tempat dan waktu pertemuan. Meskipun saya bukan tuan rumah, toh yang menyambut dan menemani tamu kan saya juga. Jadi, meskipun saya cuma tuan rumah “abal-abal”, saya yang berhadapan langsung dengan tamu. Karena saya tidak pintar bersandiwara dan berpura-pura, sungguh merupakan kesulitan yang luar biasa bagi saya untuk menjawab pertanyaan mengapa tuan rumah belum juga hadir.

Apakah waktu dan tepat waktu penting? Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada orang Indonesia, maka jawaban yang “benar” akan mengikuti peribahasa “rambut boleh sama hitam, tetapi pendapat boleh berbeda”.

Bagi sebagian orang, waktu adalah penting, tetapi tepat waktu tidak terlalu penting. Ada orang yang tidak memiliki perasaan bersalah meskipun sudah mengadakan janji, tetapi pada waktu yang telah disepakati ia tidak hadir tepat waktu. Sementara ada juga yang beranggapan bahwa waktu dan tepat waktu adalah penting, dan berusaha menghormati kesepakatan untuk bertemu pada waktu yang telah ditetapkan.

Kutipan tentang makna waktu yang saya kutip dari blog fotografer Andreas Darwis Triadi (www.darwistriadi.blogspot.com) berikut ini mungkin dapat menjelaskan apa arti waktu bagi orang yang berbeda-beda, yaitu :

“Bila kau ingin tahu apa artinya waktu 1 tahun, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas. Makna 1 bulan, tanyalah kepada ibu yang melahirkan premature. Makna 1 minggu, tanyalah seorang editor majalah mingguan. Makna 1 hari, tanyalah seorang yang bekerja dengan gaji harian. Makna 1 jam, tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.  Kemudian, makna 1 menit, tanyalah seorang yang ketinggalan kereta. Bila kau ingin tahu apa artinya watu sedetik, tanyakan pada atlet lari 100 meter.”

Meskipun setiap individu, kelompok sosial, masyarakat dan bangsa memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang makna waktu, pada prinsipnya tidak ada yang berpendapat bahwa waktu tidak penting. Hanya saja, apa yang diyakini sebagai baik, dalam praktek seringkali tidak dilaksanakan.

Itulah sebabnya kita seringkali diingatkan untuk mengingat lima perkara, yaitu : masa muda sebelum datang masa tua, masa luang sebelum datang masa sibuk,  masa sehat sebelum datang masa sakit, masa kaya sebelum datang masa miskin,  masa  hidup  sebelum datang  mati. Esensi dari mengingat lima perkara sebelum lima perkara datang adalah waktu. Cepat atau lambat, perubahan pasti akan terjadi seiring berjalannya waktu.

Studi anthropologi seperti yang pernah dilakukan oleh anthropolog Clyde J. Klukckhohn  juga menunjukkan bahwa dimensi waktu merupakan dimensi yang penting dan selalu ditemukan di berbagai budaya di masyarakat yang berbeda.

Bahkan, seorang sosiolog bernama Alex Inkeles menggunakan sikap dan perilaku manusia terhadap waktu sebagai salah satu parameter untuk mengukur modernitas manusia dan masyarakat. Menurut Inkeles, karakteristik manusia moderen adalah sebagai berikut :

  • Opennes to new experiences with people and technologies.
  • Independence from traditional authorities (parents, priests).
  • Belief in science and medicine and a general abandonment of passivity and fatalism.
  • Ambition to achieve high educational and occupational goals.
  • Strict time planning (dislike for unpunctuality).
  • Political interest and participation.

Tentu saja setiap orang boleh-boleh saja memperdebatkan karakteristik manusia moderen yang digagas oleh Alex Inkeles. Tetapi tanpa kemampuan menghargai waktu, kiranya sulit untuk disebut sebagai manusia “moderen”, “profesional”, “kosmopolitan”, dan berbagai istilah lainnya. Manusia yang tidak mampu menghargai waktu pada dasarnya manusia yang tidak bertanggung jawab.

Setiap orang dapat sembarangan mengaku profesional. Di sebuah sekolah fotografi diajarkan bagaimana menjadi seorang fotografer profesional. Ada “segambreng” kode etik yang mengajarkan tidak boleh begitu dan tidak boleh begini. Tetapi saya sungguh tidak mengerti di mana orang dididik untuk menjadi seorang fotografer profesional, tetapi kursus selalu dimulai tidak tepat waktu. Apakah untuk menjadi seorang profesional tidak ada hubungannnya dengan tepat waktu?

Dalam kesempatan seminar tentang energi terbarukan saya juga sempat dibuat terheran-heran. Semua pakar dan peserta begitu antusias menegaskan bahwa sudah saatnya Indonesia beralih dari penggunaan energi tidak terbarukan (minyak, gas bumi, dan batubara berasal dari fosil dan merupakan energi tidak terbarukan) ke penggunaan energi terbarukan (antara lain angin, tenaga surya, dlsb).

Ironisnya, seminar tentang energi terbarukan dimulai terlambat dari jadual waktu yang telah ditetapkan. Padahal, waktu juga merupakan sumber daya penting dan tidak terbarukan.

Tempora mutantur, nos et mutamur in illis, “Times change, and we change with them”, atau “The times are changed and we too are changed in them (or during them)”.

Tampak Siring, 2 Juli 2011.

 
Leave a comment

Posted by on July 13, 2011 in Selasar

 

“Liem Smash Block”

Seorang sahabat mengajak saya diskusi tentang permainan volleyball. Fokus diskusi kami adalah peran seorang tosser dalam sebuah tim bola voli. Orang sering salah duga, tosser hanya sebagai “tukang umpan”. Padahal, tosser adalah pengatur permainan dan serangan. Meminjam istilah sosiologi, social status dan social roles seorang tosser dalam cabang olah raga bola volley sulit dipandang sebelah mata. Di dunia sepakbola, posisi itu diperankan oleh seorang playmaker.

Sejatinya, tosser lebih penting daripada playmaker dalam permainan sepakbola. Garis besar tugas dan tanggung jawab playmaker dan tosser kurang lebih sama : memberikan assist. Hanya saja, dalam permainan sepakbola, penyerang dapat pasokan bola tidak hanya dan tidak mutlak dari playmaker. Jika serangan yang dibangun dari tengah menemui jalan buntu, peran gelandang menyerang dan wing back untuk pasokan bola sangat penting, terutama memberikan umpan silang (track ball).

Dalam permainan bola voli, tosser adalah jantung sebuah tim. Para “tukang smash” (baca : spiker) sangat tergantung hanya kepada tosser. Strategi dan eksekusi penyerangan diatur oleh tosser. Untuk penempatan bola, tosser harus mampu membaca kondisi internal tim dan kondisi eksternal (pihak lawan). Ke mana bola akan diarahkan / ditempatkan dan siapa yang harus siap sebagai tukang smash, sepenuhnya keputusan dari tosser yang didasarkan dari hasil analisa kondisi permainan saat itu.

Sayang sekali, meskipun peran seorang tosser sangat penting, saya tidak tahu satupun pebola voli nasional yang pernah “ngetop” sebagai tosser. Beberapa “tukang smash” (spiker) yang hebat saya masih ingat, antara lain Gugi Gustaman, Imam Agus Faisal (Fafa), Liem Siauw Bok, dan Loudry Maspaitela. Bahkan, saking hebatnya smash Siauw Bok, saya masih ingat julukannya : “Liem Smash Block”.

Mirip dengan situasi tersebut, di dunia sepak bola juga ada pemain yang bertugas mengatur serangan (playmaker) dan satu orang gelandang yang bertugas menghentikan serangan lawan. Pada umumnya, fans, penonton, dan pemerhati sepakbola memang lebih terkesima dengan ketenaran penyerang daripada seorang pengatur serangan dan gelandang bertahan yang menjadi orang pertama dan paling bertanggung jawab untuk memutuskan aliran bola kesebelasan lawan. Demikianlah, orang lebih mengenal sosok Didier Drogba daripada Claude Makalele. Padahal, keberhasilan Mourinho mengantarkan FC Chelsea sebagai juara Liga Inggris dan merebut piala FA, salah satunya karena faktor Makalele. Bahkan diyakini bahwa kemerosotan prestasi Real Madrid beberapa tahun yang silam salah satunya adalah melakukan “dosa besar” menjual Makalele ke Chelsea. Orang juga lebih mengenal sosok Thiery Henry ketimbang Gilberto Silva. Padahal, sukses FC Arsenal merebut juara liga Inggris musim kompetisi 2003/2004 tanpa kekalahan satu kalipun, salah satunya adalah berkat kontribusi Gilberto yang begitu trengginas memutuskan aliran bola kesebelasan lawan.

Selain bertugas memotong aliran bola kesebelasan lawan, seorang gelandang bertahan juga memiliki keahlian tambahan sebagai seorang “destroyer”. Tidak banyak memang pesepakbola yang mampu memerankan sebagai seorang “destroyer”. Salah satu yang cukup baik memerankan diri sebagai “destroyer” adalah Edgar Davis – pemain timnas sepakbola Belanda – terutama pada saat ia bermain di klub Juventus.

Permainan sepakbola juga berhutang budi kepada playmaker dan “destroyer”. Dalam permainan catur, playmaker dan “destroyer” mungkin bisa disamakan dengan kuda. Pemain catur cenderung “takut” kepada kuda daripada perdana menteri yang cuma bisa “jalan” lurus kiri-kanan atau diagonal, dan karena itu sangat berambisi untuk mematikan kuda. Demikian juga di sepakbola, seorang playmaker harus dijaga dan “dimatikan”, kalau tidak siap-siap saja untuk menderita.

Playmaker lebih “beruntung” dibandingkan dengan “destroyer”. Karena bertugas mengatur serangan, perannya lebih kentara ketimbang “destroyer”. Playmaker juga relatif lebih terkenal dibandingkan dengan destroyer, sebut saja nama-nama Franz Beckenbauer, Ricardo Kaka, Cecs Fabregas, dan Oezut Mezil.

Model Value Chain.

Adalah Michael E. Porter yang pertama kali memperkenalkan gagasan tentang model value chain. Menurut Porter, semua aktivitas dalam suatu organisasi (bisnis) dapat dikelompokkan menjadi Main Activities dan Support Activities, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut :

Di organisasi bisnis, departemen-departemen atau bagian-bagian organisasi yang menjalankan fungsi primary activities cenderung merasa lebih penting dibandingkan dengan departemen-departemen atau bagian-bagian yang menjalankan fungsi support activities. Arogansi tersebut bisa bersumber dari manusia-manusia yang menjadi anggota dari departemen / bagian yang termasuk dalam main activities, juga bisa karena kebijakan diskriminasi yang diterapkan oleh manajemen perusahaan.

Di dunia sepakbola juga terdapat kasta-kasta. Gaji dan nilai transfer seorang penyerang cenderung relatif lebih mahal dibandingkan dengan seorang gelandang. Demikian juga gaji dan nilai transfer seorang pemain gelandang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pemain bertahan. Penjaga gawang cenderung mendapat bayaran relatif paling rendah dan nilai transfer di pasaran pada umumnya relatif lebih rendah dibandingkan pemain di posisi lain. Hal ini disebabkan karena kemenangan sebuah tim sepakbola hanya dapat dicapai melalui penyerangan yang berbuah gol. Peran seorang penyerang menjadi sangat penting dalam sebuah tim sepakbola. Seorang penjaga gawang baru diingat dan menjadi pahlawan jika berhasil menggagalkan tendangan penalti dan menjaga gawangnya kebobolan lebih sedikit daripada gol yang dilesakkan oleh penyerang.

Perasaan dan arogansi lebih penting dari departemen atau bagian lain memang umum terdapat ditemukan di organisasi bisnis. Sesungguhnya, untuk mengetahui apakah departemen atau bagian yang satu lebih penting dan terhormat daripada departemen atau bagian lain, tidak terlalu sulit. Dalam tulisan saya tentang Musyawarah Organ Tubuh dalam blog ini, saya menjelaskan bagaimana anus yang dianggap sebagai bagian tubuh yang paling tidak penting, berusaha meyakinkan bahwa ia memiliki fungsi dan “kompetensi” langka yang tidak dapat dikerjakan oleh anggota tubuh lainnya.

Belajar dari sejarah.

Masih ingat bagaimana Sultan Agung kalah perang melawan Belanda? Dua kali mengangkat senjata melawan Belanda, dua kali pula kalah dengan cara yang sama : logistik  kubu Sultan Agung “dikerjain” oleh Belanda.  Pertempuran menjadi cepat selesai karena pasukan Mataram tidak dapat bertahan untuk jangka waktu relatif lama tanpa dukungan pangan yang cukup.

Di dunia militer juga dikenal main activities dan support activities. Pasukan infantri adalah ujung tombak dari militer dan melaksanakan segala sesuatu yang berkaitan dengan main activities militer. Sementara kesatuan kavaleri (pasukan berkuda), artileri (persenjataan), zeni infantri, pendidikan dan latihan, kesehatan militer, adalah bagian dari support activities dalam dunia militer.

Kegagalan Sultan Agung menunjukkan bahwa peran pasukan yang tidak bertempur langsung sama pentingnya dengan pasukan yang bertempur langsung. Dalam peperangan jangka panjang, logistik yang berkaitan dengan pasokan pangan untuk pasukan menjadi sangat vital. Sebuah kapal induk yang berkekuatan pasukan sejumlah 20.000 orang, selalu bergerak dan siap tempur, sejatinya tidak mampu bertahan dalam jangka waktu relatif lama tanpa dukungan logistik.

Tampak Siring, 9 Juli 2011.

 
Leave a comment

Posted by on July 11, 2011 in Selasar